
Ziva menunggangi kuda di malam yang gelap gulita memasuki hutan belantara. Gadis itu begitu antusias untuk meninggalkan tempat itu dan kembali kepada keluarganya.
Beberapa hewan mulai menggaung membuat bulu kuduk Ziva berdiri. Mulai dari burung hantu, jangkrik, serigala dan hewan lainnya. Namun Ziva tetap mengingat kepada Allah SWT dan menghiraukan semua itu termasuk hal mistis.
Sudah 2 jam Ziva berada di dalam hutan dan belum kunjung juga keluar di tempat itu. Angin malam mulai menusuk permukaan kulitnya. Ziva menunggangi si putih dengan pelan sambil melihat di sekeliling nya. Sepertinya ia harus beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.
Iapun mulai mengikat si putih di pohon. Kemudian ia pun beristirahat di bawah pohon besar.
"Aku harus keluar dari hutan ini, dan mencari pertolongan pada masyarakat setempat" ucap Ziva sambil menggosokkan kedua tangannya untuk mengurangi dinginnya udara malam.
Ziva terus saja menguap karena kantuk mulai menyerangnya. Akan tetapi, ia tidak ingin tertidur di tempat itu. Jangan sampai hewan buas menyerangnya dan mati di hutan itu.
Ziva hanya terus berucap kalimat istighfar. Namun hujan turun dengan sendirinya membasahi bumi. Ziva tidak bisa berkata-kata lagi, hujan deras mulai mengguyur tubuhnya. Entah siapa yang akan menolong nya di dalam hutan itu. Karena bisa saja ia mati mengenaskan di hutan itu akibat kedinginan.
Sementara di restoran XX.....
Kedua belah pihak keluarga itu begitu asik mengobrol hingga lupa waktu.
"Sepertinya kita perlu pertemuan keluarga, agar bisa membicarakan perjodohan anak-anak kita" ucap nyonya Ratu.
"Ide bagus Ra, aku ingin besanan denganmu" ucap Nyonya Asiyah sambil tersenyum.
"Aku tunggu kabar selanjutnya. Lihatlah anak-anak kita masih malu" ucap nyonya Ratu yang sudah bangkit dari duduknya dan melirik kearah putranya.
Begitu pula Nyonya Asiyah dan suaminya.
Sementara Darren dan Sarah masih diam di tempatnya.
"Apa kalian masih ingin bersama di restoran ini" tanya nyonya Ratu.
Lalu Sarah buru-buru mengambil tasnya dan berjalan menyusul kedua orang tuanya. Sementara Darren mengekor di belakang mereka.
"Bagaimana kalau Darren pulang bareng Sarah. Lagian Sarah juga bawa mobil" ucap nyonya Asiyah yang sudah berada dalam mobil.
"Ide bagus, biar mereka saling dekat" ucap nyonya Ratu.
Lalu mobil kedua orang tua Sarah mulai meninggalkan restoran itu.
Sementara Nyonya ratu menyuruh Darren untuk mengantar Sarah pulang.
"Kalian pulang bareng ya". ucap nyonya Ratu yang sudah duduk manis di dalam mobil sambil melambaikan tangan ke arah mereka.
Tanpa menjawab, Darren masuk ke dalam mobilnya. Sementara Sarah memberikan kunci mobilnya pada supir Darren dan berdiri di samping mobil Darren
"Masuk".
Lalu Sarah pun langsung membuka pintu mobil dan duduk di samping kemudi.
Suasana di dalam mobil begitu canggung diantara keduanya tanpa adanya obrolan. Hingga mereka sampai di kediaman Sarah.
"Terima kasih Darren, semoga hari mu menyenangkan" ucap Sarah lalu turun dari mobil.
Sedangkan Darren hanya fokus ke depan tanpa menimpali ucapan Sarah. Lalu iapun menancap gas meninggalkan tempat itu. Sementara Sarah masih saja menatap mobil Darren yang mulai tidak terlihat.
"Aku yakin, kau akan jatuh cinta kepada ku Darren Alexander Tiger" ucap Sarah yang tersenyum manis. Lalu iapun berlari kecil memasuki rumahnya diakibatkan gerimis mulai turun.
Darren berkendara dengan kecepatan tinggi menuju Savana. Bahkan derasnya hujan tidak mengurangi niatnya untuk menemui gadis pujaan hatinya yang sedari tadi menari-nari di pikirannya.
Kini ia tiba di gerbang Savana, beberapa para penjaga mulai membukakan pintu gerbang sambil memberi hormat. Lalu iapun mulai melajukan mobilnya menuju parkiran.
Darren pun turun terburu-buru, bahkan air hujan sama sekali tidak ia hiraukan yang terpenting bisa melihat wajah Ziva dan mengajaknya berdebat itu sudah menjadi hiburan baginya.
Darren langsung mendobrak pintu gubuk tua itu lalu masuk dan mencari keberadaan Ziva.
__ADS_1
"Gadis buruk rupa" teriak Darren yang mencari keberadaan Ziva. Iapun masuk ke dalam kamar dan tidak mendapati Ziva, lalu iapun berjalan menuju toilet tapi tetap saja nihil. Ziva tidak berada di gubuk itu.
"Kemana perginya gadis buruk rupa itu" ucap Darren marah sambil mengepalkan tangannya karena tidak menemukan keberadaan Ziva.
Lalu iapun berjalan menuju mes Anton. Tapi langkah nya terhenti oleh keributan di area kandang untuk kuda balap. Dengan cepat Darren mulai mendekat.
Kedua penjaga tampak gemetaran melihat tuan muda mereka ada di hadapannya.
"Apa yang terjadi, kenapa kalian babak belur" ucap Darren tegas.
"Ampuni kami tuan muda" ucap keduanya yang bersimpuh di hadapan Darren.
"Apa kesalahan kalian" ucap Darren dengan suara lantang.
"Ampuni kami tuan muda... gadis itu.... gadis itu kabur".
"Apa!".
Darren begitu marah. Iapun menghubungi jones untuk mengerahkan anggota The Tiger untuk mencari Ziva.
Sementara Anton yang menjadi boss di Savana memberikan Darren sebuah remote control.
"Kita masih mengetahui keberadaan gadis itu. lihatlah titik ini petunjuk mereka berada" ucap Anton.
"Bagus, aku sampai tidak kepikiran dengan benda itu" ucap Darren tersenyum dengan seringai licik diwajahnya.
Ya begitulah teknologi yang begitu canggih di peternakan Alexander. Ia mampu mengetahui keberadaan kuda balap mereka melalu remote control. Setiap kuda balap itu memiliki sebuah alat kecil yang ibarat sebuah camera kecil di telinga dan sepatu kuda balap itu. Sehingga apabila kuda balap itu hilang atau dicuri kota dapat melacaknya melalui remote control.
Kemudian ia pun menghubungi Jones untuk menyiapkan helikopter. Karena tidak mungkin ia menggunakan kendaraan roda dua atau kuda balap di tengah-tengah hujan deras untuk ke tempat itu. Bisa-bisa dia mati kedinginan sebelum menemukan Ziva.
Tak berapa lama kemudian 2 buah helikopter mendarat di Savana. Lalu Darren mulai menaiki helikopter itu bersama 2 pekerja Savana termasuk Anton.
Sementara helikopter satunya di penuhi oleh para anggota The Tiger. Lalu helikopter mulai terbang menuju titik yang dimaksud.
Darren pun mulai mendarat dan mencari keberadaan Ziva menggunakan temaram cahaya dari lampu senter. Bahkan derasnya air hujan membuat penglihatannya tidak jelas. Untungnya ia mampu mendengar nyinyiran kuda. Lalu iapun berjalan mendekati sumber suara itu dan mulai melihat si putih.
Kemudian Darren kembali menajamkan penglihatan nya kearah lain dan ia mampu melihat Ziva yang kedinginan. Darren langsung berlari menghampiri Ziva lalu melepaskan jas yang melekat di tubuhnya untuk memakaikan Ziva. Ziva hanya diam dengan perlakuan Darren kepadanya.
Dengan perasaan khawatir Darren langsung mengangkat tubuh Ziva dan mengendongnya ala-ala bridal style menuju helikopter.
"Apa tuan menemukan gadis itu" teriak jones yang melihat Darren.
"Hemm".
Sedangkan Anton menyuruh anak buahnya untuk membawa si putih pulang ke Savana.
Kini helikopter mendarat di Savana dengan baik. Darren lalu mengendong tubuh Ziva menuruni helikopter. Kemudian ia pun membawa Ziva ke sebuah ruangan khusus yang menjadi tempat beristirahat nya selama mengunjungi Savana.
Darren sempat memerintahkan Anton untuk memanggil dokter yang bertugas di Savana itu.
Darren pun memasuki ruangannya dan menurunkan tubuh Ziva yang lemas dengan hati-hati di sofa. Lalu iapun mengunci pintu ruangan itu terlebih dahulu kemudian mengambil handuk untuk menghangatkan tubuh Ziva. Ia tak sengaja melihat jarum jam yang menunjukkan pukul 3 dini hari waktu setempat.
"Sepertinya bajumu harus di buka, aku tidak ingin kau sakit" ucap Darren.
Sementara Ziva hanya diam dengan tubuh lemas dan menatap Darren dengan mata sayup.
Lalu Darren kembali mendekati Ziva.
"Jangan marah, aku cuma ingin membantu mu membuka bajumu. Lagian aku juga tidak tertarik dengan mu" ucap Darren dengan jantung yang mulai berdegup kencang.
Dengan hati-hati Darren terlebih dahulu membuka cadar Ziva, lalu hijabnya. Kemudian turun membuka kancing baju Ziva satu persatu hingga pakaian dalam Ziva mulai terlihat. Kulit putih bersih Ziva mampu menggoda iman lelaki itu. Lalu iapun melepaskannya dengan cepat. Lanjut pakaian dalam Ziva.
Darren sangat gugup. Apakah ia harus melakukannya atau tidak, ini suatu kejadian pertama baginya. Untungnya pikiran jernihnya mulai merasuki nya. Darren lalu mengambil handuk dan menutupi sebagian tubuh Ziva. Lalu iapun membuka satu persatu pakaian dalam Ziva.
__ADS_1
Lalu Darren kembali memakaikan Ziva baju dan celana miliknya. Lanjut mengeringkan rambut panjang Ziva menggunakan handuk. Dan terakhir mengangkat tubuh Ziva yang kedinginan dengan wajah pucat pasih ke tempat tidur dan menaruhnya dengan hati-hati, lalu menyelimuti tubuh Ziva hingga sampai ke leher.
Tok
tok
tok
Lalu Darren berjalan membuka pintu.
"Mana dokternya".
"Pak dokter tidak ada di tempat, istrinya mau melahirkan tuan. Jadi saya tidak membawa nya kesini tuan muda" ucap lelaki itu.
Lalu Darren mengibaskan tangannya untuk menyuruh ia pergi. Lalu Darren kembali mengunci pintu ruangan itu lalu berjalan menuju toilet untuk mengganti bajunya terlebih dahulu.
Setelah selesai, ia lalu duduk di tempat tidur sambil menatap tajam Ziva.
"Kemana pun kau pergi, aku tetap akan menemukan mu. Walau keujung dunia sekalipun aku tetap mencari mu dan menemukan mu".
"Dingin.... tolong aku Ayah, ibu aku kedinginan".
Darren lalu mengambil obat di atas nakas lalu ia meminumnya terlebih dahulu kemudian memberikan Ziva lewat mulut ke mulut.
"Astaga tubuh gadis ini begitu dinginnya. Sepertinya ia terkena hipotermia" ucap Darren khawatir. Lalu iapun membuka bajunya lalu masuk ke dalam selimut, kemudian ia pun kembali membuka baju Ziva dalam selimut lalu memeluknya dengan erat.
Ia tidak peduli bagaimana murkanya Ziva bila terbangun yang terpenting nyawa gadis itu harus selamat.
Sementara di tempat lain.....
Fino sudah terbangun lebih awal. Kemarin malam ia sudah mengepak barang-barangnya ke dalam koper. Ia ingin pulang lebih awal untuk menemui ibunya dan gadis pujaan hatinya.
Fino tampak bersiap-siap sambil menyisir rambutnya di depan cermin. Setelah itu, ia lalu menarik kopernya keluar dari kamar hotel untuk check out terlebih dahulu. Setelah itu, ia lanjut berkendara menuju bandara bersama asisten pribadinya.
Hanya 2 jam lamanya Fino tiba di negara kelahirannya. Ia langsung di sambut oleh beberapa anggota the Tiger. Dan mereka melakukan konvoi menuju kediaman Alexander.
Mobil yang membawa nya tepat berhenti di halaman rumah. Lalu Fino turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah untuk mencari keberadaan ibunya.
"Mama aku pulang" teriak Fino mencari keberadaan ibunya.
Nyonya Ratu yang sedang berada di dapur tersenyum mendengar teriakkan Fino. Fino dengan cepat berjalan ke dapur karena mencium aroma masakan ibunya.
"Fino".
Lalu Fino menghambur memeluk ibunya dan nyonya Ratu hanya mampu tersenyum.
"Kau kembali tidak mengabari mama" omel nyonya ratu.
"Ini namanya surprise ma".
"Ya sudah kamu duduk dulu, biar mama siapin sarapan untuk mu sayang".
"Darren mana ma, aku tidak melihatnya".
"Mungkin masih di kamarnya. Karena beberapa hari ini ia selalu ke Savana untuk berkuda dan kadang menginap di sana".
"Oh... Sepertinya aku juga ingin ke Savana untuk berkuda ma. Seharian bekerja membuat ku capek dan penat".
Bersambung.......
Terima kasih kepada seluruh para pembaca setia Mafia vs Gadis Bercadar yang sudah memberikan dukungannya berupa like, comment dan vote kalian.🙏🙏🙏.
Author sangat berterima kasih 😂
__ADS_1