Mafia Vs Gadis Bercadar

Mafia Vs Gadis Bercadar
Meminta maaf


__ADS_3

Ziva merasa tidak enak badan hari ini. Entah mengapa ia menjadi demam tinggi di pagi hari, bahkan sudah 2 kali ia bolak-balik ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Lexa yang berada di kamar itu merasa heran, ia mulai berpikiran positif dan pastinya tanda kutip khusus orang yang sudah menikah.


"Apa aku perlu memanggilkan dokter untuk mu ziv" teriak Lexa yang sedang duduk di tempat tidur Ziva.


"Tidak usah kak, aku baik-baik saja. Lagian aku hanya kecapean hingga masuk angin" teriak Ziva di dalam toilet.


"Bagaimana mungkin kau baik-baik saja, kau itu sedang sakit ziv" ucap Lexa yang terlihat khawatir kepada adiknya.


Apa mungkin Ziva.... sedang....hamil. Batin Lexa.


"Aku baik-baik saja kak Lexa" ucap Ziva yang mulai berjalan dengan sedikit lemas ke arah Lexa.


"Apa kau sudah minum obat" tanya Lexa.


"Sudah kak, kau tidak perlu khawatir" ucap Ziva yang tersenyum dan mulai membaringkan tubuhnya lagi di tempat tidur.


Tak berselang lama kemudian, nyonya Ira mulai masuk ke dalam kamar putrinya yang sedang membawa nampan berisi bubur ayam buatan nya sendiri, diikuti 2 pelayan wanita yang sedang membawa nampan berisi perlengkapan untuk mengompres kening putrinya dan pelayan satunya membawa nampan berisi air hangat dan buah segar.


"Sayang, kau harus makan bubur ayam buatan bunda. Biar bunda yang suapin ya" ucap nyonya Ira yang sudah menyendok bubur ayam buatan nya.


"Bunda jangan seperti ini, aku bisa makan sendiri. Lagian aku hanya tidak enak badan bun. Jangan terlalu khawatir ya" ucap Ziva yang tersenyum dengan wajah pucat nya.


"Tidak boleh, bunda harus menyuapi mu. Cepat buka mulutmu" ucap nyonya Ira yang tidak ingin di bantah.


Tanpa ingin membantah ucapan ibunya, Ziva akhirnya mengalah. Nyonya Ira dengan penuh kasih sayang menyuapi putrinya hingga bubur buatannya habis. Ziva kenyang nyonya Ira merasa senang.


"Beneran kamu tidak ingin di periksa oleh dokter keluarga kita" ucap nyonya Ira.


Ziva hanya menggeleng.


Nyonya Ira kembali mengompres kening Ziva menggunakan handuk untuk. Setelah itu, ia lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh putrinya.


"Ya sudah kamu istirahat saja, biar Lexa yang menemanimu sayang. Bunda tinggal dulu" ucap nyonya Ira.


"Iya bunda saya yang siap siaga menjaga Ziva ku" ucap Lexa yang meraba lengan Ziva, sambil sesekali memijitnya.


"Baguslah, bunda tinggal dulu ya" ucap nyonya Ira, kemudian berlalu meninggalkan kamar putrinya.


"Jika kamu ingin memakan sesuatu tanyakan saja kepadaku ziv" ucap Lexa yang masih saja memijit lengan adiknya.


Karena biasanya orang yang sedang hamil, banyak maunya dan ngidam yang aneh-aneh. Batin Lexa.


"Aku hanya ingin tidur kak Lexa, beristirahatlah. Nanti tangan kak Lexa pegal memijit aku terus-menerus. Lebih baik kak Lexa tidur di samping ku" ucap Ziva yang sudah menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Baiklah aku hanya menemani mu tidur ya, dan sebagai kakak yang siaga bila kau butuh sesuatu"ucap Lexa bangga.


Padahal dirinya sendiri masih kesulitan melakukan aktivitas lainnya.


Sementara di perusahaan Damanik....


Tuan Alvin yang melakukan rapat bersama para petinggi perusahaannya sedikit khawatir tentang putrinya yang sedang sakit. Ia hanya diam melihat bagian kepala divisi pemasaran mempresentasikan laporan prospek pangsa pasar perusahaan mereka yang semakin meningkat di beberapa negara tetangga.


Pikiran tuan Alvin masih menyeleweng terhadap keluarganya. Ia ingin sekali menemani putrinya yang sedang sakit. Pihak yang melakukan presentasi akhirnya mengakhiri presentasinya. Dan seluruh para petinggi perusahaan memberikan tepuk tangan.


Sementara tuan Alvin mulai bangkit dari kursi kebesarannya. Riko dengan cepat menginstruksikan kepada seluruh anggota rapat untuk mengakhiri rapat kali ini.


Para anggota rapat mulai bernapas lega, sejak pimpinan perusahaan mulai meninggalkan ruang rapat. Tuan Alvin keluar dari ruang rapat tersebut dengan penuh wibawa. Tuan Alvin lalu berjalan menuju ruangannya diikuti oleh Riko dan Doni dibelakangnya.


Tuan Alvin langsung duduk di sofa sambil menyandarkan punggungnya.


"Ada hal penting apa yang ingin kau sampaikan Doni" ucap tuan Alvin.


"Begini tuan, putra Alex akan menyerang kediaman tuan. Mungkin mereka sebentar lagi akan sampai ke kediaman tuan" ucap Doni yang terlihat panik yang sedang duduk di samping Riko


"Aku tidak akan membiarkan mereka menginjakkan kaki di kediaman ku" ucap tuan Alvin yang sudah emosi.


Bagus..aku sangat senang menyaksikan drama permusuhan mereka. Dan aku bersumpah tidak ingin membuat mereka menjadi bersatu hanya karena pernikahan putri mu Alvin. Kita lihat saja permainan ku. Putri mu sebentar lagi akan tiada dan kau akan semakin murka kepada putra Alex. Inilah balasan untuk kalian berdua yang sudah melenyapkan istriku. Batin Doni sambil mengepalkan tangannya.


Apa yang dikatakan Doni sangat nihil, ini tidak mungkin. Putra Alex sepertinya mencintai nona Ziva. Mana mungkin akan melakukan penyerangan terhadap kediaman nona Ziva.


"Saya belum sepenuhnya yakin tuan, mungkin mereka hanya melakukan kunjungan kerja ke negara ini" ucap Riko yang tidak percaya dengan ucapan Doni.


"Apa kau sudah punya bukti yang akurat gan" tanya Riko pada Doni.

__ADS_1


"Ini buktinya, apa kau masih tidak percaya hah" ucap Doni yang memperlihatkan sebuah foto yang entah dari mana ia dapatkan foto tersebut yang terlihat Darren beserta anggota The Tiger sedang berada dalam satu pesawat. Memang foto tersebut jelas adanya, tapi disini faktanya Darren hanya membawa 2 orang kepercayaan nya.


"Stop!.. Riko.. kau saat ini yang menduduki ketua di anggota The Manik. Cepat perintahkan mereka untuk menjaga kediamanku, dan kerahkan seluruh anggota The Manik untuk siap siaga" ucap tuan Alvin dengan keputusan yang sudah bulat.


"Tapi tuan..."


Tuan Alvin mengangkat salah satu tangannya bahwa ia tidak ingin dibantah.


"Baik tuan" ucap Riko sambil memberi hormat. Sementara Doni ikut bersama mereka meninggalkan ruangan sahabat sekaligus tuannya.


Aku tidak ingin rencana ku sampai gagal. Gara-gara putri Alvin, membuat Alvin menjadi lemah bahkan jabatan menjadi ketua mafia The Manik yang selalu aku idamkan, malah jatuh ke tangan Riko. Lihatlah pembalasan ku, kalian semua harus hancur. Batin Doni.


Sementara pesawat jet pribadi Darren, baru saja lepas landas dari bandara internasional di negara B tepat Pukul 3 sore waktu setempat.


Para anggota The Tiger sudah dipersiapkan untuk menjemput mereka. Sudah ada 3 Mobil yang berjejer dengan rapi di area bandara.


Salah satu anggota The Tiger membawa kalung bunga layaknya sebuah simbolis untuk menjemput tuannya.


Milan dan Jones yang melihat kedatangan mereka yang terlihat alay hanya mampu tersenyum. Darren tetap saja berwajah datar berdiri di hadapan mereka. Salah satu dari anak buahnya, ingin mengalungkan bunga untuknya. Dengan cepat Darren mengangkat salah satu tangannya, bahwa ia tidak ingin memakai kalung bunga tersebut.


Dengan tangan gemetaran, lelaki tersebut menurunkan niatnya, ia kembali menghentikan aksinya.


"Sebaiknya kita pergi, tuan silahkan masuk" ucap Jones yang sudah berdiri di samping pintu mobil.


Tak butuh bicara, Darren langsung masuk ke dalam mobil. Setelah itu disusul Milan dan Jones yang bertugas mengemudikan mobil.


Mobil melaju meninggalkan tempat tersebut. Mereka menuju mansion Darren yang letaknya di pusat kota yang letaknya berdampingan dengan mansion Kakaknya Fino.


Sementara di kediaman tuan Alvin....


Seluruh anggota The Manik sudah diberikan instruksi untuk menjaga kediaman Damanik. Ada yang melakukan penjagaan di pintu gerbang, halaman rumah dan area belakang rumah.


Sedangkan tuan Alvin sudah berada di kediamannya.


"Bagaimana kondisi Ziva" ucap tuan Alvin yang sudah berada di kamar putrinya.


"Alhamdulillah sudah membaik mas. Dia baru saja selesai sholat ashar. Setelah itu, dia melanjutkan kembali tidurnya" ucap Nyonya Ira.


"Syukurlah, biarkan dia istirahat. Sejak kehadiran Ziva membuat rumah ini berwarna. Bahkan suara Lexa sudah terdengar ceriah" ucap tuan Alvin.


Aku tidak ingin putra Alex merusak kebahagiaan keluarga ku. Batin tuan Alvin.


"Iya mas, ya sudah kita turun ke bawah mas" ucap nyonya Ira.


Tuan Alvin terlebih dahulu mencium kening putrinya. Setelah itu, kembali menarik selimut untuk menutupi tubuh putrinya ibarat gadis kecil.


Saat menuruni tangga, tak sengaja mata nyonya Ratu tertuju pada halaman rumah yang sudah banyak anggota The Manik yang tampak berjaga.


"Apa yang terjadi di luar mas, mengapa banyak anggota mu yang sedang berjaga" ucap nyonya Ira penuh selidik.


"Putra Alex ingin menyerang kediaman kita, maka dari itu, aku memerintahkan mereka untuk berjaga-jaga di kediaman kita" ucap tuan Alvin yang sudah berada di ujung tangga.


"Mas.. mungkin saja putra Alex ingin menemui putri kita. Lagian dia sudah menikahi putri kita" ucap nyonya Ira.


"Aku tidak merestui pernikahan mereka, jika seperti itu, Ziva harus menceraikan nya" ucap tuan Alvin lalu berjalan meninggalkan istrinya.


"Astaghfirullah mas, janganlah ikut campur urusan rumah tangga mereka. Dan aku mulai mewanti-wanti, bahwa putri kita mulai merindukan suaminya" ucap nyonya Ira yang masih saja menatap kepergian suaminya.


Insting seorang ibu tidak pernah salah. Ia selalu bertindak dengan penuh perasaan dan kasih sayang. Apapun ia akan lakukan demi kebahagiaan putrinya.


Tepat pukul 5 waktu setempat, Darren mengendarai mobil sportnya menuju kediaman Damanik seorang diri. Perasaannya mulai tidak menentu, ia sudah tidak sabar untuk menemui istrinya. Ia terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi berharap bisa cepat sampai di tujuan.


Dari kejauhan ia sudah melihat beberapa anggota The Manik sudah berjaga-jaga. Darren kembali melajukan mobilnya hingga menghentikan mobilnya tepat di pintu gerbang.


Ia lalu turun dari mobil. Sedangkan para anggota The Manik yang melihat kedatangan nya dengan cepat melakukan perlawanan. Darren tak tinggal diam ia meladeni mereka. Bahkan ia tidak kenal takut memasuki kandang musuhnya tanpa menggunakan senjata yang selalu ia bawa.


Satu persatu anggota the manik yang berjaga di pintu gerbang, mulai terkapar di tanah. Kemudian Darren sudah memasuki halaman rumah. Para anggota The Manik mulai berlarian membawa tongkat kasti yang menjadi senjatanya, mereka mulai menyerang Darren. Sehingga terjadi perkelahian di kediaman Damanik.


Sementara nyonya Ira yang sedang bersantai di kamarnya, mendengar suara kegaduhan di luar sana. Ia lalu berjalan menuju pintu utama. Dan tak sengaja matanya tertuju pada sang suami yang sedang berdiri menghadap jendela yang sedang melihat situasi di luar sana.


"Mas apa yang terjadi, cepat hentikan perkelahian itu" ucap nyonya Ira yang menghampiri suaminya.


"Aku tidak akan menghentikannya, pemuda itu yang sedang cari mati. Biarkan saja, aku tidak ingin dia menemui putriku" ucap tuan Alvin dingin yang sedang menyaksikan perkelahian di luar sana.

__ADS_1


Nyonya Ira kembali terdiam, ia sama sekali tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia memilih kembali masuk ke dalam kamarnya.


Para anggota The Manik mulai babak belur. Tak berselang kemudian, mereka kembali bermunculan dengan banyak kompi yang tidak ada habisnya. Darren masih melawan mereka dan sesekali mata Darren tertuju pada pintu utama, berharap sang istri akan muncul.


Salah satu anggota The Manik berhasil menghajar Darren hingga sudut bibir nya berdarah.


"Sial"ucap Darren yang melap darah diujung bibirnya. Ia kembali melawan mereka yang tidak ada habisnya.


"Zivanna keluarlah, aku merindukan" teriak Darren sambil menghajar anggota The Manik.


Tidak ada tanda-tanda batang hidung Ziva muncul. Sementara Matahari mulai tenggelam di peradabannya.


Ziva baru saja terbangun dari tidurnya. Ia mendengar suara kegaduhan di bawah sana. Lalu ia pun memilih mengintip di balik jendela untuk melihat situasi di bawah sana.


Deg.


Jantung Ziva memompa lebih cepat saat melihat sosok lelaki yang dirindukannya. Entah mengapa ia menjadi deg-degan melihat suaminya. Tapi di satu ia masih membencinya.


Ziva terlebih dahulu berjalan menuju toilet untuk mengambil air wudhu. Karena sebentar lagi memasuki waktu sholat Maghrib.


Ia mulai menunaikan sholat Maghrib. Walaupun kondisi fisik nya belum stabil, tapi ia tidak ingin meninggalkan sholat.


Sementara Darren bertarung di bawa sana antara hidup dan mati. Banyaknya anggota the manik yang sudah babak belur. Bahkan hujan mulai turun membasahi bumi.


Selepas sholat Ziva lalu membereskan alat sholatnya. lalu menyambar hijab praktis dan cadar yang selalu bertengger di wajahnya. Kemudian ia berlari menuruni anak tangga untuk menemui suaminya. Namun baru beberapa langkah berjalan menuju pintu utama. Tuan Alvin menghentikan nya.


"Jangan keluar nak, ayah tidak mengizinkan mu" ucap tuan Alvin.


Ziva lalu menghampiri ayahnya.


"Ayah tolong hentikan perkelahian di luar. Aku tidak ingin ada korban dari perselisihan ayah. Dan tolong ayah biarkan aku menemui suamiku" ucap Ziva yang memohon.


"Ayah tetap tidak mengizinkan mu, kau pilih ayah atau lelaki itu" ucap tuan Alvin.


"Ayah jangan seperti ini, aku hanya ingin menemuinya sebentar. Setelah itu, aku tidak akan pernah menemuinya lagi ayah" ucap Ziva dengan mata berkaca-kaca.


"Baiklah, Riko akan menemani mu setelah itu, jangan pernah temui dia lagi" ucap tuan Alvin lalu memilih berjalan menuju ruang kerjanya.


"Baik ayah" ucap Ziva pasrah.


Sementara Darren berhasil membuat anggota The Manik babak belur. Riko yang melihat anak buahnya sudah babak belur memilih untuk mundur.


Pintu utama terbuka, Ziva lalu berjalan menghampiri suaminya yang sedang berdiri menghadap ke arahnya.


Darren langsung tersenyum dan berlari menghampiri istrinya. Ingin rasanya ia memeluk istri yang ia rindukan selama ini.


Sementara Ziva terlihat biasa-biasa saja.


"Stop, jangan mendekat tuan" ucap Ziva dengan tatapan tajam.


Darren lalu bersimpuh di hadapan istrinya.


"Zivanna aku merindukanmu" ucap Darren yang bersimpuh sambil memeluk Ziva.


"Zivanna maafkan aku, aku sangat menyesali perbuatanku. Zivanna tolong maafkan aku...Aku tidak ingin kehilangan dirimu" ucap Darren dengan mata berkaca-kaca yang dipenuhi perasaan haru.


Ziva masih saja bungkam.


"Tolong lepaskan tuan, sebaiknya Anda pergi dari kediaman saya" ucap Ziva dingin.


"Tidak Zivanna, aku tidak akan meninggalkan mu, karena aku sudah menyukai mu" ucap Darren yang masih saja memeluk Ziva.


Ziva mulai menggeser tubuhnya. Darren lalu melepaskan pelukannya.


"Aku belum bisa memaafkan mu" ucap Ziva lalu menjauh.


Darren terlihat tidak terima dengan ucapan Ziva.


"Zivanna aku mencintaimu, tolong maafkan aku" teriak Darren yang sudah mengeluarkan isi hatinya yang selama ini ia pendam.


Ziva menghentikan langkahnya.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2