
Malam harinya.....
Milan baru saja dibantu bersiap oleh pelayan wanita yang di datangkan langsung dari rumah utama. Para pelayan mulai lihai merias wajah Milan. Setelah selesai melakukan pekerjaannya, pelayan wanita itu kembali membantu Milan mengenakan gaun yang telah mereka sediakan.
Milan terlihat cantik dan anggun mengenakan gaun Sabrina dibawah lutut yang panjangnya diatas mata kaki yang jelas tetap saja sopan. Bahkan mengenakan gaun saja, merupakan hal yang baru baginya.
Milan belum yakin untuk menutup auratnya. Hanya saja gaun pengantin yang dikenakan tadi, khusus untuk berhijab yang disiapkan oleh nyonya Ratu, jadi mau tidak mau ia harus mengenakan gaun tersebut.
Sementara Fino sudah rapi dengan setelan jasnya. Fino duduk di sofa dengan wajah ditekuk yang sedari tadi menunggu Milan bersiap.
"Hei, Kau tidak perlu berdandan lama, lagian wajahmu tetap saja jelek dan tua. Dan kalian berdua bereskan semua itu, aku tidak suka kamar ini berantakan" ejek Fino yang sudah bosan menunggu Milan.
Sedangkan Milan hanya mampu menunduk. Ia mana berani mengajak Fino berdebat.
Fino mulai bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu kamar. Baru beberapa langkah, ia kembali berhenti sejenak lalu berbalik menatap tajam Milan.
"Kau ingin tetap di kamar atau ikut bersama ku hah" bentak Fino yang menyadari Milan masih berada di posisi nya.
Milan hanya diam, tapi ia tetap berjalan dengan hati-hati menghampiri Fino.
Fino lalu kembali melangkahkan kakinya keluar dari kamar, sedangkan Milan mengekor di belakangnya. Milan sama sekali kesulitan berjalan, apalagi mengenakan high heels yang begitu awam baginya.
Ya Tuhan, sepatu ini menyiksaku. Aku seperti tidak tahu berjalan, aku tidak ingin terjatuh dan membuat malu tuan Fino. Batin Milan yang mengekor di belakang suaminya.
Beberapa keluarga Fino dan anggota The Tiger sudah berkumpul di rooftop hotel untuk makan malam bersama.
Nyonya Ratu, tuan John sudah menempati meja khusus yang disediakan untuknya bersama keluarga Ziva. Nyonya Ratu begitu bahagia mengobrol bersama besannya.
Terlihat dari raut wajahnya, selalu memancarkan senyuman. Lexa hanya mampu duduk di samping ibunya sebagai pendengar setia. Tak berselang lama kemudian, Fino dan Milan baru saja tiba di rooftop hotel. Pasangan suami istri itu, lalu menghampiri ibunya.
"Kalian lama sekali, mama sudah kedinginan menunggu loh, " ucap nyonya Ratu yang menggoda mereka.
"Maaf ma, pelayan di kamar ku membuat masalah kecil, jadi kami membuat mama menunggu. Oh iya, Darren dan Ziva mana ma" ucap Fino yang tidak melihat keberadaan Darren dan istrinya.
"Adik mu, terlalu posesif kepada istrinya. Bahkan tidak membiarkan Ziva untuk ikut bersama kami, takutnya Ziva masuk angin. Ya begitulah sikap Darren saat ini, ia mulai menjadi suami siaga menjaga istrinya yang tengah hamil" ucap Nyonya ratu dengan senyuman ciri khasnya.
Jadi Ziva hamil, bahkan aku baru mengetahui kabar baik mereka. Batin Fino.
Milan hanya duduk di samping suaminya sambil meremas jemarinya.
"Menantuku sangat cantik. Fin kamu juga harus bekerja keras, memberi mama cucu" ucap nyonya Ratu dengan suara berbisik.
Fino hanya mampu membelalakkan matanya dengan ucapan ibunya. Sementara Milan menjadi gugup, ia kembali dirundung kegelisahan dengan apa yang sudah menimpa dirinya.
Sementara tuan Alvin dan nyonya Ira hanya fokus mengobrol dengan tuan John.
Para pelayan mulai masuk beriringan membawa nampan berisi makanan dengan menu spesial di restoran hotel bintang lima itu. Lalu menyajikan makanan itu di meja.
Nyonya Ratu kemudian mempersilahkan kepada mereka untuk menikmati jamuan makan malamnya.
Milan menikmati makanan nya dengan perasaan tidak tenang. Ia menjadi takut dan gelisah, sampai-sampai tidak menghabiskan makanannya dan memilih untuk ke toilet.
🍁🍁🍁🍁
Sementara di kediaman Alexander.....
__ADS_1
Ziva menjadi uring-uringan dengan suaminya. Ziva menjadi kesal di larang mengikuti acara makan malam bersama keluarga. Ziva pun meminta kepada pelayan wanita untuk membuat tanda pemisah ditempat tidurnya.
Yakni sebuah tirai pemisah layaknya melakukan sebuah tenda di tempat camping. Setelah selesai melakukan pekerjaannya, para pelayan pun undur diri. Ziva terlebih dahulu masuk ke dalam toilet untuk menggambil air wudhu.
Setelah itu, ia pun masuk ke ruang ganti untuk mengganti pakaian nya dengan piyama tidur. Lalu berjalan menuju tempat tidur. Ziva membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan sebuah tirai yang menutupi nya, layaknya seorang bayi di dalam kelambunya.
Ziva senyum-senyum sendiri dan tertawa di dalam tirai tersebut. Ia membolak-balikkan tubuhnya, layaknya anak kecil. Perasaan kesal nya mulai hilang hanya karena tirai tersebut.
Terdengar pintu kamar nya terbuka. Tampak Darren berada di ambang pintu hanya mampu mengerutkan keningnya, melihat tempat tidur nya menjadi aneh. 'Kenapa tempat tidur nya menjadi aneh seperti itu', pikir Darren.
Darren kemudian mulai berjalan mendekat ke tempat tidur. Ia mampu mendengar suara tawa istrinya didalam tirai. Darren lalu membuka sedikit tirai itu.
"Apa kau tidak kepanasan di dalam tirai seperti ini" ucap Darren sambil membuka lebar tirai itu.
"Stop... jangan membuka tirai ini. Pergi sana, aku tidak ingin melihat mu" ucap Ziva dengan suara meninggi sambil membelakangi suaminya.
Darren hanya mampu menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia benar-benar dibuat bingung dan pusing oleh tingkah istrinya.
Ia pun lalu berjalan menuju ruang ganti untuk mengganti pakaian nya dengan piyama tidur. Lalu kembali naik ke tempat tidur dengan hati-hati, takutnya Ziva mengomel lagi kepadanya.
Darren pun kembali membuka sedikit tirai itu untuk melihat istrinya. Darren mampu melihat istrinya sudah tertidur. Dengan hati-hati Darren mulai menggeser tubuhnya untuk bisa memeluk istrinya dengan erat.
Akan tetapi, aksi Darren tertangkap basah oleh Ziva. Darren menjadi suami yang takut kepada istrinya saat Ziva menatapnya dengan tajam.
"Aku tidak ingin melihat mu, cepat menjauh dari ku" ucap Ziva sambil memukul-mukul dada bidang suaminya.
Darren langsung menangkap tangan Ziva, kemudian tangan satunya menarik tengkuk istrinya. Bibir keduanya mulai menyatu, Darren benar-benar tidak bisa mengontrol dirinya, sudah dua Minggu ia tidak merasakan bibir manis istrinya.
Ziva pun terkejut, dengan serangan tiba-tiba suaminya. Darren pun melepaskan ciumannya saat menyadari istrinya sudah kehabisan nafas.
"Aku sangat mencintaimu istriku" ucap Darren yang menghentikan aksinya. Ia menatap dalam mata Ziva, bahwa ia meminta hal lebih dari ini.
Darren lalu berbisik di telinga istrinya.
"Aku merindukan mu Zivanna, bolehkah aku menyentuh mu" bisik Darren di telinga istrinya.
Ziva menjadi bungkam, ia pun bingung, tadinya ia begitu kesal kepada istrinya, tapi mengapa sekarang hanya karena sentuhan dari suaminya ia menjadi luluh. Lagian tidak mungkin ia menolak permintaan suaminya. Apalagi semenjak ia hamil, Darren tidak berani untuk menyentuhnya.
Ziva pun hanya mampu mengangguk.
"Aku akan melakukannya dengan hati-hati sayang" bisik Darren yang ternyata mendapatkan lampu hijau dari istrinya.
Mereka pun melakukan hubungan suami istri pada umumnya.
Sementara di hotel Alexander...
Nyonya Ratu dan lainnya mulai berada di lobi hotel untuk menunggu mobil mereka masing-masing yang akan membawanya pulang ke kediaman nya.
Tak berselang lama kemudian, 3 mobil mulai terparkir didepan hotel. Kemudian nyonya Ratu bersama lainnya berjalan menuju mobil mereka dan masuk ke dalam mobil.
Ketiga mobil itu mulai melaju meninggalkan pelataran hotel.
Sementara Milan dan Fino diminta oleh ibunya untuk menginap di hotel tersebut. Kini Fino bersama Milan sudah berada di dalam kamar hotel.
Fino sudah berpakaian santai dengan kaos oblong dan celana pendek dan tengah bersandar di badboard tempat tidur sambil memainkan ponselnya, yang sedang mengecek email masuk di ponsel nya yang sempat Chiko kirim kepadanya.
__ADS_1
Sementara Milan masih mengenakan gaun tadi dan berjalan mendekat ke tempat tidur.
"Kau tidak mengganti pakaian mu" ucap Fino yang sama sekali tidak beralih dari layar ponselnya.
"Eeh tidak tuan, saya tidak memiliki baju ganti" ucap Milan.
"Bukankah itu baju ganti untuk mu" ucap Fino sambil menunjuk paper bag diatas nakas.
Astaga, aku harus menjelaskan nya bagaimana , tidak mungkin aku mengenakan piyama tidur yang transparan itu. Batin Milan.
Fino yang melihat Milan tidak bergeming di tempat nya mulai mengulurkan tangannya untuk meraih paper bag itu. Kemudian ia mengambil isi dari paper bag tersebut.
Fino melihat piyama tidur yang transparan berwarna merah mencolok. Fino hanya mampu mengerutkan keningnya melihat piyama tidur itu yang sangat seksi pastinya.
Fino lalu meraih salah satu baju kaos oblong miliknya yang berada di samping paper bag tersebut. Lalu melemparnya ke arah Milan.
Dengan sigap Milan menangkap kaos oblong tersebut.
"Pakai saja itu, aku bersedekah untuk mu" ucap Fino yang tampak cuek.
"Terima kasih tuan"ucap Milan sambil membungkuk.
Milan buru-buru masuk ke dalam toilet untuk mengganti pakaian nya. Setelah itu, ia keluar dan kembali berjalan mendekat ke tempat tidur.
"Jangan mimpi untuk tidur bersamaku" ucap Fino acuh.
Lalu kembali melemparkan Milan sebuah bantal beserta guling nya.
"Kau lebih cocok tidur di bawah sana" ucap Fino ketus.
Milan pun lalu membaringkan tubuhnya di lantai dingin, tidak mungkin ia tidur di sofa kecil kamar itu. Milan sudah terbiasa tidur di lantai yang tidak beralaskan. Semenjak bergabung dengan anggota The Tiger.
Milan pun mulai memejamkan matanya, dinginnya lantai tidak memengaruhi kantuknya yang sudah menjadi-jadi. Terdengar dengkuran halus mulai keluar dari mulutnya.
Sementara Fino masih asik memainkan ponselnya, ia pun mengalihkan pandangannya saat mendengar dengkuran Milan.
"Dasar gadis....." ucapan Fino terhenti saat melihat paha mulus Milan yang berada di bawahnya.
"Gadis bodoh ini cari masalah" ucap Fino lalu meletakkan ponselnya di atas bantal.
Ia lalu turun sambil menarik selimutnya untuk menutupi tubuh Milan. Namun sialnya, selimut yang ia bawa membuatnya tersandung hingga menimpa tubuh Milan. Sedangkan Milan langsung terbangun sambil gelagapan dan betapa terkejutnya ia, Fino berada di atas tubuhnya.
"Apa yang anda lakukan tuan" bentak Milan karena terkejut.
"Hei aku hanya ingin memberi mu selimut. Lagian kau bukan tipeku" ucap Fino dengan suara lantang disertai tatapan membunuh.
Fino lalu berusaha bangkit, namun licinnya lantai dan selimut membuat ia kembali menimpa tubuh Milan.
Pandangan mata mereka kembali bertemu di jarak yang sangat dekat. Bahkan salah satu tangan Fino menyentuh aset berharga Milan.
Milan pun menyadari bahwa aset berharganya sedang disentuh, dengan cepat mendorong tubuh Fino hingga terjatuh di samping.
"Maaf saya tidak bermaksud berbuat kasar kepada tuan" ucap Milan yang sudah duduk di lantai.
Fino hanya diam, ia lalu bangkit dan naik ke tempat tidur. Fino pun membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, dan selalu saja membolak-balikkan tubuhnya, karena belum bisa tidur. Sementara Milan sudah terlelap kembali. Lama kelamaan akhirnya Fino bisa tertidur dan terbuai dalam mimpi.
__ADS_1
Bersambung.....