Mafia Vs Gadis Bercadar

Mafia Vs Gadis Bercadar
Tempat apa ini


__ADS_3

Suasana pagi yang begitu sejuk dengan hawa dingin yang menusuk permukaan kulit, membuat seseorang berlama-lama di tempat persembunyian nya demi mengistirahatkan tubuh lelahnya.


Sementara Ziva sudah terbangun lebih awal, karena kebiasaannya yang ia tanamkan sejak kecil dari ajaran sang kakek. Ziva sudah terlihat segar di pagi hari. Sambil melantunkan shalawat, Ziva dengan telaten membuat minuman hangat untuk mengganjal perutnya dan tak lupa membuat bubur untuk musuhnya sendiri.


Karena kebetulan terdapat beberapa sachet kopi instan yang tersedia di dapur itu. Setelah minuman hangat nya berupa kopi instan sudah siap, lalu Ziva meminumnya dengan perlahan hingga tandas. Setelah itu, ia pun berjalan menuju ke tempat Darren yang masih tertidur pulas sambil membawa nampan berisi kopi dan bubur.


Dengan hati-hati Ziva menyimpan nampan tersebut dan melihat sekilas Darren yang masih tertidur pulas dengan damainya.


"Rupanya masih tidur, aku pikir pengusaha gila ini sudah bangun dan mengamuk lagi kepada ku"gumam Ziva.


Kemudian ia pun berjalan menuju kursi di samping jendela untuk melihat indahnya matahari yang mulai naik ke permukaan.


"Awww"


Ringis Darren yang memegangi keningnya.


"Siapa yang mengganti baju ku" ucap Darren yang tidak tahu menahu kejadian semalam.


Iapun dapat menghirup aroma kopi buatan Ziva. Dan melihat sosok gadis yang duduk di kursi menghadap jendela dengan rambut panjang yang tergerai indah siapa lagi kalau bukan Ziva.


"Hei kau, ambilkan aku air" teriak Darren kepada Ziva.


Sementara Ziva malah melihat Darren sekilas dan kembali pada objek yang dilihatnya.


"Airnya ada diatas nampan, kau bisa mengambilnya sendiri. Dan aku pun berbaik hati menyiapkan mu sarapan" ucap Ziva ketus yang sama sekali tidak melihat empunya.


Sementara Darren tampak kesal, namun tetap menjulurkan tangannya untuk menggapai gelas yang berisi air. Darren tampak membaik walaupun tidak mengonsumsi obat, dikarenakan Ziva merawatnya dengan baik.


Sementara di tempat lain.....


Kediaman keluarga Damanik masih diliputi duka mendalam atas kepergian orang yang mereka sayangi dan untungnya masih ada sedikit rasa senang saat mendengar suara tangis bayi di kediamannya.


Seperti saat ini, Tuan Alvin dan nyonya Ira sama sekali tidak berselera makan. Namun mereka tetap ikut bergabung dengan kerabat terdekatnya siapa lagi kalau bukan Gamal dan keluarga tercinta.


Karena kebetulan tepatnya hari ini, Gamal beserta keluarga akan kembali ke negara C. Seluruh barang dan perlengkapan mereka sudah tersedia berupa 2 koper.


"Tinggallah bersama kami di rumah ini, Kalian tidak perlu kembali ke negara C" ucap tuan Alvin.


"Terima kasih atas tawaran nya tuan Alvin. Kapan-kapan kami akan mengunjungi kediaman tuan" ucap Gamal yang tidak enak hati.


"Rumah ini akan menjadi sepi tanpa tangisan dari baby Key" timpal nyonya Ira yang terlihat lelah.


Sementara Donna hanya tersenyum kikuk melihat keluarga Damanik.


"Oh jika memang seperti itu, rumah ini akan terbuka untuk kalian. Dan Riko akan mengantar kalian ke bandara" ucap tuan Alvin.


Lalu mereka pun berpamitan kepada keluarga Damanik dengan Isak tangis pastinya. Kemudian mobil pun membawa mereka ke bandara internasional di negara itu.


Dan untuk nyonya Ira sendiri masih diselimuti Isak tangis sambil membayangkan orang yang disayanginya telah meninggalkannya. Tuan Alvin pun hanya mampu bernafas dengan berat melihat sang istri. Karena Riko belum bisa menemukan putri tercintanya.


"Sudahlah sayang, kau tidak boleh seperti ini. Kita serahkan saja kepada Tuhan. Tuhan pasti memiliki jalan lain terhadap keluarga kita. Karena apa yang kita harapkan belum tentu Tuhan akan ridhoi" ucap tuan Alvin yang memeluk sang istri.


"Ziva mas, bagaimana dengan putri kita. Sampai sekarang kalian tidak menemukan putri ku" ucap nyonya Ira sambil memukul punggung sang suami.


Sementara tuan Alvin hanya mampu mengeratkan pelukannya dan tak ingin membuat istrinya tambah terluka atas penculikan putrinya.


Cukup lama pasangan suami istri itu berpelukan dengan pikiran masing-masing yang pastinya memikirkan putri tercintanya.


"Aku ingin menemui Lexa mas"ucap nyonya Ira dengan Isak tangisnya yang terdengar begitu pilu.


"Baiklah, kau siap-siap saja. Kita akan menemui putri kita Lexa" ucap tuan Alvin.


Tak berapa lama kemudian mereka sudah tiba di rumah sakit dimana Lexa menjalani perawatannya. Dan perawat beserta dokter menemani mereka untuk menemui Lexa.


"Tuan Alvin bisa kita bicara di ruangan saya" ucap dokter yang baru saja memeriksa kondisi Lexa.


"Baik dokter" ucap tuan Alvin.


Lalu mereka menuju ruangan sang Dokter.


Sementara Nyonya Ira hanya menemani Lexa. Dan terdapat sedikit kebahagiaan menyertainya melihat Lexa yang mulai membaik.


"Keadaan nona Lexa untuk saat ini sudah mengalami peningkatan selama menjalani terapi tuan. Dan kemungkinan besar Lexa bisa berjalan dengan perlahan dengan bantuan alat penyangga" ucap Dokter.


"Tolong dokter berikan yang terbaik untuk putri saya, apapun itu saya akan menanggung segala biaya nya" ucap tuan Alvin yang masih memiliki angin segar atas kesembuhan putrinya.


"Kami selalu memberikan yang terbaik untuk kesembuhan nona Lexa. Sudah waktunya Lexa bisa beradaptasi dengan lingkungan keluarganya" ucap dokter tersebut dengan sedikit senyuman.


"Maksud dokter, putriku Lexa sudah bisa pulang ke rumah kami" ucap tuan Alvin.

__ADS_1


"Benar tuan, nona Lexa sudah bisa pulang ke kediamannya. Seiring berjalannya waktu nona Lexa pasti akan sembuh berkat dukungan dari keluarga dan tak lupa pula bantuan dari sang pencipta. Untuk masalah terapinya bisa dilakukan seminggu 3 kali" ucap dokter yang menjelaskan perihal kondisi pasien nya.


"Terima kasih dok atas infonya" ucap tuan Alvin antusias.


Lalu mereka kembali menemui Lexa. Setelah Riko selesai mengurus segala sesuatu nya termasuk administrasi biaya perawatan Lexa. Mereka mulai meninggalkan rumah sakit itu.


Yang pastinya Lexa begitu senang bersama keluarga nya. Walaupun sampai saat ini ia tidak mengetahui musibah yang menimpa keluarga nya, mulai dari penculikan Ziva dan dibawa kabur oleh musuh ayahnya, hingga kabar kematian tuan Harris.


Sementara di tempat lain......


Kapal pesiar yang membawa Ziva sudah bersandar di pelabuhan negara A. Beberapa penumpang kapal mulai memijakkan kakinya di dataran. Sementara para awak kapal hanya bercanda gurau di atas kapal.


Untuk di kamar yang Ziva tempati bersama Darren, mereka masih sibuk dengan yang mereka lakukan. Di sini Darren sudah rapi dengan setelan jasnya yang sedang fokus memainkan ponselnya dan tak lupa menyuruh jones beserta anak buah lainnya untuk menyiapkan Ziva baju yang tertutup lengkap dengan cadarnya.


Darren sesekali melihat ke arah Ziva yang hanya fokus melihat ke arah jendela.


Tok


tok


tok


Kemudian Darren berjalan membuka pintu dan sudah menebak siapa yang mengetuk pintu kamarnya.


"Kau sudah membawanya".


"Iya tuan" ucap jones yang memberikan 1 koper yang berisi baju-baju untuk Ziva.


Kemudian Darren mengibaskan tangannya untuk menyuruh jones pergi. Lalu iapun menutup kembali pintu kamar nya.


"Cepat ganti baju mu, karena aku tidak ingin menunggu lama di kamar ini" ucap Darren dingin yang mendorong koper itu, lalu kembali ke posisinya semula.


Sementara Ziva mulai membuka isi koper itu dan mengambil baju yang akan ia kenakan.


Kini Ziva sudah kembali ke penampilan sedia kala yakni pakaian tertutup dengan hijab+cadar yang bertengger di kepalanya. Mereka berjalan bersama-sama menuruni kapal pesiar itu.


Beberapa mobil mewah sudah terparkir menunggu kedatangan mereka.


Jones beserta supir berada satu mobil dengan tuannya termasuk Ziva di dalamnya. Mobil pun membawa mereka menuju tempat yang akan ia tuju.


Sekitar 2 jam lamanya mereka melakukan perjalanan, hingga mereka tiba di sebuah kawasan Savana.


Tanpa membantah, Ziva langsung turun dengan santainya. Kemudian jones membuka bagasi mobil untuk menurunkan koper Ziva.


"Ini koper nona Ziva"ucap jones dengan senyuman ciri khasnya yang menyimpan koper itu tepat di samping Ziva.


"Terima kasih pak" ucap Ziva yang mulai memegang kopernya.


"Semoga nona Ziva suka tempat ini. Nanti juga akan ada yang menjemput nona dan jaga kesehatan ya" ucap jones yang begitu perhatian.


"Iya pak".


Sementara Darren hanya menatap lurus ke depan tanpa harus melihat ke arah Ziva.


Lalu mobil pun meninggalkan Ziva seorang diri di tempat yang tidak berpenghuni itu. Ziva dengan perasaan marah menatap kepergian mobil Darren. Sementara Darren mampu melihat sosok Ziva di spion mobil nya.


"Kamu akan menderita di tempat itu" ucap Darren dengan seringai licik diwajahnya.


"Tempat apa ini" ucap Ziva yang melihat disekelilingnya.


"Oh jadi pengusaha gila itu ingin menyiksa ku di tempat seperti ini".


Ziva pun mulai berjalan masuk ke area Savana itu dengan rumput ilalang yang mulai mengering. Sekitar 20 menit ia melakukan perjalanan dan tak terasa keringatnya bercucuran di wajahnya. Tak berapa lama, terdengar suara motor mendekat ke arahnya.


"Ayo naik nona, tuan Darren menyuruh saya untuk menjemput anda" ucap seorang lelaki yang menggunakan motor yang di modifikasi dengan adanya kursi penumpang di samping nya.


Ziva pun hanya mengangguk dan pasrah. Lalu motor pun membawa mereka memasuki kawasan Savana. Ziva pun melebarkan matanya saat melihat sebuah gedung 2 lantai dan terdapat sebuah pondok kecil yang berdampingan, tidak hanya itu, beberapa orang melakukan pacuan kuda.


"Tempat apa ini" lagi-lagi Ziva mengucapkan kalimat itu.


"Ini peternakan kuda balap keluarga Alexander nona" ucap lelaki itu.


Ya Allah aku berharap, aku bisa menjalani hari-hariku dengan baik di tempat ini. Batin Ziva.


"Tidak usah bapak memanggil saya sebutan nona. Panggil saja Ziva pak. Jadi apa yang akan saya kerjakan di tempat ini pak" ucap Ziva.


"Baik nak Ziva, saya juga tidak tahu nona, nanti juga akan ada yang bertugas mengawasi pekerjaan kita" ucap lelaki paruh baya itu.


"Sudah sampai nak Ziva" ucap lelaki paruh baya itu.

__ADS_1


Dan beberapa pekerja yang mayoritas laki-laki menatap ke arah Ziva.


Ziva pun hanya mampu menatap gubuk yang tidak terawat dan paling kecil di tempat itu.


"Nak ziva bisa tinggal di tempat ini" ucap lelaki paruh baya itu sambil menurunkan koper Ziva.


Dan salah satu pekerja di tempat itu mulai memberikan lembaran kertas yang berisi pekerjaan yang dilakukan oleh Ziva.


Dengan malas Ziva mulai masuk di gubuk tua itu. Iapun membersihkan gubuk itu yang akan ia tempati kedepannya.


Sebulan kemudian......


Tak terasa sudah sebulan Ziva berada di Savana. Hari-hari ia lalu dengan menyemangati diri nya sendiri. Hampir setiap harinya Ziva berbuat onar, karena belum terbiasa dengan pekerjaannya yakni menjadi peternak kuda. Iapun ditugaskan untuk membersihkan kotoran kuda di pagi hari dan ditugaskan memberi pakan untuk kuda balap itu. Hingga Ziva membuat gempar di Savana itu karena melepaskan seluruh kuda balap itu karena kekesalannya.


"Aku seperti budak di tempat ini" gumam Ziva yang baru saja membersihkan kotoran kuda.


"Aku heran kenapa para pekerja ini menganggap pengusaha gila itu orang baik, padahal malah sebaliknya. Pokoknya pengusaha gila itu seperti Dajjal saja" ucap Ziva yang mengomel kesal yang mengangkat air untuk ia gunakan membersihkan tubuhnya.


Dan tak lupa beristighfar bila mengeluarkan unek-unek nya.


"Aku bisa meninggalkan tempat ini. Tapi sebelum itu, aku harus membuat rencana"ucap Ziva lalu menutup tirai lalu masuk ke dalam kuali untuk merendam tubuhnya yang lelah seharian bekerja.


Sementara Darren malah sibuk bekerja di perusahaannya. Ia semakin berjaya saja dan hampir setiap harinya Darren mendapat laporan tentang Ziva yang selalu berbuat onar dari para anak buahnya.


"Apa yang dilakukan gadis itu hari ini" ucap Darren yang berkutat dengan laptopnya.


"Nona Ziva bekerja dengan baik hari ini tuan"ucap jones yang menjadi asisten pribadinya.


Darren hanya mampu tergelak tawa.


"Sepertinya aku harus mengunjungi tempat itu untuk menyaksikan sendiri gadis itu" ucap Darren dengan seringai licik diwajahnya.


Malam harinya......


Ziva tak henti-hentinya beribadah kepada Tuhan nya. Selepas sholat tak lupa Ziva membaca Al-Quran yang sempat ia dapatkan sehabis membersihkan tempat itu.


Tawa, haru, sedih selalu menyelimuti perasaan gadis itu. Ditambah kerinduannya semakin menjadi-jadi kepada kedua orang tuanya.


"Semoga Ayah, bunda dan kakek selalu diberikan kesehatan dan kebahagiaan" ucap Ziva membaringkan tubuhnya sambil menatap langit gubuk itu.


"Ya Allah tolong bantu hambamu ini untuk keluar dari tempat ini" ucap Ziva menggeser posisinya di tempat tidur yang berukuran kecil.


Darren mulai bersiap untuk menemui Ziva dengan pakaian santainya dan tak lupa mengenakan jaketnya. Iapun hanya menggunakan motor trail untuk ke tempat itu yang berjarak sekitar 1 kilo dari kediaman nya.


Dengan mengendap-endap layaknya pencuri. Darren membuka pintu gubuk Ziva.


Ziva yang membaringkan tubuhnya mendengar langkah kaki seseorang. Dengan cepat ia bangun.


"Hemm"


Darren mulai melangkah ke arah Ziva dan langsung duduk di kursi kayu yang sudah tidak terawat.


"Mau apa kau ketempat ini. Apa kau sudah puas melihat ku menjadi budak di tempat ini tuan Alexander yang terhormat" ucap Ziva marah dengan mata berkaca-kaca.


"Hemm". ucap Darren yang tersenyum.


"Cepat keluar, aku tidak ingin melihat mu pengusaha gila" bentak Ziva.


"Ini tempat ku, aku tidak akan pergi"tantang Darren dengan seringai licik diwajahnya. "Aku ingin menginap di tempat ini bersama mu".


"Cepat keluar...."


"Kau ingin membangunkan penghuni lainnya dan menjamvakkmu hah".


Ziva pun kembali terdiam. Dan hujan pun turun dengan derasnya.


"Aku ingin tidur". ucap Darren yang mulai mendekat ke tempat tidur.


"Kau tidak boleh berada di tempat tidur ini. Kau tidur di lantai saja" ucap Ziva ketus.


"Ini tempat ku, tidak ada yang bisa melarang ku termasuk kau" ucap Darren lalu melepas jaketnya dan membaringkan tubuhnya.


"Enak saja ini sudah menjadi milikku"ucap Ziva dan ikut berbaring di samping Darren.


Mereka pun sempat terdiam dengan pikiran masing-masing. Dan tak berapa lama kemudian Ziva pun mulai tertidur. Sementara Darren masih gelisah dan membolak-balikkan tubuhnya.


Darren pun menatap Ziva yang mulai tertidur pulas dan iapun hanya mampu tersenyum melihat istrinya. Dengan liciknya Darren mengambil kesempatan kepada istrinya. iapun mulai menarik tubuh Ziva dan memeluknya dengan erat dan tak lupa mencium puncuk kepala Ziva.


Bersambung.....

__ADS_1


Selamat hari raya idul Fitri mohon maaf lahir dan batin 🙏


__ADS_2