
Kini Ziva sudah berada di dalam kamar yang sudah dihiasi ala-ala kamar pengantin.
Ziva tidak mengerti harus berbuat apa. Ia hanya berdiri menatap kamar Darren. Tak berapa lama kemudian, Darren keluar dari ruang ganti dengan piyama tidurnya.
"Mama menyuruh pelayan untuk menyimpan baju-bajumu di lemari pakaianku. Kalau kau ingin ganti baju, masuk saja ke ruangan itu. Dan jika kau tidak ingin sekamar dengan ku, gunakan saja kamar yang kemarin. Aku tinggal dulu" ucap Darren lalu berjalan keluar.
"Aku ingin tidur di kamar ini" ucap Ziva dengan rona wajah memerah.
Darren pun menghentikan langkahnya mendengar ucapan Ziva.
"Terserah, jika itu maumu" ucap Darren kemudian menghilang di balik pintu.
"Aku sangat malu dengan ucapan ku sendiri, jangan sampai pengusaha maksud ku si Alexander berpikir yang tidak-tidak" ucap Ziva sambil menggeleng.
Kemudian Ziva berjalan masuk ke ruang ganti untuk mengganti baju dengan piyama tidur. Ia lalu membuka satu persatu lemari itu untuk mencari piyama tidur yang cocok untuknya.
"Piyama tidur ini sepertinya nyaman"ucap Ziva sambil tersenyum.
Setelah selesai menggunakan piyama tidur, Ziva lalu berjalan menuju meja rias untuk memakai pelembab wajah yang sudah menjadi rutinitas nya sebelum tidur bila tersedia.
"Apa aku tidur lebih dulu atau menunggunya kembali" gumam Ziva yang menatap dirinya di pantulan cermin.
"Ah tidak-tidak, lebih baik aku tidur lebih dulu" ucap Ziva lalu mulai bangkit dari duduknya dan berjalan menuju tempat tidur.
Ziva terlebih dahulu membersihkan kelopak bunga mawar yang bertaburan di atas tempat tidur. Setelah itu, ia lalu membaringkan tubuhnya sambil menatap langit kamar Darren.
"Aroma ruangan ini sangat mencolok dengan pemiliknya".
Ziva kembali memiringkan tubuhnya untuk mencari posisi yang nyaman. Tapi tetap saja, matanya belum bisa diajak kompromi. Ia kembali tidur terlentang tapi tetap saja sama.
"Kenapa aku gelisah sih, bahkan mataku belum bisa diistirahatkan".
Ziva kembali mengucapkan dzikir dalam hati sambil memejamkan matanya agar ia bisa cepat tertidur.
Terdengar suara pintu terbuka, lalu penglihatan Ziva langsung tertuju pada pintu kamar itu. Dan tampaklah sosok Darren dengan wajah yang terlihat lelah.
"Kau belum tidur"ucap Darren yang melihat Ziva menatapnya.
"Hemm".
"Apa kau menunggu ku".
Ziva hanya menggeleng.
"Aku belum terbiasa tidur di tempat tidur yang asing bagiku".
Darren sudah berada di samping Ziva.
__ADS_1
"Baiklah aku akan membantu agar tidur nyenyak" ucap Darren dengan seringai licik diwajahnya.
"Seperti ap..."Belum juga Ziva menyelesaikan ucapannya Darren malah menarik tubuh Ziva dan memeluknya dengan erat.
Ziva jadi terkejut bahkan ia merasa geli bila di sentuh oleh lawan jenis, ia langsung refleks memukul kepala Darren.
"Awww" ringis Darren yang berpura-pura kesakitan yang sama sekali tidak melepaskan pelukannya.
"Maaf aku tidak sengaja"ucap Ziva panik.
"Sebagai ganti rugi, kau yang harus memelukku" ucap Darren lalu iapun melepaskan pelukannya.
"Baiklah".
Tidak biasanya Ziva menjadi penurut seperti itu, apakah ia akan baikan dengan Darren secepat itu.
Ziva mulai merentangkan tangannya dengan mata merem untuk memeluk Darren dengan jantung yang berdetak kencang layaknya mau copot dari tempatnya. Darren mulai tersenyum melihat tingkah Ziva yang lucu menurutnya, lalu ia memegangi tangan Ziva dan menaruh di pinggangnya.
Kemudian Darren ikut memeluk Ziva, sehingga pasangan suami istri itu saling berpelukan dengan perasaan yang sama-sama gugup. Suasana di kamar itu menjadi canggung diantara keduanya.
"Apa kau sudah tidur" tanya Darren yang mulai angkat bicara.
"Belum" ucap Ziva gugup yang mendongak menatap Darren.
"Tidurlah, jangan lupa mimpikan aku" ucap Darren dengan sedikit senyuman.
Sementara Darren sudah memejamkan matanya.
"Kau terlalu banyak bicara, aku sudah ngantuk dan tidak akan melepaskan pelukan mu" ucap Darren dengan mata tertutup dan itu menandakan sebuah ancaman.
Ziva hanya mampu menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia sama sekali tidak nyaman di situasi seperti itu. Lalu iapun ikut memejamkan matanya berharap hari esok lebih baik lagi.
Jam menunjukkan pukul 3 waktu setempat. Ziva sudah terbangun, ia melihat teman tidurnya yang masih saja tertidur pulas. Dengan hati-hati, Ziva melepaskan tangan Darren. Lalu iapun mulai turun dari tempat tidur. Dan berjalan menuju toilet untuk mengambil air wudhu.
Ziva dengan khusyuk mulai menjalankan sholat sunah tahajud. Selepas itu, ia berdoa dengan berderai air mata.
"Ya Allah ampunilah dosa-dosa ku, dosa kepada kedua orang tuaku, baik itu melalui ucapan secara langsung maupun tidak langsung. Dan jauhkanlah aku dari perbuatan iri dan dengki...hiks hiks hiks. Ya Allah ampunilah dosa-dosa kedua orang tuaku, selamatkan lah keluarga ku di dunia maupun di akhirat. Ya Allah bukakanlah hidayah untuk suamiku, jadikanlah ia menjadi imam yang baik untukku, aku hanya ingin dia berada di jalan mu ya Allah....Amin Ya Rabbal Al-Amin".
Kemudian tak lupa Ziva membaca beberapa lembar Al-Quran sambil menunggu jam waktu sholat subuh.
Pagi harinya....
Seluruh para pelayan di kediaman Alexander Group mulai lalu lalang mengerjakan pekerjaan nya. Sementara di lantai 4, Ziva sudah terlihat rapi yang sedang membuatkan sarapan untuk Darren pada dapur kecil yang berada di lantai 4. Dan lumayan terdapat banyak persediaan bahan makanan di lemari pendingin.
Dengan telaten Ziva menyiapkan sarapan untuk Darren berupa kopi dan roti bakar. Setelah selesai menyiapkan semua itu. Ia lalu berjalan masuk ke dalam kamar dan mulai membuka tirai jendela menggunakan remote control.
Tampak silaut cahaya matahari pagi mulai menyelinap masuk ke dalam kamar membuat Darren terbangun.
__ADS_1
Darren kemudian duduk di atas tempat tidur sambil meregangkan otot-ototnya yang kaku. Kemudian ia pun berjalan menuju toilet untuk membersihkan tubuhnya.
Ziva lalu merapikan tempat tidur. Setelah itu, ia berjalan ke ruang ganti untuk memilih setelan jas yang cocok untuk Darren, ia bertekad untuk menjadi istri yang berbakti kepada suaminya.
Tak berapa lama kemudian, Darren masuk ke ruang ganti hanya mengenakan jubah mandi. Ia merasa heran melihat Ziva di ruangan itu yang sedang memilah-milah setelan jas nya.
"Kau sedang apa" tanya Darren dengan selidik.
"Aku sedang memilih setelan jas yang cocok untuk mu".
"Tidak perlu, aku bisa sendiri, minggir" ucap Darren yang menyelonong sambil mendorong Ziva.
"Santai aja kali" ucap Ziva kesal lalu keluar dari ruang ganti tersebut.
Padahal ziva sedang berusaha menjadi istri yang baik.
Darren malah tersenyum, sambil memakai kemejanya.
"Kenapa gadis buruk rupa itu bertingkah aneh" ucap Darren yang lagi-lagi tersenyum.
Lalu ia menyambar dasi dan membawa jasnya keluar dari ruang ganti.
"Hei gadis buruk rupa kemarilah" ucap Darren yang memanggil Ziva yang sedang menyusun alat make up ke dalam rak-rak kecil.
"Ada apa" ucap Ziva yang menghentikan pekerjaannya.
"Itu tugas mu, cepat pakaikan aku dasi" tunjuk Darren pada dasi yang sempat ia simpan di atas tempat tidur.
Ziva lalu menghampiri Darren dan mulai memakaikan Darren dasi. Sedangkan Darren dengan tangan jahatnya malah melepaskan cadar Ziva.
"Aku tidak suka kau menggunakan cadar di hadapan ku. Lantai 4 ini daerah kekuasaan ku, jadi kau bisa bebas sesuka termasuk tidak menggunakan ini. Namun bila kau keluar dari sini, maka pakailah kembali cadarmu, karena aku tidak suka wajahmu di lihat oleh orang, hanya aku yang berhak atas dirimu termasuk wajah mu"ucap Darren yang memegang pinggang ramping Ziva.
Sementara Ziva hanya diam sambil memasang dasi untuk Darren.
"Sudah selesai"ucap Ziva
Darren lalu memiringkan tubuhnya untuk melihat hasil kreasi Ziva tanpa melepaskan tangannya dari pinggang ramping Ziva.
"Lumayan juga"ucap Darren sambil tersenyum tipis.
Cup
Darren langsung mencium pipi kanan Ziva lalu menjauh. Ziva langsung memegangi pipinya dengan rona wajah yang memerah.
Bersambung......
Maaf bila alurnya tidak sesuai 🙏
__ADS_1