
Waktu berjalan begitu cepatnya, kehamilan Ziva sudah memasuki bulan ke tujuh. Perutnya yang semakin buncit membuatnya susah untuk bergerak. Ia pun terkadang sering merasakan tendangan dari dede bayi yang begitu aktif.
Senyuman di bibirnya tak pernah lepas, jika merasakan dede bayi dalam perutnya mulai bergerak-gerak. Untungnya Darren selalu berada di samping nya yang menjadi suami siaga.
Mereka duduk bersama di sofa menikmati senja.
"Aku tidak sabar menantikan kehadiran anak kita sayang"ucap Darren sambil mengelus perut buncit istrinya.
"Masih berkisar dua bulan lagi, semoga persalinan ku bisa normal" ucap Ziva sambil tersenyum yang ikut memegangi tangan suaminya.
"Aku tidak masalah yang terpenting kau dan anak kita tetap sehat" ucap Darren sambil mencium pipi kanan Ziva.
Ziva pun tersenyum dengan perlakuan suaminya.
"Sampai sekarang kau tidak menepati janjimu untuk merubah penampilan mu menjadi anak remaja" ucap Ziva sambil mencubit lengan Darren.
"Kau masih saja mengingatnya sayang, aku pikir kau sudah melupakannya. Maafkan aku yang tidak bisa menepati janjiku, lagian aku tidak terbiasa dengan potongan rambut yang panjang nya hanya 3 centi. Buatlah permintaan yang lain yang bisa aku kabulkan" ucap Darren sambil mencium punggung Ziva.
"Benarkah, kalau begitu aku ingin kamu menghapal surah Al-Kahfi" ucap Ziva sambil tersenyum dengan penuh kemenangan.
"Hemm baiklah, aku akan berusaha menghapal surah Al-Kahfi untuk mu sayang" ucap Darren tepat di telinga istrinya.
Ziva pun kembali tersenyum dengan penuh kebahagiaan.
"Dede bayi mulai bergerak lagi, sepertinya mereka juga senang mendengar ucapan mu mas Alexander" ucap Ziva dengan senyum manisnya.
"Benarkah, anak-anak ku...ayah sudah tidak sabar menunggu kehadiran kalian di dunia ini, ayah sangat menyayangimu" ucap Darren sambil terus mengelus perut buncit istrinya.
"Besok pagi kita ke Savana ya, aku ingin melihat kuda balap mu" ucap Ziva sambil mendongakkan kepalanya.
"Baiklah jika itu maumu, yang jelas kau tidak boleh lelah dan aku akan tetap berada di samping mu sayang".
Tok
tok
tok
Suara ketukan pintu dari luar membuat sepasang suami istri itu saling pandang.
"Sepertinya Rissa, aku akan menghubungi nya" ucap Darren lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, karena ia sama sekali tidak ingin berpindah dari posisi nyamannya.
"Biar aku yang bukakan pintu" ucap Ziva.
Sementara Darren menghentikan istrinya, dengan memegang lengan istrinya.
"Masuklah"ucap Darren di ujung telepon.
__ADS_1
Cklek
Benar dugaan Darren, dia adalah Rissa.
"Hah...mataku ternodai. Kalian sedang bermesraan malah menyuruh ku masuk" ucap Rissa sambil mengerucutkan bibirnya.
"Makanya cepat cari pasangan".
Sedangkan wajah Ziva sudah memerah seperti cery.
"Ini beberapa berkas penting yang harus kamu pelajari dan tanda tangani tuan Darren. Soalnya besok aku resign dulu, makanya aku mampir ke mari" ucap Rissa menjelaskan. Lalu menaruh berkas yang ia bawa diatas meja.
"Kamu ada urusan apa hingga harus resign"tanya Darren.
"Aduhh...kamu tidak perlu tahu, aku tidak ingin berlama-lama di sini, bisa-bisa membuatku kebakaran jenggot melihat kemesraan kalian, aku permisi dulu" ucap Rissa yang tidak ingin berlama-lama di kamar itu.
Sementara Ziva mencubit lengan Darren yang sama sekali tidak ingin berpindah posisi.
"Kamu malu dilihat Rissa".
"Tidak, aku hanya malu dengan tingkah mu" ucap Ziva lalu melepaskan diri dari Darren.
Ziva lalu berjalan dengan hati-hati menuju toilet, sedangkan Darren mengekor di belakangnya. Ia terus mengawasi istrinya dimana pun berada termasuk di dalam toilet.
Malam harinya.....
Kediaman Alexander tampak ramai dengan kehadiran kedua orang tua Ziva. Mereka makan malam bersama dengan penuh kebahagiaan yang sebentar lagi akan menjadi seorang kakek dan nenek.
"Sepertinya tidak perlu Bun dibuatkan acara tujuh bulanan. Ziva hanya tidak ingin melakukan acara tersebut, cukup memberi sedekah pada anak yatim-piatu saja lebih baik" ucap Ziva.
"Baiklah sayang jika seperti itu" ucap nyonya Ira.
Sementara nyonya Ratu hanya mampu tersenyum.
"Makan yang banyak sayang, biar bayi dalam kandungan mu tumbuh sehat" ucap nyonya Ratu dengan sedikit senyuman.
"Makasih ma".
"Dan kamu Darren harus selalu berada di samping istrimu, lihatlah perut Ziva semakin membesar, karena tidak lama lagi dia akan menjalani persalinan. Tolong tetap berada di samping istrimu" ucap nyonya Ratu mengingatkan putranya.
"Iya ma, mulai sekarang Darren harus berada di samping Zivanna untuk menjadi suami siaga menjelang persalinan Zivanna" ucap Darren.
Sementara Ziva hanya mampu tersenyum.
Persalinannya masih ada dua bulan, tapi kalian semua begitu siaga. Batin Ziva.
"Ayah dan bunda menginap ya, supaya esok pagi kita ramai-ramai ke Savana melihat kuda balap" ucap Ziva.
__ADS_1
"Sayang itu berbahaya" timpal tuan Alvin.
"Kita hanya melihat kuda balap ayah, tidak perlu menunggangi nya".
"Tapi itu bisa membuat mu lelah nak, jika harus berkeliling di tempat itu" ucap tuan Alvin yang menghawatirkan putrinya.
"Saya yang akan menjaganya ayah dan tidak akan membiarkan Zivanna lelah seharian di tempat itu" ucap Darren.
"Hemm, ayah akan menginap bersama bunda"ucap tuan Alvin mengalah.
Setelah selesai makan malam bersama dengan sedikit obrolan. Mereka kembali melanjutkan obrolannya di ruang keluarga.
Sementara di tempat lain.....
Rissa sudah rapi dengan gaun mahalnya yang panjangnya diatas lutut, sehingga mampu memperlihatkan kaki jenjangnya. Rissa tampak cantik dengan gaun tersebut. Ditambah ia memang sudah cantik dari sononya, sehingga apapun yang ia kenakan selalu saja terkesan cantik dan anggun.
Rissa berjalan menuruni anak tangga menuju lantai dasar. Ia terlebih dahulu berpamitan kepada ayahnya yang sedang berada di ruangan kerjanya.
"Ayah aku izin keluar untuk menghadiri pesta ulang tahun sahabat ku" ucap Rissa yang meminta izin kepada ayahnya.
"Kamu perginya dengan siapa"tanya Tuan John.
"Sendiri ayah".
"Kamu harus membawa seorang lelaki untuk menemani mu ke pesta" ucap tuan John.
"Aku tidak punya teman lelaki ayah" ucap Rissa bingung.
"Tunggu sebentar ayah akan menghubungi seseorang" ucap tuan John.
"Ayah aku bisa telat" ucap Rissa.
"Pergilah orangnya sudah ada di depan, hati-hati di jalan...jaga dirimu nak" ucap tuan John.
"Iya ayah" ucap Rissa, lalu memeluk ayahnya dan undur diri dari hadapan ayahnya.
"Siapa orang yang akan menemani ku ke pesta, jangan-jangan bodyguard ayah yang badan besar dan berotot itu" gumam Rissa yang sudah berada di ambang pintu.
Iapun shock melihat sosok lelaki yang tampak rapi yang berdiri membelakangi nya. Lelaki itu terlihat cool dari arah belakang, namun bagaimana pun penampilan dari lelaki tersebut Rissa mampu mengenalinya.
Bersambung.....
Assalamualaikum teman-teman....
Untuk cerita Fino dan Milan sudah rilis ya dengan judul Mafia Couple Love....
Jika kalian penasaran silahkan mampir, siapa tahu kalian menyukai kisah mereka.
__ADS_1
Jangan bosan-bosan untuk memberikan dukungannya ya teman-teman 🤗
Terima kasih.... wassalam