
Sebelum balik ke kediaman nya, Ziva terlebih dahulu menyempatkan sholat di perguruan master Zen. Setelah itu, ia pun berpamitan kepada master Zen dan kembali mengendarai motor cross nya menuju kediamannya.
Pusat kota terlihat padat dengan kendaraan lalu lalang, apalagi jam-jam sibuk seperti ini. Sambil mengendarai motor cross nya Ziva memilih singgah di restoran favorit nya. Disebabkan cacing diperutnya sudah mengadakan konser, dan itu tandanya ia perlu membungkam mulut mereka dengan makanan.
Dengan malas Ziva melangkahkan kakinya memasuki restoran tersebut. Lalu memilih duduk di kursi pojokan. Setelah itu, pelayan restoran tersebut datang menghampirinya.
"Selamat datang di restoran kami,
silahkan ini buku menunya" ucap pelayan itu ramah.
"Seperti biasa" ucap Ziva.
"Ooh rupanya anda nona" ucap pelayan itu dengan tebakannya.
Dan pelayan tersebut mengangguk, karena Ziva merupakan salah satu pelanggan setia direstoran tersebut, sehingga ia paham betul dengan pesanan Ziva yaitu nasi liwet dan bebek goreng tepung, untuk minumannya jus wortel yang menjadi primadona nya.
Sambil menunggu pesanan nya datang, Ziva memilih ke toilet sebentar.
Sementara Darren bersama rombongan rekan bisnisnya baru saja tiba di restoran tersebut. Mereka di sambut dengan hormat oleh manajer restoran tersebut.
"Mari tuan, saya antar ke ruangan VIP" ucap manager restoran tersebut dengan ramah.
"Sepertinya disini juga bagus" ucap salah satu rekan bisnis Darren yang hanya ingin duduk di ruangan kelas biasa.
"Iya, lagian di sini banyak pengunjung wanita, siapa tahu diantara mereka ada yang menjadi jodoh saya" timpal lagi teman satunya yang merupakan playboy cap gajah dengan ukuran tubuh yang bongsor.
"Wah kau sepahaman denganku bro" timpal lagi teman satunya.
Sementara Darren begitu kesal dengan tingkah rekan bisnisnya yang begitu rempong layaknya emak-emak di pasar sedang berburu diskon. Rey pun mulai angkat bicara saat melihat wajah tuanya terlihat kesal.
"Baiklah tuan-tuan, kita duduk di sini saja" ucap Rey kepada mereka.
Lalu mereka pun duduk di kursi bagian tengah dengan meja bundar yang lumayan lebar.
Sementara beberapa pengunjung wanita yang terlihat ganjeng mulai mencari perhatian kepada para pengusaha tersebut.
Sedangkan Rey mengatur seluruh pesanan mereka. Tak berapa lama kemudian datanglah para pelayan menyajikan makanan yang dipesan oleh mereka.
"Silahkan di nikmati tuan" ucap para pelayan itu dengan ramah.
"Terima kasih cantik"goda lelaki playboy cap gajah tersebut.
Sementara para pelayan itu hanya memamerkan senyum manisnya di depan orang-orang penting seperti mereka, kemudian undur diri.
Sedangkan Ziva baru saja dari toilet, kemudian ia berjalan melewati kursi yang diduduki oleh rombongan Darren. Akan tetapi, salah satu rekan bisnis Darren dengan jailnya menghalangi langkah Ziva dengan menghadang kaki Ziva dengan kakinya. Dan sialnya lagi Ziva terjatuh pas di hadapan Darren.
Brukk.
__ADS_1
"Aduh" gumam Ziva kesakitan sambil memegangi bokongnya yang sakit
"Oops, maaf nona saya tidak sengaja" ucap rekan bisnis Darren yang mengenali Ziva dan ingin membantu Ziva berdiri.
"Tidak masalah tuan" tolak Ziva dan belum sepenuhnya melihat siapa mereka.
Ziva kemudian berdiri dengan hati-hati dan betapa terkejutnya Ziva saat melihat sosok lelaki di hadapannya.
"Wah ternyata anda nona, saya sampai tidak mengenali anda. Aku pikir anda sudah kelaut" ucap rekan bisnis Darren yang merupakan playboy cap gajah dengan ucapan ejekan nya.
"Mengapa kesialan selalu menimpa anda" timpal lagi teman satunya dengan ucapan memojokkan.
Sementara Ziva mengepalkan tangannya mendengar ucapan mereka yang memojokkan nya.
"Iya, hahaha " kemudian mereka tertawa puas meremehkan.
Darren pun ikut tersenyum tipis dan memasang wajah yang super menyebalkan. Sementara Rey tampak kasihan kepada Ziva.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun Ziva kemudian berjalan kembali, akan tetapi Darren dengan liciknya sengaja menumpahkan air dilantai tersebut.
Brukk
Sehingga Ziva kembali terjatuh ke dua kalinya.
"Ha ha ha ha" tawa Darren dengan lepasnya.
Bersama seluruh rekan bisnisnya.
Sedangkan kesabaran Ziva sudah habis terhadap mereka. Walaupun sakit, Ziva dengan cepat bangkit dan mengambil gelas yang berisi jus lalu menyiramkan ke wajah Darren.
Darren begitu marah dengan tingkah Ziva yang kurang ajar terhadap nya. Sementara Rey tertawa dalam hati.
Sungguh, ternyata anda gadis pemberani. Batin Rey.
Sementara rekan bisnis Darren bungkam dan tak ada yang berani tertawa.
"Sudah puas mengerjai saya tuan Alexander yang terhormat"ucap Ziva dengan berkacak pinggang sambil menatap Darren dengan tatapan penuh kebencian.
"Aku pikir kau sudah mengakhiri hidup mu sendiri" ucap Darren dingin dengan tatapan tak kalah jauh dengan ziva.
"Terima kasih tuan, kau sudah menghancurkan perusahaan kakek saya. Bukan berarti saya kalah dari anda!...ingat baik-baik, saya belum kalah dari anda dan permainan nya baru saja akan dimulai" ucap Ziva dingin lalu meninggalkan mereka.
Sementara Darren tak terima dengan ucapan Ziva dengan cepat mengeluarkan pistolnya dari saku jasnya dan siap menembakkan ke arah Ziva. Sedangkan Rey yang melihat aksi tuanya dengan cepat memegang tangan Darren.
"Jangan tuan, citra anda akan buruk di mata publik" bisik Rey.
Seketika itu Darren kembali memasukkan pistol di saku jasnya.
__ADS_1
"Sial!, gadis itu selalu membuatku kesal"ucap Darren marah sambil meninju meja.
Sementara rekan bisnisnya begitu takut, apalagi Darren saat ini begitu marah.
Dengan hati-hati Rey membersihkan wajah Darren yang dipenuhi jus buah.
"Ayo pulang" ucap Darren dingin dan melangkahkan kakinya keluar dari restoran tersebut.
Tanpa menikmati makanan yang dipesannya, Ziva mengeluarkan beberapa lembar uang dari tasnya dan menyimpan nya di atas meja lalu berjalan dengan cepat meninggalkan restoran tersebut.
🍁🍁🍁🍁🍁
Kini Ziva sudah berada di kediamannya dan sudah terlihat segar. Ia mengumpulkan para pelayan yang sudah ia anggap sebagai keluarga nya dirumah itu, diantaranya Maria, Lulu, Nana, Baron dan Jonoh.
"Ada apa nak" ucap tuan Harris bingung.
"Nanti Ziva jelaskan kek" ucap Ziva cepat.
Tuan Harris pun semakin penasaran dan duduk di sofa di ruangan itu. Begitu halnya para pelayan tersebut.
"Baiklah, saya mengumpulkan kalian semua di ruangan ini guna untuk membantu saya memulai bisnis saya kedepannya" ucap Ziva menjelaskan.
"Asyik nona, mau ngajak kita berbisnis" ucap Luna.
"Betul sekali, seratus buat mbak" ucap Ziva cepat.
"Bisnis apa yang akan kau kerjakan nak?" tanya tuan Harris yang lagi-lagi di buat penasaran oleh cucunya.
"Yang jelas kek, bisnis yang mengenyangkan" jawab Ziva dengan sekenanya.
"Maksudnya bisnis kuliner" potong tuan Harris cepat.
" Wah betul sekali kek, seratus juga buat kakek" jawab Ziva dengan memasang wajah ceria.
"Lalu mengapa non mengumpulkan kita?" ucap Baron yang bertanya-tanya dalam hati.
"Maka dari itu om dan kakek dengerin dulu penjelasan Ziva" ucap Ziva tegas.
"Baiklah kakek tidak ingin terlalu kepo, kalau begitu tolong berikan kami penjelasan gadis kecil" ucap tuan Harris dan tak lupa menggoda cucunya.
"Pertama Ziva sudah menemukan lokasinya dalam menjalankan bisnis ini, kedua Ziva ingin menjalankan bisnis kuliner ini dengan menjadikan om, dan mbak yang jadi karyawan Ziva" ucap Ziva dengan keyakinan penuh terhadap mereka.
"Kami siap gadis kecil" ucap tuan Harris dengan candaannya.
"Kami bersedia non" ucap mereka kompak.
Lalu mereka pun memasang strategi untuk bisnis mereka kedepannya, apalagi bisnis yang akan mereka jalankan sudah pasaran, karena sudah tersebar di mana-mana.
__ADS_1
Bersambung.......
Maaf ya bila alurnya tidak sesuai 🙏