
Sepasang suami istri masih saja meringkuk di bawah selimut sambil berpelukan dan tidak ada tanda-tanda ia akan terbangun. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Namun keduanya masih saja terlelap dan saling berpelukan.
Ziva masih saja memeluk Darren dengan erat nya dan ia sama sekali tidak sadar bahwa yang dia peluk adalah lelaki yang paling ia benci.
Ziva pun mulai gerah dibawah selimut, iapun mulai terbangun sambil melepaskan pelukannya dari sesuatu yang dipeluknya. Sambil mengumpulkan kesadarannya, Ziva mulai merasa ada sebuah tangan melingkar di pinggang nya yang begitu terasa mengenai permukaan kulitnya. Dan betapa terkejutnya ia mendapati dirinya tidak mengenakan baju
iapun melihat sosok yang memeluknya tanpa dosa.
Ziva pun naik pitam, ia langsung melepaskan tangan Darren dengan kasar hingga membuat Darren terbangun. Lalu iapun menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, padahal ia masih mengenakan celana pendek dan turun dari tempat tidur dengan kemarahan yang menjadi-jadi dan berlari mengambil pistol di atas nakas.
Sementara Darren masih menggosok matanya layaknya bayi yang linglung. Ziva mengarahkan pistol ke arah Darren dengan tatapan tajam dan siap membunuh Darren.
"Dasar lelaki brengsek, aku akan membunuhmu" teriak Ziva yang sudah berkabut emosi.
Sementara Darren hanya meregangkan otot-ototnya yang kaku. Ia sama sekali tidak peduli dengan ucapan Ziva.
"Aku sangat-sangat membencimu pengusaha gila, rasakan ini" teriak Ziva yang menggema di ruangan itu dan siap menarik pelatuk pistolnya.
Sementara Darren malah tertawa melihat tingkah Ziva.
"Ayo tembak aku" ucap Darren yang menantang Ziva.
Ziva pun langsung menarik pelatuk pistolnya dan apa yang terjadi pistol itu sudah tidak berfungsi dan rupanya sudah rusak.
"Kenapa bisa seperti ini" gumam Ziva yang kembali mencoba menembak ke arah Darren.
Namun lagi-lagi usahanya gagal total. Pistol yang dipegangnya sama sekali tidak mendukungnya. Sementara Ziva hanya bingung dan sama sekali tidak mengetahui keberadaan Darren yang sudah ada di hadapannya.
Lalu dengan jahilnya Darren mengangkat tubuh Ziva layaknya menggendong sebuah bayi dan membawanya ke toilet.
"Hei turunkan aku" ucap Ziva yang meronta-ronta di gendongan Darren sambil memukul-mukul kepala Darren menggunakan pistol.
Lalu Darren menurunkan tubuh Ziva dengan hati-hati di dalam bathtub. Sedangkan Ziva menjambak rambut Darren tanpa ampun.
"Hentikan gadis bodoh, kau seperti singa betina yang kerasukan. Aku tidak berbuat apa-apa kepadamu" ucap Darren dengan sedikit bentakan lalu menangkap tangan Ziva untuk menghentikan aksinya, diselingi dengan senyuman tipis yang melihat tingkah Ziva yang menurutnya lucu dengan rambut acak-acakan seperti seekor singa.
"Untungnya aku sudah membereskan pistol itu" gumam Darren.
"Lepaskan tanganku, kau sudah mengambil kesempatan dari ku. Pasti kau sudah berbuat aneh-aneh kepadaku, aku tidak akan mengampuni mu pengusaha gila" ucap Ziva dengan suara lantang dan membuatnya terbatuk-batuk.
"Hei dengar, aku sama sekali tidak bernafsu dengan tubuh kurus mu itu" ucap Darren lalu melepaskan tangan Ziva dan berbalik. " Bagiku kau itu musuhku".
Sementara Ziva mulai berdiri di dalam bathtub dan kembali akan menghajar Darren, namun keseimbangan tubuhnya di dalam bathtub membuat ia hampir terjatuh. Untungnya dengan sigap Darren menangkap tubuhnya.
Mereka kembali saling menatap satu sama lain. Bahkan ziva tidak menyadari selimut yang menutupi tubuhnya sudah merosot. Tatapan Darren pun turun ke tubuh Ziva hingga membuatnya tidak berkedip. Sedangkan Ziva ikut melihat objek yang dilihat Darren dan ia pun ikut terkejut. Dengan cepat mengatupkan kedua tangannya di depan dada sambil menunduk dengan rona wajah memerah karena malu.
"Aku anggap tidak melihat apa-apa" ucap Darren dingin dengan seringai licik diwajahnya lalu berjalan menuju wastafel untuk membersihkan wajahnya.
Sementara Ziva menjadi diam seribu bahasa dan kembali melilitkan selimut itu ditubuhnya layaknya kepompong yang belum menetas dan duduk di dalam bathtub.
Darren yang sedang menggosok gigi penglihatannya tertuju pada cermin yang menampilkan Ziva yang terus memegangi selimutnya. Setelah itu, iapun menyalakan shower untuk membersihkan tubuhnya. Dibawah guyuran air dari shower, Darren begitu rileks.
Sementara Ziva hanya menatap ke arah lain, bahkan tubuhnya belum fit. Ziva hanya bergerilya dengan pikirannya sendiri. Sementara Darren yang sudah membersihkan tubuhnya dengan handuk yang melilit di pinggang nya mulai mendekati Ziva. Darren pun menaruh tangannya di kening Ziva untuk mengetahui suhu tubuh gadis itu.
"Kau masih sakit, kau tidak perlu membersihkan tubuh mu, cukup wajahmu saja" ucap Darren lalu meninggalkan Ziva.
Sementara Ziva kembali mengulang ucapan Darren. "Kau masih sakit, kau tidak perlu membersihkan tubuh mu, cukup wajahmu saja. Kau pikir aku akan menuruti ucapan mu, kau lelaki paling menyebalkan dan aku akan menghajar mu habis-habisan hingga seperti spons ini" ucap Ziva sambil mengepalkan tangannya.
Kini keduanya duduk di sofa tanpa adanya obrolan. Darren sudah rapi dengan pakaian santainya sambil memainkan ponselnya, sedangkan Ziva masih menggunakan kimono Darren dengan rambut basah yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Tok
__ADS_1
tok
tok
Darren lalu bangkit dari duduknya dan membuka pintu ruangan nya, kemudian ia pun keluar lalu kembali menutup pintu ruangan nya.
"Saya sudah membawa barang-barang keperluan nona Ziva tuan Darren" ucap jones.
Lalu Darren mengambil paper bag tersebut.
"Ini sarapan tuan muda, di mana saya harus meletakkan nya" ucap pelayan pria yang membawa nampan.
"Berikan padaku, kalian boleh pergi" ucap Darren lalu mengambil nampan itu, kemudian membuka kembali pintu ruangannya dengan kewalahan lalu menutupnya kembali menggunakan kakinya.
Kemudian Darren meletakkan nampan dan paper bag tersebut diatas meja. Lalu iapun berlari kecil untuk mengunci ruangan nya.
Saat kembali ia sudah tidak melihat keberadaan Ziva dengan paper bag diatas meja.
Kemudian Darren lebih memilih menyantap sarapannya. Karena ia harus ke kantor nya pagi yang sudah menjelang siang. Tak berapa lama, Ziva juga sudah rapi dengan pakaian syar'i, lalu iapun berjalan menuju pintu keluar.
"Aku tidak akan membiarkan mu keluar dari ruangan ini, sebelum memakan sarapan mu" ucap Darren.
Lalu Ziva pun berbalik dan berjalan ke arah Darren. Ziva sama sekali tidak ingin melihat Darren, apalagi berbicara dengan nya.
Ziva lalu menyantap makanan itu dan menghabiskan nya hingga tak tersisa. Setelah itu, Darren mulai bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar diikuti Ziva yang mengekor di belakangnya.
Ternyata Jones sudah mondar-mandir di depan pintu ruangan tuannya. Jones hanya mampu membungkuk saat mendengar pintu ruangan itu terbuka.
"Jangan lupa ambil itu" tunjuk Darren pada tas yang berada di dekat pintu ruangan itu.
Ziva sama sekali tidak menimpali ucapan Darren, iapun mulai membungkuk lalu mengambil tas yang sempat ia bawa kabur. Kemudian dengan liciknya Ziva langsung menghajar aset berharga Darren yang sudah diwanti-wanti dari tadi. Lalu iapun berlari dengan seribu langkah menjauh dari Darren dengan kemenangan yang didapat.
Lalu mereka membopong tubuh Darren masuk kembali ke dalam ruangan nya. Tak berapa lama kemudian, dokter yang bertugas di Savana datang tergesa-gesa dan langsung memeriksa Darren.
"Ini tidak terlalu parah tuan, anda hanya cukup istirahat dan ini resep obatnya" ucap dokter itu.
Sementara Darren hanya diam seribu bahasa. Lalu dokter itu undur diri diikuti Jones dibelakangnya.
"Selamat atas kelahiran anakmu" ucap jones karena kebetulan dokter tersebut sahabat jones.
"Terima kasih kawan. Oh iya siapa yang sudah berani melukai tuan Muda" ucap dokter itu kepo.
"Seorang gadis yang dibawa tuan di tempat ini"ucap jones sambil berbisik.
"Hah...apa gadis petugas kebersihan itu".
"Hemm".
"Gadis itu sungguh luar biasa, semoga anakku tumbuh pemberani seperti gadis itu"ucap dokter itu tersenyum, lalu undur diri.
"Kau ini, cepat pergi jangan sampai tuan muda mendengar ucapan mu" ucap jones yang mengusir dokter tersebut.
Kini Darren sudah berada di kediamannya dibantu jones, walaupun aset berharga nya belum sepenuhnya sembuh, tapi ia tidak ambil pusing karena ia ingin terlebih dahulu bertemu dengan ibunya sebelum ke kantor, baginya itu cuman kecelakaan kecil.
Para pelayan membungkuk memberi hormat kepada tuan mudanya. Sementara Darren tampak acuh, ia terus berjalan masuk mencari keberadaan ibunya.
"Kau menginap di mana sayang" tanya nyonya Ratu.
"Di Savana ma".
"Oh..ya, kau keseringan ke Savana, Kakakmu Fino baru saja pulang, sekarang dia ada di kamarnya, sana temui dia".
__ADS_1
"Aku ingin ke kantor ma".
Nyonya ratu hanya mampu mengelengkang kepalanya, jika Darren sudah berucap ke kantor. Tidak akan ada yang bisa menghalanginya termasuk dirinya sendiri.
Lalu Darren masuk ke dalam lift untuk menuju kamarnya, karena tidak mungkin ia hanya
menggunakan pakaian santai ke kantornya. Sementara jones hanya mampu menatap kepergian tuannya.
Sore harinya......
Ziva masih melakukan pekerjaan seperti sedia kala. Ia membersihkan kotoran kuda beserta kandangnya dengan telaten. Setelah pekerjaan nya selesai. Lalu Ziva menaruh seluruh peralatan itu, kemudian ia pun mencuci tangannya.
Lalu iapun duduk di gazebo kayu. Sementara para pekerja yang mayoritas laki-laki tampak berbisik kemudian melirik Ziva.
Ziva pun merasa aneh dengan tingkah mereka.
Tak berapa lama kemudian Kevin dan Tomo menghampiri Ziva.
"Ziva kau menjadi bahan bicaraan di Savana ini. Apa benar kau menjadi simpanan tuan muda?" ucap Tomo.
"Apa maksudmu".
"Kau tidak usah mengelak, kau pasti menggoda tuan muda kan. Tidak biasanya tuan muda bersama seorang wanita. Dan ada pekerja yang melihat kau bersama tuan muda di dalam gubukmu. Percuma kau berpakaian seperti itu tapi kelakuan mu begitu munafik" ucap Kevin panjang lebar yang memojokkan Ziva.
"Hei ucapan kalian semuanya tidak benar, memang pengusaha gila itu pernah ke gubukku. Aku bahkan mengusirnya, tapi dia tetap kekeh berada di gubukku. Dan satu hal, aku bukan wanita penggoda seperti dugaan kalian" ucap Ziva marah lalu meninggalkan mereka.
Sementara Kevin dan Tomo juga meninggalkan tempat itu.
Ziva terus berjalan terburu-buru dengan merasakan sesak di dada mendengar ucapan mereka. Saking buru-buru nya ia tak sengaja menabrak seseorang.
"Eeh maaf, saya terburu-buru" ucap Ziva menunduk lalu kembali melangkahkan kakinya.
Sementara seseorang yang ditabraknya hanya menatapnya dengan seksama. Belum beberapa langkah seseorang menghentikan langkahnya.
"Tunggu Ziva".
Ziva pun menghentikan langkahnya dan merasa tidak asing dengan suara tersebut.
"Kenapa kau berada di tempat ini" tanya Fino yang masih tidak percaya bahwa pujaan hatinya berada di tempat tersebut.
Ziva pun berbalik dan menatap seseorang yang memanggil namanya.
"Kak Fino" gumam Ziva dan sepertinya ia memiliki angin segar untuk keluar dari tempat itu.
"Kak Fino sendiri kenapa berada di tempat ini".
"Oh..Aku cuman jalan-jalan saja di tempat ini. Kau sendiri" elak Fino sambil mencubit tangannya karena ia merasa seperti sedang berhalusinasi.
"Aku diculik oleh musuh ayahku dan membawaku ke tempat ini" ucap Ziva menunduk. "Tolong keluarkan aku di tempat ini, aku ingin kembali kepada orang tuaku" ucap Ziva sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada memohon kepada Fino.
Fino sempat terdiam mencerna ucapan Ziva. Gadis pujaan hatinya di culik oleh musuh ayahnya. Ia sudah ketinggalan banyak informasi selama ini. Yang paling ia wanti-wanti adiknya sendiri, karena hanya dia yang mampu melakukan hal seperti itu.
Fino merasa kasihan melihat Ziva, sepertinya gadis pujaan hatinya menderita di tempat itu, ia harus melakukan cara agar membuat Ziva keluar dari Savana.
"Aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik" ucap Fino lalu meninggalkan Ziva seorang diri.
Kemudian ia pun masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan tempat itu, entah kemana arah tujuannya.
Bersambung.......
Maaf bila alurnya tidak sesuai 🙏.
__ADS_1