Mafia Vs Gadis Bercadar

Mafia Vs Gadis Bercadar
Rissa Ngamuk


__ADS_3

Ziva baru saja menunaikan sholat Ashar, ia kemudian menyempatkan dirinya untuk membaca Al Qur'an. Gadis cantik itu, selalu saja mendekatkan dirinya kepada Tuhannya.


Ditambah kehamilannya mulai memasuki bulan kedua, gadis itu sangat berhati-hati menjaga kandungan nya dan selalu menjaga pola makanan nya.


Ziva lalu membereskan alat sholatnya, ia pun memilih duduk di kursi meja rias. Sambil memperhatikan wajahnya didepan cermin yang sedikit tembem


"Mana ya ponselku aku lupa menaruhnya, pasti suamiku sudah menelpon ku berkali-kali" ucap Ziva yang terlihat bingung.


Sementara di lantai dasar nyonya Ratu baru saja selesai bersiap untuk menghadiri acara arisannya bersama teman-temannya.


"Bibi ada urusan, coba kamu check Ziva diatas, sempat dia membutuhkan sesuatu. Walaupun 2 pelayan wanita stand by di lantai 4. Tapi Ziva tidak suka merepotkan orang, tolong ya temui dia kalau perlu ajak mengobrol bersama"ucap nyonya Ratu yang meminta tolong kepada Rissa


"Iya bibi, aku pun ingin menemuinya. Soalnya Darren baru saja menghubungi ku untuk melihat kondisi Ziva. Karena sedari tadi ponsel Ziva tidak diangkat dan sekarang sudah tidak aktif katanya" ucap Rissa menjelaskan.


"Kalau begitu Tante pergi dulu, assalamualaikum" ucap nyonya Ratu.


"Waalaikumsalam, hati-hati Bibi" ucap Rissa sambil tersenyum menatap nyonya Ratu berjalan menuju pintu utama.


"Aduh.. sebenarnya aku tidak suka bergaul dengan Ziva, tapi apalah daya ku, semua penghuni di rumah ini meminta ku untuk menjaga Ziva" ucap Rissa sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu iapun berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai 4.


Rissa sudah berada di lantai 4, ia pun berjalan menyusuri lorong lantai 4 untuk mencari keberadaan Ziva. Rissa menghentikan langkahnya saat melihat Ziva tengah melakukan senam aerobik.


"Ziva hentikan, tidak usah senam aerobik, nanti kamu lelah, kau itu sedang hamil. Bisa-bisa Darren dan bibi menghukum ku" teriak Rissa.


"Ini hanya untuk mengusir kejenuhan ku" ucap Ziva sambil tersenyum ke arah Rissa.


"Astaga...ternyata kau sangat cantik dan senyuman mu sangat manis, pantas saja Darren bertekuk lutut kepada mu" ucap Rissa yang baru pertama kali melihat wajah Ziva dan langsung memuji kecantikannya.


"Aah terima kasih" ucap Ziva yang lagi-lagi tersenyum manis.


Rissa lalu mendekat ke arah Ziva, kemudian memegangi lengan Ziva. Tak biasanya gadis itu bersikap seperti itu pada orang yang baru ia kenal.


"Ikut denganku Ziva" ucap Rissa lalu membawa Ziva masuk ke ruang kerja Darren.


Ziva hanya mengikuti langkah kaki Rissa yang membawanya ke ruang kerja suaminya.


"Kenapa membawaku ke ruang kerja suamiku"tanya Ziva.


"Jika kau bosan atau jenuh kamu hanya perlu membaca semua buku-buku ini" ucap Rissa enteng yang menunjuk rak buku di ruangan itu.


"Aku sedang malas baca buku".


Rissa memilih duduk di kursi kebesaran Darren ia pun memilih menyusun kembali beberapa buku yang sudah tersusun rapi di meja itu. Tak sengaja matanya tertuju pada amplop coklat yang di penuhi gambaran love.


"Apa ya isi amplop ini, banyak banget gambar lovenya" ucap Rissa yang begitu penasaran.


Ziva sendiri malah asik duduk di kursi pijat suaminya.


Rissa langsung membuka amplop tersebut. Dengan hati-hati ia mengeluarkan isi dari amplop tersebut. Dan matanya pun membulat saat melihat isi dari amplop tersebut.


"Inikan Hasil USG" ucap Rissa lalu kembali memperhatikan beberapa lembar kertas tersebut.


Rissa pun terkejut dan menatap ke arah Ziva, lalu kemudian ia pun tersenyum melihat berkas hasil USG kandungan Ziva. Ia pun lalu mendekati Ziva.


"Ziva...eeh kamu sedang hamil anak kembar kan" ucap Rissa yang masih ingin memastikan kebenaran nya.


Ziva pun menjadi bingung ia harus menjawab apa, padahal ia dan Darren masih merahasiakan bayi dalam kandungan nya. Tapi Rissa sudah mengetahuinya, tidak mungkin ia berbohong, karena lambat laun keluarga mereka pasti mengetahui bayi dalam kandungan nya.


Ziva lalu mengangguk sebagai jawabannya.


"Selamat ya kamu sedang hamil anak kembar" ucap Rissa gembira sambil memegang lengan Ziva.


Ziva pun tersenyum, ia pun tidak mampu berkata-kata, apalagi Rissa yang pertama kali mengetahui kabar tersebut.


"Aku sangat senang akan memiliki ponakan kembar, pasti mereka lucu dan menggemaskan..aah aku tidak bisa membayangkan nya, aku akan terus menggendongnya dan membawanya ke taman bermain...aduh lucunya" ucap Rissa dengan mata berbinar.


"Kau harus ke kamarmu untuk beristirahat, aku akan membantu mu" ucap Rissa yang begitu perhatian.


Ziva pun tersenyum kikuk, ia merasa tidak enak hati dengan tingkah Rissa. Padahal Rissa tidak seakrab ini kepadanya.


Rissa berhasil membantu Ziva beristirahat di tempat tidur, layaknya seorang kakak menjaga adiknya. Umurnya yang sudah memasuki 25 tahun yang terpaut 3 tahun lebih tua dari Ziva, ia sama sekali tidak pernah bersikap perhatian kepada siapapun.

__ADS_1


"Katakanlah jika kamu membutuhkan sesuatu, aku akan melakukannya untukmu dan jangan salah ya, aku lakukan semua ini demi ponakan ku" ucap Rissa. Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan mu buah segar" ucap Rissa lalu berlari kecil keluar dari kamar Ziva.


"Syukurlah Rissa mulai bersikap baik kepada ku" ucap Ziva yang sedang menyandarkan punggungnya di badboard tempat tidur.


🍁🍁🍁🍁🍁


Beberapa hari kemudian......


Ziva menjadi akrab dengan Rissa layaknya kakak beradik. Ia pun sering mengobrol bersama dan makan siang bersama. Terkadang Rissa turun langsung jika Ziva membutuhkan sesuatu, seperti ngidam makanan yang ia inginkan yang tidak mampu dijangkau oleh chef keluarga Alexander.


Seperti saat ini, mereka sedang asik memasak bersama di lantai 4.


"Masakan mu sepertinya lezat, aku ingin sekali mencicipi nya" ucap Rissa yang ngiler dengan masakan Ziva.


"Ini hanya ayam kecap, masakan chef kita tatkala enak kok dengan ayam kecap masakan ku" ucap Ziva.


"Masakan mu pasti enak, bukankah restoran Ziva food sudah memiliki banyak cabang di berbagai negara, berarti resep masakan mu sudah diakui di berbagai negara" ucap Rissa.


"Kamu bisa aja" ucap Ziva tersenyum.


Setelah selesai masak bersama, mereka lalu menikmati masakan hasil jerih payah mereka.


"Rasanya sangat enak" puji Rissa.


Ziva hanya menikmati makanan nya. Setelah selesai makan, Ziva lalu meminta tolong kepada Rissa untuk membawakan Darren bekal buatannya sendiri.


"Darren pasti menghabiskan makanan lezat ini, aku akan memastikannya sendiri" ucap Rissa sambil tersenyum.


"Terima kasih ya, sudah merepotkan mu" ucap Ziva.


"Tidak masalah, apa kau ingin titip sesuatu buat suami mu, seperti kata-kata romantis" ucap Rissa sambil menggoda Ziva.


Ziva hanya menggeleng. Ia merasa malu untuk mengungkapkan kata-kata romantis di hadapan Rissa.


"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu... assalamualaikum" ucap Rissa.


"Waalaikumsalam, hati-hati ya" ucap Ziva.


🍁🍁🍁🍁


Rissa lalu berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai tertinggi. Pintu lift terbuka, Rissa lalu berjalan buru-buru menyusuri lorong kantor menuju ruangan Darren.


Saat berada di depan pintu ruangan Darren, Rissa berhenti sejenak, karena seseorang memanggilnya dari belakang.


"Berhenti nona Rissa, tuan sedang tidak ingin diganggu" ucap jones yang menghentikan Rissa memasuki ruangan Darren.


"Apa urusanmu, aku hanya ingin menemui Darren. Tidak mungkin dia melarang ku untuk menemui nya" ucap Rissa kesal.


"Ya sudah kalau begitu silahkan masuk, tapi siap-siap mendengar suara bass tuan Darren" ucap Jones dengan suara seraknya layaknya menakuti Rissa.


"Aku tidak peduli aku sama sekali tidak takut, karena ini demi calon ponakan ku" ucap Rissa lalu menarik handle pintu.


Rissa lalu berjalan masuk dengan penuh kemenangan. Dan betapa terkejutnya ia melihat seorang gadis sedang memeluk Darren. Rissa mengepalkan tangannya, ia terlebih dahulu menyimpan bekal yang ia bawa. Kemudian ia pun berlari menghampiri mereka.


Darren pun terkejut dengan kedatangan Rissa. Ia pun mulai tersadar sedang menangkap tubuh Jessi yang hampir saja terjatuh. Dengan cepat Darren mendorong tubuh Jessi.


Sementara Rissa yang sudah naik pitam langsung menyerang Jessi dari arah belakang dengan cara menarik rambut panjang Jessi. Sedangkan Jessi ikut melakukan perlawanan sehingga terjadi pertengkaran di ruangan itu.


"Aku tidak suka wanita pelakor seperti mu" ucap Rissa yang sangat marah.


Darren bersama Jones mulai melerai mereka.


"Hentikan, kalian membuat keributan di kantor" bentak Darren.


"Aku tidak menyangka kau bermain serong di belakang istri mu, apa kau tidak tahu, Ziva tengah hamil sementara kau malah asik bermesraan dengan pelakor ini. Untungnya aku tidak mengajak Ziva menemui mu, bisa-bisa dia akan cemburu dan membenci mu selamanya" ucap Rissa marah sambil menunjuk wajah Jessi.


"Ini hanya salah paham, aku hanya membantu Jessi yang hampir terjatuh" ucap Darren dengan wajah datar.


"Mungkin kamu bisa berkata seperti itu, tapi bagaimana jika Ziva yang melihatnya. Mungkin akan kecewa kepada mu" ucap Rissa.


"Hei pelakor, kamu pasti mencari kesempatan dengan Darren, aku tahu gadis seperti mu pasti mempunyai maksud tertentu untuk mendekati Darren. Ayo ngaku..." ucap Rissa marah yang menggebu-gebu.

__ADS_1


Rissa sangat marah, ia bahkan ngamuk layaknya banteng yang siap menyeruduk Jessi.


"Aku bukan pelakor, seperti yang kau tuduhkan. Aku hanya teman Darren dan itu tidak lebih" ucap Jessi membantah.


"Bohong kamu pasti ingin mendapatkan Darren dengan cara terus mendekatinya kan ayo jawab...hah" teriak Rissa.


"Stop, aku pusing mendengar perdebatan kalian" ucap Darren yang mulai kesal.


"Untuk lebih jelasnya lebih baik kita lihat cctv di ruangan ini" ucap jones yang mengambil jalan tengah nya.


Lalu kedua gadis itu mengikuti langkah kaki Jones.


Jones kemudian menyuruh mereka duduk terlebih dahulu, lalu mempertontonkan layar monitor beberapa menit yang lalu. Di sana terlihat jelas Jessi beberapa kali masuk ke ruangan Darren membawa berkas penting yang harus di tandatangani, setelah berselang kemudian Jessi terlihat lelah bahkan berjalan sempoyongan di samping Darren, saat ia ingin melangkah tiba-tiba saja penglihatannya kurang jelas sehingga ia hampir saja terjatuh Darren yang berada di samping nya dengan sigap membantu.


"Aku masih tidak percaya, banyak wanita diluaran sana bersikap baik, tapi ujung-ujungnya menusuk di belakang"ejek Rissa.


"Darren jika kamu mencintai istri mu pecat wanita ini sebagai sekretaris mu, jangan sampai wanita ini menjadi duri dalam hubungan kalian. Bagaimana mungkin dia melakukan drama seperti itu"ucap Rissa yang sama sekali tidak percaya.


Sementara Jessi tidak terima selalu disudutkan sebagai pelakor.


"Tolong jangan pecat saya Darren" ucap Jessi memohon.


"Wah bahkan kamu memanggil bossmu seakrab itu. Pasti kamu punya maksud terselubung untuk menghancurkan hubungan Darren dengan istrinya" oceh Rissa yang tidak ada habisnya.


Jessi pun memilih diam, mungkinkah ia harus jujur kepada Darren tentang masalah nya yang sebenarnya.


"Aku tidak pernah mempunyai maksud untuk menganggu Darren, apalagi mendekatinya. Aku menjadi sekretaris di perusahaan nya demi ayahku" ucap Jessi menunduk.


Darren pun Mengerutkan keningnya mendengar ucapan Jessi.


"Kenapa dengan Master Jessi" ucap Darren dengan tegas.


"Ayahku.....ayahku....hiks hiks hiks"Jessi pun tidak mampu berkata-kata lagi, air matanya mengalir dengan sendirinya disertai isakan.


Mereka bertiga saling pandang, mengapa gadis ini menangis. Setelah beberapa menit menunggu Jessi tenang.


Jones kembali berinisiatif untuk membuka pembicaraan. Namun Jessi dengan cepat mengeluarkan unek-uneknya.


"Ayahku di tangkap oleh anak buah tuan Aldo, mereka menyekap ayahku dan akan membunuhnya jika aku tidak mengabulkan permintaan mereka untuk mengambil alih perguruan RR. Aku sama sekali tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa dan kebetulan kamu sedang mencari sekertaris baru. Maka dari itu aku pun mengikuti seleksi penerimaan sekretaris baru itu. Aku pun sama sekali tidak membutuhkan pekerjaan ini, aku hanya ingin meminta bantuan mu kelak jika aku sudah menjadi sekretaris mu" ucap Jessi jujur.


"Baiklah aku akan membantu mu, membebaskan ayahmu dari anak buah Aldo. Jones yang akan membawamu ke markas mereka" ucap Darren.


"Terima kasih Darren, aku akan tetap mengingat kebaikan mu. Dan maafkan aku, sepertinya aku mengundurkan diri menjadi sekretaris mu, karena ayah ku lebih penting dari segalanya" ucap Jessi.


"Aku tidak memecatmu Jessi, mengapa kamu mengundurkan diri".


"Aku akan menjaga ayahku" ucap Jessi sambil tersenyum.


"Baiklah jika seperti itu, jika kau membutuhkan bantuan, temui saja aku, siapa tahu aku bisa membantu mu".


Jessi pun hanya tersenyum, lalu iapun undur diri dari hadapan Darren dengan Rissa. Jones pun menjalankan tugasnya untuk membebaskan ayah Jessi, mereka bersama-sama menuju lokasi penyekapan ayah Jessi.


Sementara Rissa mampu bernafas lega, setelah Jessi meninggalkan kantor tersebut.


"Itu bekalmu, Ziva memasak makanan itu penuh cinta, jadi kau harus memakannya" ucap Rissa yang masih kesal.


"Hemm".


Darren lalu membuka bekal itu kemudian memakannya dengan lahap.


"Aku tidak ingin seorang wanita dekat-dekat dengan mu, mulai sekarang aku yang akan menjadi sekretaris di perusahaan mu dan akan mengawasi mu. Kau tahu ini demi ponakan kembar ku, aku permisi dulu"ucap Rissa, lalu berjalan keluar.


"Hemm".


Rissa tahu Ziva sedang mengandung anak kembar, pantas saja dia berubah akhir-akhir ini. Batin Darren.


Bersambung......


Terima kasih buat seluruh teman-teman yang sudah memberikan dukungan nya 🤗


Untuk teman-teman yang nunggu cerita Fino dengan Milan di harapkan untuk bersabar. Cerita mereka masih dalam tahap penulisan, jika sudah rilis pasti aku bakalan infokan kepada teman-teman semua, terima kasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2