
Ziva masih saja tertidur pulas, sementara Darren sama sekali tidak mampu memejamkan matanya. Ia hanya fokus menatap gadis yang dipeluknya. Bagaimana bisa seorang Darren Alexander Tiger harus tidur di tempat tidur yang seperti batu baginya. Namun ia teralihkan dengan gadis yang dipeluknya.
"Sial!, mengapa jantungku terus bergetar begini... setiap kali bersama gadis ini" ucap Darren yang masih fokus menatap Ziva dengan jantung yang tidak bisa dikondisikan.
"Wah kau bahkan tertidur pulas di pelukan ku" ucap Darren yang tersenyum sambil menjewer telinga Ziva.
"Kita lihat kau akan terbangun dengan jeweran kerasku".
Darren pun menjewer telinga Ziva dengan kerasnya yang menjadi mainan barunya, akan tetapi, Ziva masih saja tertidur pulas.
"Gadis ini benar-benar tertidur seperti kebo" ucap Darren yang sedikit lumrah, lalu menghentikan aksinya dengan sedikit senyuman.
Kemudian ia pun memejamkan matanya berharap bisa tertidur di tempat asing baginya. Dan tidak berapa lama kemudian ia pun ikut tertidur.
Pukul 03.00 waktu setempat. Ziva terbangun seperti biasanya yang menjadi rutinitasnya untuk menjalankan ibadah sholat tahajud. Iapun memulihkan kesadarannya dan betapa terkejutnya ia mendapati sebuah tangan melingkar di pinggangnya.
"Akhhh" teriak Ziva yang memekik telinga saat melihat Darren memeluknya dengan erat nya.
Sementara Darren masih saja tertidur pulas tanpa mendengar teriakkan Ziva.
Dengan marah Ziva berusaha memindahkan tangan Darren yang bertengger di pinggangnya. Akan tetapi, begitu sulit baginya karena Darren memeluknya dengan erat.
"Lelaki ini sudah melewati batasnya. Ia sudah berbuat semena-mena terhadapku" ucap Ziva kesal dan terus berusaha lepas dari Darren.
"Tunggu... pengusaha gila ini tidur bersamaku bukankah dia menggangap ku sebagai musuhnya dan sekaligus sebagai istrinya kan. Bagaimana jika nantinya dia berbuat macam-macam kepadaku, karena aku sudah menjadi istrinya. Aku tidak boleh terus berada di tempat ini"ucap Ziva yang kembali memikirkan tentang nasibnya.
Lalu ia pun memiliki akal untuk lepas dari Darren. Kemudian ia dengan cepat mengigit punggung Darren, hingga Darren terbangun dan meringis kesakitan.
"Awww".
Ziva dengan cepat lepas dari Darren lalu turun dari tempat tidur dan berlari menuju toilet. Sementara Darren sangat marah karena tidurnya sudah di ganggu. Darren masih memulihkan kesadarannya sambil memegang punggungnya yang digigit oleh Ziva.
"Gadis buruk rupa" teriak Darren dengan marah.
__ADS_1
Ziva mengambil air wudhu, setelah itu iapun menjalankan sholat tahajud dengan khusyuk nya. Selepas sholat, ia lalu membaca Al-Quran dengan suara merdunya.
Darren lalu berjalan menuju toilet. Iapun menghentikan langkahnya melihat Ziva yang sedang mengaji. Kemudian ia pun buru-buru ke toilet. Darren sempat jijik dengan kondisi toilet di gubuk itu. Namun ia tetap menggunakan toilet itu.
Kini Darren hanya duduk di kursi tua sambil memainkan ponselnya dan sesekali melirik Ziva yang sedang mengaji.
Ziva pun membereskan alat sholat nya dan menaruh Al-Qur'an diatas nakas. Lalu iapun mengenakan hijab praktisnya dan berjalan menuju dapur tanpa memperdulikan Darren yang sedang menatapnya.
"Pergilah, tuan Alexander yang terhormat, aku tidak ingin menjadi bahan gosip dengan para pekerja lainnya" ucap Ziva yang sama sekali tidak melihat ke arah Darren.
"Kau mengusirku....Hah...ini daerah kekuasaan ku, aku bahkan ingin menyiksamu di tempat ini. Aku akan setiap hari mengunjungi mu" ucap Darren sambil tersenyum licik.
Ziva pun berbalik dan menatap tajam Darren. Darren pun mulai bangkit dari duduknya. Ziva dengan marah berjalan mendekat ke arah Darren.
"Aku tidak ingin melihat mu tuan, jadi cepat pergilah dan jangan lupa bawa sekalian tempat tidur yang kau gunakan. Karena aku tidak akan memakai tempat tidur itu lagi" ucap Ziva ketus sambil menunjuk Darren.
"Kau..." ucap Darren marah sambil mengepalkan tangannya dengan tatapan membunuh.
Darren pun berbalik dengan kemarahan pastinya.
Ziva pun hanya terdiam sejenak ditempatnya dengan sedikit menunduk.
Kemudian Darren dengan spontan menarik pinggang Ziva, lalu menyerangnya dengan sebuah ciuman. Darren terus mencium bibir Ziva dengan rakusnya dan m******* tiada henti hingga Ziva kesulitan untuk bernafas.
Dengan mata melotot, Ziva terus memberontak lepas sambil meninju dada bidang Darren. Sementara Darren tidak melepaskan pangutannya pada bibir Ziva. Dengan cara seperti itu, ia berhasil membungkam mulut Ziva yang selalu saja berbicara kasar terhadapnya.
"Emmp" Ziva pun mulai kesulitan untuk bernafas.
Dengan cepat Darren menghentikan ciumannya. Ziva pun menjadi ngos-ngosan.
Sementara Darren tersenyum kemenangan dan kembali melanjutkan ciumannya. Bibir Ziva bagaikan candu baginya. Sementara Ziva terus memberontak dengan kemarahan dan mata yang berkaca-kaca.
Ziva pun berusaha lepas dari Darren, iapun menendang betis Darren dengan kerasnya. Sehingga Darren menghentikan ciumannya.
__ADS_1
"Kau kurang ajar" bentak Ziva sambil menatap tajam Darren lalu melap bibirnya di hijabnya.
"Kau bahkan sudah mati ngos-ngosan dengan ciumanku" ucap Darren tersenyum mengejek sambil memegangi bibirnya.
Kemudian Ziva pun berbalik dan tidak ingin melihat Darren.
"Kau milikku, jadi semua yang ada dalam diri mu adalah milikku" ucap Darren yang tersenyum kemenangan.
Lalu iapun meninggalkan tempat itu dengan perasaan senang pastinya. Sementara Ziva terkulai lemas duduk di lantai.
"Bibirku sudah terjamah oleh pengusaha gila itu" ucap Ziva dan tak terasa air matanya mengalir dengan sendirinya.
"Ciuman pertama ku diambil oleh pengusaha gila itu. Mengapa aku menangis seperti ini sih, untungnya aku tidak menangis di hadapan lelaki itu" ucap Ziva yang masih marah tentang kejadian tadi lalu menghapus air matanya dengan kesal.
"Aku harus pergi dari tempat ini, aku tidak ingin pengusaha gila itu menjadi-jadi kepadaku" gumam Ziva.
Sepanjang perjalanan pulang ke kediamannya. Darren tak henti-hentinya tersenyum dan sesekali memegang bibirnya.
"Jadi begini rasanya berciuman. Pantesan semua lelaki melakukannya dengan pasangan nya" ucap Darren polos karena itu merupakan hal baru baginya dan mampu mengadaptasikannya dengan baik pada Ziva.
Sementara di tempat lain......
Fino bekerja keras untuk cepat menyelesaikan pekerjaan nya. Ia rela bekerja siang malam untuk bisa cepat pulang ke negara kelahirannya. Ia rela tidur hanya 3 jam untuk cepat kembali dan menemui gadis pujaan hatinya.
"Mengapa Ziva tidak bisa dihubungi. Aku bahkan tidak tahu kabarnya sampai saat ini" ucap Fino yang baru saja membaringkan tubuh lelahnya.
"Chiko bekerja tidak becus, sampai-sampai tidak menemukan keberadaan Ziva. Bahkan mata-mata ku tidak mampu menemukan keberadaan Ziva" ucap Fino yang sedikit kesal terhadap sekertarisnya.
"Aku begitu merindukanmu Ziva" ucap Fino dengan senyuman manis sambil membayangkan kembali hari-hari ia bersama Ziva.
"Semoga hari esok lebih baik lagi" ucap Fino lalu memejamkan matanya dengan senyuman ciri khasnya.
Bersambung.........
__ADS_1
Maaf bila alurnya tidak sesuai 🙏
Jangan lupa tinggalkan jejak teman-teman 😂