
Pagi harinya.....
Seluruh keluarga Alexander tampak rapi dengan baju persatuan mereka yang dirancang khusus oleh desainer ternama di negara nya yang sudah lama menjadi perancang busana di keluarga Alexander. Pihak keluarga Fino sepertinya sudah siap menuju tempat pesta pernikahan Fino yang akan di laksanakan di hotel milik mereka sendiri yakni hotel Alexander.
Ziva dan Darren duduk bersama di sofa sambil menunggu kedatangan Fino yang belum juga muncul. Ziva terlihat anggun dengan busana muslimah berwarna navy begitu pula dengan Darren dengan texudo yang senada dengannya.
"Aku jadi ingat saat kita menikah dulu" ucap Darren.
"Jelas suamiku kau sangat mengingatnya, lagian kau menikahi ku sampai 3 kali bukan" ucap Ziva.
"Aku bahkan senang menikahi mu berkali-kali, bahkan sudah pasih dengan ucapan ijab kabul nya. Tapi sayangnya..."ucap Darren dengan sedikit senyuman.
"Apa yang disayangkan" tanya Ziva sambil menatap Darren dengan penuh tanda tanya.
"Sayangnya kita baru melakukan malam pertama di pernikahan ketiga kalinya" bisik Darren di telinga istrinya.
"Dasar kau mesum" ucap Ziva dengan rona wajah malu, sambil memukul dada bidang Darren.
Darren hanya mampu tergelak tawa melihat tingkah Ziva yang masih saja terlihat malu-malu. Di samping mereka terdapat keluarga Ziva yang sedang mengobrol bersama tuan John, David dan beberapa kerabat terdekat nya.
Sementara di kamar Fino.....
Nyonya Ratu bersama 3 pelayan sedang membantu Fino untuk bersiap-siap.
Fino sudah terlihat rapi dengan texudo berwarna putih yang begitu sakral untuk calon pengantin mempelai laki-laki.
Nyonya Ratu lalu merapikan rambut putranya, setelah itu, memberikan peci putih untuk Fino.
"Terima kasih ma" ucap Fino lalu memakai peci tersebut di kepalanya.
"Kau terlihat tampan sayang, Sarah pasti sangat bahagia menjadi suamimu. Semoga pernikahan kalian berjalan dengan lancar, amin" ucap nyonya Ratu dengan senyum kebahagiaan.
Fino hanya tersenyum, ia tidak tahu harus memulai dari mana untuk menjelaskan kepada mamanya, bahwa ia tidak akan menikahi Sarah.
"Ayo kita turun sayang, keluarga sudah menunggu kita" ucap nyonya Ratu yang memegang lengan Fino.
Sementara ketiga pelayan tadi, sudah meninggalkan kamar Fino.
Fino pun menghentikan langkah ibunya. Nyonya Ratu menatap Fino dengan penuh tanda tanya.
"Ada apa sayang" ucap nyonya Ratu dengan suara merdunya.
Fino hanya diam, kemudian menuntun ibunya untuk duduk di sofa.
"Sebenarnya Fino ingin mengatakan sesuatu kepada mama" ucap Fino yang mulai angkat bicara.
"Katakan saja, mama akan mendengar nya" ucap nyonya Ratu sambil menggenggam tangan putranya.
"Aku sudah menikah ma" ucap Fino sambil menatap manik mata ibunya.
Nyonya Ratu sangat terkejut dengan ucapan putranya, kemudian ia pun tersenyum.
"Siapa gadis yang sudah kamu nikahi" ucap nyonya Ratu dengan suara lantang.
"Aku menikahi Milan ma, karena ketidak sengajaan. Dan itu ku lakukan dengan keadaan terpaksa" ucap Fino sambil menunduk.
Nyonya Ratu hanya mampu menutup mulutnya. Ia menjadi shock mendengar penuturan putranya yang ternyata sudah menikah dan sekarang bagaimana dengan nasib Sarah yang sebentar lagi akan menikah dengan putranya.
"Terus bagaimana dengan Sarah, apa kau juga ingin menikahinya" ucap nyonya Ratu dengan suara meninggi.
"Aku tidak akan pernah menikah dengan Sarah. Dia gadis licik yang sudah bekerja sama dengan Zayn" ucap Fino sambil menatap manik mata ibunya.
Lagi-lagi nyonya Ratu hanya mampu memegangi kepalanya yang sedikit pening mendengar ucapan Fino.
"Bagaimana dengan pesta pernikahan mu, mama tidak ingin malu dihadapan para tamu undangan. Dan tidak ada sejarah yang menimpa keluarga kita jika kamu batal menikah. Mau di taruh mana muka mama jika kau batal menikah" ucap nyonya Ratu.
"Aku akan kembali menikahi Milan ma" ucap Fino yang begitu bersungguh-sungguh.
"Baiklah jika seperti itu, apakah Milan setuju menikah dengan mu" ucap nyonya Ratu.
__ADS_1
"Aku tidak tahu ma, aku belum pernah berbicara empat mata dengannya. Bahkan Milan tidak tahu kalau aku sudah menikahinya" ucap Fino.
"Astaghfirullah, kau pasti menikahi Milan karena kecelakaan" omel nyonya Ratu sambil menjewer telinga Fino.
Fino hanya mampu mengangguk, jeweran telinga ibunya sama sekali tidak berpengaruh terhadap nya, yang jelas ibunya terlihat baik-baik saja.Ia tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya kepada ibunya tentang dia dengan Milan.
"Baiklah jika seperti, mama akan urus semuanya" ucap nyonya Ratu sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Mau bagaimana lagi, jika nasi sudah menjadi bubur maka tetap menjadi bubur.
Kemudian mereka bersama-sama berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai dasar.
Sementara di tempat lain....
Milan menarik kopernya keluar dari apartemen miliknya. Milan kemudian mengunci pintu apartemennya lalu menempelkan sebuah kertas bahwa apartemen itu di jual.
Setelah itu, Milan menarik kopernya masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke bassment apartemen. Milan kemudian membuka pintu mobilnya lalu meletakkan kopernya di bagian belakang.
Lalu iapun masuk ke dalam mobil. Dan berkendara meninggalkan kawasan apartemen tersebut.
Milan terus saja berkendara di jalanan yang tampak lengang di pagi hari. Ia sudah membulatkan tekadnya untuk meninggalkan negara itu. Milan kemudian memarkirkan mobilnya di sebuah perkuburan keluarga Alexander.
Rupanya Milan ingin mengunjungi makam kedua orang tuanya. Milan lalu turun dari mobil dan membuka pintu belakang untuk mengambil 2 buket bunga yang sempat ia beli.
Langkah kaki Milan begitu berat menuju makam kedua orang tuanya. Ia begitu malu mengunjungi makam kedua orang tuanya, atas kejadian yang menimpa dirinya.
Milan lalu berjongkok meletakkan buket bunga yang sempat ia bawa untuk kedua orang tuanya. Milan lalu memeluk pusara ayahnya.
"Milan minta maaf, karena tidak bisa menjaga diri Milan dengan baik ayah, hiks hiks hiks"ucap Milan yang sudah berderai air mata.
"Milan tidak bisa lagi mengabdi di keluarga Alexander. Milan akan pergi jauh ayah, ibu, Milan akan memulai hidup baru di negara orang dan melupakan luka yang sempat Milan alami" ucap Milan lalu menghapus air matanya.
Setelan itu, Milan pun memanjatkan doa untuk kedua orang tuanya. Semoga tetap Khusnul khatimah di alam sana.
Milan lalu melangkahkan kakinya menuju mobilnya. Ia kembali melajukan mobilnya menuju kediaman Alexander, untuk berpamitan kepada keluarga Alexander. Walau bagaimanapun ia harus pamit secara baik-baik kepada mereka, begitu halnya saat ia diterima dulu bekerja di keluarga Alexander.
Milan pertama kali bekerja di kediaman Alexander saat berusia 19 tahun dan sekarang usianya sudah menginjak 28 tahun. Sehingga terhitung 10 tahun lamanya Milan mengabdi di keluarga Alexander.
Setelah selesai melakukan doa bersama. Para kerabat mulai berjalan ke luar rumah menuju mobil mereka masing-masing yang akan mengantarkan mempelai laki-laki menuju pesta. Dan beberapa dari mereka sudah meninggalkan kediaman Alexander.
Tampak Rissa yang baru saja datang dan berjalan terburu-buru masuk ke dalam rumah.
"Semuanya berhenti" ucap Rissa dengan suara meninggi.
Ziva dan Darren yang akan berjalan keluar menghentikan langkahnya.
"Pernikahan kak Fino dan Sarah batal" ucap Rissa ketus.
Sementara nyonya Ratu dan Fino ikut menghentikan langkahnya.
"Apa maksud mu Rissa" ucap nyonya Ratu yang berpura-pura tidak tahu.
"Sarah kabur dari rumah, dan ayahnya saat ini sedang di rawat di rumah sakit karena mengalami stroke mendengar putrinya kabur" ucap Rissa.
Nyonya Ratu memegangi kepalanya yang sedikit pusing, bagaimana pun, ia bersahabat baik dengan ibu Sarah. Fino dengan cepat merangkul ibunya dan menuntut nya untuk duduk kembali, sementara Darren berlari menghampiri ibunya sambil bersimpuh di hadapan nya.
"Tenang ma, semuanya akan baik-baik saja" ucap Darren sambil menggenggam tangan ibunya.
Sementara Ziva ikut mendekat dan duduk di samping nyonya Ratu sambil mengelus punggung ibu mertuanya.
"Mama baik-baik saja sayang" ucap nyonya Ratu.
Fino memberikan segelas air putih untuk ibu nya. Nyonya Ratu lalu menghabiskan air itu dan terlihat sedikit rileks.
"Dari mana kau mendapatkan kabar tentang Sarah" bentak Darren.
"Aku melihatnya di media sosial" ucap Rissa yang ikut panik melihat bibinya.
"Ternyata mama salah memilih wanita untuk mu sayang" ucap nyonya Ratu sambil membelai wajah Fino.
__ADS_1
"Tidak ma, jangan berkata seperti itu" ucap Fino.
"Yeeay pernikahan kak Fino batal" ucap Rissa sambil bersorak gembira.
"Pernikahan Fino tetap dilaksanakan" ucap nyonya Ratu.
Sementara Darren, Ziva dan Rissa saling pandang.
"Siapa gadis yang akan Fino nikahi ma" ucap Darren dengan penuh tanda tanya, yang mewakili kedua wanita di sampingnya.
"Nanti juga kalian akan tahu" ucap nyonya Ratu dengan sedikit senyuman.
"Lebih baik kalian berangkat terlebih dahulu bersama Fino, nanti mama akan menyusul kalian" ucap Nyonya ratu.
"Tapi ma kita harus tahu si...."
Nyonya Ratu lalu menuntun Fino menuju mobil pengantin. Darren, Ziva dan Rissa mengekor di belakang.
Fino sudah berada di dalam mobil pengantin bersama supir dan sekertarisnya. Ziva, Darren dan Rissa satu mobil. Lalu mobil mereka melaju menuju pintu gerbang.
Tampak mobil Milan sudah terparkir di sebrang jalan. Milan pun berdiri di samping mobilnya, saat melihat mobil tuannya dengan cepat ia membungkukkan badannya dengan penuh hormat.
Sementara Fino yang berada di dalam mobil, sempat melirik ke arah Milan di balik kaca spion mobil. Mobil mereka melaju menuju hotel Alexander.
"Bukankah itu mobil tuan Darren, sepertinya aku harus mengikutinya" ucap Milan. Lalu iapun ingin mengikuti mobil Darren.
Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara Kepala pelayan yang datang menghampiri nya.
"Nyonya Ratu memanggil mu" ucap Kepala pelayan.
"Baik bi" ucap Milan.
Sepertinya aku harus berpamitan kepada nyonya Ratu. Setelah itu, menemui tuan Darren dan nona Ziva. Batin Milan.
Milan pun mengikuti langkah kaki kepala pelayan hingga tiba di ruang tamu. Terlihat nyonya Ratu sedang duduk sambil menyilang kan tangannya.
Saat melihat kehadiran Milan dengan cepat nyonya Ratu mengibaskan tangannya kepada pelayan. Kedua pelayan lalu menghampiri Milan dan memegangi tangan Milan layaknya buronan.
"Nyonya ada apa ini" ucap Milan, karena kedua pelayan memegangi tangannya.
"Pelayan bantu Milan bersiap, aku tidak ingin menunggu lama" ucap nyonya Ratu.
"Nyonya tolong jelaskan ada apa ini" ucap Milan sambil menghentakkan tangganya.
"Kau akan menikah dengan putraku Fino dan jangan membantah ucapan ku" ucap nyonya Ratu.
Deg
Bagaikan tersambar petir disiang bolong mendengar ucapan nyonya Ratu. Milan sama sekali terkejut, hingga susah untuk berkata-kata.
"Maaf nyonya saya tidak bisa, saya tidak pantas bersanding dengan tuan Fino" ucap Milan sambil membungkuk.
"Aku tidak pernah menarik kata-kata ku, pelayan cepat bantu Milan bersiap" bentak nyonya Ratu.
Milan dengan cepat bersimpuh di hadapan nyonya Ratu.
"Tolong nyonya saya tidak bisa menikah dengan tuan Fino" ucap Milan sambil memegangi kaki nyonya Ratu.
Ya tuhan aku harus bagaimana. Aku tidak pantas untuk tuan Fino, aku bahkan tidak suci lagi, bisa-bisa tuan Fino membunuhku dan keluarga Alexander akan melenyapkan seluruh keluarga ku. Batin Milan.
"Aku tidak suka dibantah" ucap nyonya Ratu dengan tegas.
Lalu meninggalkan Milan, sebenarnya ia tidak tega melakukan hal itu kepada Milan. Tapi mau bagaimana lagi, ia harus memaksa Milan untuk menikah dengan putranya lagi.
Milan pun menjadi pasrah di bawa oleh kedua pelayan. Memang nasibnya mengabdi di keluarga Alexander dan mendapatkan peruntungan menikahi majikannya. Tapi ia tetap tidak pantas untuk tuan Fino yang bagaikan langit dan bumi.
Pelayan mulai membantu Milan bersiap dan me make over wajah Milan. Dengan balutan gaun pengantin syar'i, Milan terlihat sangat cantik dan pertama kalinya ia mengenakan hijab. Sungguh kecantikan nya terpancar saat mengenakan hijab.
Para pelayan pun mengakui kecantikan Milan sambil tersenyum melihat Milan yang tampak cantik dan anggun.
__ADS_1
Bersambung.....
Akhirnya bisa update juga 🤗