
Masih di hotel Alexander, dimana pesta pernikahan Fino dan Milan akan dilaksanakan.
Ziva masih saja berdiri sambil bergandengan tangan dengan Darren menunggu kedatangan mempelai wanita yang tak kunjung datang.
"Kemana calon pengantin wanita nya" tanya Ziva yang mulai celingak-celinguk melihat di sekeliling aula hotel yang sudah di penuhi tamu undangan.
"Mungkin masih di perjalanan, ada baiknya kalau kamu istirahat dulu. Kasihan dedek baby dalam perutmu" ucap Darren sambil mengelus perut rata istrinya.
"Aku ingin di sini menunggu calon pengantin wanita nya, aku sangat penasaran siapa gadis itu ya" ucap Ziva lalu kembali memicingkan matanya pada para tamu undangan.
"Baiklah sayang jika itu maumu" ucap Darren dengan sedikit senyuman yang selalu saja menempel pada istrinya.
"Eeh lihat anak kecil itu, aku ingin sekali menggendongnya" ucap Ziva dengan mata berbinar saat melihat anak kecil yang sangat menggemaskan.
Darren pun melihat ke arah yang ditunjuk istrinya lalu ikut menatap anak kecil yang sangat menggemaskan dengan pipi chubby.
Bukankah itu Pak Handoko, dan 5 anak kecil itu pasti anaknya. Batin Darren yang mampu melihat keluarga besar pak Handoko.
Ziva sudah melepaskan genggaman tangannya. Kini sedang bergabung dengan keluarga tersebut.
"Hai assalamualaikum, apa kabar adik kecil" ucap Ziva yang menghampiri anak kecil yang berada di gendongan ibunya yang masih bayi tapi sudah mengenakan hijab.
"Ka ka, paaaa"
"Waalaikumsalam nona" ucap ibu anak kecil itu yang tampak ramah.
Sementara suami di sampingnya tampak terkejut saat Darren menghampirinya.
"Apa ini anak-anak mu pak Handoko" ucap Darren yang menatap 5 anak kecil termasuk di gendongan ibunya.
"Iya tuan, mereka anak saya. Saya mengajak mereka ke pesta pernikahan tuan Fino" ucap pak Handoko sambil merangkul keempat anaknya.
Sedangkan Anak kecil itu sangat senang di ajak berbicara oleh Ziva, ia terus saja tersenyum yang memperlihatkan 2 gigi kelinci nya.
"Masya Allah lucunya" ucap Ziva sambil mencubit pipi gembul anak kecil itu, saking gemesnya.
Sementara para kakak dari anak kecil itu yang umurnya hanya berjarak 2 tahun tampak menatap tajam Ziva.
"Jangan sentuh adik kami" ucap anak kecil laki-laki umur 3 tahun yang tampak marah di ganggu adiknya. Bahkan mendorong Ziva.
Ziva hanya mampu tersenyum dengan tingkah anak kecil itu, sementara Darren melototi anak kecil itu, karena sudah berani mendorong istrinya.
Pak Handoko dengan cepat menarik putranya.
"Maafkan anak saya tuan, nona. Cepat minta maaf kepada tuan dan nona" ucap Pak Handoko yang memarahi anaknya.
Sementara putra pak Handoko malah menangis dan bersembunyi di balik tubuh ayahnya.
"Tidak apa-apa, dia masih kecil dan belum tahu mana yang baik dan benar" ucap Ziva sambil tersenyum dibalik cadarnya.
Ziva pun sangat senang, akhirnya bisa menggendong anak kecil yang menggemaskan itu. Ziva lalu memeluknya, kemudian mencium pipi chubby anak kecil itu sambil tertawa, Anak kecil itu ikut tertawa dengan perlakuan Ziva dan sepertinya menyukai Ziva.
Darren pun mengambil alih anak kecil itu dari gendongan Ziva.
__ADS_1
"Anak kecil ini, terlalu berat untuk kau gendong sayang. Aku tidak ingin kau lelah gara-gara mengendongnya" ucap Darren dengan sedikit senyuman.
Dan benar adanya bobot tubuh anak kecil itu, lumayan berat bila digendong terlalu lama.
Ziva pun kembali mencium pipi chubby anak kecil itu berkali-kali.
"Kau terus saja mencium pipi nya, sekali-sekali cium juga pipi ku" ucap Darren yang merasa iri kepada anak kecil itu.
"Jangan iri pada anak kecil, aku akan menciummu... tapi di rumah" ucap Ziva sambil berbisik.
Terdengar suara riah riuh tamu undangan yang mulai mengatakan bahwa calon mempelai wanita sudah tiba.
Darren kemudian mengembalikan anak kecil itu kepada ibunya. Ia lalu menggandeng tangan Ziva untuk duduk kembali di kursi yang disediakan untuknya.
Tampak Fino sudah duduk di tempat yang telah disediakan untuk melakukan ijab Kabul. Pak penghulu tampak mengobrol dengan tuan John yang merupakan wali nikah Fino. Sudah lama Fino dan lainnya menunggu kedatangan ibunya dengan calon istrinya.
Nyonya Ratu mulai menuntun Milan memasuki aula hotel, Pandangan para tamu undangan tertuju kepada mempelai wanita. Milan terlihat cantik dengan riasan wajah yang tidak terlalu mencolok tapi tetap manis untuk dipandang. Sementara Milan hanya mampu menunduk, ia menjadi gugup ditatap oleh para tamu undangan yang mayoritas kaum kalangan elite.
"Angkat wajahmu, kau tidak boleh menunduk di depan mereka, kau adalah ratu nya, jadi jangan menunduk" ucap nyonya Ratu.
"Baik nyonya" ucap Milan lalu ia pun kembali mengangkat wajahnya. Dan mulai berjalan beriringan dengan nyonya Ratu.
Ziva dan Darren memicingkan matanya melihat sosok mempelai wanita.
"Bukankah itu Mbak Milan, jadi mbak Milan mempelai wanita nya" ucap Ziva yang terlonjat kaget. Begitu pula dengan Darren.
Sedangkan Rissa tampak shock, ia langsung pergi sambil menghentakkan kakinya, karena tidak bisa menerima kenyataan bahwa Milan yang akan menjadi istri Fino.
"Mbak Milan sangat cantik, ia benar-benar anggun mengenakan hijab" ucap Ziva dengan mata berbinar.
Sementara Darren hanya diam, ia masih bertanya-tanya dalam hati. Bagaimana mungkin orang kepercayaannya menikah dengan kakaknya Fino.
Kini Milan sudah duduk di samping Fino. Sedangkan Fino sempat melirik Milan hingga beberapa detik. Tampak para saksi dan wali nikah sudah duduk bersama dan saling berhadapan di tempat yang disediakan untuk melakukan ijab Kabul.
Pak penghulu mulai membuyarkan konsentrasi Fino yang sedang melirik Milan.
"Baiklah ijab kabul nya akan segera dilakukan" ucap pak penghulu.
Wali nikah Milan diwakilkan oleh tuan Alvin. Berhubung karena kedua orang tua Milan sudah meninggal dunia. Dan kerabat terdekatnya yang jauh sehingga tidak sempat untuk hadir di acara pernikahan nya, apalagi pernikahannya secara mendadak.
"Sah"
Seluruh tamu undangan berteriak dengan kata sah, yang berarti Fino dan Milan menjadi pasangan suami istri yang sah secara hukum dan agama.
Pak penghulu meminta Fino dan Milan untuk menandatangani buku nikah mereka. Setelah itu, pak penghulu kembali meminta Milan untuk mencium punggung tangan suaminya.
Dengan tangan gemetaran, Milan mulai meraih tangan Fino kemudian mencium punggung tangan suaminya. Selanjutnya Fino pun diminta oleh mamanya untuk mencium kening istrinya.
Fino pun sempat menatap tajam Milan, kemudian ia pun mendekatkan wajahnya hingga bibirnya menempel di kening istrinya.
Nyonya Ratu pun tersenyum, ia sangat bersyukur kepada Tuhan karena kedua putranya berstatus menikah.
Fino dan Milan kemudian melakukan sungkeman kepada keluarga Fino.
__ADS_1
Fino memeluk ibunya dengan erat, ia sangat menyayangi ibunya dan tidak akan membuat ibunya khawatir. Lanjut Milan memeluk nyonya Ratu. Nyonya Ratu pun tersenyum, dan membisikkan kata-kata mutiara untuk menantunya agar tetap menjaga keutuhan rumah tangga mereka.
Ziva memeluk Milan dengan erat. Ia turut bahagia dengan pernikahan Milan.
"Semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah" ucap Ziva.
"Amin, terima kasih nona Ziva" ucap Milan.
Sedangkan Darren memeluk kakaknya.
"Ternyata kau berjodoh dengan Milan, dari awal Milan menjadi orang ku, kau selalu menjelek-jelekkan nya. Dan lihatlah sekarang dia menjadi istri mu"ucap Darren sambil tersenyum sinis.
Fino hanya diam, ia tidak sama sekali tidak menimpali ucapan adiknya.
Setelah itu, mereka melakukan sesi foto keluarga bersama.
Selanjutnya Fino dan Milan duduk di kursi pelaminan. Para tamu undangan mulai memberi selamat kepada pasangan suami istri itu. Beberapa rekan bisnis Fino tampak hadir dan memberi selamat kepada Fino.
"Dari mana kau mendapatkan istri secantik itu" ucap Exel yang berbisik, yang sama sekali tidak mengenali Milan dengan gaun pengantin syar'i dengan hijabnya.
Fino hanya tersenyum sinis, ia tampak acuh dengan ucapan rekan bisnisnya.
Sementara dari kejauhan, Jones hanya mampu menatap Milan dari kejauhan. Ia selama ini memiliki perasaan kepada Milan, namun Milan selalu saja cuek dan menghindarinya. Dan selalu menganggap nya sebagai saudara laki-lakinya.
"Semoga kau tetap bahagia Milan" ucap jones yang tampak patah hati.
Jones lalu berjalan menunduk melewati tamu undangan. Ia ingin segera meninggalkan tempat itu.
Sore harinya
Fino dan Milan sudah berada di dalam kamar hotel yang sudah dirias ala-ala kamar pengantin. Fino baru saja selesai membersihkan tubuhnya, ia keluar dari toilet hanya menggunakan jubah mandi.
Semenjak berada di pesta tadi, Fino belum pernah berbicara dengan Milan. Ia terlihat acuh kepada Milan yang berstatus sebagai istri nya.
Sementara Milan baru saja dibantu oleh dua Pelayan wanita untuk membersihkan makeup nya. Dan hijab yang bertengger di kepalanya.
Milan kemudian berjalan menuju toilet dengan menenteng paper bag yang berisi pakaian santai untuknya.
Milan memilih merendam tubuhnya di dalam bathtub, setelah dirasa cukup. Kemudian ia membilas tubuhnya di bawah shower. Milan lalu menyambar jubah mandi lalu memakainya.
Setelah itu, ia membuka paper bag dan mengeluarkan isinya. Betapa terkejutnya Milan melihat gaun yang cukup seksi untuknya. Milan kembali memasukkan gaun itu. Ia pun memilih memakai jubah mandi saja dari pada gaun seksi itu.
Milan membuka pintu toilet, ia merasa gugup dan takut satu kamar dengan Fino.
Fino tampak menyandarkan punggungnya di badboard tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Fino benar-benar butuh istirahat, karena ia masih harus menghadiri acara makan malam nanti yang hanya dihadiri oleh keluarganya di hotel tersebut.
Saat mendengar pintu toilet terbuka, pandangan mata Fino langsung tertuju pada Milan, ia memperhatikan Milan dari ujung kaki hingga pandanganya naik ke wajah Milan yang tampak cantik alami, ditambah Milan hanya mengenakan jubah mandi dengan rambut basah yang terlihat sangat seksi.
Fino hanya mampu menelan salivanya dengan kasar.
Sial, aku tidak boleh tergoda dengan gadis tua itu. Batin Fino.
Bersambung.....
__ADS_1