
Malam Harinya….
Suasana di Kediaman Alexander tampak ramai, beberapa kerabat dan tamu undangan mulai berdatangan memasuki area acara pengajian menuju hari H pesta pernikahan Fino dengan Sarah. Area tempat pengajian tertata dengan indah, pernak pernik dan hiasan rangkaian bunga tampak indah di pandang mata, terdapat meja dan kursi untuk keluarga mempelai laki-laki saat duduk bersama nantinya dengan pemuka agama.
Tidak hanya itu, kursi dan meja untuk tamu undangan berjejer dengan rapi dengan 2 bagian, untuk bagian sebelah kanan khusus untuk wanita dan dibagian sebelah kiri khusus untuk laki-laki. Yang di setiap mejanya terdapat suguhan aneka makanan dan minuman yang menggugah selera, membuat suasana acara lebih menjurus ke acara kekeluargaan.
Ziva masih saja berada di dalam kamarnya, Ziva tampak cantik dan anggun dengan balutan busana syari berbahan brokat yang berwarna biru dongker dengan hijab+cadar yang senada. Ziva hanya duduk di tempat tidur sambil memainkan ponselnya, rupanya ia mulai menggunakan ponsel semenjak berada di kediaman orang tuanya dan Darren pun tidak masalah.
Ziva tertawa terbahak-bahak melihat kiriman video Donna tentang tumbuh kembang baby key yang mulai bisa merangkak untuk berdiri.
Darren yang baru saja keluar dari ruang ganti terlihat rapi dengan setelan jas yang berwarna senada dengan istrinya. Darren mengerutkan keningnya melihat tingkah Ziva yang sedang bermain ponsel. Darren lalu menghampiri Ziva dan duduk di sampingnya sedangkan Ziva sama sekali tidak menyadari keberadaan Darren yang sudah ada di belakangnya. Ziva lagi-lagi tertawa melihat tingkah lucu baby key.
Darren merasa diabaikan oleh Ziva dengan cepat memeluk Ziva dari belakang. Ziva terlonjat kaget hingga menjatuhkan ponselnya. Darren sama sekali tidak melepaskan pelukannya ia malah memeluk Ziva dengan erat.
“Astagfirullah mas Alexander”ucap Ziva yang sedikit kesal dengan tingkah suaminya.
“Aku merindukanmu, sedari tadi kau menjauhiku”ucap Darren sambil mencium punggung Ziva.
“Jangan seperti ini, mama pasti sudah menunggu kita”ucap Ziva sambil berusaha lepas dari Darren.
Sedangkan Darren malah mengeratkan pelukannya.
“Aku menginginkanmu sayang”ucap Darren sambil meraba perut rata Ziva.
Deg.
Jantung Ziva kembali berdegup dengan kencang jika Darren mengatakan hal itu.
“He he he, aku kan sedang hamil, kau harus berpuasa selama beberapa bulan kedepan sayang”ucap Ziva cengegesan dibalik cadarnya.
“Hah, be-berpuasa..aku tidak bisa melakukannya Zivanna. Aku tidak bisa, jika tidak menyentuhmu selama sehari saja. Aku benar-benar tidak sanggup”ucap Darren sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu melonggarkan pelukannya.
Sepertinya aku harus konsultasikan kepada pak Handoko dan dokter spesialis kandungan. Bisa-bisa asset berhargaku jadi drop jika berpuasa selama itu. Batin Darren.
“Ayo kita ke bawah, kepala pelayan tadi mengatakan bahwa ayah, bunda dan lexa sudah ada di bawah. Aku sudah tidak sabar bertemu dengan mereka”ucap Ziva antusias sambil menarik lengan Darren.
“Hemm baiklah”ucap Darren pasrah.
Lalu mengikuti langkah istrinya.
Sementara Fino baru saja tiba di kediamannya bersama sekertarisnya. Fino menyelonong masuk tanpa memedulikan kerabat dan tamu undangan lainnya yang sudah duduk di kursi mereka masing-masing. Fino terus saja berjalan hingga menuju lift yang akan membawanya ke lantai kekuasaannya.
Wajahnya terlihat kesal+lelah akibat seharian bekerja, bahkan di situasi sebelum menuju hari H, Fino tetap bekerja dan bekerja. Ia pun terpaksa menggantikan Posisi Darren untuk memimpin rapat penting di perusahaan Alexander Group tadi siang, itu semua karena Darren yang memintanya untuk melakukan rapat penting tersebut.
Dan kekesalannya pun terjadi saat mata-matanya memberikan laporan yang belum sepenuhnya Fino yakini kebenarannya tentang kejahatan Sarah. Di tambah melihat keberadaan Milan yang sedang berjaga di kediamannya bersama para anggota The Tiger yang terlihat baik-baik saja membuat mood Fino menjadi kesal.
Fino kini berada di dalam kamar nya, ia lalu melepaskan seluruh pakaiannya. Setelah itu, masuk ke dalam toilet. Dibawah shower Fino terlihat rileks saat air mulai berjatuhan mengguyur tubuhnya. Ia pun kembali mengingat kejadian saat melakukan hubungan intim bersama Milan, wajah Milan seolah menari-nari di otaknya jika membayangkan kejadian itu.
"Sial!, mengapa aku kembali membayangkan kejadian itu. Sebentar lagi aku akan menikahi Sarah. Dan masalah Milan dengan ku, aku akan tetap merahasiakan kejadian itu. Biarlah semua nya tertutup dengan rapat. Lagian gadis itu sudah terlihat baik-baik saja, bahkan sudah bercanda gurau dengan para lelaki. Dasar gadis murahan" ucap Fino kesal.
Fino pun mengakhiri acara mandinya. Ia lalu keluar dari toilet dan berjalan menuju ruang ganti.
Fino mengenakan kemeja putih lengan panjang di padukan dengan celana hitam berbahan kain yang sudah di sediakan oleh ibunya. Fino kemudian merapikan tatanan rambut nya, setelah itu, ia kembali mengambil peci hitam untuk ia kenakan. Setelah penampilannya dirasa sempurna.
Fino lalu berjalan keluar dari kamarnya. Kemudian masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke lantai dasar tempat acara pengajian berlangsung.
Fino sudah duduk bersama dengan nyonya Ratu, paman nya dan kedua pemuka agama. Setelah itu, MC acara mulai membuka acara pengajian tersebut. Lalu mempersilahkan kepada salah satu pemuka agama untuk memimpin doa demi lancarnya acara pengajian tersebut.
Selanjutnya melakukan sesi pembacaan kitab suci Al-Qur'an yang akan dibacakan oleh Fino. Disini Fino mulai melantunkan Q.S Al-Baqarah, yang tidak begitu pasih.
Sementara Ziva sudah bergabung dengan ibunya dan Lexa yang kini tengah duduk di barisan depan. Sementara Darren pun duduk di dibarisan depan bersama ayah mertuanya sambil mengobrol bersama.
Sesekali Darren melirik ke arah istrinya yang sedang melepas rindu dengan ibunya. Darren pun hanya mampu tersenyum melihat tingkah istrinya.
__ADS_1
Milan duduk bersama dengan para anggota The Tiger. Sesekali Jones melakukan candaan dan ucapan modus kepada Milan. Sementara Milan terlihat baik-baik saja, tetapi dalam hatinya ia begitu hancur.
Chiko melihat perkumpulan mereka, dengan cepat mendekat.
"Tolong 3 dari kalian ikut bersama saya" ucap Chiko.
Chiko pun menatap Milan dengan iba, ia pun disuruh tutup mulut oleh tuannya untuk tetap merahasiakan kejadian beberapa Minggu yang lalu.
"Baiklah, kami tinggal dulu" ucap Chiko lalu berjalan bersama-sama dengan 3 anggota The Tiger.
Sementara Milan masih duduk bersama lainnya untuk melakukan penjagaan. Hanya Milan wanita mafia yang masih bertahan hidup di anggota The Tiger.
Milan berencana menemui Darren untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya. Tapi ia tidak bisa memulai dari mana untuk menjelaskan kepada tuannya.
Bahkan ia pun kembali diberikan banyak tugas oleh Darren untuk menyiapkan segala sesuatunya bila istri tuannya membutuhkan sesuatu.
Seperti saat ini, ia kembali di minta untuk membeli manisan buah ceri merah dengan anggur hijau.
"Aku keluar sebentar bang jon, ada keperluan yang tuan Darren perintahkan untuk ku" ucap Milan.
"Hemm, cepat kerjakan. Jangan sampai tuan Darren menunggu" ucap jones.
"Baik bang jon" ucap Milan.
Lalu berlari menuju mobilnya yang berada di parkiran.
Milan lalu melajukan mobilnya menuju pintu gerbang. Namun ia kembali melakukan rem mendadak saat sebuah mobil sport merah melintas dengan gesit yang menghalangi jalannya.
Milan lalu turun dari mobil, kemudian menghampiri pemilik mobil tersebut. Belum sempat mendekat, pemilik mobil tersebut turun terlebih dahulu sambil memeriksa kondisi mobilnya.
"Tuan...jangan berkendara ugal-ugalan di area kediaman keluarga Alexander" ucap Milan.
Sementara pemilik mobil tersebut berbalik arah menatap Milan.
Milan pun tidak terima perlakuan lelaki di hadapannya, yang sudah mengusiknya. Ia pun ingin melayangkan tinjunya, dengan cepat lelaki itu mengunci pergerakan Milan sambil tersenyum tipis.
"Kau gadis yang sudah menghajar aset berharga ku. Sekarang aku akan meminta rugi kepada mu" ucap lelaki itu.
"Lepaskan, atau kau akan menyesal tuan" ucap Milan yang sudah tersulut emosi hingga memberontak lepas dari kuncian lelaki di hadapannya.
"Wow, kau semakin manis saat marah" ucap lelaki itu.
"Bedebah gila" ucap Milan emosi yang sudah memberontak.
Namun kuncian lelaki di hadapannya cukup kuat, sepertinya memiliki ilmu bela diri yang cukup tinggi hingga Milan tidak bisa lepas.
Lelaki itu kembali mendekatkan wajahnya, semakin dekat dan semakin dekat sementara Milan mulai memberontak. Namun lagi-lagi lelaki itu ingin menjalankan aksinya. Ia bahkan tertarik dengan Milan apa lagi saat marah seperti itu, ia ingin segera melahap bibir Milan yang tampak menggoda baginya.
Lelaki itu, mulai memiringkan kepalanya dan siap mencium bibir Milan. Namun seseorang menghentikan aksinya.
"Apa yang kalian lakukan di tempat seperti ini, menjijikkan" ucap suara bariton yang tidak lain adalah Fino sang calon pengantin yang memasang wajah datar.
Keduanya terlonjat kaget,
"Sial, Kau masih berhutang kepada ku" ucap lelaki itu, lalu melepaskan Milan. Sementara Milan berhasil menonjok wajah lelaki itu, sebelum menjauh.
Lelaki itu, lagi-lagi memegang wajahnya yang terasa ngilu akibat tonjokan Milan. Dan tersenyum sinis.
"Brother, kau baru saja menggangu ku. Aku hampir saja....." ucap lelaki itu terhenti saat melihat seseorang.
"Kak David!" teriak seorang wanita yang tidak lain adalah Rissa.
Rissa langsung melompat memeluk lelaki yang bernama David.
__ADS_1
David pun memeluk Rissa dengan penuh kasih sayang.
"Jahat... jahat kau bahkan tidak mengabari ku bahwa sudah berada di negara ini. Aku membencimu, ayah pun membencimu" ucap Rissa sambil memukul punggung David.
"Iya kakak salah, cepat turun bisa-bisa pinggang kakak encok" ucap David sambil tersenyum.
Rissa lalu melepaskan pelukannya.
"Kasihan sekali adikku ini, pujaan hatinya akan segera menikah" bisik David di telinga Rissa.
"Kak David" ucap Rissa cemberut.
Sementara David mulai berlari memasuki rumah utama. Rissa pun ikut menyusulnya.
Sedangkan Fino masih saja berdiri di tempatnya sambil mengepalkan tangannya. Awalnya ia hanya mencari angin segar, malah mendapatkan pemandangan yang membuatnya kesal. Ia benar-benar kesal melihat kejadian barusan.
"Dasar gadis murahan, bahkan kau kembali menggoda David" ucap Fino sambil tersenyum sinis.
Ponsel Fino berdering, ia lalu melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Fino lalu menggeser ikon berwarna hijau lalu menjawab panggilan masuk tersebut.
"Mereka sedang mendatangi kediaman nona Sarah tuan" ucap lelaki diseberang sana.
"Biarkan saja, aku tidak peduli" ucap Fino lalu mematikan sambungan telepon nya secara sepihak.
Ia pun kembali melampiaskan kekesalannya sambil meninju pohon di samping nya.
"Kenapa seperti ini, mama akan kecewa" ucap Fino sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
David masih saja berlari memasuki rumah, sampai-sampai bertabrakan dengan Lexa. Minuman yang berada di tangan Lexa tertumpah mengenai setelah jas David.
"Apa kau tidak punya mata hah, sampai menumpahkan minuman mu ke jasku" ucap David yang mencaci maki Milan.
"Maaf tuan, biar saya membersihkan nya" ucap Lexa panik sambil meraba tubuh David.
"Hei jangan menyentuh ku, rupanya kau gadis buta. Pergilah aku merasa kasihan kepada mu" ucap David yang baru saja menghina Lexa.
"Ya saya memang buta tuan, tapi saya tidak perlu dikasihani" ucap Lexa.
"Berani juga kamu" ucap David.
Chiko pun menghampiri Lexa, saat mendengar perdebatan keduanya.
"Tuan David jangan berbuat keributan di tempat ini" ucap Chiko sambil menggenggam tangan Lexa.
David pun mulai meninggalkan mereka.
Sementara di kamar ruang tamu....
Ziva sudah berada di atas tempat tidur bersama ibunya. Rupanya ia meminta ibunya untuk menemaninya tidur. Ziva sudah terlelap, sambil memeluk ibunya. Ia menjadi kesal saat meminta Darren untuk mencari manisan buah ceri merah dengan anggur hijau untuknya. Tapi Darren malah meminta kepada Milan untuk mencari manisan tersebut. Membuat Ziva kesal dan tidak ingin tidur bersamanya.
Darren duduk bersama dengan ibunya, ayah mertuanya sambil mengobrol bersama dengan kerabat lainnya. Tuan John dan David baru saja bergabung dengan mereka. Dan memperkenalkan David kepada tuan Alvin. Sementara beberapa tamu undangan mulai meninggalkan acara tersebut.
Tuan Alvin bersama keluarganya mulai berpamitan dengan besannya. Ia pun berlalu meninggalkan kediaman Alexander menuju mansion miliknya yang tidak terlalu jauh dari lokasi kediaman Alexander.
Darren pun membuka pintu kamar ruang tamu dengan hati-hati sambil membawa 2 kotak manisan buah. Ia lalu meletakkan 2 kotak manisan buah di dalam lemari pendingin.
Ia lalu duduk di pinggir tempat tidur sambil memperhatikan wajah istrinya yang sudah terlelap.
"Kau sangat menggemaskan Zivanna, sungguh aku sangat mencintaimu" ucap Darren lalu mencium kening istrinya.
Ia pun lalu berjalan menuju toilet untuk mengganti pakaian nya menjadi piyama tidurnya. Setelah itu, ia pun naik ke tempat tidur lalu memeluk istrinya dengan erat hingga ia ikut terlelap.
Bersambung.....
__ADS_1