Mafia Vs Gadis Bercadar

Mafia Vs Gadis Bercadar
Detik-detik persalinan Ziva


__ADS_3

Ziva sangat bahagia berada di Savana. Sesampainya di Savana, para pekerja menyambut kedatangan mereka dengan penuh hormat. Ziva sangat antusias lalu menarik tangan Darren untuk menemaninya melihat-lihat koleksi kuda balap Darren pastinya.


"Aku ingin naik kuda balap yang itu bersama mu" ucap Ziva antusias, sambil menunjuk kuda balap berwarna hitam yang begitu besar dan berotot.


"Tidak boleh, lihatlah perut mu sudah buncit sayang, bagaimana jika kamu terjatuh dan kenapa-kenapa. Nanti kita akan menunggangi kuda balap bersama anak-anak kita sayang" ucap Darren yang membujuk Ziva.


"Kamu sih baru mengajak aku ke tempat ini, tapi ya lebih baik kita berkeliling di tempat ini" ucap Ziva sambil menggenggam tangan suaminya.


Ia terus saja berkeliling dengan hanya berjalan kaki mengitari Savana ditemani sang suami.


Darren pun mulai lelah mengikuti langkah kaki istrinya yang sama sekali tidak lelah berkeliling di tempat itu. Ditambah terik matahari yang begitu cerah, membuat siapa saja tidak ingin berlama-lama berada di luar.


"Kita istirahat dulu sayang" ucap Darren, karena sudah berada di depan mes miliknya. Iapun harus adem-adem terlebih dahulu di dalam mesnya. Lalu iapun menarik tangan Ziva untuk mengikutinya masuk ke dalam mes miliknya.


Tak berselang lama kemudian, dua Pelayan wanita mengetuk pintu mes Darren. Setelah mendapat persetujuan dari Darren, mereka pun memasuki mes tersebut dengan membawa minuman segar dan salad buah serta buah-buahan segar. Setelah selesai menata makanan diatas meja, mereka lalu undur diri.


Sepasang suami istri itu lalu menikmati makanannya dengan begitu romantis, karena sesekali Darren menyuapi istrinya salad buah. Ziva sesekali tersenyum kepada Darren yang begitu kaku menyuapinya, tapi tetap saja membuat ia senang disuapi oleh Darren.


Setelah selesai makan bersama dengan sedikit keromantisan. Mereka kemudian memilih duduk di sofa untuk beristirahat.


"Kita menginap saja di sini ya, soalnya suasananya baru dan aku mulai menyukai tempat ini" ucap Ziva sambil menyandarkan punggungnya di sofa.


"Baiklah jika itu mau mu, tapi...besok kita harus kembali pagi-pagi, soalnya aku akan ke kantor untuk menghadiri rapat tahunan perusahaan" ucap Darren.


"Tak apa yang jelas kita bisa menginap di sini" ucap Ziva sambil cengengesan.


"Ayo kita ke kamar untuk beristirahat, aku ingin tidur bersama mu" ucap Darren yang membantu Ziva berdiri.


"Bagaimana dengan mama dan kedua orang tuaku, mereka pasti mencari kita" ucap Ziva.


"Aku sudah memberitahukan kepada pelayan bahwa kita berada di sini" ucap Darren.


Ziva hanya mampu mengikuti langkah kaki Darren yang membawanya masuk ke dalam kamar. Walaupun masih jam 11 siang waktu setempat, tapi keduanya memilih untuk beristirahat di dalam kamar.


Sementara pihak keluarga nya masih berada di area pagelaran kuda balap. Mereka duduk bersama di sebuah gedung layaknya stadion sepak bola, dengan tatanan kursi berjejer rapi untuk para pengunjung agar memberikan kenyamanan pada saat menonton atraksi dari kuda balap tersebut. Pihak pengelola Savana sengaja melakukan atraksi kuda balap sebagai perwujudan dari rasa hormat mereka atas kehadiran keluarga besar dari pemilik Savana tersebut.


Tuan Alvin dan nyonya Ira begitu terhibur melihat atraksi dari pacuan kuda balap bersama besannya. Sesekali mereka tertawa bersama-sama melihat atraksi dari kuda balap tersebut.

__ADS_1


"Mana Ziva dan Darren, dari tadi ayah tidak melihatnya Bun" ucap tuan Alvin yang selalu saja mengarahkan pandangannya ke arah pintu masuk.


"Biarkan saja, mereka sedang berkeliling di tempat ini, toh Darren pasti menjaganya. Kelihatannya Ziva begitu senang berada di tempat ini. Oh iya...apa mas sudah menghubungi Lexa bahwa kita akan menetap di negara A selama beberapa bulan kedepannya, karena bunda ingin terus melihat tumbuh kembang janin Ziva yang sebentar lagi akan lahiran dan ikut membantu Ziva merawat anaknya" ucap Nyonya Ira sambil tersenyum.


"Baiklah ayah akan menghubungi Lexa" ucap tuan Alvin, lalu memilih menjauh dari tempat tersebut.


"Apa Lexa baik-baik saja" tanya nyonya Ratu yang tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka.


"Alhamdulillah Lexa baik-baik saja" ucap nyonya Ira.


"Syukurlah kalau begitu, saya tidak sempat menjenguk Lexa di rumah sakit saat melakukan operasi mata" ucap nyonya Ratu yang tidak enak hati.


"Sudah 3 bulan Lexa melakukan aktivitas di luar rumah. Dia bahkan sudah membantu pekerjaan ayahnya di kantor. Terkadang dia masih melakukan check up sebulan sekali untuk memastikan kondisi matanya. Dan Alhamdulillah Dokter yang menanganinya mengatakan kondisi mata Lexa sudah baik, hanya saja dia masih perlu beristirahat dan tidak melakukan pekerjaan berat. Untuk saat ini Lexa belum bisa melakukan perjalanan jauh maka dari itu dia tidak ikut bersama kami. Dan untuk melepas rindu kepada Ziva, Lexa sering menghubungi Ziva untuk menanyakan kabar kehamilannya, karena dia tidak sempat menemui Ziva dalam waktu dekat ini" ucap nyonya Ira menjelaskan.


"Alhamdulillah ya, akhirnya Lexa bisa kembali beraktivitas, saya ikut senang mendengarnya" ucap nyonya Ratu sambil tersenyum.


Mereka pun melanjutkan kembali obrolan nya yang semakin panjang lebar dan pastinya tidak akan ada habisnya, jika tuan Alvin tidak menghentikan mereka.


🍁🍁🍁🍁🍁


Waktu berjalan begitu cepatnya tak terasa kehamilan Ziva sudah memasuki sembilan bulan. Menurut prediksi dokter spesialis kandungan yang menanganinya mengatakan bahwa persalinan Ziva diawal bulan tepatnya pada tanggal 10. Seluruh keluarga besarnya hampir setiap hari berkumpul di kediaman Alexander.


Saat ini sepasang suami istri itu baru saja selesai melaksanakan sholat ashar berjamaah. Ziva selalu saja memanjatkan doa kepada Allah SWT agar persalinan nya berjalan dengan lancar. Begitu halnya dengan Darren yang selalu mendoakan istri dan calon anak-anaknya agar tetap sehat dan lahir dengan selamat di dunia ini. Setelah selesai memanjatkan doa, Darren lalu membantu Ziva berdiri dengan hati-hati.


"Pinggang ku mulai sakit sayang" ucap Ziva yang tiba-tiba saja terserang rasa sakit.


"Ya sudah lebih baik kamu istirahat dulu di tempat tidur" ucap Darren lalu menuntun istrinya ke tempat tidur.


Ziva pun masih memasang wajah yang terlihat baik-baik saja, padahal pinggang nya mulai terasa sakit. ia pun membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Apa sangat sakit sayang" ucap Darren yang mulai khawatir sambil menggenggam tangan istrinya.


"Sudah agak membaik" ucap Ziva sambil tersenyum.


"Syukurlah, kalau begitu aku menghubungi mama dan bunda untuk kesini" ucap Darren yang kini duduk di tempat tidur.


"Tidak perlu, mereka nanti berpikiran bahwa aku ingin lahiran. Padahal ini masih tanggal 7 dan belum waktunya, aku hanya tidak ingin malu dihadapan keluarga" ucap Ziva.

__ADS_1


"Baiklah jika seperti itu" ucap Darren sambil tersenyum tipis. "Aku akan memijit mu sayang" ucap Darren yang kini tengah duduk di tempat tidur.


Ziva pun hanya diam ia kembali mengelus perutnya.


Darren pun mulai memijit betis Ziva dengan telaten layaknya tukang pijit profesional.


Ziva kembali merasakan kesakitan di bagian perutnya.


"Akkhhh, Allahu Akbar" ucap Ziva dengan suara meninggi yang kembali diserang rasa sakit dan sepertinya mulai merasakan kontraksi.


"Sayang bertahanlah" ucap Darren panik dan tak sengaja matanya tertuju pada bercak darah pada area betis Ziva. "Apa kamu datang bulan" ucap Darren yang mulai panik.


Sementara Ziva hanya menggeleng, ia pun kembali mengalami kontraksi.


Dengan cepat Darren menghubungi mama dan ibu mertuanya.


Tak berselang lama kemudian, kedua wanita paruh baya itu memasuki kamar Darren.


Raut wajah nyonya Ira begitu khawatir mendengar ucapan Darren yang mengatakan Ziva sakit perut. Sementara nyonya Ratu ikut khawatir.


"Sepertinya Ziva akan lahiran" ucap nyonya Ratu yang kini duduk di samping Darren.


Ziva pun kembali tenang, karena ia tidak mengalami kontraksi di bagian perutnya. Nyonya Ira duduk di sebelah kanan sambil menenangkan putrinya untuk tetap kuat dan bersemangat. Ia tidak ingin Ziva kaget atau shock berat yang bisa saja membuat kondisi nya menjadi drop.


"Tenang sayang, semua akan berjalan dengan lancar. Alhamdulillah kamu akan melahirkan dan ini tanda pembukaan pertama mu. Tidak lama lagi Kamu akan melihat makhluk mungil yang selalu kamu jaga selama sembilan bulan. Bukankah itu impianmu, jadi kamu harus kuat, insyaallah semuanya akan berjalan dengan lancar nak" ucap nyonya Ira yang menenangkan putrinya, sambil menggenggam tangannya.


Ziva pun sedikit lega mendengar ucapan ibunya ia kembali tersenyum tipis walau sakit diperutnya mulai berkurang.


"Kita harus ke rumah sakit" ucap nyonya Ratu.


Lalu menghubungi para pelayan untuk mempersiapkan keperluan Ziva.


Setelah semua nya siap, mobil yang akan membawa mereka ke rumah sakit sudah terparkir di halaman depan. Darren menuntun istrinya berjalan menuju mobil, ia sempat ingin menggendong Ziva, namun dengan cepat Ziva menolak nya karena ia masih mampu untuk berjalan.


Ziva dan Darren sudah berada di dalam mobil dan duduk di kursi bagian tengah, sementara nyonya Ira dan nyonya Ratu duduk di kursi bagian belakang. Dan untuk Tuan Alvin duduk di kursi samping kemudi. Mobil pun melaju meninggalkan pelataran rumah Alexander menuju rumah sakit ternama di negara A.


Bersambung...

__ADS_1


Terima kasih atas dukungan teman-teman 🙏


Semoga kita semua selalu diberi kesehatan dan tetap dalam lindungan Allah SWT, amin.


__ADS_2