
Ziva duduk termenung di balkon lantai 4 sambil menatap indahnya langit malam. Ia sama sekali tidak tahu harus berbuat apa untuk memperbaiki hubungannya dengan Darren. Memang akhir-akhir ini miss komunikasi diantara keduanya tidak berjalan dengan baik, bahkan bisa dikatakan keduanya hanya saling diam tanpa adanya sapaan ataupun obrolan.
Tidak hanya itu, kerinduan Ziva kepada keluarganya pun turut luput menambah kesunyian dirinya dan bisa dikatakan sudah menjadi-jadi, bahkan ia ingin sekali mendengar suara, tawa kakek tercinta yang selalu memberikan candaan untuknya. Dan ayah yang selalu bersikap tegas, tapi tetap saja memberikan perhatian dan kasih sayang untuknya dan untuk ibunya tidak ditanya lagi karena kasih sayang seorang ibu sepanjang masa.
Terukir senyuman dibibir gadis yang sudah berstatus sebagi istri Darren, mana kala membayangkan momen ia bersama dengan keluarganya.
“Semoga kakek, ayah dan bunda tidak khawatir kepadaku”gumam Ziva dengan tatapan sendunya.
“Aku ingin sekali menghubungi mereka, tapi aku tidak enak hati untuk mengatakan kepada mama Ratu bahwa aku sangat rindu kepada keluargaku. Lagian perjanjian kami belum juga terlaksana. Ya Allah, mohon berikan jalan keluar untuk masalah ini, hamba hanya mampu bersabar dan berserah diri kepadamu Ya Allah, Aamiin ”ucap Ziva sambil membasuh wajahnya dengan tangannya.
Setelah itu, ia pun memilih berjalan masuk menuju ruang tamu, karena angin malam mulai menusuk permukaan kulitnya. Dan di dalam ruangan lebih nyaman untuk menunggu kepulangan Darren yang hampir setiap hari pulang larut malam.
“Ini sudah larut malam kenapa si Alexander belum juga pulang, apa dia setiap hari lembur atau jangan-jangan dia hanya menghindari ku”ucap Ziva yang duduk selonjoran di sopa yang sudah mengenakan piyama tidur dan hijab praktisnya dengan ukuran jumbo layaknya mukenah. Ia duduk sambil menatap ke arah jarum jam yang sudah berputar tepat di angka 11 dan sesekali pandangannya tertuju pada pintu masuk.
Bahkan beberapa kali ia menguap dengan kantuk yang sudah menjalar ditubuhnya.
Tapi tetap saja ia tahan, demi menunggu kepulangan suaminya. Ia tidak ingin lagi saling diam layaknya pasangan yang sedang merajuk. Bahkan sempat-sempatnya Ziva berpikiran negatif terhadap suaminya mana kala, Rissa berbicara ceplas-ceplos tentang Darren yang selalu dikelilingi oleh wanita cantik nan seksi setiap harinya, saat mereka mengobrol bersama di taman. Membuat telinga Ziva memanas mendengar ucapan Rissa, entah itu benar atau salah yang jelas membuat perasaan Zivanna Damanik menjadi kesal.
“Aku harus menunggunya, dia satu-satunya jalan agar aku bisa bertemu dengan keluargaku. Aku tidak boleh jengah, aku harus secepatnya membuat si Alexander mencintaiku”ucap Ziva dengan mata kantuknya.
Ia pun lalu melantunkan shalawat nabi untuk mengurangi kantuknya. Dan tak berapa lama kemudian, iapun tertidur meringkuk di sofa, saking lamanya menunggu sang suami.
Terdengar suara pintu terbuka dan langkah kaki seseorang yang hanya mengenakan pakaian santai, berjalan melewati lorong kamarnya. Sampai-sampai ia melewati sosok istri yang tengah menunggu kepulangannya. Darren sempat menghentikan langkahnya di depan pintu kamar dan berbalik menatap ke arah sang istri yang tengah tertidur pulas.
Darren sempat mengerutkan keningnya melihat sang istri tengah tertidur meringkuk di sofa.
“Apa dia menungguku” ucap Darren lalu berjalan menghampiri Ziva.
Darren sempat membungkukkan badannya menatap Ziva yang tertidur di sofa. Terukir senyuman di bibirnya melihat tingkah Ziva yang meringkuk bagaikan bayi kecil di sofa itu.
“Kau sangat cantik, aku bahkan tidak ingin membuatmu kedinginan di sofa ini” ucap Darren lalu mengangkat tubuh sang istri dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Dengan hati-hati Darren berjalan menuju tempat tidur, namun langkahnya terhenti manakala Ziva terbangun.
“Kau sudah pulang” ucap Ziva sambil menatap Darren.
“Hemm”ucap Darren yang sama sekali tidak ingin bersitatap dengan Ziva.
“Aku ingin turun, sepertinya kau sangat lelah bekerja seharian”ucap Ziva memelas.
Darren menurunkan Ziva, lalu ia berjalan menuju ruang ganti.
“Apa dia masih marah”.
Kemudian ziva menyusul Darren masuk ke ruang ganti. Ia mengamati Darren mengenakan piyama tidurnya, sedangkan Darren tidak menghiraukan keberadaannya.
“Apa kau sudah makan?”tanya Ziva yang sedang bersandar di lemari pakaian.
Darren tidak menghiraukan ucapannya, ia lebih memilih keluar dari ruang ganti lalu naik ke tempat tidur.
Sementara Ziva hanya mampu menatap kepergiannya yang sudah diacuhkan.
__ADS_1
“Apa pengusaha....aduh maksudku si Alexander masih marah kepadaku. Sepertinya lelaki itu pendendam dan belum bisa memaafkan ku. Baiklah jika kau masih merajuk, aku pun akan mengikuti caramu”gumam Ziva dengan wajah masamnya.
Kini Ziva sudah berada di samping Darren, dengan posisi saling memunggungi yang sedang berbagi selimut. Keduanya saling diam, tapi melakukan aksi tarik-menarik selimut. Ziva begitu bersemangat ingin menguasai selimut itu, sementara Darren mulai kesal dengan tingkah Ziva yang kekanakan. Darren lalu melepaskan selimut itu, hingga membuat Ziva hampir saja terjatuh, untungnya dengan sigap Darren menangkap tangannya.
“Tidurlah, jangan bertingkah seperti anak kecil”ucap Darren yang sedang menatap tajam ke arah Ziva.
Ziva hanya mampu menyembunyikan wajahnya di balik selimut.
Kau sendiri yang memulai menarik selimut ini, aku pun tidak terima dan sekarang kau malah menyalahkanku, dasar si Alexander ogol. Aku benar-benar kesal kepadamu, aku bahkan ingin memukul wajah menyebalkan mu itu…hufh…huffh. Batin Ziva yang sudah mengepalkan tangannya di balik selimut.
“Astagfirullah, ini tidak benar, bisa-bisa semuanya jadi runyam”gumam ziva yang geleng-geleng kepala sambil melirik Darren yang sedang memejamkan matanya.
Tak berselang kemudian Ziva mulai tertidur diselingi dengan dengkuran halus. Sementara Darren kembali membuka matanya dan malah memiringkan tubuhnya untuk menatap sang istri yang tengah tertidur pulas.
“Aku dapat membaca pikiranmu, sepertinya kau sangat kesal kepadaku”ucap Darren dengan sedikit senyuman . Dan jari-jari tangannya mulai bergerilya di wajah sang istri.
“Kau milikku, aku bersumpah akan membuatmu bahagia bersamaku”ucap Darren lalu mencium kening sang istri.
Setelah itu, ia pun menurunkan egonya untuk tidak merajuk lagi kepada Ziva, lalu dengan penuh kerinduan Darren memeluk sang istri.
"Aku sangat merindukanmu, bahkan aroma tubuhmu begitu memabukkan. Aku bahkan menyesal melewatkan malam ku tanpa memelukmu " ucap Darren dan sesekali mencium punggung sang istri.
"Selama ini, aku belum yakin dengan perasaanku, apakah aku sudah mencintaimu atau tidak, yang jelas kau anak musuhku, aku tidak ingin menelan ludah ku sendiri dan satu-satunya cara dengan menghindari mu seperti ini "ucap Darren yang kembali mengeratkan pelukannya. Hingga ia pun ikut tertidur dan terbuai dalam mimpi.
Sementara di tempat lain....
Riko beserta 5 anggota The Tiger sudah berada di negara A tepatnya pukul 21.00 waktu setempat. Mereka semua memilih menginap di salah satu perumahan elit di pusat kota yang merupakan rumah singgah yang sempat Tuan Alvin beli dari rekan bisnisnya.
Namun rumah tersebut tetap dirahasiakan dari keluarganya, berhubung karena ia hanya membantu rekan bisnisnya dengan cara membeli rumah mewah tersebut. Dan hanya Riko yang tahu lokasi rumah tersebut.
"Apa rencana kita selanjutnya tuan" tanya salah satu anggota The Manik yang bernama Qiyas.
"Kita harus menghubungi terlebih dahulu Tom, setelah itu, kita mulai bertindak. Sepertinya ini sudah larut malam, lebih baik kalian istirahat saja" ucap Riko yang mulai bangkit dari duduknya.
Lalu mereka semua bubar dan masuk ke kamar mereka masing-masing.
Pagi harinya.......
Seluruh keluarga Alexander sedang menikmati sarapan bersama. Rissa dan Sarah turut hadir bersama mereka. Dan rupanya hari ini mereka menunggu kedatangan Fino untuk melakukan fitting baju pengantin, karena rencana pernikahan mereka yang beberapa Minggu lagi akan dilaksanakan.
"Darren, mama ingin mengajak istri mu ikut bersama kami berbelanja di butik. Apa kami boleh membawanya" ucap nyonya Ratu sambil tersenyum ke arah Ziva.
Ziva mulai melirik kearah Darren yang sama sekali belum memberikan jawaban. Darren pun menatap ke arah Ziva yang juga sedang melakukan hal yang sama. Dengan cepat Ziva gelagapan dan langsung meminum segelas air putih hingga tandas.
"Bagaimana sayang, apa kamu mengijinkan nya" ucap nyonya Ratu.
Darren hanya mampu mengangguk sebagai jawabannya.
"Yeeay Darren mengizinkan Ziva ikut bersama kami" ucap Rissa antusias.
Sementara Sarah tampak mengepalkan tangannya.
__ADS_1
Sepertinya semua orang menyukai Ziva, ini tidak bisa dibiarkan, Rissa dan Tante Ratu harus berpihak kepada ku. Batin Sarah.
Apa benar dia mengizinkan ku. Batin Ziva yang masih saja melirik Darren.
Sementara Darren mulai bangkit dari duduknya. Dan tak lupa menggenggam tangan Ziva dengan tatapan tajam.
"Aku ingin mengantar suamiku ke depan" ucap Ziva yang sedikit berbasa-basi sambil berjalan beriringan bersama Darren.
"Ya pergilah sayang, kalian begitu romantis" ucap nyonya Ratu sambil menatap kepergian mereka.
"Bibi sepertinya mereka sudah baikan, Darren bahkan terus menatap Ziva" ucap Rissa.
"Aku permisi ke toilet" ucap Sarah lalu berjalan menuju toilet kamar tamu.
Ada apa dengannya, tidak biasanya dia bersikap aneh seperti ini. Batin Ziva.
Darren lalu mendorong tubuh Ziva ke dinding. Tangan satunya mengunci pergerakan Ziva.
"Jangan coba-coba untuk kabur, jika itu terjadi kau akan tahu akibatnya" ucap Darren dengan ancamannya.
"Lepaskan tanganmu, para pelayan melihat ke arah kita" ucap Ziva yang malah memperhatikan para pelayan melihat ke arahnya tanpa peduli dengan ucapan Darren.
Sarah pun menghentikan langkahnya, saat mendapati pasangan suami istri itu sedang berdebat.
"Hei kau bisa terlambat, lepaskan tanganmu, dari tadi pelayan menatap ke arah kita" ucap Ziva kesal yang lagi-lagi tidak suka menjadi bahan perhatian.
Darren hanya menatap tajam Ziva, sementara urusan pelayan dia hanya mengibaskan tangannya untuk menyuruh mereka pergi. Seketika itu, para pelayan kembali fokus bekerja dan meninggalkan mereka.
Sementara Sarah masih memperhatikan mereka. Dan tak sengaja Ziva melihat Sarah yang berdiri di pojok sedang menatapnya. Dengan cepat Ziva memberontak, lalu mendorong tubuh Darren.
"Pergilah, aku ingin menemui mama" ucap Ziva yang mulai menghindar. Namun lagi-lagi tangannya di cekal oleh Darren.
"Apa lagi sih...."
Darren langsung menarik pinggang Ziva dan salah satu tangannya menarik cadar Ziva hingga terlepas. Kemudian ia langsung menyerang Ziva dengan ciuman. Darren mencium istrinya dengan penuh cinta, ia sudah lama tidak melakukan hal itu.
Sarah terlonjat kaget melihat mereka. Hawa panas mulai menderu di hatinya. Dia benar-benar terbakar api cemburu melihat mereka sedang bermesraan. Dengan kesal ia mulai menjauh dengan perasaan hancur berkeping-keping.
Setelah dirasa cukup, apalagi melihat Ziva sudah ngos-ngosan, Darren menghentikan aksinya, ia lalu menatap Ziva dengan penuh cinta. Sementara Ziva menjadi gugup di tatap seperti itu. Darren lalu memasang kembali cadar Ziva. Setelah itu, ia berlalu meninggalkan Ziva.
"Uuh.. mengapa dia mencium ku di ruangan ini, pasti para pelayan memperhatikan kami dan Sarah ngapain juga ngintip segala" ucap Ziva yang sedikit kesal.
Kini mereka sudah tiba di butik milik nyonya Ratu. Seluruh gaun bergelantungan dengan indah dalam lemari. Membuat para pengunjung akan berlomba-lomba untuk memilih gaun yang cocok untuknya.
"Aku suka yang ini bibi" ucap Rissa antusias memilih gaun seksi untuknya.
"Rissa..Rissa, kita sedang mencari gaun pengantin yang cocok untuk Sarah" ucap nyonya Ratu.
Sarah hanya tersipu malu dengan perasaan kesal masih menyelimutinya . Sementara Ziva hanya melihat gaun yang berjejer dengan indah di patung-patung butik itu.
Bersambung......
__ADS_1
Ternyata banyak yang nyariin aku😭😭😭
Terima kasih juga kepada teman-teman yang sudah memberikan komentarnya mengenai penulisan author yang amburadul 🙏🙏