Mafia Vs Gadis Bercadar

Mafia Vs Gadis Bercadar
Lebur seperti cendol


__ADS_3

"Kemarilah, aku tidak menyuruh mu duduk disitu" ucap Darren dengan suara lantang sambil menunjuk ke arah Ziva yang sedang menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur.


"Jangan galak-galak juga kali" gumam Ziva sambil menunduk berjalan mendekati Darren.


Kini Ziva sudah berdiri di samping Darren dengan perasaan campur aduk.


"Kenapa kau memakai kimono"ucap Darren dingin dengan tatapan tajam.


"Aku tidak suka mengenakan gaun seksi, makanya aku menggunakan kimono ini" ucap Ziva ketus.


"Buka kimono itu" ucap Darren yang memerintah Ziva.


"Tidak mau, aku hanya ingin mengenakan kimono ini" ucap Ziva sambil memegang bagian atas kimono itu.


"Aku hitung sampai tiga, jika kau belum....".


"Baiklah akan aku lakukan"potong Ziva cepat.


Ziva mulai membuka kimono itu. Darren bahkan tidak berkedip melihat gerak-gerik istrinya. Ia hanya mampu menelan salivanya dengan kasar saat melihat Ziva dengan balutan gaun seksi yang memperlihatkan lekukan tubuhnya yang mendukung warna merah dari gaun yang ia kenakan dengan kulit putih bersih yang dimilikinya.


Ziva menjadi malu ditatap intens oleh suaminya, dengan cepat ia menyilang kan tangannya di depan dada.


"Aku sudah tidak sabar untuk melakukannya" gumam Darren dengan nafsu birahinya.


Ziva semakin gugup saja, saat Darren mulai berada di hadapannya.


Pandangan mata mereka kembali bertemu, dengan perasaan yang masih malu-malu kucing.


"Cantik" gumam Darren yang memuji kecantikan istrinya. Darren kembali mendekati Ziva hingga tidak ada jarak diantara mereka.


Darren langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Ziva hingga hidung mereka bertemu.


"Bolehkah aku melakukannya"tanya Darren dengan jantung yang berdebar-debar.


Jangan, aku belum siap, aku bahkan belum membuat mu berubah dan kita bahkan tidak saling mencintai, ya tuhan tolonglah hambamu. Batin Ziva seolah ia menjadi bisu.


Darren tidak perlu menunggu persetujuan Ziva karena nafsunya sudah mendominasi pikirannya. Ia langsung mencium bibir ranum istrinya dengan racus dan **********, ia bahkan menarik tengkuk Ziva untuk memperdalam ciumannya.


Ziva hanyut dalam ciuman lelaki yang berstatus sebagai suaminya, bahkan ia mengalungkan kedua tangannya di leher Darren.


Darren seakan mendapatkan lampu hijau saat tangan lentik Ziva bertengger di lehernya. Darren lalu mengangkat tubuh Ziva tanpa melepaskan ciumannya dan membawanya ke tempat tidur. Dengan hati-hati Darren membaringkan tubuh istrinya, lalu melepaskan ciumannya agar memberi akses istrinya yang sudah kehabisan nafas.

__ADS_1


Pandangan mata mereka kembali bertemu dengan wajah memerah dan nafas yang ngos-ngosan.


Darren kembali melancarkan serangannya, satu tangannya menumpuh tubuhnya, ia menjadi candu untuk mencium Ziva. Bahkan aset berharga nya yang menjadi putra tidur langsung terbangun. Ziva tampak terkejut sesuatu dibawah sana tampak mematuk-matuk pahanya.


Ia langsung mendorong tubuh Darren.


Darren pun menjadi terkejut dengan penolakan istrinya. Lalu ia menatap tajam Ziva seolah meminta jawaban.


"Kita tidak perlu lanjutkan, hari ini tidak baik untuk membuat anak" ucap Ziva gugup yang berhasil menghentikan suaminya.


"Semua hari baik, kau terlalu percaya pada leluhur" ucap Darren yang kembali mencium Ziva, bahkan ciumannya sudah turun di ceruk leher Ziva yang sudah mengunggah iman.


Darren sudah memberikan beberapa kiss mark di area leher Ziva.


Ziva pun merasa geli bahkan menabok wajah Darren. Sementara Darren kembali menatap tajam istrinya, seolah ia mengatakan bahwa tidak ada yang bisa menghentikannya.


Tangan Darren sudah bergerilya meraba tubuh sang istri. Ziva hanya mampu mengucapkan istighfar melihat tingkah laku suaminya yang sudah mesum tingkat akut.


"Apa kau sudah disunat?" tanya Ziva polos yang sudah tidak tahu cara untuk menghentikan suaminya.


Deg


Bagaikan tersambar petir dengan ucapan yang dilontarkan istrinya. Darren tampak mundur dengan ucapan sang istri dan pertanyaan tersebut membuatnya kesal.


"Aku hanya bertanya, jangan sampai kau belum disunat" ucap Ziva dengan wajah yang terlihat garang.


Darren kembali menghentikan aksinya. Ia sempat berpikir.


"Aku sudah lupa, masa kecilku sangat mengerikan" ucap Darren yang menatap tajam istrinya dan membuat nafsu birahinya menjadi lebur seperti cendol.


Ia lalu menggeser tubuhnya dan berlalu menuju toilet. Ziva berhasil selamat dari sang suami, tapi dari lubuk hatinya ia telah mengecewakan suaminya.


"Maafkan aku, aku benar-benar belum siap menjadi istri seutuh mu" gumam Ziva.


Lalu iapun menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Tak berapa lama kemudian, Darren sudah berada di samping nya, mereka tidur saling memunggungi dengan pikiran masing-masing hingga mereka larut dalam mimpi.


Waktu berjalan begitu cepatnya, tak terasa sudah sebulan Ziva menjadi istri Darren Alexander Tiger. Sejak kejadian yang gagal membuat anak. Hubungan keduanya menjadi renggang. Darren bersikap dingin kepada Ziva. Sementara Ziva terlihat biasa-biasa saja, namun perasaanya tetap bersalah kepada suaminya yang belum bisa melayaninya.


Seperti saat ini, selesai sarapan bersama Darren langsung pergi tanpa perlu berpamitan kepada istrinya.


"Apa kamu belum check up ke dokter nak, ini sudah sebulan loh, jangan sampai kamu sudah hamil" ucap nyonya Ratu dengan candaannya.

__ADS_1


"Belum ma" ucap Ziva yang tersenyum kikuk


Tap


tap


tap


Langkah kaki seorang gadis yang mulai mendekat.


"Bibi aku datang" teriak Raisa yang menggema di ruangan itu.


"Sini sarapan bareng Rissa" ucap nyonya Ratu dengan senyumnya.


Rissa sedikit memelototi Ziva. Ia kembali membayangkan saat Darren menghukum seluruh sahabatnya yang ikut andil termasuk dirinya yang melarang menemui bibi nya. Namun dengan berbagai cara akhirnya Darren memaafkannya. Sehingga ia bisa bertemu dengan bibi nya dengan satu syarat harus meminta maaf kepada istrinya.


"Aku minta maaf, tentang kejadian tempo hari" ucap Rissa sambil mengulurkan tangannya.


Dengan senang hati Ziva menjabat tangan Rissa.


"Aku sudah memaafkan mu" ucap Ziva dengan sedikit senyuman dibalik cadarnya.


Sementara di tempat lain....


Tuan Alvin duduk tenang di kursi kebesarannya sambil menunggu informasi mengenai keberadaan putrinya.


"Apa Tom, sudah memberi mu kabar tentang Ziva" ucap tuan Alvin.


"Sudah tuan, nona Ziva berada di kediaman Alexander dan disana penjaganya sangat ketat. Sehingga Tom tidak bisa banyak gerak untuk mengabari kita" ucap Riko.


"Kalau begitu, lebih baik kita ke negara A untuk membawa putri ku kembali" ucap tuan Alvin.


"Resikonya besar tuan, biar saya saja bersama beberapa anggota the manik yang menjemput nona Ziva" ucap Riko.


"Baiklah aku titipkan putri ku kepadamu, bawa dia ke hadapan ku tanpa luka sedikitpun, pokoknya aku tidak mau tahu" ucap tuan Alvin dengan tegas.


"Siap tuan" ucap Riko.


Lalu iapun mengabari beberapa anggota the manik untuk ikut bersamanya menjemput putri tuan Alvin Damanik. Bila perlu mereka siap mati demi membawa pulang putri tuannya.


Bersambung.....

__ADS_1


Aku hanya ingin ucapan banyak-banyak terima kasih untuk teman-teman para pembaca setia Mafia vs Gadis Bercadar yang selalu memberikan dukungannya terhadap karya nyeleneh ku 😁 🙏🙏🙏


__ADS_2