
Wajah Rima sembab dan tegang, apalagi saat mas Ulya mencium kening Naura di depannya.
"Maafkan kami, Rima." kata mas Ulya sesaat setelah melepaskan Naura dari pelukannya..
Tak ingin berlarut-larut dalam situasi yang tak menentu, Ulya mengajak Naura pergi dari tempat itu. Ada rasa kasihan yang terselip di hati Naura, hingga dia enggan menerima ajakan suaminya.
"Mas, boleh aku menemani Rima sebentar?"
Dia tersenyum.
"Oke, itu urusan antara sahabat. Jangan libatkan aku, Sayang." ujarnya sebelum berlalu pergi.
"Tapi sayang sekali, yang membuatnya menangis, Kakak." sahut Naura, disambut senyum simpul olehnya. Sekali lagi dia menarik tubuh Naura dalam pelukan, sebelum pergi meninggalkan mereka berdua.
Setelah Ulya menghilang dari pandangan mereka, Naura mengajak Rima duduk di sebuah bangku kecil di bawah pohon palem. Sesaat Naura membiarkan suasana dalam keheningan. Terkadang diselingi isak tangis lirih dari Rima.
Biarkan kesedihan larut seiring air mata yang berjatuhan, membasahi pipinya. Naura hanya menunggu, hingga Rima bisa menghilangkan sendiri, rasa yang menyesakkan dadanya.
"Nur, aku nggak bisa ...."
Naura mengambil nafas panjang. Dia pun tak tahu harus menjawab apa, atas pernyataan Rima baru saja. Dia diam dan mendengarkan dengan baik, semua keluh kesah yang akan diungkapkan Rima.
"Kamu malam ini cantik sekali Nur. Dan akan selalu cantik di mata orang-orang yang mencintaimu."
"Aku iri padamu. Mengapa harus dirimu yang dipilih kak Ulya. Tak bisakah kamu sedikit berbagi padaku."
Naura mendengar sabar kata demi kata yang terlontar dari bibir Naura yang bergetar. Bahkan tampak riasannya mulai berantakan, oleh sisa-sisa air mata yang sulit sekali untuk dihentikan.
"Rima, kamu tetap sahabatku. Kamu sedih, aku juga sedih. Kamu menangis, rasanya aku ingin ikut menangis juga."
"Kamu berhak mendapatkan utuh. Bukan berbagi-bagi, atau terbagi."
"Apalagi tentang tambatan hati kita. Saat ini mungkin kamu bisa mengatakan itu. Tapi kalau kamu memilikinya, sulit bagimu untuk berbagi. Begitu juga dengan diriku. Bukannya diriku mau egois pada sahabat sendiri. Tapi memang perasaan yang kadang membuat kita harus bertindak egois. Bukan hendak menyakiti, tapi demikianlah hendak kita mengerti."
"Apakah itu berarti kamu mau melepaskan kaka Ulya untukku. Atau kamu sama sekali tak mau melepaskannya."
Naura geleng-geleng kepala dengan tersenyum sendu.
"Bukan begitu ... saat ini ada orang yang sangat perhatian padamu. Siap mendampingimu seutuhnya. Apakah kamu tak melihat itu."
"Yang jelas, bukan kak Ulya."tambahnya.
"Aku tak bisa."
"Seandainya aku bertanya padamu ... Apa yang kau pilih, utuh atau terbagi ...."
"Semua orang pasti hendak memiliki yang utuh. Tapi kalau tak mungkin, berbagipun tak apa." jawabnya. Yang membuat Naura geleng-geleng kepala. Rima benar-benar keras kepala, ingin mendapatkan suaminya. Mumpung masih berupa perasaan, sedapat mungkin Naura akan membantu menghalaunya.
"Tentu orang cerdas akan memilih utuh." jawabnya pasti.
__ADS_1
"Andai saja mas Ulya yang meminta, agar kamu bisa menjadi pendamping hidupnya. Mungkin aku bisa mempertimbangkan keinginanmu. Namun jika mas Ulya sama sekali tak berkehendak, apa dayaku untuk merayunya. Aku sangsi kita akan mampu menjalani. Karena pernikahan bukan untuk coba-coba, tapi untuk belajar dengan benar."
Rima terpana mendengar kata-kata Naura. Tak ada lagi yang hendak dia keluarkan. Selain merenungi segala yang menjadi beban pada dirinya. Jika rasa yang dimilikinya itu benar, mengapa selalu saja menyiksa dan menyakitkan. Adakah dia telah termakan oleh cinta yang buta. Tak memperdulikan harga diri dan perasaan sesama.
"Maafkan aku, Nur."
"Tak apa-apa."
"Biasanya kalau aku bersedih aku baca ini.
استغفر الله العظيم
يا مقلب القلوب ثبت قلبي علي دينك و طاعتك
Wahai yang membolak-balikkan hati , tetapkanlah hatikun pada agamamu dan ketaatan padamu.."
"Terima kasih, Nur. Kamu memang sahabatku."
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka di balik cahaya lampu tamaran lampu taman yang ada di belakang hotel tersebut. Bahkan menguping pembicaraan mereka secara diam-diam. Beberapa kali dia mengambil nafas panjang. Dan juga terkadang tersenyum menatap keduanya. Siapa lagi kau bukan Mustofa.
Saat Rima menumpahkan tangisnya dalam pelukan Naura, secara tidak sengaja, Naura melihat tubuh seorang laki-laki yang duduk santai di sebuah bangku yang berjarak sepuluh meter dari mereka. Tubuh yang sudah dia kenal.
"Hai, Mustofa." sapa Naura. Yang membuat tangis Rima berhenti seketika.
"Ngapain kamu di situ."
Dia segera bangkit mendekati keduanya. Inginnya segera menjawab pertanyaan itu, tapi belum juga mulut ini berbicara, kata-kata Naura sudah meluncur lagi.
"Kakak Naura ... kakak Naura ....." jawabnya sambil geleng-gelengh kepala.
"Kok, bisanya kakak jatuh cinta pada pada orang yang cerewet kayak gini." gumam Mustofa yang sempat terdengar keduanya. Membuat Rima sedikit tersenyum.
"Ye .... suka-suka." jawab Naura tak peduli.
"Kak Naura sudah ditunggu kakak tuch ... Masak kak Ulya ditinggal sendirian di pelaminan."
"Haaalllah ... Padahal mau temui Rima, Kan?"
"Tahu aja ...."
"Bagaimana Rima ... nich orang diterima atau diapakan?"
"Sebenarnya aku ke sini mau kasih hadiah ke Kakak. Tapi sepertinya salah waktu dech. Aku bawa balik saja." kata Mustofa sebelum dia akan dikerjain habis sama kakak iparnya itu.
"Gitu ya .... Mana?" tanya Naura.
"Bukan dariku, tapi dari yang punya." jawab Mustofa. Dia memberikan kado mungil itu pada Rima.
"Terima kasih, Kak Mustofa." kata Rima sambil menerima kado itu.
__ADS_1
"Aku temukan itu di mobil. Rupanya kamu lupa membawanya."
"Iya ...."
"Sebenarnya, aku ke sini hendak memberikan kado ini padamu dan mau ucapin selamat padamu. Tapi ... tak tahulah .... rasa ini membawaku ....."
"Sudahlah." ujar Naura.
"Selamat, semoga samawa. Sakinah mawaddah wa rohmah."
"Terima kasih."
"Boleh aku kembali sekarang?"
"Seharusnya ...." ujar Mustofa mengusir. Ach ... rupanya dia masih sakit hati pada Naura, karena pernah dikerjai sama dia, hanya diberi air putih saja, di saat semua mendapatkan minuman jeruk hangat.
Naura melangkah dengan hati yang sedikit bimbang. Sesaat memang dia bisa meredakan rasa yang tumbuh lama pada Rima. Kini ... seolah-olah mulai menjadi obsesi pada diri sahabatnya. Apa cinta yang salah, atau pemilik hati yang tak bisa mengarahkan pada tempat yang benar. Entahlah ....
Sejenak dia berhenti di tengah pintu masuk, memandang Rima yang kini ditemani Mustofa yang tampak dengan tenang, duduk berbincang-bincang.
Sahabat ....
Ingin diriku bercerita padamu. Tentang cinta yang nyata kini. Bukan aku egois, tapi rasa ini membimbingku untuk bersama seutuhnya. Maafkan aku ....
Tuhan
Dulu aku abai terhadap cinta
Bahkan aku tak tahu, apa itu cinta
Aku hanya tahu, rasa ini telah ada
Sejak dia meninggalkanku
Ketika masih dalam masa kanak-kanak
Hari bertambah hari
Hingga desawa tanpa kusadari
Aku menanti
Hingga tak tahu hingga sampai dimana berakhirnya ujung ini
Berlikunya jalan, berlalunya aral bukan membuatku menyesal
Menyadarkanku bahwa penantian itu ada
Dari kita yang memendam rasa tersimpan
__ADS_1
Menyatakan dalam ikatan halal