Mafia Vs Gadis Bercadar

Mafia Vs Gadis Bercadar
Kabur


__ADS_3

Matahari bersinar terang di pagi hari. Seluruh para pekerja di Savana melakukan aktivitasnya masing-masing. Ada yang mulai memberikan pakan untuk kuda dan ada pula yang memandikan kuda balap itu dengan bersemangat. Peternakan kuda balap itu begitu luas dengan banyaknya fasilitas yang memadai.


Mulai dari tempat memandikan kuda balap itu, trek atau arena pacuan kuda balap yang begitu panjang pun tersedia. Dan hamparan rumput liar yang menjadi pakan kuda tumbuh dengan suburnya walaupun di tempat itu gersang akan tetapi para pekerja merawatnya dengan baik.


Sekitar 200 ekor kuda beserta induk dan anaknya berjejer dengan rapi di setiap sekat layaknya sebuah kamar hotel dengan nomor yang berbeda. Para pelatih juga mulai melakukan adu kecepatan dengan pelatih lainnya demi kualitas kuda balap nantinya. Tak main-main harga kuda balap per ekor paling rendah berkisar $ 200 juta. Bahkan setiap tahunnya sebanyak 50 ekor kuda balap di ekspor ke negara lain.


Untuk Ziva sendiri masih setia melakukan pekerjaan yang sama, yakni menjadi petugas kebersihan di Savana.


"Terima kasih ya Allah, engkau masih memberiku kesehatan. Walaupun pekerjaan ini sangat tidak nyaman bagiku, tapi aku tetap bersabar ya Allah, karena engkaulah yang maha bijaksana dan mengetahui segalanya" gumam Ziva yang sempat-sempatnya mengigat Tuhannya di sela-sela kesibukan membersihkan kotoran kuda. Bahkan bau kotoran kuda menjadi bau wajib setiap harinya.


Setelah selesai membereskan peralatan yang dipakai untuk bersih-bersih. Lalu ziva mencuci tangannya terlebih dahulu. Walaupun sebenarnya ia menggunakan sarung tangan, tapi tetap saja Ziva selalu menjaga kebersihan.


Kini Ziva sudah berkumpul bersama para lelaki yang berteman dengannya, di gazebo kayu sambil menikmati cemilan yang di bawa oleh pelayan tadi dan jelas terlihat kebersamaan mereka saling mengasihi.


"Oh iya Ziva, nanti sore aku ingin mengajakmu berkuda di sekitaran Savana. Apa kau mau berkuda bersama kami" ucap Daniel yang merupakan pelatih profesional kuda balap.


"Aku sih senang berkuda, cuman aku masih takut pada kuda balap yang sering kalian latih. Dan pekerjaan ku masih banyak entar sore" ucap Ziva jujur. Karena semenjak berada di Savana Ziva sering menunggangi kuda yang belum terlatih dengan baik.


"Itu tidak masalah, yang terpenting kau harus ikut berkuda bersama kami. Bukankah si putih sudah memilih mu sebagai majikannya kan" Timpal Kevin dengan sedikit senyuman.


"Iya Ziva, kau beberapa hari ini tidak ikut bersama kami. Jadi sebagai gantinya kau harus bersiap nanti sore. Biar pak Budi yang melanjutkan pekerjaan mu. Iya kan pak Budi" ucap Daniel yang mengkode pak Budi.


"Tidak masalah, pekerjaan itu sudah kecil bagi bapak. Asalkan sang mandor Anton tidak melihat kita. Bersenang-senang lah nak Ziva bersama para pemuda penjinak kuda ini" ucap Pak Budi yang menepuk pundak Tomo.


"Ya pak Budi, bahasanya terlalu jujur sih" ucap Tomo.


Dan mereka tertawa dengan senangnya....


"Tunggu dulu Ziva belum mengatakan ya atau tidak" ucap Daniel yang menuggu kepastian.


"Ya aku tidak bisa.... menolak kalian" ucap Ziva dengan senyuman manis dibalik cadarnya.


"Yee Yee Yee" teriak gembira Tomo.


Di perusahaan Alexander Group......


Semenjak kedatangan Darren di kantornya tak henti-hentinya ia menabur senyuman. Bahkan di ruangannya ia masih saja tersenyum sambil menandatangani beberapa berkas penting yang dibawa jones dengan tumpukan yang lumayan banyak, bukan banyak lagi tapi sudah over karena hampir saja menutupi wajah tampan Darren.


Namun jones mampu melihat wajah tuannya dengan melongo, iapun mengkhawatirkan tuannya karena sedari tadi Darren terus tersenyum. Tidak biasanya penguasa Alexander Group sesenang itu. Dan itu merupakan kejadian langka bagi jones melihat tingkah aneh tuannya.


"Apa yang dilakukan gadis itu" tanya Darren yang masih sibuk menandatangani berkas tersebut.


"Seperti sedia kala, nona Ziva membersihkan area Savana" jawab jones datar.


"Ya aku sudah tahu" ucap Darren ketus.


Terus kenapa tuan bertanya lagi. Batin Jones.


"Aku ingin pulang lebih awal. Batalkan saja jadwal ku sore ini bertemu dengan Zayn Syafei" ucap Darren yang kembali membuka lembaran berkas penting.


"Tapi tuan, jangan sampai tuan Zayn merasa anda menghindarinya" ucap Jones.


"Biarkan saja, aku tidak ambil pusing. Jika kau ingin menggantikan ku temui saja, jangan lupa ajak Milan sekalian" ucap Darren.


"Baik tuan jika seperti itu" ucap jones pasrah.


Lalu iapun menghubungi Milan yang merupakan sekertaris Darren.


Kini Ziva sudah berada di gazebo tempat dimana mereka berempat janjian untuk bertemu. Tak berapa lama kemudian Daniel dan Tomo ikut bergabung dengan Ziva.


"Mana Kevin" tanya Ziva.


"Dia itu tukang telat, lebih baik kita ke ruang ganti saja sambil menunggu kedatangan Kevin" ucap Daniel.


"Oh".


Lalu mereka berjalan bersama-sama menuju ruang ganti untuk menggenakan pakaian koboi untuk berkuda. Benar saja dugaannya Kevin baru bergabung dengan mereka.


Kemudian mereka memilih kuda yang akan ia tunggangi. Sebelum menunggangi si putih tak lupa Ziva mengelus-elus bulu kuda itu dan selalu membisikkan kata-kata pujian.


"Hei sampai kapan kau akan mengelus bulu si putih. Coba cepat kejar aku"Teriak Tomo yang sudah menjauh.


Lalu ziva pun menunggangi si putih dengan perasaan senang dan ikut mengejar Tomo. Ziva berada di tengah-tengah para lelaki rupawan.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita masuk ke dalam hutan" ucap Kevin.


"Ah tidak-tidak, aku takut tersesat. Konon katanya hanya orang hebat yang bisa keluar dari Savana melalui hutan itu dan yang lainnya tewas oleh bintang buas...ih ngeri" ucap Tomo menjelaskan.


"Apa kita bisa keluar dari Savana melewati hutan ini" ucap Ziva antusias.


"Iya kau bisa keluar dari Savana tanpa adanya penjagaan anggota mafia. Tapi semua itu di luar nalar. Karena tidak semua orang mengetahui seluk-beluk hutan ini" ucap Tomo dengan yakin.


Sepertinya aku harus melewati hutan ini agar bisa keluar dari Savana. Batin Ziva yang mendapat sedikit angin segar.


"Bagaimana kalau kita balapan saja. Siapa yang tercepat akan mendapatkan hadiah" ucap Daniel.


"Ok aku setuju" ucap Ziva yang percaya diri menjadi pemenangnya.


"Satu, dua tiga"...


Mereka mulai adu kecepatan dengan kuda yang mereka tunggangi masing-masing. Tidak disangka Ziva menduduki posisi pertama mengalahkan para pelatih kuda balap.


"Yeee aku menang" teriak Ziva gembira sambil mencium leher si putih.


"Kau pasti curang" ucap Tomo yang tidak terima kekalahan nya.


"Sudah-sudah Ziva gadis yang hebat berhasil mengalahkan kita" ucap Kevin yang menengahi.


"Mana hadiah ku" ucap Ziva yang kegirangan.


"Tunggu di situ aku ingin mengambilnya" ucap Tomo yang bermuka jutek.


Lalu mereka mulai membawa hadiah yang dimaksud di tangan mereka.


"Ziva hanya ini yang bisa aku berikan padamu" ucap Daniel yang memberikan Ziva sebuah bunga tulip warna merah dan biru yang begitu indah.


"Ini tongkat kayu untukmu" ucap Kevin


"Terima kasih Daniel, terima kasih Kevin" ucap Ziva lalu mengambil bunga dan tongkat kayu itu dengan sedikit senyuman kebahagiaan.


"Aku hanya hiasan kepala ini" ucap Tomo yang menunduk malu dengan hadiah nya


"Tolong pakaikan di kepala ku" perintah Ziva.


"Terima kasih ya, aku sangat senang dengan hadiah kalian".


Lalu mereka bercanda gurau dan tertawa terbahak-bahak dengan candaan mereka.


Namun sepasang mata menatapnya dengan kemarahan bahkan wajahnya yang putih kini berubah menjadi merah dengan tatapan tajam ke arah mereka, dan tidak salah lagi sang ketua mafia The Tiger.


Dari kejauhan Darren sudah memperhatikan mereka dengan kemarahan yang sudah meluap-luap. Ia bahkan ingin menghampiri ketiga lelaki itu dan membunuhnya. Karena sudah berani mendekati gadis yang berstatus sebagai istrinya.


Darren pun mulai melangkah dengan lebar untuk menghampiri mereka. Namun langkahnya terhenti saat ponselnya berdering. Lalu Darren mengeluarkan ponsel di balik saku celananya. Dan tertera nama Mamanya di layar ponselnya dengan cepat ia menggeser ikon berwarna hijau.


"Halo ma".


"Halo sayang, kau sekarang di mana?".


"Aku di Savana ma".


"Begini sayang, Mama ingin mengenalkan kamu dengan anak teman mama di restoran XX jam 7 malam, kau harus datang dan tidak boleh terlambat titik".


"Baik ma".


Lalu percakapan telepon mereka berakhir. Darren merupakan anak yang berbakti kepada orang tuanya. Apapun permintaan mamanya akan ia turuti walaupun bukan keinginannya.


Darren hanya mampu menatap mereka dari kejauhan sambil mengepalkan tangannya.


"Tuan muda, kudanya sudah siap. Dan beberapa pelatih lainnya sudah menunggu anda di trek" ucap Anton yang diangkat menjadi boss atau mandor di Savana itu.


"Hemm".


Darren pun mulai menunggangi kuda balap yang berukuran jumbo dengan warna gelap dan terlihat menakutkan dengan bulu lebat di sekujur lehernya.


Iapun mulai adu kecepatan dengan 3 pelatih kuda balap. Sementara Ziva dan ketiga lainnya hanya mampu menyaksikan mereka dari kejauhan.


"Bukankah itu tuan Muda" tunjuk Tomo.

__ADS_1


"Ya ya kalian tahu sendiri, hanya tuan muda yang bisa menggunakan kuda Tiger. Aku bahkan tidak sanggup untuk mendekati kuda itu, karena banyaknya pelatih yang menjadi korban dari keganasan kuda itu" ucap Kevin.


"Iya aku pun tidak ingin kehilangan salah satu telinga ku menjadi santapan kuda itu..ihhhh, Tapi aku sangat mengidolakan tuan Muda kita yang hebat itu" ucap Tomo yang fokus melihat mereka.


Ziva hanya mampu melihat dari kejauhan pertarungan mereka


"Pasti yang dimaksud tuan muda, pengusaha gila itu" gumam Ziva.


"Siapa pengusaha gila Ziva" ucap Tomo yang sempat mendengar gumaman Ziva.


"Maksud ku aku bertemu orang gila dulu" elak Ziva.


"Sudah lebih baik kita pergi saja, aku bergidik ngeri dengan tuan muda. Jangan sampai dia memanggil kita, karena kesalahan kecil saja membuat nyawa kita terancam" ucap Kevin.


Lalu mereka pun bubar, kembali ke tempat mereka masing-masing.


Darren pun memenangkan pertandingan itu. Iapun melihat disekelilingnya mencari keberadaan Ziva.


"Kemana perginya gadis itu, aku bahkan ingin menunjukkan bakat ku kepadanya. Tapi sial!, dia sudah pergi" ucap Darren yang berdengus kesal.


Senja pun tiba matahari mulai turun keperadabannya. Darren terlebih dahulu membersihkan tubuhnya di ruangan khusus di tempat Savana itu sebelum kembali ke kediamannya.


Sementara Ziva membaca Al-Quran untuk menunggu waktu sholat Maghrib yang sebentar lagi memasuki waktunya.


Suasana Restoran XX yang sangat mewah menampakkan sosok keluarga yang sedang berbincang hangat bersama temannya sambil menunggu kedatangan seseorang.


"Aku tidak menyangka putrimu cantik dan Sholehah Asiyah" ucap nyonya Ratu yang memuji putri temannya dan tersenyum hangat kepada gadis itu.


"Biasa aja jeng, jangan terlalu memuji putriku. Takutnya Sarah haus akan pujian" ucap Aisyah yang memegang tangan putrinya.


Sementara Sarah hanya tersipu malu dihadapan para orang tua itu.


"Putramu lelaki yang hebat, bahkan bisa menjadi pengusaha nomor satu di negara ini. Bahkan menyebut nama putra mu saja para pengusaha lainnya begitu takut. Aku takjub kepada putramu dan semoga putriku yang menjadi jodohnya" ucap Firdaus dengan pujiannya.


"Aku pun berharap begitu.. ha ha ha".


Lalu mereka tertawa bersama-sama. Sementara Sarah ikut tersenyum dengan wajah yang memerah karena malu mendengar ucapan ayahnya.


Langkah kaki seseorang mulai mendekat ke arah mereka. Semua yang duduk di kursi itu menoleh ke arah langkah kaki seseorang yang menampilkan lelaki tampan dengan gestur tubuh yang sempurna dan penuh wibawa siapa lagi kalau bukan Darren Alexander Tiger.


"Lihatlah putraku sudah datang" ucap nyonya Ratu.


Sementara Sarah menatap dengan takjub lelaki pujaan hatinya. Ia bahkan rela magang berbulan-bulan di perusahaan Alexander Group.


"Ayo duduk sayang".


Kemudian Darren duduk berhadapan dengan Sarah. Darren menatap tajam Sarah, dengan cepat Sarah menundukkan pandangannya.


Lalu mereka pun menikmati jamuan makan malam di restoran itu dengan penuh candaan untuk menjodohkan putra putri mereka.


Sementara Ziva yang baru saja menunaikan sholat isya. Dengan cepat membereskan perlengkapan sholatnya dan memasukkan ke dalam tas. Lalu iapun mengganti bajunya dengan warna gelap agar tidak mencolok pada saat meninggalkan Savana.


"Aku harus kabur, aku tidak ingin tetap tinggal di tempat ini" gumam Ziva.


Setelah itu, ia mengintip ke jendela melihat situasi di luar. Pada saat merasa aman, dengan cepat Ziva keluar dari gubuk itu dan mengendap-endap menuju kandang kuda si putih.


Karena tidak mungkin ia kabur hanya berjalan kaki, bisa-bisa memakan waktu yang cukup lama untuk sampai di tujuan. Namun pada saat berada di kandang si putih. Beberapa para penjaga mulai lalu lalang di lorong itu.


Setelah dirasa aman ia membuka pintu kandang kuda itu, lalu mengeluarkan si putih. Sementara kuda di sebelahnya mulai nyinyir dengan suara yang bersamaan.


"Astaga kuda lainnya ikut bersuara"ucap Ziva panik.


"Putih jangan nakal ya, kita harus meninggalkan tempat ini" ucap Ziva yang mengajak hewan itu berbicara sambil mengelus bulu-bulu halus di leher si putih. Dan si putih pun begitu manja dengan perlakuan Ziva.


Lalu Siva mulai menunggangi si putih. Namun 2 penjaga menghalangi nya.


"Mau ke mana kau" ucap lelaki itu.


Lalu ziva melawan mereka menggunakan tongkat kayu tanpa turun dari kudanya. Hingga mereka tidak berdaya.


Kemudian Ziva dengan cepat menunggangi si putih meninggalkan Savana.


Bersambung.......

__ADS_1


Mohon maaf bila alurnya tidak sesuai 🙏


Jangan lupa tinggalkan jejak 😂


__ADS_2