
Ziva hanya mampu menunduk dan menghiraukan omongan orang-orang terhadapnya. Setiap kali ia berpapasan dengan para pekerja, mereka terus berbisik dan mencemoohnya dengan kata-kata yang tidak pantas. Yang tadinya setiap sore Ziva berkuda dengan para pelatih. Namun kali ini, mendekati trek saja tidak mampu ia jangkau.
Dari kejauhan, Ziva menatap para pelatih menunggangi kuda balapnya dengan perasaan sedih.
"Apa aku berbuat kesalahan besar, sampai-sampai mereka menjauhiku"gumam Ziva.
Setelah itu, iapun kembali berjalan menuju gubuknya. Namun di tengah perjalanan, ia berpapasan dengan pak Budi. Lalu pak Budi mengajaknya untuk mengobrol karena dari tadi ia melihat Ziva di kucilkan oleh orang.
"Bagaimana keadaan mu nak Ziva".
"Alhamdulillah baik pak, memang nya ada apa ya".
"Begini nak, beberapa para pekerja termasuk bapak dan para anggota mafia tuan muda mencari mu di tengah hutan. Bahkan derasnya air hujan tidak mengurangi semangat Tuan muda untuk mencarimu. Tidak seperti biasanya tuan muda berbuat seperti itu kepada para pekerja. Tidak hanya itu, tuan muda sangat khawatir kepada mu, bahkan ia rela hujan-hujanan untuk mencari mu dan membawamu keruangan nya. Jadi jawab dengan jujur, apa hubungan nak Ziva dengan tuan muda".
Ziva pun sempat terdiam, mencerna kata-kata yang dilontarkan pak Budi. Kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam lalu ia hembuskan, Ziva pun mulai menceritakan perihal hubungan ia dengan Darren hingga dia di bawa ke Savana. Karena bagi Ziva, pak Budi mengingatkan ia pada keceriaan kakeknya dan hanya pak Budi yang selalu bersikap baik kepada nya dan menganggap nya sebagai anak.
"Bapak ikut perihatin nak, semoga kau bisa bertemu kembali dengan keluargamu. Dan bapak juga tidak bisa ikut campur dengan urusan kalian. Semoga hubungan kamu dengan tuan muda baik-baik saja".
"Iya pak, terima kasih atas masukannya".
"Bapak permisi dulu".
Ziva hanya mampu mengangguk dan melihat kepergian pak Budi, lalu iapun masuk ke dalam gubuknya.
Sementara di perusahaan Alexander Group...
Fino baru saja tiba di perusahaan Alexander Group. Lalu ia berjalan tergesa-gesa mencari keberadaan Darren. Saat ia berpapasan dengan Milan dengan cepat menanyakan keberadaan Darren.
"Apa Darren masih ada di ruangan nya" tanya Fino.
"Baru saja tuan Darren keluar bersama kliennya tuan" ucap Milan.
"Apa kau tahu kemana perginya".
"Tuan Darren menghadiri launching pagelaran Mobil sport edisi terbaru".
"Oh. Apa kau kenal gadis yang di Savana" ucap Fino penuh selidik.
"Saya tidak kenal tuan" ucap Milan cepat. "Apa ada lagi yang bisa saya bantu tuan".
"Ikut denganku".
"Ini masih jam kerja tuan Fino".
Lalu Fino menarik tangan Milan untuk mengikutinya. Sedangkan Milan sedikit panik, namun ia masih bisa bersikap seperti biasa dan terlihat santai.
Fino langsung masuk ke dalam mobilnya dan tak lupa menyalakan mesin mobilnya di susul Milan yang baru saja masuk. Lalu mereka meninggalkan perusahaan Alexander Group.
Milan sedikit takut, entah kemana Fino akan membawanya yang sedang berkendara ugal-ugalan.
"Pelan-pelan tuan, bisa saja anda menabrak".
Sementara Fino semakin menjadi-jadi, ia terus berkendara dengan kecepatan tinggi layaknya melintas di sirkuit.
Kini Fino sudah tiba di sebuah tebing bersama Milan. Lalu Fino menyeret Milan untuk keluar dari mobil. Tapi tetap saja, Milan memberontak dengan kaki gemetaran. Memang gadis itu phobia denga tebing, dikarenakan ia menyaksikan sendiri kedua orang tuanya tewas di tebing itu.
"Tolong tuan jangan lakukan ini, kumohon" ucap Milan dengan keringat dingin ditambah wajah yang sudah pucat pasih.
__ADS_1
"Baiklah, cepat katakan mengapa gadis yang bernama Zivanna berada di Savana....ayo jawab" bentak Fino yang berkacak pinggang yang bermuka datar.
Milan hanya mampu terdiam dengan ketakutan.
Lalu Fino kembali menyeret Milan keluar dari mobil dan membawanya ke ujung tebing. Milan hanya mampu menangis dengan kaki yang gemetaran.
"Jawab dengan jujur bagaimana bisa Ziva berada di Savana hah atau aku sendiri yang akan membunuhmu di tebing ini" ucap Fino dengan suara lantang yang menggema di tebing itu.
Milan hanya mampu menangis, toh kalau ia melawan Fino berarti sama saja melawan tuannya. Lalu ia bersimpuh di hadapan Fino dengan air mata yang terus mengalir dan mulai angkat bicara.
"Saya hanya menjalankan perintah tuan Darren. Tuan Darren yang merencanakan semua itu tuan, hingga membawa gadis itu di Savana. Menurut informasi, gadis itu anak Alvin Damanik yang telah lama hilang. Bahkan tuan Darren menikahi nona Ziva secara diam-diam untuk memuluskan rencananya. Kumohon tuan ampuni saya" ucap Milan dengan kaki yang gemetaran, padahal ia seorang mafia kelas kakap yang sedang bersimpuh di hadapan Fino.
Deg
Fino menjadi bungkam dengan seribu bahasa, tenggorokannya seperti tercekik bahkan dadanya terasa sesak mendengar ucapan Milan. Ia pun hanya mampu memegangi pangkal hidungnya.
"Pergilah, sebelum aku membunuhmu di tempat ini. Jangan pernah perlihatkan wajahmu di hadapan ku hah" teriak Fino histeris.
Lalu dengan kaki gemetaran Milan berlari meninggalkan tempat itu sambil menghapus air matanya.
"Aaakkhhh".
"Mengapa ini harus terjadi kepada ku".
Fino hanya mampu duduk di tebing itu dengan pandangan kosong untuk menenangkan dirinya. Matahari mulai terbenam dan sebentar lagi akan berganti malam. Namun sosok lelaki yang bernama Fino masih duduk diam di tebing itu.
Setelah merasa dirinya, sudah dikeroyok massa nyamuk, barulah Fino berjalan menuju mobilnya. Lalu ia kembali berkendara dengan kecepatan tinggi menuju kediamannya.
Kebetulan sekali kakak beradik itu bersamaan tiba di kediamannya. Fino sudah menghadang Darren di pintu masuk. Sedangkan Jones masih sibuk membukakan pintu mobil untuk Darren. Lalu Darren keluar dari mobil dan pandangan nya langsung tertuju pada Fino yang menatapnya dengan jengah.
Lalu Darren mengibaskan tangannya menyuruh jones pergi. Kemudian ia pun berjalan menghampiri Fino. Namun baru beberapa jarak dekat, Fino langsung menghadiahkan Darren sebuah pukulan telak hingga membuat sudut bibir Darren berdarah. Dan untuk pertama kalinya Fino melawan adiknya sendiri.
Kakak beradik itu bertarung dengan sengit di halaman rumah, bahkan keduanya sudah babak belur. Para penjaga tidak berani untuk melerai mereka. Salah satu pelayan wanita terkejut melihat mereka sedang bertarung, lalu iapun buru-buru melapor ke nyonya Ratu.
Darren dan Fino masih saja saling adu kekuatan. Darren dengan keras melayangkan tinjunya hingga membuat pelipis Fino bocor, darah segar mulai bercucuran di wajah Fino bahkan keseimbangan tubuhnya mulai goyah, Fino langsung tersungkur ke tanah, lalu Darren kembali ingin menghajar Fino, namun Fino berhasil mengunci pergerakan Darren.
"HENTIKAN!!!!".
"Jika kalian tidak berhenti, peluru pistol ini akan bersarang di kepala mama" teriak nyonya Ratu yang sedang mengarahkan sebuah pistol di kepalanya.
Lalu mereka pun menghentikan pertarungan nya. Kemudian berlari menghampiri ibunya sambil bersimpuh memeluk kaki ibunya.
"Jangan lakukan ma, kami tidak ingin kehilangan mama. Maafkan kami ma atas kejadian ini" ucap Fino yang memeluk erat kaki ibunya.
"Maafkan aku ma, ini semua salahku" ucap Darren.
Lalu nyonya Ratu menurunkan pistol yang dipegangnya.
"Wajah kalian sudah babak belur. Bagaimana jika Mama tidak ada di rumah, mungkin kalian akan saling membunuh".
Keduanya hanya saling menunduk.
"Mama kecewa kepada kalian. Cepat kalian saling meminta maaf" ucap nyonya Ratu tegas.
Keduanya sempat ragu-ragu. Lalu Fino terlebih dahulu meminta maaf sambil mencium kening Darren begitupun sebaliknya, Darren melakukan hal yang sama. Itu semua hukuman mereka jika berbuat kesalahan satu sama lain.
"Ayo masuk, luka kalian harus segera di obati". ucap nyonya Ratu lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Lalu diikuti Darren beserta Fino di belakang ibunya.
__ADS_1
Darren dan Fino masuk ke dalam lift dan lift membawanya ke lantai yang mereka tuju.
Sementara nyonya Ratu menghubungi Jones untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi pada putra nya hingga saling bertarung.
Pagi harinya......
Seluruh keluarga Alexander sedang melakukan sarapan bersama. Darren dan Fino hanya saling diam.
"Mama ingin menyampaikan sesuatu, pertunangan Darren dan Sarah akan di laksanakan 2 Minggu lagi".
Darren sempat terbatuk-batuk mendengar ucapan ibunya. Sementara Fino hanya acuh dengan ucapan ibunya.
"Kenapa terlalu buru-buru ma" ucap Darren.
"Hal yang baik, harus disegerakan. Jangan lupa entar sore jemput Sarah di kantornya. Dan bawa dia ke butik kita untuk mencari gaun pertunangan kalian".
"Aku pergi dulu ma" ucap Fino yang berpamitan sambil mencium punggung tangan ibunya.
"Iya sayang, nanti juga giliran kamu Fin. Kalau mama tidak bergerak mungkin kalian tidak akan pernah menikah. Jadi bersiaplah dengan pilihan mama".
Fino kemudian berjalan keluar tanpa ambil pusing dengan ucapan ibunya yang akan mencarikan ia seorang pendamping.
Darren lalu berpamitan kepada ibunya, karena pagi ini ia akan mengadakan rapat penting.
Di parkiran mereka kembali bertemu.
"Aku tidak suka jika kau menyakiti Ziva dan menyiksanya di Savana" ucap Fino yang mulai angkat bicara.
"Apa hubungannya dengan mu" ucap Darren yang tersenyum sinis.
"Aku tidak akan memaafkan mu, jika gadis itu terluka. Gadis itu tidak tahu apa-apa, seharusnya kau tidak membawanya ke Savana" ucap Fino yang mulai geram.
"Aku melakukan hal yang sama dengan apa yang kau lakukan pada seorang gadis beberapa tahun lalu. Bahkan yang kau lakukan lebih parah, karena kau membuatnya cacat. Yang kulakukan pada gadis buruk rupa hanya sebatas memberi nya pelajaran" ucap Darren sinis.
Deg
Fino kembali terdiam mendengar ucapan Darren. Ia baru menyadari apa yang ia lakukan di masa lalu pada seorang gadis.
"Gadis itu beda, dia tidak tahu apa-apa".
"Apa karena kau memiliki perasaan padanya".
Fino sempat terdiam tidak mampu menimpali ucapan Darren.
"Kau membuang waktu ku saja".
"Tunggu, aku memberimu sebuah pilihan, lepaskan Ziva dan bawa dihadapan mama atau bertunanganlah dengan Sarah dan jangan pernah berurusan dengan Ziva, karena aku sendiri yang merebut Ziva dari mu dan aku akan membawanya di hadapan mama".
"Aku tidak akan memilih keduanya, semuanya hanya konyol" ucap Darren tersenyum sinis.
"Jika kau tidak ingin melepaskan Ziva, maka aku sendiri yang akan mengeluarkan Ziva dari Savana dan membawanya menjauh dari mu" ucap Fino dengan tatapan tajam.
"Omong kosong" ucap Darren kesal sambil mengepalkan tangannya.
lalu supir mulai membukakan pintu mobil belakang untuk Darren.
Darren duduk tenang di dalam mobil, ia begitu kesal dengan ucapan Fino barusan. Iya tidak akan membiarkan Fino merebut Ziva darinya.
__ADS_1
Bersambung.....
Maaf bila alurnya tidak sesuai 🙏