Mafia Vs Gadis Bercadar

Mafia Vs Gadis Bercadar
Pernikahan yang kedua kalinya


__ADS_3

Fino pun mulai mendekat. Ia melihat Ziva sudah dibawa oleh Darren.


"Berhenti Darren, kau belum bertunangan dengan Sarah" teriak nyonya Asiyah.


Darren sama sekali tidak menghiraukan seseorang memanggilnya untuk kembali melanjutkan pertunangannya. Baginya ia harus membawa Ziva menjauh dan berapa beruntungnya ia, karena masih ada jalan untuk dirinya tidak bertunangan dengan Sarah.


Sementara nyonya Ratu hanya mampu tersenyum melihat kepergian mereka.


Akhirnya kau mengakui juga istri mu nak, mengapa kau tidak membawa gadis itu dihadapan mama. Ternyata putra ku sudah dewasa, hampir saja aku berbuat kesalahan kepada putraku. Batin nyonya Ratu yang tersenyum.


Sarah sudah berwajah masam di atas podium menyaksikan Darren membawa Ziva pergi.


Mengapa harus kau Ziva, ternyata kau sudah menikah bersama lelaki yang aku cintai. Batin Sarah dengan mata berkaca-kaca.


Fino berlari mengejar mereka, namun di hentikan oleh teriakan ibunya.


"Fino yang akan menggantikan Darren bertunangan dengan Sarah" ucap nyonya Ratu dengan tegas.


Sementara Rissa menatap bibinya yang sama sekali tidak suka dengan keputusan bibinya.


Fino pun diam di tempat lalu berbalik menatap ibunya di ujung sana.


Tidak ada yang bisa membantah keputusan nyonya Ratu, baik Fino dan Sarah sudah bertukar cincin dan mereka resmi bertunangan dihadiri oleh para tamu undangan.


Tepuk tangan meriah menggema di tempat itu. Lalu kedua belah pihak melakukan sesi foto bersama untuk mengabadikan momen tersebut. Fino sama sekali tidak ingin bertunangan dengan Sarah, tapi apa boleh buat tidak mungkin ia harus mempermalukan keluarga nya termasuk ibunya sendiri.


Sementara Darren tidak mampu meninggalkan kediamannya, dikarenakan para penjaga sedang menutup gerbang utama. Itu semua l instruksi dari nyonya Ratu yang melarangnya keluar dari kediaman nya.


"Buka pintunya, atau aku akan membunuh kalian satu persatu" ucap Darren yang sudah mengeluarkan pistolnya.


"Maaf tuan kami rela mati atas perintah nyonya Ratu" ucap salah satu dari mereka yang berjumlah 10 orang.


"Sial!,".


Lalu iapun putar arah kembali menuju garasi mobil. Sementara Ziva hanya diam seribu bahasa di dalam mobil itu.


Darren lalu turun terlebih dahulu, kemudian ia membuka mobil dan kembali mengendong Ziva.


"Aku bisa jalan sendiri" ucap Ziva yang mulai angkat bicara.


"Tapi aku tidak akan membiarkan mu berjalan" ucap Darren dingin yang terus melangkah lebar memasuki rumahnya. Lalu iapun berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai 4.


Ziva hanya mampu berpegangan erat di leher Darren. Pintu lift terbuka, lalu Darren berjalan menuju salah satu kamar di lantai 4.


Kemudian ia menurunkan tubuh Ziva di depan pintu kamar itu.


"Ini kuncinya, beristirahatlah di kamar ini" ucap Darren lalu berjalan menjauh.


"Tunggu" ucap Ziva yang berhasil menghentikan langkah Darren. "Terima kasih, kau sudah membelaku" ucap Ziva.


"Hemm".


Darren pun memilih masuk ke dalam kamarnya, begitu halnya dengan Ziva.


"Bagaimana ini, aku tidak ingin keluarga ini bertikai gara-gara aku. Bukanya nyonya Ratu meminta ku untuk bertunangan dengan kak Fino, terus mengapa dia tidak menghentikan kami"ucap Ziva yang melihat ke arah jendela yang mampu ia saksikan pesta itu.


"Dan Sarah malah tidak mengakui aku sebagai sahabatnya. Aku sama sekali tidak percaya dengan semua ini"ucap Ziva.


Tok


tok


tok


Ziva pun berjalan membuka pintu kamar nya. Dan betapa terkejutnya ia melihat nyonya Ratu menerobos masuk.


"Aku datang untuk memberimu sebuah perjanjian".

__ADS_1


"Perjanjian apa nyonya".


"Menikahlah dengan putraku Darren besok, dan ini perjanjiannya" ucap nyonya Ratu yang memberikan Ziva secarik kertas yang berisi tentang perjanjian.


"Di dalam perjanjian itu tertulis bahwa kau harus hidup berumah tangga dengan anakku selama 3 bulan lamanya dan dalam 3 bulan itu kau belum dinyatakan hamil, maka aku akan mengurus segala perceraian kalian dan aku akan membawamu pulang ke rumah orang tua mu. Bukanya kau menginginkan hal itu tempo hari" ucap nyonya Ratu tegas.


"Iya saya memang menginginkan itu, tapi saya tidak ingin mempermainkan yang namanya pernikahan" ucap Ziva.


"Apa kau ingin menerima perjanjian ini atau tidak".


Ziva sempat berpikir, ia memang sangat merindukan kedua orang tuanya dan kembali berkumpul bersama mereka. Namun ia kembali wanti-wanti bagaimana bila ia terjebak di pernikahannya.


"Bagaimana jika saya hamil nyonya, apa saya masih bisa bertemu dengan keluarga saya" tanya Ziva.


"Perjanjian itu akan batal dan kau akan menjadi istri Darren seutuhnya dan aku tidak akan ikut campur urusan rumah tangga kalian. Terserah Darren apa dia akan mengijinkan mu atau tidak".


"Baiklah jika seperti itu, aku akan berusaha membuat Tuan Alexander jatuh cinta kepada ku. Agar aku bisa bertemu kembali dengan orang tuaku. Apa disini aku harus tanda tangan" ucap Ziva.


Sementara Nyonya ratu hanya mampu mengangguk sambil tersenyum.


Ternyata rencana ku berhasil, semoga gadis ini mampu merubah putraku menjadi lebih baik lagi. Ya Allah kabulkan lah doaku semoga mereka bisa saling mencintai dan dapat memberiku cucu. Batin nyonya Ratu.


Lalu nyonya Ratu meninggalkan kamar Ziva, sambil membawa perjanjian yang dibuat-buat olehnya.


Ziva lalu mengunci kamar itu, kemudian ia berjalan menuju toilet untuk bersih-bersih, selepas itu, barulah ia mengistirahatkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Para tamu undangan mulai meninggalkan pesta tersebut. Zayn sudah menggandeng seorang wanita cantik. Ia tak sengaja berpapasan dengan Milan beserta rombongan nya.


Milan hanya menatapnya jengah.


"Hei perawan tua kita bertemu kembali, sampai kapan kau terus bersama dengan para lelaki mafia. Aku sangat kasihan kepada mu, kau akan mengabdi hingga menua di keluarga Alexander..Ha..ha..ha" ucap Zayn yang mengejek Milan.


"Aku tidak peduli, bahkan kau mulai memberiku nama embel-embel segala. Apa kau ingin mati" ancam Milan dengan tatapan membunuhnya sambil mengeluarkan pistolnya.


"Tidak-tidak aku hanya hobi bercanda, ayo sayang kita pergi" ucap Zayn yang merangkul wanitanya.


"Dasar buaya darat"teriak Milan.


"Milan-milan, lelaki itu memang perlu diberi pelajaran" ucap Jones.


"Iya sih, tapikan lelaki itu rekan bisnis tuan Darren. Aku tidak ingin membuat masalah" ucap Milan sambil tersenyum.


Fino pun mulai berjalan ke arah mereka, dengan cepat Milan menundukkan kepalanya. Ia menjadi takut kepada Fino.


"Kalian semua bole kembali" ucap Fino tegas, lalu mereka pun bubar, sementara Milan masih diam ditempat dan tidak mendengar ucapan Fino, karena saking takutnya ia pada Fino yang tak berani mengangkat kepalanya. Tak sengaja pandangan Fino tertuju pada Milan yang masih saja diam di tempat.


"Apa kau tidak dengar, aku menyuruh mu meninggalkan tempat ini" ucap Fino tegas.


"Ba-baik tuan" ucap Milan terbata dan dengan cepat ia melangkahkan kakinya menjauh dari Fino.


"Gadis bodoh".


Fino kembali menatap cincin di jari manisnya dan tersenyum sinis.


"Aku sama sekali tidak mengetahui rencana mama" ucap Fino dengan sedikit senyuman.


Pagi harinya para pelayan kembali disibukkan dengan aktivitas rumah.


Nyonya Ratu menemui Darren dan Ziva di lantai 4 untuk membicarakan hal penting.


Ziva beserta Darren yang sudah rapi duduk di sofa bersama ibunya. Ziva lebih dulu mengetahui rencana nyonya Ratu.


"Ibu hanya ingin menyampaikan kepada kalian, tepat jam 10 pagi kalian akan menikah, jadi bersiaplah. Para pelayan sudah mempersiapkan segalanya.


Baik Darren maupun Ziva saling menatap satu sama lain.


"Tapi ma..".

__ADS_1


"Apa ibu pernah mengajarkan mu menjadi lelaki pengecut yang hanya bisa menyembunyikan seorang wanita di suatu tempat" ucap nyonya Ratu tegas yang tidak ingin dibantah.


Darren pun menjadi diam seribu bahasa dan tak berani membantah ibunya.


"Pelayan bantu menantuku bersiap, rias wajahnya secantik mungkin dan aku tidak ingin ada kesalahan sekecil apapun" ucap nyonya Ratu yang sudah bangkit dari duduknya.


"Baik nyonya".


Tak berapa lama beberapa pelayan membawa gaun pengantin untuk Ziva beserta alat-alat makeup. Salah satu diantara mereka membawa setelan jas untuk Darren yang senada dengan gaun istrinya.


Sementara pelayan lainnya bertugas menghiasi area taman dimana pesta pertunangan itu berlangsung kemarin dan sekarang akan kembali diadakan suatu acara penting.


Tak berapa lama kemudian, para kerabat mulai berdatangan. Hanya beberapa orang yang diundang untuk acara tersebut yang berlangsung secara tertutup.


Fino yang mendengar informasi dari pelayan bahwa ibunya akan menikahkan kembali Darren dengan Ziva, ia begitu marah dan tidak terima dengan keputusan ibunya. Padahal ia sudah mengakui perasaannya kepada ibunya bahwa ia sangat mencintai Ziva namun apa yang ia dapatkan sekarang malah bertunangan dengan Sarah.


Pihak penghulu, wali nikah dan para saksi sudah berada di tengah-tengah acara itu dan sudah duduk di kursi mereka masing-masing dan siap untuk menikahkan Darren.


Tak berapa lama kemudian Darren berjalan masuk dengan langkah lebar bersama pamannya John Mayer yang merupakan ayah Rissa. Bersama beberapa kerabat dekat nya yang mengantarnya hingga ke kursi prosesi akad nikah akan berlangsung.


Darren langsung duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan pak penghulu. Tak berapa lama kemudian nyonya Ratu beserta Ziva mulai berjalan ke arahnya sambil menggandeng tangan Ziva dan membawanya duduk di samping Darren.


Lalu pak penghulu mulai menikahkan Darren.


"Saya terima nikah dan kawinnya Zivanna Damanik binti Alvin Damanik dengan seperangkat alat sholat dan 1000 gram emas di bayar tunai" ucap Darren dengan sekali tarikan.


Para tamu undangan mulai menyuarakan kata Sah. Yang berarti mereka kembali sah menjadi sepasang suami istri dengan pernikahan yang kedua kalinya.


Lalu pak penghulu membacakan doa untuk pasangan suami istri itu, agar menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah.


Lalu Darren pun memasang kan cincin di jari manis Ziva begitu pun sebaliknya. Ziva kemudian mencium punggung tangan Darren untuk mencari ridho suaminya. Sementara Darren pun kembali mencium kening Ziva.


Aku tidak menyangka, aku kembali dihadapkan untuk pernikahan yang kedua kalinya dengan orang yang sama. Batin Darren sambil menggelengkan kepalanya.


Fino hanya mampu menyaksikan mereka dengan perasaan sedih.


Aku tidak boleh egois, aku sudah berjanji kepada ayah untuk terus menjaga Darren, bahkan harus mengalah demi kebahagiaan adikku Darren. Batin Fino.


Lalu ziva beserta Darren melakukan sungkeman kepada nyonya Ratu beserta paman John yang merupakan kakak nyonya Ratu.


Setelan itu, para tamu undangan memberikan selamat kepada mereka atas pernikahannya.


Malam harinya...


Tidak ada acara meriah untuk resepsi mereka. Karena Darren tidak ingin pernikahannya diumbar apalagi dikonsumsi oleh publik. Mereka sedang melakukan makan malam bersama dengan keluarga Damanik. Darren duduk berdampingan dengan Ziva sementara Fino duduk pas dihadapan Ziva. Sedangkan nyonya Ratu duduk ditengah menjadi kepala keluarga.


Mereka menikmati makan malam tanpa adanya obrolan hanya sendok dan garpu yang berada di meja makan itu.


Setelah selesai makan malam bersama. Nyonya Ratu lalu mengajak pasangan suami istri itu untuk ke kamarnya. Sementara Fino memilih masuk ke dalam kamarnya yang berada di lantai 3.


"Mama memohon kepada kalian untuk menjaga keutuhan rumah tangga kalian. Banyaknya ujian dalam rumah tangga itu hal biasa. Namun kepercayaan kalian satu sama lain yang perlu ditanamkan. Untuk apa kalian menikah jika tidak saling jujur dan percaya. Jadi berjanjilah kepada mama agar kalian bisa menjaga keutuhan rumah tangga kalian" ucap nyonya Ratu yang menasihati mereka.


Ziva tidak tahu harus jawab apa. Ia sendiri belum bisa percaya dengan suaminya.


"Baik ma"ucap Darren.


"Kalian mau bulan madu ke mana" tanya nyonya Ratu.


Ziva hanya mampu menunduk ia menjadi malu dengan ucapan ibu mertuanya.


"Kita tidak akan kemana-mana".


"Oh ya sudah, bawalah istri mu beristirahat. Jangan lupa kalian harus bekerja keras untuk memberiku cucu" ucap nyonya Ratu sambil tersenyum.


Kini Ziva sudah berada di dalam kamar yang sudah dihiasi ala-ala kamar pengantin.


Ziva tidak mengerti harus berbuat apa. Ia hanya berdiri menatap kamar Darren.

__ADS_1


Bersambung......


Mohon maaf bila alurnya tidak sesuai 🙏


__ADS_2