Mafia Vs Gadis Bercadar

Mafia Vs Gadis Bercadar
Daerah Perbatasan


__ADS_3

Darren baru saja tiba di lokasi kejadian bersama segerombolan anggota The Tiger. Puluhan orang sudah tewas di tempat itu termasuk anggota The Tiger dan anggota The Manik.


Dan sekitar 5 orang anggota The Tiger yang masih bertahan hidup dengan luka yang sangat parah. Darren lalu mendekati salah satu dari mereka.


"Tu-tuan me-mereka pergi kepelabuhan" ucap lelaki itu hingga menghembuskan napas terakhirnya.


"Bawa mereka ke rumah sakit. Bereskan tempat ini secepatnya dan kuburkan mereka semua dengan layak" ucap Darren dingin.


Kemudian Darren beserta anggota The Tiger lainnya berlari menuju ke pelabuhan. Akan tetapi, di sana sudah tidak ada orang yang dicarinya.


"Sial!, gadis itu sudah pergi" ucap Darren yang sangat marah.


"Tuan, saya sudah menghubungi bagian keamanan yang berpatroli malam di perairan ini. Mereka akan mencari gadis itu" ucap salah satu anak buah Darren.


"Baguslah. Jangan sampai mereka lolos" ucap Darren dingin dengan kemarahan yang menjadi-jadi.


Kemudian 2 buah helikopter mulai menurunkan ketinggian nya dan mendekat ke arahnya. Lalu salah satu helikopter itu mendarat di pesisir pantai. Sementara yang satunya masih menunggu di atas udara dengan ketinggian rendah. Kemudian Darren berjalan menuju helikopter tersebut. Lalu pintu helikopter itu terbuka, kemudian orang yang berada di helikopter itu turun dan memberikan hormat kepada Darren sang ketua mereka.


"Silahkan naik tuan" ucap orang itu.


Tanpa menjawab, Darren naik ke helikopter tersebut yang akan membawanya mencari Ziva.


🍁🍁🍁🍁


Sementara Ziva dengan tubuh lemas duduk bersandar di dinding kapal nelayan dengan beberapa nelayan dengan fasilitas seadanya. Hanya sebuah sekat kayu yang dipasang dengan seadanya yang bisa menutupi badan kapal nelayan tersebut. Sehingga mereka bisa terlindung dari pancaran sinar matahari.


Ziva hanya mampu menggosokkan kedua tangannya, untuk mengurangi hawa dingin yang mulai menyerangnya. Untungnya para nelayan itu menolongnya. Dan salah satu dari mereka mampu mengeluarkan sebuah peluru yang bersarang di kaki tuan Harris dengan peralatan seadanya.


Ziva pun menceritakan kepada mereka bahwa ia sedang dikejar oleh para penjahat hingga membuat kakeknya terluka. Para nelayan pun merasa iba kepada Ziva.


Ziva tidak mampu memejamkan matanya. Ziva hanya terus menatap wajah sang kakek yang tidak berdaya. Sementara para nelayan mulai menurunkan jaringnya untuk menangkap ikan. Begitu halnya dengan kapal nelayan lainnya yang berada di tengah lautan lepas.


Tak berapa lama kemudian, para nelayan itu mulai gotong royong menarik kembali jaringnya sekuat tenaga untuk bisa menaikkan hasil tangkapannya. Sementara salah satu dari mereka melihat sebuah kapal yang biasa berpatroli di perairan itu, mulai menghentikan kapal nelayan di depannya dan memeriksa isi dari kapal tersebut.


"Di depan sedang terjadi pemeriksaan kapal. Bagaimana ini, mereka akan curiga terhadap gadis yang kita tolong" ucap nelayan itu kepada temannya sambil terus menarik jaring.


"Ya sudah, cepat sembunyikan mereka"ucap teman nelayannya.


Kemudian nelayan itu buru-buru menemui Ziva.


"Cepat kalian harus bersembunyi" ucap nelayan itu kepada Ziva.


Sementara Ziva hanya diam. Lagian dimana ia harus bersembunyi.


"Memangnya kenapa pak"ucap Ziva.


"Nanti saya jelaskan" ucap nelayan itu. " Kalian harus masuk ke dalam karung itu" tunjuk nelayan itu pada sebuah karung bekas di samping Ziva.


"Bagaimana dengan kakekku" ucap Ziva. Karena melihat kakeknya sedang tertidur.


"Bangunkan saja, cepat jangan mengulur waktu" ucap nelayan tersebut panik.


Kemudian Ziva beserta tuan Harris masuk kedalam karung bekas yang berukuran besar. Lalu nelayan itu, membantu Ziva beserta tuan Harris bersembunyi di peti penyimpanan ikan hasil tangkapan mereka. Kemudian menimbun kembali diatasnya dengan jaring bekas yang tidak terpakai.

__ADS_1


Bagaimana kira-kira kondisi Ziva didalam sana, hanya Ziva yang tahu beserta kakeknya.


Kapal patroli dengan beberapa orang berseragam didalamnya, mulai menghentikan kapal nelayan itu. Lalu mereka mulai berpindah ke kapal nelayan itu.


"Kami akan memeriksa kapal kalian. Ada seorang gadis aneh bersama lelaki tua yang terluka sedang kami cari. Mereka berdua orang berbahaya" ucap lelaki bagian keamanan laut tersebut sambil melirik satu persatu para nelayan.


Sementara para nelayan hanya tinggal diam. Lalu mulailah para keamanan laut memeriksa isi kapal tersebut. Sementara yang menjadi atasannya kembali mengintimidasi nelayan itu.


"Apa diantara kalian sempat melihat mereka di jembatan pelabuhan" ucap kembali lelaki itu dengan suara lantang.


"Tidak pak, kami tidak melihat orang yang tuan maksud" ucap salah satu nelayan yang sempat menyembunyikan Ziva. Sementara nelayan lainnya tampak bungkam.


"Oh.. Sangat disayangkan, padahal barang siapa yang menemukan mereka akan di berikan imbalan" ucap kembali lelaki keamanan laut.


"Hei kalian, coba buka peti ini" ucap lelaki keamanan laut yang sedang memeriksa isi kapal tersebut.


"Baik pak" ucap nelayan yang menyembunyikan Ziva di peti itu. Lalu mendekat ke peti penyimpanan ikan hasil tangkapan mereka.


Peti itu terbuka, hanya jaring bekas yang memenuhi isinya. Lalu lelaki yang bertugas memeriksa mulai mengangkat beberapa jaring bekas itu.


Sedangkan nelayan itu, mulai panik dan keringat dingin.


Tuhan lindungilah gadis itu, jangan sampai mereka menangkap nya. Batin nelayan itu.


Baru beberapa jaring bekas ia keluarkan tiba-tiba saja sebuah kepiting berukuran besar mulai menyipit jemari lelaki itu..


"Akkhhh" teriak lelaki itu histeris.


Temannya pun mulai menghampirinya dan melepaskan kepiting itu dari jemarinya.


Lalu mereka melapor kepada atasannya bahwa tidak menemukan apa-apa. Kemudian lelaki keamanan laut yang menjadi atasan mulai berpamitan dan menyuruh para nelayan untuk mengerjakan pekerjaannya.


Seluruh para nelayan itu, bernafas lega setelah mereka pergi. Kemudian mereka membantu mengeluarkan Ziva beserta kakeknya dari peti tadi.


Kapal pun kembali berlayar menyusuri lautan dan tanpa lelah para nelayan menggait isi dari lautan itu. Yang sebagai mata pencaharian mereka untuk menghidupi keluarganya.


Tak terasa pagi pun mulai menyambut mereka. Kini Ziva beserta kakeknya sudah berada di sebuah rumah sederhana salah satu nelayan. Keluarga itu, begitu senang dengan kehadiran Ziva.


Ziva dan tuan Harris sudah berganti pakaian. Rupanya istri nelayan itu, yang memberikan mereka pakaian bekas. Ziva hanya bisa bersyukur karena masih ada orang baik yang menolong mereka. Sudah seminggu mereka berada di rumah itu.Mereka sedang menikmati sarapan bersama.


Setelah selesai, Ziva dan tuan Harris mulai berpamitan karena perjalanan mereka masih jauh. Mereka masih berada di sebuah pulau kampung nelayan yang merupakan daerah perbatasan negara C dan B. Sehingga ia perlu melakukan kembali perjalanan.


"Ini ada sedikit bekal buat kalian" ucap istri nelayan itu.


"Makasih bibi" ucap Ziva lalu mengambil bekal tersebut.


Kemudian Ziva memberikan gelang emas yang melingkar di pergelangan tangannya kepada istri nelayan itu.


"Tolong di terima bibi" ucap Ziva sambil memberikan gelangnya.


"Tidak nak, saya ikhlas membantumu" ucap istri nelayan itu dengan penolakan.


Ziva hanya menggeleng, kemudian memasukkan di saku baju wanita paruh baya itu. Tak terasa istri nelayan itu meneteskan air mata melihat gelang pemberian Ziva, karena ia belum pernah memiliki barang mewah itu.

__ADS_1


Ziva kembali membantu kakeknya berjalan ditemani Pak Budi seorang nelayan yang menolong nya. Mereka terus berjalan hingga tiba di pasar tradisional daerah itu. Mereka akan menunggu sebuah bus yang akan mengantarkan mereka ke pusat kota negara B.


Ziva kembali menghentikan langkahnya saat berada di sekitar pasar itu.


"Tunggu sebentar paman, aku ingin membeli sesuatu. Tolong jaga kakek" ucap Ziva lalu masuk ke dalam pasar tersebut.


Ziva terus berjalan hingga bisa melihat sebuah lapak jual beli perhiasan.


Ziva kembali melihat beberapa aksesoris di tubuhnya. Sebuah jam tangan berlian yang melingkar di pergelangan tangan kirinya yang merupakan pemberian kakeknya, dan cincin berlian yang melingkar di jari manisnya yang sempat ia beli.


Dan Ziva kembali memegang kalung pemberian kakeknya, yang merupakan kalung ibunya. Ziva sempat berpikir, barang mana yang harus ia jual. Karena Ziva sama sekali tidak memiliki uang.


"Lebih baik cincin ini saja" gumam Ziva.


"Permisi, saya ingin menjual cincin ini"ucap Ziva pada pemilik lapak perhiasan itu.


"Coba saya lihat" ucap wanita paruh baya itu.


Kemudian memeriksa dengan teliti kondisi cincin itu menggunakan kaca pembesar.


Setelah melihat kondisi cincin itu, lalu wanita paruh baya itu mulai memberikan harga. Sehingga terjadi tawar-menawar hingga mereka setuju.


Ziva tersenyum di balik cadarnya setelah menerima uang hasil penjualan cincin berlian nya. Kemudian ia buru-buru untuk menemui kakeknya.


Ziva kembali tersenyum saat sudah mendekat ke arah kakeknya. Tapi tiba-tiba saja senyum itu pudar menjadi kemarahan, saat melihat 10 anak buah Darren yang merupakan anggota The Tiger sudah menodongkan pistol kepada tuan Harris.


"Jangan sakiti kakekku" ucap Ziva dengan suara lantang.


"Saya tidak akan menyakiti lelaki tua ini, jika kalian ikut bersama kami" ucap anggota The Tiger.


"Saya tidak akan pernah ikut dengan kalian semua" bentak Ziva.


"Baiklah jika itu maumu nona, kami akan membawa mu secara paksa. Lihat ini" ucap anggota The Tiger sambil memukul kepala belakang tuan Harris hingga tak sadarkan diri.


Ziva yang melihat itu, sangat marah besar. Karena mereka kembali menyakitkan kakeknya. Tanpa pikir panjang Ziva lalu melawan mereka.


Sehingga terjadilah perkelahian di tempat itu. Ziva terus menghajar mereka hingga babak belur. Salah satu anggota The Tiger menarik hijab Ziva dari belakang hingga membuat beberapa anak rambut Ziva terlihat.


Dengan cepat Ziva berbalik lalu menendang area terlarang lelaki itu, hingga tersungkur ke tanah. Tenaga Ziva terkuras habis melawan mereka. Tapi Ziva tidak ingin menyerah, Ziva kembali melayangkan tinjunya membabi-buta ke wajah teman satunya, dan dari arah belakang anggota The Tiger merobek lengan baju Ziva. Sehingga terpampang jelas lengan putih Ziva.


Sementara lelaki itu tersenyum mesum ke arah Ziva.


Ziva memegangi lengan bajunya yang robek dan akan menghajar lelaki kurang ajar itu. Namun naasnya dari arah belakang salah satu anggota The Tiger memukul Ziva dengan balok kayu, hingga Ziva terjatuh ke tanah dan pingsan.


"Lebih baik kita bawa pergi mereka" ucap anggota The Tiger yang memukul Ziva.


"Lebih baik kita bersenang-senang dulu dengan gadis ini, lihatlah lengannya saja begitu putih bagaimana dengan tubuh lainnya" ucap lelaki itu sambil menelan salivanya menatap Ziva.


"Apa yang kau pikirkan, kita harus segera membawa mereka ke tuan Darren" ucap teman satunya.


Lalu lelaki itu ingin mengangkat tubuh Ziva.


"Berhenti" teriak seorang lelaki dengan suara lantang....

__ADS_1


Bersambung...


Mohon maaf bila alurnya tidak sesuai 🙏


__ADS_2