
Setelah kepergian Dara atau Darren beberapa menit yang lalu. Seluruh penghuni di mansion tuan Alvin mulai melakukan aktivitas mereka masing-masing.
Ziva bersiap-siap untuk ke kampus, pasalnya hari ini ia perdana mengajar di kampus university HZ. Seperti biasanya, Ziva selalu berpenampilan muslimah dengan cadar yang selalu bertengger di wajah cantiknya. Ziva dengan cepat mampu mempelajari kebudayaan di negara B. Kalau untuk bahasa, jangan ditanya lagi Ziva mampu menguasai 5 bahasa sekaligus termasuk bahasa di negara B.
"Ayah mana bunda, tumben tidak sarapan bersama kita" ucap Ziva yang sudah duduk di kursi samping kakeknya.
Sementara tuan Harris hanya menikmati sarapannya.
"Ayahmu sudah pergi dari tadi, sepertinya ada masalah di kantor" ucap nyonya Ira yang mengambil sandwich, kemudian meletakkan di piring putrinya.
"Ya aku di tinggal , padahal ayah janji akan antar jemput Ziva ke kampus"
"Masih ada supir yang akan anterin kamu nak, nanti kabarin bunda untuk jemput kamu" ucap nyonya Ira.
"Betul yang dikatakan ibu mu, cepat habiskan sarapan mu nak" timpal tuan Harris.
"Baik kakek"
Setelah selesai sarapan bersama, kemudian Ziva berpamitan kepada ibu dan kakeknya sambil mencium punggung tangan mereka. Agar doa mereka selalu mengiringi langkahnya dimana pun ia berada.
Mobil pun membawa Ziva ke kampus university HZ.
Hanya berkisar 40 menit perjalanan. Ziva sudah tiba di kampus university HZ. Seluruh mahasiswa tampak lalu-lalang memenuhi area kampus.
"Nanti saya jemput nona di sini" ucap supir pribadinya.
"Iya pak"
Kemudian Ziva melangkahkan kakinya menuju ruang dosen untuk melakukan ceklok. Sehabis itu, ia menuju kelasnya untuk membawakan materi yang diajarkannya yakni Business and Management.
Seluruh mahasiswa menunggu kedatangannya dengan tertib dan siap menerima materi pelajaran. Sebelum memulai materi, tak lupa Ziva memperkenalkan diri. Ibarat pepatah yang mengatakan bahwa tak kenal maka tak sayang.
Sementara di perusahaan Alexander Group yang dipimpin oleh Fino Alexander....
Darren sudah berada di ruangan tertinggi di perusahaan Alexander Group yang merupakan ruangan khusus Fino, ditemani Chiko sang asisten sekaligus sekertaris pribadi kakaknya Fino.
"Kumpulkan nama-nama karyawan yang kamu curigai dan terlibat melakukan penyelewengan dana proyek rumah sakit yang sedang berjalan sekarang juga" ucap Darren tegas tanpa perlu di bantah yang sedang duduk di kursi kebesaran kakaknya.
"Ini tuan Darren, hanya orang ini yang saya curigai beberapa hari terakhir selama proyek itu berjalan" ucap Chiko yang sudah mempersiapkan nama-nama karyawan dari awal.
"Kenapa tidak bilang dari tadi, kau membuang-buang waktu ku saja di ruangan ini. Ya sudah cepat bawa mereka kemari untuk diinterogasi" ucap Darren yang sudah merasa kesal.
"Baik tuan Darren" ucap Chiko kemudian berlalu meninggalkan ruangan itu.
Tak berapa lama kemudian Chiko membawa 2 karyawan yang bertanggung jawab mengenai proyek pembangunan rumah sakit tersebut. Mereka tampak panas dingin berada di ruangan itu.
"Apa kalian kenal saya" tanya Darren yang berbasa-basi yang sudah bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati mereka.
__ADS_1
"Tidak tuan" ucap mereka kompak dengan wajah ketakutan, hanya melihat tatanan membunuh Darren yang bisa-bisa melahapnya habis di ruangan itu.
Ditambah mereka tidak kenal Darren. Karena ini pertama kalinya Darren berkunjung di perusahaan yang dibangun oleh kakaknya yang pastinya dengan nama yang sama yakni Perusahaan Alexander Group.
"Baguslah, jika kalian tidak kenal saya" ucap Darren dingin.
"Chiko, buat mereka mengakui kesalahannya" ucap Darren yang berjalan mengelilingi mereka.
"Hei kamu siapa, sok berkuasa di ruangan ini. Dan kesalahan apa yang telah kami perbuat" elak karyawan yang seumuran dengan Chiko dan ingin menghajar Darren.
"Betul, boss kami sedang tiada di perusahaan ini., Jadi jangan sok berkuasa kamu" timpal teman satunya.
"Ha ha ha ha ha, saya hanya ingin bernegosiasi dengan kalian. Rupanya attitude kalian seperti ini kepada atasan" bentak Darren dengan suara yang menggema di ruangan itu.
Seketika nyali mereka menciut di tambah tatapan Darren yang tidak bersahabat.
"Chiko"
"Iya tuan Darren"
"Pecat mereka dan jadikan nama mereka menjadi daftar hitam. Aku tidak ingin melihat wajah mereka. Dan satu lagi, bawa mereka ke markas untuk mendapatkan pelajaran hidup"
"Siap tuan Darren"
Kemudian Chiko memanggil bodyguard untuk menyeret mereka meninggalkan perusahaan Alexander Group, lalu membawanya ke markas The Tiger.
'Misi berjalan lancar'
Seperti itu kira-kira pesan masuk di ponselnya.
Darren hanya mampu tersenyum melihat notifikasi dari ponselnya.
"Lumayan kerja kalian, tapi aku masih belum puas dengan semua itu. Tapi tidak masalah, lagian perusahaan Damanik sedang di ujung Tanduk. Ha ha ha ha ha" ucap Darren diselingi tawa bahagia nya.
🍁🍁🍁🍁
Sementara di perusahaan Damanik.....
Tuan Alvin hanya mampu memegangi keningnya yang sedikit pusing mendengar musibah yang menimpa perusahaannya. Mulai dari beberapa data perusahaannya yang hampir bocor oleh saingan bisnisnya. Untungnya ahli IT nya mampu menanggulangi semua itu. Di tambah Isu-isu perselingkuhan tuan Alvin hingga memiliki anak haram bahkan menyembunyikan nya di suatu negara beredar di media. Di tambah lagi memiliki 2 anak yang cacat, yang semua itu tidak benar adanya.
Tuan Alvin hanya mampu menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya karena lelah memikirkan isu-isu tersebut.
"Apa kau sudah membereskan semua isu-isu yang beredar di media" tanya Tuan Alvin pada Riko.
"Sudah tuan, tapi......"
"Tapi apa!, Kau harus cepat bereskan semua itu Riko. Aku tidak ingin isu-isu tersebut terus beredar. Apalagi sampai diketahui oleh istri dan anak-anak ku, karena semua berita itu tidak benar adanya. Sungguh orang itu bermain licik rupanya" ucap tuan Alvin yang menatap tajam Riko.
__ADS_1
"Saya sudah bereskan semua berita itu tuan. Tapi para investor tidak mau lagi berinvestasi di perusahaan kita. Dan beberapa rekan bisnis tuan menolak lagi bekerja sama dengan perusahaan Damanik" ucap Riko menjelaskan.
Sementara tuan Alvin hanya memegangi kepalanya yang sedikit pusing mendengar semua itu.
"Ini merupakan masalah besar tuan, sementara beberapa proyek kita sudah berjalan. Bisa-bisa proyek yang berjalan itu akan mangkrak jika tidak ada suntikan dana dari para investor dan klien tuan dan Perusahaan Damanik akan mendapat pinalti nantinya dan....."
"Hentikan Riko, aku tidak ingin mendengar semua itu. Kita pasti bisa mengatasi masalah ini. Aku yakin isu-isu yang beredar hanya sebagai pengecoh untuk perusahaan kita. Aku curiga ada yang berkhianat di perusahaan ku" ucap tuan Alvin tegas.
"Kerahkan detektif kita untuk mencari tahu masalah ini"
"Baik tuan. Tadi tuan Abdullah menghubungi saya tentang masalah yang terjadi di perusahaan tuan" ucap Riko.
"Bagaimana tuan Abdullah mengetahui masalah perusahaan kita, sementara dia berada di negaranya" ucap tuan Alvin.
"Sudah seminggu, Tuan Abdullah berada di negara ini tuan. Hanya saja tidak mengabari tuan. Bukankah pagi ini anda ada jadwal rapat dengan tuan Abdullah" ucap Riko.
"Aku hampir saja melupakan jadwal itu. Kalau begitu persiapan segalanya" ucap tuan Alvin lalu bangkit dari kursi kebesarannya.
"Semuanya sudah siap tuan, mungkin mereka sudah sampai di kantor" ucap Riko.
Tanpa menjawab ucapan Riko kemudian tuan Alvin menuju ruang rapat diikuti Riko yang mengekor dibelakangnya.
"Selamat datang tuan Abdullah di perusahaan Damanik" ucap Riko yang menyambut kedatangan tuan Abdullah.
"Oke Kawan"
"Mari tuan"
Sementara tuan Alvin sudah menunggu kedatangannya dengan wajah yang sulit diartikan.
"Assalamualaikum tuan Alvin" ucap tuan Abdullah.
"Waalaikumsalam, lama tidak berjumpa tuan Abdullah"
"Aku pikir kau sudah melupakanku. Kau sama sekali tidak berubah kawan. Kau semakin berkharisma saja. Aku sempat melihat kabar yang beredar tentang dirimu, tapi secepat kilat sudah hilang. Pasti semua itu ulah Riko bukan. Tapi sebagai sahabat mu aku selalu percaya kepada kau Alvin" ucap tuan Abdullah yang semakin akrab saya.
"Itu ulah seseorang yang tidak bertanggung jawab. Mereka membuat kabar murahan seperti itu" ucap tuan Alvin yang moodnya kembali lagi.
"Jika kau butuh bantuan, hubungi saja aku kawan. Aku siap membantu mu kapan pun itu. Bukankah kita saling tolong menolong selama mendirikan sebuah perusahaan bukan".
Karena keduanya awalnya hanya sebagai rekan bisnis lambat laun menjadi teman baik bahkan sahabat karib. Walaupun umur mereka bede jauh, mereka akan selalu saling membantu mengenai urusan perusahaan.
"Iya kau benar tuan Abdullah". Ucap tuan Alvin kemudian menceritakan tentang masalah yang terjadi di perusahaannya yang sedang berada di ujung tanduk.
"Aku bisa saja membantumu untuk urusan itu, lagian aku berhutang budi kepadamu kawan. Aku juga pernah mengalami masalah seperti ini. Besok aku akan memberikan dana untuk proyek yang sedang berjalan itu" ucap tuan Abdullah.
Mohon maaf bila alurnya tidak sesuai 🙏🙏🙏
__ADS_1
Jangan lupa saran dan masukan teman-teman buat cerita ini kedepannya 🙏🙏🙏