Mafia Vs Gadis Bercadar

Mafia Vs Gadis Bercadar
Memeriksa kandungan


__ADS_3

Matahari mulai memancarkan sinarnya di pagi hari. Seluruh umat manusia kembali melakukan rutinitas nya demi memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Hirup pikuk kehidupan kota membuat orang berlomba-lomba mencari kehidupan yang layak.


Tak terkecuali di kediaman Alexander, semua orang tampak bekerja keras untuk mencari penghidupan yang layak. Kepala pelayan mulai memonitoring para pelayan yang sedang bekerja. Sementara nyonya Ratu sedang icip-icip makanan yang sedang di masak oleh para chef.


Sedangkan di lantai 4, Ziva masih duduk di tempat tidur sambil memperhatikan suaminya yang sedang merapikan tatanan rambutnya.


"Ada apa denganmu sayang, dari tadi terus memperhatikan ku"ucap Darren sambil tersenyum tipis yang kini sedang beralih menatap wajah cantik istrinya.


"Aku ingin, eeh maksud ku....dede bayi ingin mendengar mu mengaji. Mendengar suara mu melantunkan ayat suci Al Qur'an, membuat ku jadi lebih tenang " ucap Ziva lalu menundukkan pandangannya.


"Baiklah, aku akan mengaji untuk dede bayi dan untuk mu sayang" ucap Darren lalu duduk di samping istrinya. Darren kemudian menyentuh perut istrinya. Lalu iapun mulai melantunkan ayat suci Al Qur'an.


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم


ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْحَىُّ ٱلْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُۥ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ مَن ذَا ٱلَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىْءٍ مِّنْ عِلْمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ ۖ وَلَا يَـُٔودُهُۥ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْعَظِيمُ


Bacaan latin: "Allohu laa ilaaha illaa Huwal Hayyul Qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa nauum, la Huu maa fis samawaati wa maa fil ardh, mann dzalladzii yasyfa’u ‘inda Huu, illa bi idznih, ya’lamu maa bayna aidiihim wa maa kholfahum, wa laa yuhiituuna bisyayim min ‘ilmi Hii illaa bi maa syaa’, wa si’a kursiyyuus samaawaati walardh, wa laa yauudlu Huu hifdzuhumaa, wa Huwal ‘aliyyul ‘adziiim"


Artinya: “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar."


"Masya Allah, terima kasih sayang suara mu tambah merdu. Dede bayi sangat senang mendengar ayahnya mengaji. Makan siang nanti, kamu mengaji lagi ya" ucap Ziva yang tersenyum bahagia, sambil memegang tangan suaminya yang berada di atas perutnya.


"Insyaallah, aku akan mengaji untuk dede bayi dan untuk mu sayang" ucap Darren yang ikut tersenyum. Kemudian ia pun mencium kening istrinya.


"Apa kamu jadi ke rumah sakit untuk memeriksa kandungan mu sayang"ucap Darren sambil menatap manik mata istrinya.


"Hemm, kau harus menemani ku ya" ucap Ziva dengan mata berbinar.


"Ya sudah, cepat siap-siap, aku tidak ingin menunggu lama" ucap Darren sambil mencubit pipi Ziva.


"Baik bos ku" ucap Ziva, lalu berjalan masuk ke ruang ganti.


Setelah itu, ia pun menunggu Ziva memakai hijab syar'i+cadarnya. Lalu mereka pun berjalan bersama-sama menuju lift yang akan membawanya ke lantai dasar.


Nyonya Ratu sudah berada di meja makan dengan senyuman yang tidak pernah pudar diwajahnya. Ia menunggu kedatangan putra-putra nya dan menantunya untuk sarapan bersama.


Darren bergandengan tangan dengan Ziva, lalu menghampiri ibunya.


Nyonya Ratu hanya mampu tersenyum melihat kemesraan mereka.


"Pagi ma" ucap Darren lalu menarik kursi untuk diduduki istrinya.


"Pagi sayang, mama senang melihat kemesraan kalian." ucap nyonya Ratu dengan senyum manisnya.


Ziva hanya mampu tersenyum dibalik cadarnya, ia pun mulai duduk di kursi nya. Ziva mulai mengambil makanan untuk Darren.

__ADS_1


"Kalian terlihat rapi, mau kemana" tanya nyonya Ratu yang tidak sengaja memerhatikan mereka dan melihat kepala pelayan membawa tas Ziva.


"Kami ingin ke rumah sakit ma, untuk memeriksa kandungan Zivanna" ucap Darren lalu menyeruput kopi hitam kesukaannya.


"Oh ya, mengapa kalian tidak mengajak mama. Padahal mama juga ingin tahu kondisi cucu mama" ucap nyonya Ratu sambil memasang wajah datar.


"Nanti saja ma, kami ingin pergi berdua"ucap Darren.


"Baiklah jika seperti itu. Tapi lain kali ajak mama" ucap nyonya Ratu sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Terdengar suara seseorang yang memberi salam.


"Assalamualaikum ma..mama" Teriak seseorang yang mulai mendekat.


"Waalaikumsalam, Fino mana istri mu" ucap nyonya Ratu dengan penuh selidik yang tidak melihat keberadaan Milan.


"Masih di luar ma" ucap Fino yang tampak acuh lalu menarik kursi untuk ia duduki.


Darren dan Ziva hanya saling pandang. Tak berselang lama kemudian, batang hidung Milan mulai terlihat.


"Assalamualaikum" ucap Milan dengan gugup.


"Waalaikumsalam, kemari menantuku. Akhirnya mama bisa makan bersama kalian" ucap nyonya Ratu dengan mata berbinar.


Bahkan Fino begitu acuh menikmati sarapannya.


"Maaf ya kak Fino dan Kak Milan, aku tidak sempat hadir di acara makan malam bersama keluarga" ucap Ziva dengan sedikit senyuman dibalik cadarnya.


"Tidak apa nona Ziva" ucap Milan sambil menunduk.


"Astaga kak Milan, jangan selalu memanggil ku dengan sebutan formal. Panggil saja Ziva, lagian kita sudah menjadi keluarga" ucap Ziva yang kembali mengingatkan Milan.


"Benar Milan, kau sudah menjadi kakak ipar ku" timpal Darren.


"Baik saya akan usahakan" ucap Milan.


"Ya sudah kita nikmati dulu makanannya. Lihatlah sedari tadi Fino menikmati makanan nya, lapar Fin, nih tambah lagi" ucap nyonya Ratu sambil tertawa.


"Sudah kenyang ma" ucap Fino, lalu iapun bangkit dari duduknya.


"Loh cepat banget" ucap nyonya Ratu.


Sementara Darren dan Ziva baru saja menghabiskan makanannya. Dan Milan sendiri hanya mampu menunduk menikmati makanan nya.


Setelah selesai sarapan bersama, Darren dan Ziva lalu berpamitan kepada nyonya Ratu dan Milan. Karena mereka berdua akan segera ke rumah sakit untuk memeriksa kandungan Ziva.

__ADS_1


Setelah kepergian Darren dan Ziva, nyonya Ratu meminta Milan untuk ke kamar Fino.


Milan hanya mampu menuruti ucapan ibu mertuanya. Milan sama sekali tidak mengetahui seluk beluk rumah mewah tersebut. Walaupun sudah bertahun-tahun bekerja di keluarga Alexander, tapi ia tidak seberani untuk menginjakkan setiap lantai di rumah mewah tersebut. Sehingga iapun meminta tolong kepada pelayan untuk mengantarnya ke kamar suaminya.


"Ini kamarnya nyonya" ucap pelayan wanita itu.


"Terima kasih" ucap Milan.


Milan pun menatap pintu kamar yang menjulang tinggi dan terlihat kokoh dengan ukiran kayu yang bertuliskan kaligrafi nama Fino.


Milan terlebih dahulu mengetuk pintu kamar itu. Setelah tidak ada jawaban, Milan kembali mengetuk pintu kamar itu.


Cklek


"Apa kau tidak punya tangan untuk membuka pintu kamar ini hah, buang-buang waktu ku saja untuk membukakan mu pintu" cercah Fino yang terlihat kesal.


"Maafkan saya tuan" ucap Milan sambil menunduk.


Sedangkan Fino malah berjalan menuju sebuah ruangan di dalam kamar itu.


Milan pun berjalan masuk, ia mampu melihat kemewahan kamar suaminya. Milan memilih berjalan menuju jendela untuk melihat pemandangan di luar sana.


"Bukankah itu bang jones dan lainnya" ucap Milan yang mampu melihat teman-teman nya.


"Hei kau bereskan barang-barang mu. Nanti sore kita akan berangkat ke negara B. Jadi saat di negara B jangan sampai kau membuat masalah, karena jika itu terjadi...maka aku sendiri yang akan menghabisi mu..crekkk" ucap Fino yang berada di belakang Milan, sambil meremas jari-jarinya hingga terdengar suara otot-otot jari-jarinya berbunyi.


Milan pun berbalik dan tak sengaja menabrak dada bidang Fino. Mata mereka kembali bertemu, Fino sempat menatap manik mata Milan yang begitu kelam.


"Maaf tuan Fino" ucap Milan yang terlonjat kaget sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Kau selalu saja meminta maaf" ucap Fino yang selalu saja jengkel melihat Milan.


Ia pun kembali berjalan menuju ruang kerjanya.


"Apa yang harus aku bereskan, lagian aku sama sekali tidak memiliki barang-barang. Bahkan koperku masih di bagasi mobil ku" gumam Milan sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Bersambung....


Mohon maaf aku baru update episode terbaru 🙏


Belakangan ini aku sakit dan tidak mampu untuk nulis episode selanjutnya. Jadi harap di maklumi ya teman-teman, jika aku jarang muncul berarti aku ada kendala.


Dan jangan lupa untuk selalu mengucapkan kalimat istighfar (Astaghfirullah) dan perbanyak mengucapkan kalimat dzikir (Subhaanallaah, wal hamdulillaah, wa laa ilaaha illallaah, wallaahu akbar) untuk selalu mengingat Allah SWT, semoga kita tetap dalam lindungan Allah SWT, amin Ya Rabbal Al-Amin


Terima kasih🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2