
Darren mondar mandir di dalam kamarnya. Ia masih menunggu informasi tentang keberadaan istrinya. Tak berselang kemudian. Sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam ponselnya.
Darren terlihat mengerutkan keningnya melihat isi dari notifikasi tersebut. Ia lalu berjalan ke ruang ganti untuk mengambil jaketnya. Setelah itu, ia lalu berjalan menuju lift untuk naik ke lantai atas tepatnya lantai 5.
Pintu lift terbuka, Darren langsung berjalan melewati lorong untuk menuju ruangan rahasia miliknya yang berada paling ujung diantara ke 4 ruangan khusus tersebut.
Ceklek.
Sebuah ruangan khusus yang dipenuhi senjata api tersusun rapi di rak lemari kaca, mulai dari tipe, merk, hingga jenisnya terpampang di lemari itu.
Darren lalu mengambil dua pistol yang bernomor seri dengan tipe yang berbeda. Satu ia masukkan didalam saku jaketnya. Dan satunya lagi ia sembunyikan di balik pinggangnya.
Lalu iapun meninggalkan ruangan itu menuju lantai dasar.
Sementara Sarah dan Rissa baru saja tiba di kediaman Alexander. Mereka terlihat bahagia membawa barang belanjaan nya.
Nyonya Ratu dengan cepat menghampiri mereka karena tidak melihat keberadaan Ziva.
"Mana Ziva, mengapa kalian tidak bersamanya" ucap nyonya Ratu penuh selidik.
"Ziva meninggalkan kami Tante, dia ingin sendiri. Bahkan dia mengatakan bahwa tidak akan kembali ke rumah ini lagi" ucap Sarah dengan kebohongannya.
"Iya bibi, Ziva tidak ingin bersama kami. Dia malah memilih pergi, saat kami berada di tempat spa" timpal Rissa yang ikut berbohong.
Nyonya Ratu hanya diam, ia tidak bisa percaya dengan ucapan mereka yang begitu janggal.
Darren pun mengepalkan tangannya melihat kedatangan mereka. Ia lalu menghampiri mereka yang sedang melakukan sandiwara.
"Mana Zivanna" ucap Darren dengan tatapan tajam yang siap membunuh mereka dan untuk pertama kalinya ia menyebutkan nama istrinya.
"Aku tidak tahu, dia meninggalkan kami" ucap Rissa yang sudah gugup melihat tatapan Darren terhadapnya.
Nyonya Ratu hanya mampu memegangi kepalanya yang sedikit pusing mendengar ucapan mereka. Darren lalu menyuruh pelayan untuk membawa ibunya ke kamar. Setelah itu, ia kembali mengintrogasi mereka berdua yang belum juga berkata jujur. Padahal bukti mereka sudah Darren kantongi di ponselnya.
"Cepat katakan sejujurnya, mana Zivanna"ucap Darren dengan suara lantang yang menggema di ruangan itu.
"Kami benar-benar tidak tahu" ucap Sarah lalu menunduk yang tidak berani bersitatap dengan Darren.
Darren hanya mampu tersenyum, dengan seringai licik diwajahnya. Ia lalu bertepuk tangan, untuk menyuruh orang kepercayaan nya agar membuat mereka berkata jujur.
Tak berselang kemudian, Milan muncul berpakaian ala preman menghampiri tuannya bersama Jones.
"Bawa mereka ke markas, lakukan apapun agar mereka mengakui kesalahannya" bisik Darren pada Milan.
"Baik tuan" ucap Milan sambil memberi hormat.
Milan lalu membawa mereka berdua meninggalkan kediaman Alexander. Baik Rissa maupun Sarah sudah memberontak tidak ingin dibawa pergi. Mereka bahkan berteriak meminta bantuan nyonya Ratu. Namun apa boleh buat nyonya Ratu sudah berada di dalam kamarnya yang tidak bisa lagi mendengar teriakkan mereka.
Mobil sport sudah terparkir rapi di halaman depan. Jones lalu membukakan pintu mobil untuk tuannya. Darren lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di samping kemudi. Setelah itu, jones baru masuk ke dalam mobil dan siap mengemudikan mobil menuju tempat yang mereka tuju. Mobil melaju kencang meninggalkan pelataran rumah.
Disepanjang jalan Darren hanya diam. Jones yang mengemudikan mobil mulai angkat bicara.
"Saya sudah mengumpulkan anggota The Tiger untuk mengepung mereka tuan" ucap Jones dengan hati-hati.
"Hemm, jangan biarkan mereka lolos, apalagi sampai membawa istri ku meninggalkan negara ini" ucap Darren dingin.
Jones lalu mengemudikan mobil tersebut dengan kecepatan tinggi, agar cepat sampai di lokasi yang akan ia tuju.
Sementara Ziva masih berusaha menenangkan pikiran nya. Matanya sudah bengkak akibat terlalu lama menangis. Ia sekuat tenaga mulai berdiri, lalu berjalan menuju toilet.
Di dalam toilet, Ziva memilih membasuh wajahnya dengan air. Ia memperhatikan wajahnya secara seksama di dalam cermin.
Lalu ia pun memilih mengambil air wudhu guna melaksanakan sholat istikharah. Dimana sholat istikharah ialah sholat Sunnah yang dilakukan untuk mengambil keputusan.
Dengan khusyuk Ziva mulai menunaikan sholat istikharah. Selepas sholat, ia kembali melantunkan sholawat nabi, lalu memanjatkan doa kepada Allah SWT tentang dua pilihan apakah ia harus pulang atau tidak.
Riko hanya mondar mandir di depan pintu kamar Ziva. Ia dari tadi membujuk Ziva untuk keluar dari kamar. Namun tetap saja tidak ada jawaban didalam sana.
"Apa yang harus kita lakukan tuan. Sementara nona Ziva masih di dalam kamar dan tidak kunjung keluar, padahal malam ini kita harus kembali" ucap Qiyas.
Riko mulai menyandarkan punggungnya di dinding. Ia pun tidak tahu membujuk putri tuannya agar ikut bersamanya.
__ADS_1
Dua anak buahnya berlari memasuki rumah. Ia terlihat panik menghampiri Riko.
"Kenapa kalian, apa yang terjadi" bentak Riko.
"Segerombolan anggota The Tiger mulai mengepung kita tuan, apa yang harus kita lakukan" ucap anak buahnya.
"Sial.. mengapa Tom tidak mengabari kita. Dobrak pintu kamar ini sekarang, kita harus membawa nona Ziva pergi" bentak Riko.
Lalu Qiyas bersama salah satu temannya mulai mendobrak pintu kamar itu. Mereka mendapati Ziva sedang menangis tersedu-sedu yang sedang berdoa.
Riko lalu mengintruksikan lainnya untuk keluar.
Kemudian Riko menghampiri Ziva.
"Nona Ziva waktu kita tidak banyak, tolong bersiaplah untuk ikut bersama kami meninggalkan negara ini" ucap Riko.
"Baik paman" ucap Ziva.
Lalu Riko pun memilih keluar dari kamar itu. Sementara anak buahnya sedang mengintip di balik jendela melihat segerombolan anggota The Tiger yang sudah mengepung mereka.
Tak berselang kemudian, mobil yang membawa Darren tiba di lokasi, ia mampu melihat para anggota The Tiger mulai memenuhi pekarangan rumah itu. Sementara satpam penjaga sudah mereka amankan.
Jones terlebih dahulu turun untuk menginstruksikan mereka agar tidak melakukan kesalahan.
"Cepat keluar kalian, kami sudah mengepung mu" teriak jones dengan suara yang menggema di rumah itu.
"Bagaimana ini tuan, kita tidak akan selamat melawan mereka dengan sebanyak itu" ucap Qiyas.
Ziva baru saja selesai bersiap. Barang miliknya yang sempat Riko bawa mulai ia kenakan termasuk tas, baju, ponsel dan lainnya sudah melekat di tubuhnya.
Salah satu anggota The Tiger mulai melepaskan tembakan nya, untuk menggertak mereka. Ziva lalu ikut mengintip di jendela melihat suasana di luar.
"Nona Ziva, sebaiknya ikut bersama saya lewat pintu belakang" ucap Riko.
Ziva hanya mampu terdiam melihat diluaran sana dengan banyaknya anggota The Tiger. Belum masalahnya selesai, sudah tambah masalah lagi.
"Keluar kalian, atau rumah ini akan kami bakar" teriak salah satu anggota The Tiger.
"Lebih baik kita keluar paman, aku bisa menghadapi mereka" ucap Ziva dengan tatapan tajam.
"Tidak nona, kita harus pergi. Sisa 20 menit kita harus tiba di bandara" ucap Riko yang menghentikan Ziva.
"Tidak paman, aku belum bisa meninggalkan negara ini sebelum menepati janjiku" ucap Ziva.
Pintu rumah itu sudah terbuka, para anggota The Tiger mulai menodongkan mereka pistol.
Ziva, Riko dan lainnya mulai angkat tangan. Mereka lalu digiring keluar dari rumah itu.
Darren mampu menyaksikan istrinya di dalam mobil.
Riko dan lainnya sudah di borgol. Sementara ziva tidak diborgol, karena mereka tidak berani melakukan itu kepada istri tuannya.
"Nona Ziva kemarilah, tuan sudah menunggu mu di mobil" ucap jones.
"Aku tidak akan ikut dengan kalian" ucap Ziva dengan tatapan tajam.
"Tolong kerja samanya nona, jangan sampai tuan Darren marah dan menghabisi nyawa mereka semua"ucap jones sambil menunjuk Riko dan lainnya.
"Aku tidak akan membiarkan dia menyakiti mereka" teriak Ziva sambil merentangkan tangannya sebagai tanda untuk melindungi mereka.
Darren sudah kesal menunggu di dalam mobil. Ia lalu membuka pintu mobilnya dan membantingnya dengan keras yang menandakan ia sudah marah besar. Ia lalu berjalan melewati para anggota The Tiger.
Para anggota The Tiger dengan cepat membungkuk memberi hormat kepada ketuanya.
Darren terus berjalan dengan tatapan tajam yang langsung tertuju pada istrinya. Ia sudah berada di tengah-tengah mereka. Kemudian Darren langsung menarik tangan Ziva untuk berada di samping nya.
Ziva berusaha melepaskan tangan Darren. Sementara Darren menggenggam tangannya dengan erat sambil menatap tajam Riko.
"Lepaskan, aku tidak akan pulang bersama kau tuan Alexander" ucap Ziva marah.
"Habisi mereka" ucap Darren dingin.
__ADS_1
Lalu para anggota The Tiger mulai mengeluarkan pistolnya dan siap menghabisi mereka.
"Tidak jangan lakukan itu" teriak Ziva yang memberontak.
Sementara para anggota The Tiger mulai menghajar Riko dan lainnya.
"Aku sangat membencimu" teriak Ziva dengan mata memerah sambil memukul dada bidang Darren dengan satu tangannya. "Lebih baik kau bunuh saja aku biar kamu puas" ucap Ziva yang sudah berderai air mata.
Darren hanya membiarkan Ziva memukuli nya, entah mengapa hatinya terasa sesak melihat istrinya menangis. Sungguh ia tidak tega melihat Ziva seperti itu.
"Berhenti" ucap Darren dengan suara lantang.
Seketika itu para anggota The Tiger berhenti menghajar Riko dan lainnya.
"Lepaskan mereka" ucap Darren dengan tatapan tajam kepada seluruh anggota The Tiger.
Para anggota The Tiger menjadi heran, bagaimana bisa ketua mereka yang begitu kejam melepaskan mangsanya. Dengan cepat mereka melepaskan borgol Riko dan lainnya.
Lalu Darren menyeret Ziva masuk ke dalam mobil. Ziva hanya mampu memberontak untuk lepas sambil terus melihat ke arah Riko yang sudah babak belur.
Maafkan aku paman, semua ini salahku. Batin Ziva yang begitu pilu melihat mereka.
"Masuk" ucap Darren.
Ziva masih saja menatap ke arah Riko tanpa mendengar ucapan Darren. Darren mulai kesal, ia langsung mendorong tubuh Ziva masuk ke dalam mobil. Setelah itu, ia menutup pintu mobil itu dengan cukup keras. Lalu iapun mengemudikan mobilnya menuju kediamannya.
Sementara di markas The Tiger.....
Milan mulai memberi pelajaran untuk Rissa dan Sarah. Ia mencambuk punggung mereka agar berkata jujur. Namun lagi-lagi mereka tidak mau berkata jujur. Sudah 10 kali cambukan bersarang di tubuhnya, namun mereka masih bungkam.
Fino yang melihat Milan sedang menganiaya Rissa dan Sarah, dengan cepat mendorong tubuh Milan hingga membentur dinding.
"Beraninya kau menyakiti mereka" ucap Fino dengan amarah sambil mencengkram lengan Milan.
"Saya hanya mengikuti perintah tuan Darren, jadi jangan halangi saya tuan"ucap Milan sambil menunduk.
"Kau memang budak terbaik Darren. Tapi aku tidak ingin, kau melukai mereka" ucap Fino yang kini mencengkeram dagu Milan dengan kuat dengan tatapan tajam yang siap membunuh Milan.
"Gadis rendahan ini, mau membunuh kami kak Fino. Cepat hukum dia, karena sudah membuat punggung kami memar" ucap Rissa yang mencari perlindungan.
"Benar yang dikatakan Rissa, dia mau membunuh kami" ucap Sarah yang mengompori.
Fino lalu menyuruh anak buahnya untuk melepaskan Rissa dan Sarah. Setelah itu, iapun mengantar mereka kembali ke rumah masing-masing.
Sementara Ziva dan Darren baru saja tiba dikediamannya. Para pelayan sangat senang menyambut kedatangan mereka. Mereka lebih memilih menuju kamarnya.
Didalam kamar mereka hanya saling diam. Darren sudah mengenakan piyama tidurnya yang sudah berada di tempat tidur. Sementara Ziva masih berada di ruang ganti, perasaannya belum tenang tentang kejadian yang menimpa keluarganya.
Tak terasa air matanya mengalir dengan sendirinya. Dengan cepat ia basuh, lalu berjalan keluar. Ia mendapati Darren sedang bersandar di headboard tempat tidur. Lalu ia pun berjalan menuju pintu kamar.
Ziva mulai memegang handel pintu kamar nya. Namun Darren mulai angkat bicara.
"Jangan coba-coba keluar dari kamar ini, atau anak buah ayahmu yang akan menanggung akibatnya" ucap Darren dengan ancamannya.
Ziva tidak jadi membuka pintu kamarnya, ia memilih mengalah.
"Cepat tidur, aku tidak suka istri yang pembangkang" ucap Darren dengan suara lantang.
Ziva mengepalkan tangannya, ia benar-benar membenci Darren yang selalu berbuat semena-mena terhadap nya.
Kini Ziva sudah berada di samping Darren. Posisinya memunggungi suaminya. Ziva kembali terisak sambil menutupi wajahnya dengan bantal.
Darren tak kuasa melihat istrinya menangis, ia langsung menggeser posisinya. Kemudian memeluk istrinya. Ziva begitu marah disentuh oleh suaminya.
"Jangan sentuh aku...aku sangat membencimu" ucap Ziva yang berusaha memindahkan tangan Darren.
Tapi Darren malah mengeratkan pelukannya. Ia tidak peduli penolakan yang dilakukan Ziva kepadanya.
"Aku membencimu tuan Alexander "ucap Ziva dengan tangisnya. Darren malah memeluknya dengan erat, ia sama sekali tidak memperdulikan ucapan istrinya.
Ziva terus berusaha lepas hingga ia lelah dan tertidur di pelukan Darren.
__ADS_1
Bersambung.....