Mafia Vs Gadis Bercadar

Mafia Vs Gadis Bercadar
Persiapan pernikahan


__ADS_3

Ziva yang berada diujung tangga tak sengaja mendengar pembicaraan kedua orang tuanya yang membicarakan tentang pernikahan.


“Siapa yang akan menikah” ucap seorang gadis di ujung tangga yang tidak jauh dari ruang keluarga dan tak lain adalah ziva.


Semua yang berada di ruang keluarga tampak menoleh ke arah sosok kebanggaan mereka.


“Siapa yang ingin menikah kek” tanya ziva yang mulai mendekat.


“Kami membicarakan tentang perjodohanmu dengan putra tuan Abdullah. Dan kebetulan sekali kau sudah bergabung dengan kami nak. Maka dari itu kakek akan menyampaikan perihal niat baik tuan Abdullah yang ingin menikahkan putranya dengan cucu kebanggaan ku ini” ucap tuan Harris sambil tersenyum dan terlihat bahagia.


“Kakek selalu saja bercanda”ucap Ziva yang sama sekali tidak percaya dengan ucapan kakeknya.


“Tidak nak, ucapan kakek mu benar. Ayah hanya ingin meminta persetujuan mu tentang perjodohan ini. Apa kau setuju untuk menikah dengan putra tuan Abdullah” ucap tuan Alvin diselingi dengan pertanyaan.


Sementara Ziva hanya terdiam, ia kembali mengingat ucapan Fino yang mengajaknya menikah beberapa bulan lalu. Bahkan ia berkata bahwa akan menikah dengan lelaki pilihan keluarganya.


“Bagaimana nak, apa kau setuju atau tidak dengan pernikahan ini, kami semua tidak ingin memaksamu untuk menikah” timpal Nyonya Ira yang memegang tangan putrinya yang meminta jawaban.


Ziva menatap satu persatu anggota keluarganya yang begitu berharap jawabannya tidak mengecewakan. Suasana ruangan itu menjadi hening menunggu jawaban dari ziva. Sedangkan Ziva hanya terdiam dan tidak mau angkat bicara.


“Baiklah ayah sudah tahu jawabannya, lebih baik kita istirahat saja. Lupakan saja ucapan tadi” ucap tuan Alvin yang sudah bangkit dari duduknya. Kemudian melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


“Tunggu ayah” ucap Ziva yang menghentikan langkah ayahnya.


Lalu tuan Alvin pun berbalik menatap putrinya yang berada di belakangnya. Sementara nyonya Ira dan Tuan Harris terlihat cemas.


“Aa-ku setuju menikah dengan putra tuan Abdullah” ucap Ziva yakin dari lubuk hati yang paling dalam.


Tuan Alvin hanya mampu tersenyum lalu memeluk putrinya. Sedangkan ibu dan kakeknya turut bahagia mendengar jawaban putrinya.


“Ayah tidak ingin memaksamu untuk menikah nak. Jangan mengambil keputusan yang tidak mampu kau hadapi” ucap tuan Alvin yang memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang.


“Semua ini menjadi keputusanku ayah”.


“Terima kasih nak, ayah hanya ingin melihatmu bahagia”.


Kemudian mereka kembali duduk bersama di sofa ruangan itu sambil menceritakan sedikit tentang putra Abdullah diselingi canda tawa.


Sementara Rosalinda atau Milan tak sengaja mendengar pembicaraan mereka saat menghidangkan cemilan untuk mereka. Kemudian Milan dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya lalu buru-buru ke kamarnya.


Saat berada di kamarnya kemudian iapun menghubungi ketuanya.


“Halo tuan Darren”


“Hemm, ada apa menghubungiku”


“Tuan Alvin ingin menikahkan putrinya dengan putra tuan Abdullah”


Seketika Darren terdiam sambil mengepalkan tangannya mendengar ucapan Milan.


“Ini sangat menarik, sepertinya ini sebuah pernikahan bisnis. Aku yakin Abdullah yang membantu Alvin hingga perusahaannya tidak bangkrut. Ha ha ha ha”ucap Darren dengan tawa yang misterius.


Sementara Milan di ujung telepon merasa aneh dengan tawa ketuanya.


“Jadi apa yang akan saya lakukan tuan”


“Terus memata-matai keluarga Damanik dan kita memiliki misi untuk menggagalkan pernikahan itu, terus laporkan situasi disana”.

__ADS_1


“Baik Tuan, saya akan menjalankan misi ini dengan baik”


“Bagus”


Kemudian Darren mematikan sambungan telponnya.


Rupanya ia masih berada di Negara B. Dan sudah beberapa hari ia menginap di Hotel berbintang lima yang merupakan Hotel miliknya di Negara itu.


“Aku tidak akan membiarkan gadis buruk rupa itu menikah dengan lelaki manapun” ucap Darren dingin yang melihat pemandangan langit malam di roftop Hotel. Memang Darren aku ia sangat tertarik dengan Ziva, namun ketertarikan ia kepada seorang gadis harus ia buang jauh-jauh demi misi balas dendamnya.


“Aku bersumpah akan menjadikan gadis itu sebagai alat balas dendam ku atas kematian ayahku” ucap Darren dengan seringai licik diwajahnya.


Pagi Harinya…..


Tuan Alvin lebih awal ke kantor bersama Riko, karena ada rapat di pagi hari. Kemudian lanjut bertemu Tuan Abdullah untuk memberikan jawaban perihal perjodohan putra-putri mereka yang berlanjut kejenjang pernikahan.


Sementara Nyonya ira dan Ziva kembali menjenguk Lexa. Selepas menjenguk Lexa, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju pusat perbelanjaan, karena tuan Alvin baru saja menghubungi istrinya untuk persiapan nanti malam.


Kemudian mereka mampir ke pusat perbelanjaan untuk membeli kebutuhan pokok untuk persiapan nanti malam yang ingin mengundang keluarga Abdullah untuk makan malam bersama. Dan kebetulan Ziva tidak ada jadwal mengajar di kampus, jadi iapun menemani ibunya.


“Apa semuanya sudah cukup bunda” ucap Ziva yang mendorong troli yang sudah dipenuhi barang belanjaan mulai dari sayur, buah dan barang kebutuhan lainnya.


“Sudah sayang” ucap Nyonya Ira.


Kemudian mereka ke kasir untuk membayar semua belanjaan nya. Sehabis itu, mereka kembali mampir ke sebuah restoran untuk makan siang lalu pulang ke kediaman nya.


Hanya 30 menit perjalanan mereka sudah sampai di mansion. Lalu para pelayan membantu mereka membawa barang belanjaan yang lumayan banyak.


"Kamu istirahat saja sayang, nanti malam kau akan bertemu dengan keluarga Abdullah dan putranya" ucap nyonya Ira dan berlalu menuju dapur untuk menyimpan beberapa barang belanjaan nya.


Ziva hanya bengong dengan ucapan ibunya.


Kemudian menaiki anak tangga menuju kamarnya dengan langkah lelah. Karena selama berada di mansion ayahnya, Ziva jarang melakukan latihan fisik.


Lalu membuka pintu kamarnya dan berlalu menuju toilet untuk membersihkan tubuhnya. Setelah itu, iapun berpakaian lanjut menunaikan sholat dhuhur dan tak henti-hentinya Ziva memanjatkan doa kepada Allah SWT.


"Ya Allah, ampunilah dosa-dosa ku, dosa kepada orang tuaku, baik itu melalui ucapan maupun perbuatan yang selama ini aku lakukan. Ya Allah, lindungilah keluarga kami dari marah bahaya dan jauhkanlah kami dari perbuatan dengki dan perbuatan-perbuatan buruk lainnya. Sesungguhnya engkaulah maha pelindung dari segala apapun" ucap Ziva dengan berderai air mata.


"Ya Allah, bukakanlah hati hamba untuk menerima perjodohan ini. Jika memang lelaki itu jodohku maka dekatkanlah aku dan jika lelaki itu bukan jodohku, maka jauhkanlah aku. Hanya engkau yang maha tahu segalanya ya Allah, amin ya Rabbal Al-Amin".


Kemudian Ziva menghapus air matanya, lalu menyimpan kembali alat sholat yang habis ia gunakan.


Kemudian membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, sambil memainkan ponselnya dan tak berapa lama terukir senyuman manis di bibirnya. Rupanya sebuah video yang memperlihatkan tumbuh kembang baby boy yang sangat menggemaskan yang selalu Donna kirimkan melalui aplikasi media sosial. Walaupun mereka jauh tapi hubungan komunikasi mereka tetap berjalan dengan baik.


🍁🍁🍁🍁🍁


Malam harinya.......


Seluruh keluarga Damanik terlihat Rapi. Berbagai makanan lezat tersaji di atas meja.


Nyonya Ira tampak cantik dengan balutan baju syar'i yang ia kenakan. Begitu pula dengan tuan Alvin dan tuan Harris yang terlihat rapi dengan setelan jas sambil menunggu tamu penting mereka. Dan Riko turut hadir di tengah-tengah mereka.


Sementara Ziva yang baru saja selesai bersiap-siap di bantu oleh 2 pelayan dengan balutan baju syar'i berwarna navi dipadukan dengan hijab berwarna gray sehingga terlihat cantik dan elegan di tubuh proporsional nya dan tak lupa cadar yang selalu ia kenakan bertengger di wajah cantiknya yang baru saja di make over dengan sentuhan alami pastinya.


Ziva terlihat cemas di dalam kamarnya. Ia terus mondar-mandir dan sesekali memainkan ponselnya untuk mengurangi kecemasannya. Karena ini merupakan pertama kalinya ia akan bertemu dengan calon suaminya.


Sementara di lantai dasar tuan Abdullah bersama istrinya sudah tiba di kediaman Damanik. Tuan Alvin dan nyonya Ira menyambut kedatangan mereka dengan bahagia. Lalu mempersilahkan mereka untuk duduk di sofa ruang tamu yang sudah tersaji minuman dan cemilan.

__ADS_1


Tuan Harris pun ikut menyambut kedatangan mereka dan mulai mengajak mereka mengobrol. Sementara nyonya Ira berlalu meninggalkan mereka untuk memanggil putrinya.


"Dimana calon suami cucuku" tanya tuan Harris yang sama sekali tidak melihat putra Abdullah.


"Untuk saat ini Zayn tidak bisa hadir di tengah-tengah kita, karena ia masih sibuk mengurusi perusahaannya di negara A. Jadi kemungkinan besar Minggu ini ia akan balik ke negara ini. Putra kami hanya mempercayakan kami untuk mengurus segala sesuatunya" ucap tuan Abdullah.


"Oh jadi seperti itu. Rupanya calon suami cucuku lelaki pekerja keras" ucap tuan Harris.


"Begitulah kira-kira tuan, putra kami gila kerja bahkan melupakan kewajibannya untuk menikah" timpal nyonya Aisyah yang merupakan istri tuan Abdullah.


"Silahkan di minum" ucap tuan Alvin.


"Terima kasih tuan Alvin. Di mana ya nak Zivanna" tanya nyonya Aisyah yang mencari keberadaan Ziva.


"Itu dia, cucu kebanggaan ku" tunjuk tuan Harris yang melihat kedatangan cucunya yang berjalan dengan anggun bersama ibunya.


Sementara Ziva terlihat gugup pastinya bertemu dengan calon mertuanya.


Lalu Ziva memberikan salam untuk mereka dan mencium punggung tangan mereka satu persatu.


Tuan Abdullah dan nyonya Aisyah tersenyum melihat tingkah Ziva yang menurutnya memiliki pribadi yang santun yang mampu menghormati orang tua.


"Baiklah karena nak Zivanna sudah berada di tengah-tengah kita. Maka dari itu izinkanlah saya sebagai ayah Zayn Syafei untuk melamar Putri tuan Alvin Damanik yakni Zivanna Damanik sebagai pendamping putra saya, bagaimana nak Zivanna, apakah lamaran kami di terima" ucap tuan Abdullah dengan pertanyaan nya.


Ziva hanya mengangguk sebagai jawabannya dan sedikit malu ditengah-tengah calon mertuanya.


"Alhamdulillah" ucap mereka kompak di ruangan itu dengan penuh syukur dan bahagia.


Lalu nyonya Aisyah menyematkan sebuah gelang berlian di pergelangan tangan Ziva sebagai tanda diterimanya lamaran putranya. Kemudian nyonya Aisyah memeluk Ziva dengan penuh haru, karena sebentar lagi akan menjadi menantu di keluarga Abdullah.


Kemudian mereka pun mengobrol untuk mempersiapkan segala sesuatunya mengenai pernikahan putra putri mereka. Setelah sepakat menentukan tanggal dan persiapan lainnya.


Mereka lanjut makan malam bersama. Mereka menikmati makanan dengan penuh kebahagiaan yang tercetak jelas di wajah mereka masing-masing.


Setelah selesai makan malam bersama, kemudian tuan Alvin kembali mengajak tuan Abdullah untuk berbincang bersama di ruang tamu.


Sementara nyonya Ira dan nyonya Aisyah mengobrol di ruang keluarga mengenai persiapan pernikahan anaknya. Sementara Ziva sebagai pendengar yang baik.


"Oh iya bolehkah Tante berfoto dengan nak Ziva tidak mengenakan cadar" ucap nyonya Aisyah.


Ziva hanya mampu mengiyakan. Kemudian membuka cadarnya. Lagi-lagi nyonya Aisyah terkesima melihat kecantikan putri keluarga Damanik.


"Masya Allah, kau sangat cantik nak Ziva. Putraku sangat beruntung memiliki calon istri seperti nak ziva. Tidak hanya cantik tapi berakhlak mulia" ucap nyonya Aisyah yang memuji calon menantunya.


"Terima kasih Tante atas pujiannya" ucap Ziva sambil tersenyum manis.


Lalu mereka pun berfoto bersama. Dan tak lupa hanya mengambil foto Ziva tidak mengenakkan cadar untuk memperlihatkan putranya.


Kemudian mereka pun bercanda ria dan sedikit menceritakan sosok Zayn kepada Ziva. Nyonya Aisyah pun memperlihatkan foto putranya yang terlihat tampan mengenakan jas di ponselnya.


Ziva tidak terlalu melihat jelas foto tersebut, karena lagi-lagi di goda oleh kedua wanita paruh baya itu.


Setelah itu, keluarga Abdullah berpamitan kepada keluarga Damanik untuk pulang ke kediaman mereka.


Bersambung.......


Maaf bila alurnya tidak sesuai 🙏🙏

__ADS_1


Terima kasih buat seluruh teman-teman yang sudah mampir di cerita nyeleneh ku.


__ADS_2