
"Tidak ada yang selamat, orang yang memasuki kamarku" ucap Fino dingin. Lalu iapun memencet remote control sehingga pintu kamar nya terkunci.
Sementara Milan sempat kaget, yang tiba-tiba saja pintu kamar itu tertutup. Namun iapun memasang wajah yang biasa-biasa saja. Karena ia selalu menghadapi situasi seperti itu, dan banyak nya marabahaya yang sempat ia dapatkan.
Milan lalu berbalik badan dan tampak acuh melihat Fino yang tengah bersandar di badboard tempat tidur yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam yang siap menerkam mangsanya.
"Mengapa anda berkata seperti itu tuan. Kesalahan apa yang tengah saya perbuat kepada tuan. Di sini saya hanya menjalankan perintah nyonya Ratu untuk membangunkan tuan. Dan mohon maaf jika saya sudah lancang memasuki kamar tuan" ucap Milan sambil membungkuk memberi hormat.
"Aku sudah katakan, tidak ada yang selamat, orang yang memasuki kamarku. Dan kau lah orang nya" ucap Fino yang kembali mengulang kata-kata nya sambil menunjuk Milan dengan pistol di tangannya.
"Maksud tuan akan melenyapkan saya di kamar ini" ucap Milan dengan suara lantang nya.
"Ya begitulah. Tapi sebelum itu terjadi, siapkan aku air hangat terlebih dahulu didalam bathub. Aku perlu menyegarkan tubuh ku, sebelum melenyapkan mu" ucap Fino dingin yang sedang memainkan pistolnya.
Milan mengepalkan tangannya, bisa-bisanya lelaki dihadapannya malah memerintah nya, kemudian melenyapkannya.
Tanpa membantah, Milan menjalankan perintah Fino.
Sementara Fino hanya tersenyum.
"Dasar gadis bodoh, aku hanya mengerjainya, dia menganggap ucapan ku serius. Begini jika terlalu lama menjadi anak buah Darren, semuanya dianggap serius" ucap Fino yang lagi-lagi tersenyum.
Milan pun menggerutu dalam hati berjalan menuju toilet.
"Seandainya aku tidak mengikuti perintah Bang John, mungkin aku tidak akan berurusan dengan tuan Fino. Hanya masalah sepele dia bahkan ingin menghabisi ku" gumam Milan yang sedang mengisi air dalam bathtub.
Setelah selesai mengerjakannya, Milan lalu keluar dan kembali menghampiri Fino.
"Sudah selesai tuan" ucap Milan sambil menunduk.
"Hemm".
Fino kembali memasang wajah yang sulit diartikan memasuki toilet.
"Ternyata mengerjai gadis bodoh itu sangat menyenangkan" ucap Fino yang sudah berendam di dalam bathtub.
Milan hanya berdiri di dinding sambil menyandarkan tubuhnya, memperhatikan kamar Fino yang begitu luas nan mewah. Ia sama sekali tidak berani untuk duduk di sofa ruangan itu.
Terdengar pintu toilet terbuka, Fino hanya melilitkan handuk dipinggangnya dan terlihat segar dengan rambut basah, lalu berjalan menuju lemari pakaian yang tidak jauh dari tempat Milan berdiri.
Milan dengan cepat menundukkan kepalanya saat melihat Fino berjalan ke arahnya. Ia sama sekali tidak ingin melihat Fino seperti itu.
Aura negatif mulai menyelimuti nya, karena sebentar lagi ia akan dilenyapkan.
Fino terlihat santai memakai pakaian nya tanpa memperdulikan Milan yang berada di dalam kamarnya.
Kini Fino sudah rapi dengan setelan jasnya, ia kembali memegang pistol di tangannya dan berjalan menghampiri Milan dengan pandangan yang tertuju kepada mangsanya.
Sementara Milan nyalinya sedikit menciut saat mendengar langkah kaki yang mulai mendekat. Ia masih berada di posisi nya sedia kala yang bersandar di dinding. Dengan cepat ia mengarahkan pandangannya ke depan. Alhasil pandangan mata mereka bertemu dengan tatapan yang sama-sama dingin.
Kini Fino berada di hadapan Milan sambil menatapnya dengan tajam. Dan pistol yang dipegangnya kini sudah menancap di kepala Milan. Sementara Milan, sama sekali tidak berhenti menatap Fino dengan tatapan dinginnya.
__ADS_1
Ia tidak terima jika dilenyapkan hanya masalah yang tidak masuk akal.
Tidak ada jarak diantara mereka berdua. Milan mampu mencium aroma tubuh lelaki dihadapannya yang begitu maskulin. Bahkan ia mampu memperhatikan wajah Fino di hadapannya yang sangat tampan apalagi di lihat dari jarak dekat.
"Apa kau sudah puas menatap ku" ucap Fino dengan memasang wajah datar.
Sementara Milan tampak bungkam.
"Baiklah, ada yang ingin kau sampaikan sebelum aku melenyapkan mu" ucap Fino.
"Aku hanya ingin, di kuburkan di samping kedua orang tuaku dan tolong beri tahu kepada bang John bahwa aku menganggap nya sebagai abang ku, tidak lebih" ucap Milan serius.
Ingin rasanya Fino tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Milan. Tapi ia tetap melakukan rencana yang mengerjai Milan.
"Masih ada lagi yang ingin kau sampaikan" ucap Fino yang tersenyum karena tidak tahan melihat mimik wajah Milan yang terlihat serius.
"Tidak ada lagi tuan" ucap Milan dingin.
Saat Fino ingin menarik pelatuk pistol nya, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi dengan hebohnya.
"Sial!"
Fino lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan melihat nama ibunya tertera di layar ponselnya. Dengan cepat ia menggeser ikon berwarna hijau.
"Iya ma"ucap Fino yang sedang menatap Milan.
"Apa yang kau lakukan di kamar bersama Milan, dari tadi mama dan pamanmu menunggu mu. Dan Milan belum juga kembali sejak mama menyuruh nya membangunkan mu. Bahkan dari tadi Jones mencari Milan karena ada tugas dari adikmu Darren. Cepat turun, mama menunggu mu di meja makan" omel nyonya Ratu.
Panggilan telepon mereka berakhir.
Fino kembali menatap tajam Milan.
"Kali ini kau lolos, pergilah aku tidak ingin melihat wajah tuamu yang menyedihkan" ucap Fino dingin dengan tatapan tajam.
Lalu iapun mengambil remote control nya dan membuka kembali pintu kamar nya.
Fino berjalan lebih dulu, sementara Milan mengekor di belakangnya.
Sementara di kediaman Damanik....
Ziva sedang bersantai di gazebo di bagian taman belakang bersama suaminya. Rupanya Darren tidak masuk kantor, ia hanya menemani istrinya.
"Zivanna, aku ingin membawa mu pulang ke kediaman keluarga ku, apa kau ingin ikut bersama ku" ucap Darren.
"Hemm, kemanapun kau pergi aku akan ikut bersama mu" ucap Ziva yang memeluk lengan suaminya.
"Baguslah, aku hanya tidak ingin mama sendiri menjalani hari-hari nya di negara A. Karena sebentar lagi Fino akan menikah, dan dia pastinya akan menetap di negara ini untuk mengurus perusahaannya bersama istrinya" ucap Darren yang kini tengah memeluk istrinya.
"Dan mama Sudah tidak sabar untuk menantikan kehadiran cucunya" ucap Darren sambil tersenyum.
"Kita hanya perlu berdua, semoga disegerakan mendapatkan momongan" ucap Ziva.
__ADS_1
Tak berselang kemudian, rombongan Donna begitu heboh menghampiri pasangan suami istri itu.
Ziva dengan cepat melepaskan pelukan suaminya. Ia lalu menghampiri Donna yang tengah menggendong baby Key.
Ziva lalu mengambil baby Key dari gendongan ibunya.
"Baby Key mulai aktif ya" ucap Ziva yang kini menggendong baby Key.
"Sayang, aunty ingin melihat muka jelek baby Key" ucap Ziva.
Seolah baby Key mengerti ucapan Ziva dengan cepat ia memasang wajah jeleknya. Dan semua orang tertawa melihat tingkah lucu baby Key. Darren pun hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah lucu anak kecil itu.
Sementara Gamal duduk di samping Darren, mereka pun mengobrol bersama-sama.
"Selamat tuan atas pernikahannya" ucap Gamal ramah.
"Ya, anak mu sangat lucu, bahkan ia begitu dekat dengan Zivanna" ucap Darren yang tengah memperhatikan istrinya bermain dengan baby Key.
"Nona Ziva yang menjaga istri ku selalu masa kehamilan nya hingga melahirkan anak kami Keynand Wijaya. Mungkin dari situlah mereka menjadi akrab. Sepertinya nona Ziva sudah siap menjadi seorang ibu" ucap Gamal.
"Hemm, doakan saja, semoga kami bisa menjadi ibu dan ayah, seperti kalian" ucap Darren.
Ziva lalu menghampiri suaminya, karena sedari tadi ia merasa diperhatikan oleh suaminya.
"Coba gendong baby Key" tawar Ziva.
Darren pun antusias ingin menggendong baby Key. Namun baby Key menolak dan malah menangis.
"Eeeh tidak sayang, paman hanya ingin berkenalan dengan kamu" ucap Ziva yang menenangkan baby Key.
Darren kembali ingin menggendong baby Key dengan penuh perjuangan. Baby Key akhirnya luluh dan mau digendong oleh Darren.
Darren pun tersenyum dan merasa senang menggonggong baby Key.
"Sepertinya kalian sudah bisa memiliki anak" teriak Donna yang sedang duduk bersama suaminya.
Ziva pun tersenyum di balik cadarnya dengan rona wajah memerah mendengar ucapan Donna.
"Iya sayang, lihatlah aku pun sudah siap menjadi ayah untuk anak kita. Sepertinya kita harus bekerja keras, agar kau cepat hamil" bisik Darren di telinga istrinya.
Ziva pun memukul lengan Darren dan berjalan menjauh.
"Aku pun sudah siap menjadi ibu" gumam Ziva.
Sementara baby Key di gendongan Darren menangis dan malah menarik rambut Darren saat melihat Ziva pergi.
"Aduh, ternyata merepotkan juga menjaga baby Key" ucap Darren.
Lalu dengan cepat membawa baby Key kepada Donna.
Bersambung.....
__ADS_1