Mafia Vs Gadis Bercadar

Mafia Vs Gadis Bercadar
Kecemburuan Darren


__ADS_3

Ziva, Lulu, Nana dan nyonya Ratu menyiapkan makan siang bersama beberapa pelayan. Kebetulan hari ini, Donna dan lainnya akan pulang ke negara B.


Sedangkan Lexa sendiri sedang keluar bersama Chiko untuk mengunjungi yayasan disabilitas yang tengah ia bangun 1 tahun yang lalu.


Sementara Darren berada di ruang keluarga yang sedang bermain dengan baby Key dan sesekali mengajak baby Key berbicara, juga membantunya berjalan. Tuan Alvin, Gamal dan Donna sedang mengobrol bersama dan sesekali mereka memperhatikan Darren dan baby Key yang sedang bermain.


"Pa-pa, ma-ma" ucap baby Key yang memberi Darren mainnya. Bayi 1 tahun lebih itu, mampu mengucapkan kalimat pertamanya yakni papa dan mama dan itu merupakan bahasa ibu yang selama ia dengar melalui tumbuh kembang nya.


"Pa-man di sini, di sana papa dan mama mu" tunjuk Darren pada Donna dan Gamal.


"Pa-pa" lagi-lagi baby Key menyebutkan nama papanya.


"Ya papamu sedang mengobrol nak" ucap Darren sambil mengelus rambut baby Key. Setelah itu, mencium pipi gembul baby Key.


Tuan Alvin yang melihat mereka tergelak tawa. Rupanya menantunya, menyukai anak kecil dan penyayang.


"Tidak lama lagi mereka akan menyusul kalian. Ziva juga sedang hamil" ucap tuan Alvin dengan sedikit senyuman.


"Ziva hamil, mengapa tidak mengatakan kepada kami tuan" ucap Donna yang terkejut dengan ucapan tuan Alvin.


"Mungkin mereka masih malu membagikan kabar baiknya" timpal Gamal.


"Sepertinya begitu" ucap tuan Alvin.


"Mas aku ingin anak kedua kita perempuan dan mirip Ziva" ucap Donna sambil mengelus perutnya.


"Apa kau sedang...." ucap nyonya Ira yang baru saja menghampiri mereka.


"Iya nyonya, saya sedang hamil anak kedua dan sudah memasuki 3 bulan, semoga anak saya mirip dengan Ziva" potong Milan.


"Selamat ya, aku turut bahagia mendengar kabar kehamilan mu" ucap nyonya Ira dengan senyumannya.


Lalu nyonya Ira mengajak mereka makan siang bersama-sama. Kini mereka tengah berkumpul di meja makan sambil menikmati makan siang bersama. Sementara Darren tidak bisa ikut makan siang bersama mereka karena baby Key tertidur di pangkuannya.


Ziva pun menghampiri suaminya sambil membawa sepiring nasi dengan lauk pauk nya.


"Kau sudah pandai menidurkan baby key, seperti nya sudah ada perkembangan untuk menjadi seorang ayah" ucap Ziva dengan suara berbisik yang tengah duduk di samping Darren.


"Jangankan menidurkan baby Key, kau pun sudah pandai aku tiduri" ucap Darren gemes sambil mencium pipi istrinya yang terhalang oleh cadarnya.


"Alexander" ucap Ziva kesal dengan ucapan Darren.


"Itu nama ayahku, jangan menyebut nama ku seperti itu, panggil saja sayang istriku" ucap Darren yang tersenyum.


"Aku tidak mau" ucap Ziva yang sedikit kesal.


"Ya sudah, nanti malam aku akan meminta jatah lebih dari mu"ucap Darren dengan seringai licik diwajahnya.


Ziva pun mencubit lengan Darren, karena berkata aneh-aneh.


"Awww, cepat hentikan atau aku menciummu di sini" ancam Darren.


Ziva lalu menghentikan aksinya.


"Ini makan siang untuk mu, aku ingin makan siang bersama lainnya"ucap Ziva yang menyerahkan sepiring nasi bersama lauk pauk nya.


Darren mengambil sepiring nasi itu, sementara tangan satunya sandaran baby Key tidur. Ia pun berbahasa isyarat kepada istrinya karena sontak baby Key mulai menggeser posisinya.


Ziva lalu duduk kembali, iapun mengambil kembali sepiring nasi itu di tangan Darren. Lalu menyuapi suaminya, sedangkan Darren tersenyum di suapi istrinya.


"Kau juga harus makan, bukankah kau sedang hamil. Sepiring berdua lebih nikmat untuk disantap bersama" ucap Darren dengan sedikit senyuman.


Sepasang suami istri itu, makan siang bersama dengan sepiring nasi. Mereka berdua terlihat romantis layaknya ayah dan ibu bersama buah hatinya.


Setelah itu, Donna dan lainnya mulai berpamitan kepada keluarga besar Ziva. Mobil mereka meninggalkan kediaman Damanik. Sedangkan Ziva merasa sedih di tinggal oleh mereka terutama baby Key.

__ADS_1


Begitu halnya Nyonya Ratu, Fino, Rissa, Tuan John dan Milan serta beberapa anggota the Tiger kembali ke negara asal mereka.


Darren meminta Milan untuk kembali terlebih dahulu untuk mencari bukti tentang kejahatan Zayn dan siapa yang mengajaknya bekerja sama.


Sementara jones masih di minta untuk tinggal oleh tuannya. Karena dialah yang bertugas antar jemput Darren untuk beberapa hari kedepannya.


Harusnya Darren pulang bersama keluarga nya hari ini. Tapi tuan Alvin masih memintanya untuk tinggal bersama. Sehingga Darren pun menuruti ucapan mertuanya. Walaupun hubungan mereka belum membaik, tapi setidaknya ada perubahan sedikit dari mertuanya, yang mulai mengajaknya berbicara.


🍁🍁🍁🍁🍁


Tak terasa sudah seminggu Darren menjalani hari-hari nya bersama Ziva sebagai sepasang suami istri. Mereka pun sering menghabiskan waktu jalan bersama mengunjungi tempat destinasi wisata di negara itu.


Seperti halnya malam ini mereka mengunjungi festival lampion yang diadakan setiap setahun sekali di negara itu. Darren mengenggam tangan istrinya memasuki area festival itu. Jones beserta 5 anggota The Tiger mengekor di belakang mereka untuk tetap melakukan penjagaan.


"Aku ingin membeli lampion itu" ucap Ziva yang menunjuk lampion berwarna putih.


Darren lalu meminta Jones untuk membeli 2 lampion tersebut.


Sementara Ziva sangat antusias, lalu menarik tangan Darren ke stand pernak-pernik gantungan kunci.


Ia pun membeli beberapa pasang gantungan kunci. Setelah itu, Ziva kembali menarik tangan suaminya memasuki jajanan kaki lima khas negara itu. Sedangkan Darren hanya mengikuti langkah istrinya.


"Apa kau yakin ingin makan, makanan itu" ucap Darren yang melihat kondisi dari lapak pedagang kaki lima itu yang tidak higienis.


"Tenanglah, jangan khawatir. Aku sering jajan makanan ini di negara C" ucap Ziva.


Tak berselang kemudian pedagang itu memberikan 2 porsi makanan pesanan Ziva. Berupa mie ayam dan somay.


"Kau ingin mencobanya" ucap Ziva yang menawarkan makanan tersebut.


"Tidak...makan saja"tolak Darren.


Ziva lalu menikmati makanan itu dengan lahap, sementara Darren hanya memperhatikan Ziva yang tengah menikmati makanan nya. Ia pun baru sadar bahwa Ziva selama ini sulit menikmati makanan dengan menggunakan cadar, menurut pandangan nya. Padahal selama ini Ziva enjoy saja menjalani semua itu.


"Apa begitu nikmat sampai kau menghabiskan semuanya" ucap Darren.


"Ya sudah lebih baik kita kembali" ucap Darren.


"Tunggu dulu, aku belum menerbangkan lampion itu, bahkan acara puncaknya belum di mulai" ucap Ziva.


Sementara Darren yang sedang memegang lampion tampak pasrah mengikuti langkah kaki istrinya. Ia terus menggenggam tangan Ziva takutnya gadis itu hilang dari pandangan nya.


"Astaga aku hampir melupakan gulali" ucap Ziva yang baru menyadari saat melihat anak kecil menikmati gulali.


"Kau tidak boleh menikmati gulali, nanti gigimu habis seperti anak kecil itu" ucap Darren menunjuk anak kecil tadi sambil tersenyum.


"Apaan sih, kau selalu saja berbicara aneh-aneh" ucap Ziva yang sedikit kesal.


"Aku hanya bercanda, kakiku mulai pegal mengikuti mu" ucap Darren yang mulai bosan.


"Kita kesana dulu menerbangkan lampion itu, setelah itu kita kembali" ucap Ziva dengan mata berbinar penuh kebahagiaan.


Darren hanya mampu bernafas dengan kasar. Karena ini pertama kalinya ia mengunjungi tempat seperti itu, dan berbaur dengan orang banyak.


Ziva mulai bergabung dengan lainnya. Tampak orang mulai berkumpul, bercanda gurau bersama keluarga dan pasangan nya membawa lampion masing masing.


"Zivanna Damanik" ucap seorang lelaki yang mengenal Ziva.


Ziva pun menoleh ke sumber suara itu, begitu halnya Darren dengan cepat menatap tajam lelaki itu.


"Tristan, bisa-bisanya kau mengenaliku" ucap Ziva ramah.


"Aku sangat tahu gestur tubuh mu Ziva dan ciri khas mu yang mengenakan Khimar. Kau datang bersama siapa" tanya Tristan.


Darren dengan cepat merangkul pinggang istrinya. Bisa-bisanya lelaki di hadapannya begitu lancang berbicara tentang gestur tubuh istrinya.

__ADS_1


"Kenalkan ini suamiku" ucap Ziva.


Tristan lalu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, sementara Darren sama sekali tidak ingin berjabat tangan dengannya.


Tristan pun menjadi kikuk, ia pun menggaruk tengkuknya. Sementara Darren hanya menatapnya tajam, setajam pisau.


"Sudah lama ya kita tidak bertemu, bahkan kau tidak pernah mengikuti reuni di kampus kita" ucap Tristan.


"Aku sibuk mengurusi bisnis ku, jadi tidak sempat ikut..." Darren malah mengeratkan tangganya di pinggang istrinya seolah ia tidak suka jika istrinya terus berbicara dengan lelaki dihadapannya.


"Aku permisi dulu" ucap Ziva cepat, yang merasa yakin bahwa suaminya sedang kesal.


Darren lalu menggenggam erat tangan Ziva, sementara lampion yang ia pegang malah ia buang. Ziva hanya diam mengikuti langkah Darren. Ia yakin Darren sedang marah kepadanya saat lampion tadi ia buang dengan kesal.


Seseorang kembali memanggil namanya.


"Ziva, tunggu aku" teriak seseorang dari belakang.


Ziva kembali menoleh, sementara Darren malah menyeretnya ke parkiran.


Orang tersebut mengejar Ziva.


"Berhenti sebentar, seseorang memanggil ku" ucap Ziva.


Darren lalu melepaskan tangannya, kali ini ia benar-benar kesal dengan istrinya, bahkan tidak suka jika Ziva akrab dengan lelaki lain. Ia lalu masuk ke dalam mobil dan membanting pintu mobilnya.


Sementara Ziva dan Raihan terlonjat kaget.


"Ziva, maafkan aku yang tidak sempat hadir di pesta pernikahan mu" ucap lelaki itu yang ngos-ngosan.


"Tidak apa-apa Rayhan, kau kan sibuk bekerja" ucap Ziva.


"Ini hadiah untuk mu, semoga kau suka" ucap Rayhan.


"Terima kasih ya Rayhan" ucap Ziva lalu mengambil hadiah dari Raihan. " Aku pergi dulu, suamiku sudah menunggu ku" ucap Ziva.


Rayhan hanya menatap kepergian Ziva.


Ziva lalu masuk ke dalam mobil, dan duduk di samping suaminya. Mobil pun melaju meninggalkan tempat itu. Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan di antara mereka berdua.


"Kita ke mansion ku" ucap Darren dingin.


"Baik tuan" ucap Jones.


Ziva menjadi bingung dengan tingkah laku Darren yang mendiamkan nya.


Kini mobil yang membawa mereka tiba di mansion Darren.


Darren lalu turun terlebih dahulu memasuki mansion nya. Diikuti Ziva dibelakangnya. Darren memasuki kamarnya dengan perasaan kesal dan tersulut api cemburu. Saat melihat Ziva masuk ke dalam kamarnya dengan cepat ia menarik tangan Ziva lalu menghempaskan tubuh Ziva ke atas tempat tidur. Lalu iapun menindih tubuh istrinya.


Ziva menjadi kaget dengan tingkah laku Darren.


Darren lalu menarik hijab+cadar Ziva dan melemparnya ke sembarang arah. Kemudian ia langsung mencium bibir Ziva dengan lembut bahkan ia tidak memberi ruang untuk Ziva bernafas. Ziva pun mencengkeram kuat lengan Darren untuk menghentikan suaminya.


Dan benar saja, Darren menghentikan ciumannya.


"Aku tidak suka jika kau berbicara dengan seorang lelaki, aku tidak suka Zivanna" ucap Darren dengan wajah memerah yang dipenuhi amarah.


"Astaghfirullah, lelaki tadi hanya teman kampus ku dan Rayhan manager ku. Mengapa kamu seperti ini" ucap Ziva.


"Kau bahkan menyebut nama lelaki itu" ucap Darren dengan suara lantang, lalu kembali mencium bibir Ziva.


"Ummpp ughhh"


"Kau cemburu kepada mereka" ucap Ziva ngos-ngosan.

__ADS_1


Darren hanya diam, bahkan melucuti pakaian Ziva. Hingga mereka berakhir melakukan hubungan suami istri dengan kecemburuan Darren yang menjadi-jadi.


Bersambung.......


__ADS_2