Mafia Vs Gadis Bercadar

Mafia Vs Gadis Bercadar
Sholat berjamaah


__ADS_3

Sosok lelaki sang penguasa Alexander Group sedang berada di ruangan yang sangat ia benci dengan bau cairan infus yang sangat menyengat di ruangan itu. Akan tetapi, mau tidak mau ia harus berada di ruangan itu demi menemani ibu tercintanya.


Darren terus saja menggenggam tangan ibunya dan sesekali mencium punggung tangan sang ibu yang sedang terbaring lemah.


Rupanya sudah 5 hari Darren berada di rumah sakit di negara A. Sejak kepulangan Nyonya Ratu dari negara C, ia mengalami kelelahan hingga jatuh pingsan. Sehingga dengan cepat nyonya Ratu di larikan ke rumah sakit.


Sementara Darren beserta anak buahnya yang tengah sibuk mencari keberadaan Ziva, dengan terpaksa menghentikan pencariannya. Karena ibunya jauh lebih penting dari segalanya saat mendengar kabar tentang ibunya.


Darren pun mengerahkan seluruh anggota The Tiger yang berada di negara C untuk mencari keberadaan Ziva. Para anggota The Tiger pun menjalankan tugasnya dengan sungguh-sungguh pagi, siang hingga malam hari mereka tetap mencari Ziva.


Sedangkan Darren lebih memilih menemui ibunya di negara A. Darren begitu khawatir dengan kondisi ibunya, tak sedetikpun Darren meninggalkan ibunya dari ruangan itu. Hanya saja bila ia ingin ke toilet.


Dan untuk segala keperluannya, asistennya pun yang menyiapkan segala sesuatunya mulai dari baju ganti hingga makanan semua tanggung jawab asisten pribadinya selama Darren berada di rumah sakit.


Dokter yang memeriksa kondisi nyonya Ratu mengatakan bahwa asam lambung nyonya Ratu kambuh hingga membuat kondisi tubuhnya melemah dan jatuh pingsan. Sehingga perlu menjalani perawatan di rumah sakit tersebut.


Darren dan Rissa menjaga nyonya Ratu di rumah sakit tersebut. Sementara Ayah Rissa sesekali menemui mereka untuk melihat kondisi adiknya. Kondisi nyonya Ratu sudah membaik beberapa hari ini, hanya saja dokter belum mengizinkannya pulang.


"Lebih baik kau istirahat saja nak" ucap nyonya Ratu lembut dengan wajah yang terlihat pucat.


Nyonya Ratu sangat mengetahui tabiat kedua putranya yang satu begitu keras kepala tapi untuk menunjukkan kasih sayangnya melalui tindakan secara langsung tanpa perlu mengucapkan sepatah kata. Sementara yang satunya menunjukkan nya dengan penuh kasih sayang dan perhatian.


"Aku akan tetap disini menjagamu ma" ucap Darren sambil mencium punggung tangan ibunya dan terlihat sangat berantakan.


"Darren kau harus istirahat, sudah beberapa hari kau terjaga menjaga bibi" timpal Rissa.


"Iya sayang, mama tidak ingin kau sakit. Lihatlah mama sekarang sudah membaik" ucap nyonya Ratu sambil tersenyum.


Sementara Darren hanya terdiam tanpa menjawab ucapan ibunya. Karena ia tidak ingin menjauh dari sosok wanita yang paling ia sayangi.


Pintu ruangan pun terbuka dan menampilkan sosok lelaki yang juga sangat menyayangi ibunya.


Nyonya Ratu pun tersenyum melihat kedatangan putra satunya.


Dengan langkah lebar Fino langsung duduk di tempat tidur nyonya Ratu.


"Kenapa kau tidak memberitahuku bahwa mama sedang berada di rumah sakit" omel Fino pada adiknya.


Sementara Darren tidak menggubris ucapan Fino. Karena mau bagaimana lagi ibunya melarangnya.


"Mama yang melarang Darren untuk tidak memberitahumu. Mama tidak ingin kau khawatir di sana" ucap nyonya Ratu.


"Mama segalanya untukku, jadi jangan seperti ini. Karena aku sangat menyayangimu ma" ucap Fino yang sudah duduk di samping tempat tidur ibunya sambil memijit kaki ibunya.


"Mama sangat menyayangi kalian. Tolong tetap menjadi kakak adik dan saling menjaga, walaupun nantinya mama tiada" ucap nyonya Ratu yang menasihati putranya.

__ADS_1


"Jangan berkata seperti itu ma" ucap mereka kompak.


"Sudah-sudah, waktunya bibi makan habis itu minum obat, sekarang kalian minggir, giliran aku yang akan melayani bibi" ucap Rissa yang sedang membawa nampan.


Lalu Darren dan Fino memilih duduk di sofa ruangan itu, sambil melihat Rissa yang sedang menyuapi ibunya.


Sementara di tempat lain......


Ziva baru saja membersihkan tubuhnya. Hanya mengenakan handuk Ziva bersama ibunya keluar dari toilet. Mereka berdua sempat melakukan pertengkaran kecil. Sang ibu kekeh ingin memandikan putrinya sedangkan sang anak merasa malu diperlakukan seperti anak kecil oleh ibunya. Ziva tidak ingin melihat sang ibu kecewa, Ziva pun menuruti kemauan ibunya.


Ziva mengambil baju yang dipilihkan oleh ibunya lalu kembali masuk ke dalam toilet. Setelah selesai, ibunya kembali menuntunnya untuk duduk di kursi, lalu membantunya mengeringkan rambutnya.


"Bunda jangan seperti ini, aku merasa berdosa bila bunda selalu melayaniku dengan cara seperti ini" ucap Ziva sambil menunduk.


"Jangan berbicara seperti itu, bunda kembali melakukan hal yang dilakukan oleh seorang ibu yang sempat tidak bunda lakukan kepadamu nak" ucap nyonya Ratu sambil tersenyum.


Ziva kembali memeluk ibunya.


"Tapi aku tidak ingin bunda melakukan hal ini lagi, berjanjilah bunda tidak memanjakan ku lagi ya" ucap Ziva di pelukan ibunya.


"Bunda tidak bisa berjanji" ucap nyonya Ira.


Lalu nyonya Ira kembali menyisir rambut panjang putrinya.


"Kau tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Lihatlah wajahmu nak, lelaki akan terpesona dengan kecantikan mu. Tapi untungnya kau menutupi kecantikan mu, sehingga para lelaki tidak bisa melihat kecantikan mu" ucap nyonya Ira yang melihat pantulan wajah putrinya di cermin.


Ziva sangat bersyukur karena kedua orang tuanya masih memiliki tempat ibadah. Ziva tersenyum melihat sang kakek sudah berada di ruangan itu dan sedang mengaji.


"Ayah dimana" tanya Ziva pada ibunya.


"Ayahmu.... Ayahmu berada di ruang kerjanya." ucap Nyonya Ira terbata. Tidak mungkin ia mengatakan bahwa ayahnya tidak pernah sholat.


Kemudian Ziva menemui ayahnya, walaupun tidak tahu betul seluk-beluk mansion itu, Ziva tetap mencari ruangan ayahnya. Hingga tiba di depan pintu ruangan yang sangat diyakini ruang kerja sang ayah. Lalu Ziva mengetuk pintu ruangan itu.


Tok


tok


tok


"Masuk" ucap seseorang dari dalam.


Ziva kemudian masuk ke dalam ruangan itu dan melihat sang ayah sedang membaca beberapa berkas penting.


"Ayo kita sholat berjamaah yah" ajak Ziva yang berdiri di hadapan ayahnya.

__ADS_1


Tuan Alvin lalu menghentikan pekerjaannya dan menatap wajah putrinya.


"Ayah tidak bisa, kalian saja yang sholat" ucap tuan Alvin yang menolak ajakan putrinya.


"Kenapa tidak bisa yah, setiap umat Islam diwajibkan untuk beribadah kepada Allah melalui sholat 5 waktu" ucap Ziva yang menasihati sang ayah.


"Ayah hanyalah orang hina dan banyak dosa" ucap tuan Alvin sambil menunduk.


Kemudian Ziva melangkah mendekati ayahnya.


Sambil duduk bersimpuh di samping sang ayah. Ziva lalu menggenggam tangan sang ayah.


"Semua manusia punya dosa yah. Allah akan mengampuni hambanya, selagi hambanya masih ingin bertaubat. Ziva bukannya menggurui ayah, tapi Ziva ingin melihat ayah berubah" ucap Ziva sambil menatap mata sang ayah.


Sementara tuan Alvin hanya terdiam mendengar ucapan putrinya.


Setelah selesai, Ziva keluar dari ruangan itu. Dan kembali ke ruangan yang seperti musholla kecil.


Tuan Harris, nyonya Ira dan Ziva sudah berada di ruangan itu. Mereka pun akan melaksanakan sholat Maghrib berjamaah.


Tak berapa lama kemudian, tuan Alvin hadir di tengah-tengah mereka. Ziva hanya mampu tersenyum sementara nyonya Ira sangat bersyukur kepada Tuhan karena suaminya akhirnya mau sholat. Lalu mereka semua melaksanakan sholat Maghrib secara berjamaah.


Setelah itu, mereka makan malam bersama dan menjadi keluarga yang harmonis. Sehabis itu, mereka kembali mengobrol dan menceritakan perjalanan hidup ziva bersama kakeknya.


Kini Ziva sudah berada di kamarnya dan bersiap untuk tidur. Namun pintu kamarnya kembali terbuka lebar menampilkan kedua orang tuanya.


"Kami ingin tidur bersama mu nak" ucap nyonya Ira yang tersenyum bahagia bersama sang suami.


Ziva pun tersenyum kikuk lalu mengangguk setuju.


Mereka bertiga tidur bersama di tempat tidur yang berukuran besar. Ziva hanya mampu tersenyum dan merasakan kehangatan pelukan sang ibu. Sementara tuan Alvin hanya mampu mencium punggung sang istri dan tersenyum bahagia dengan kebersamaan mereka.


Ziva pun sudah terlelap di pelukan ibunya. Sementara nyonya Ira dan tuan Alvin belum tidur. Mereka hanya memandangi wajah putrinya yang sudah terlelap.


"Lihatlah mas, aku masih menganggap putri kita gadis kecil" bisik nyonya Ira sambil senyum-senyum melihat putrinya.


"Wajahnya begitu damai, dia mirip dengan mu sayang" bisik tuan Alvin sambil mencium kening istrinya.


"Jangan berbuat aneh-aneh, aku tidak ingin membangunkan putri kita" bisik nyonya Ira karena tuan Alvin mulai mencium punggung istrinya.


"Iya sayang, aku akan rela berpuasa dengan mu beberapa hari kedepan demi tidur bersama putri kita" bisik tuan Alvin.


Sementara nyonya Ira tersipu malu dengan ucapan sang suami. Setelah itu, mereka pun tertidur. Dan keluarga mereka sangat bahagia dan harmonis.


Bersambung.....

__ADS_1


Mohon maaf bila alurnya tidak sesuai 🙏


Saya juga tidak tahu kenapa bisa double up episodenya ya teman-teman. Mungkin dari pihak NT kali 🤔


__ADS_2