
Kembali kami ke ruang keluarga, mendapatkan semua sedang bercanda ria dengan si kembar. Bahkan Mustofa terlihat tertawa lepas, meski dengan memegang punggungnya yang masih sakit.
Melihat kami datang, tanpa kupanggil Akmal dan Akram menghampiri.
"Papa .... Mama ...." ucapny bersama-sama.
Mereka mencoba turun dari pangkuan papa Sofyan dan juga Ummi. Sepertinya ingin segera menggapai kami. Akmal yang ada dalam pangkuan papa Sofyan terlihat kesulitan untuk lepas dari dekapannya. Kakek Sofyan rupanya masih sangat kangen, hingga tak mau melepaskan.
Kulihat kebahagian pada wajahnya. Berhasil menggoda sang cucu, yang sudah mulai tampak cemberut. Lama-kelamaan kasihan juga. Akhirnya dilepaskan pula Akmal dengan tertawa.
"Akmal, sini Sayang." panggil kak Ulya sambil menepuk-nepuk pangkuannya.
Dengan wajah yang bersinar cerah, dia berjalan lebih cepat dari biasanya.
Rupanya perkembangan jalan si kembar amat cepat di sini. Kalau dilihat dari usianya saat ini, memang seharusnya mereka sudah mampu berjalan lebih baik dari ini. Maafkan mama, sayang .... Kejadian itu membuat mama terpukul. Hingga melupakan kalian. Semoga kita tak berpisah lagi. Dan mama bisa menksikan seutuhnya tentang perkembagan kalian.
Belum selesai bermonolog dengan diri sendiri, Papa Sofyan .....
"Nur, Papa bener-bener kesepian. Gimana kalau Akmal ikut papa saja....?"kata papa Sopyan.
Sesaat membuat terkejut. Namun saat melihat wajah papa Sofyan yang dia mulai lelah dan nampak semakin tua, membuatku terenyuh pula. Kurasa, aku tak bisa berkutik mendengar permintan papa Sofyan. Itu wajar .... Tapi gimana ya ..... Rasa nggak bisa melepaskannya. Apalagi Akmal yang baru saja ditemukan. Rasa rinduku masih belum terobati. Tapi gimana ngomongnya ....
" Nanti Papa capek?"
"Kan ada mbok Iyem."
Ya ... ya ... ya .... Ini gimana sich papa 😔
Siapa yang tak tersenyum mendengar jawabannya. Maksudnya terssnyum getir....
"Papa, kok sama si mbok." mama Erika menyela.
"Sama mama, Nur." imbuhnya. Sambil memanggil Akmal yang masih dalam pangkuan kak Ulya.
Tapi rupanga dia enggan. Akmal masih asyik bermain dengan kembarannya yang duduk di pangkuanku.
"Kasihan Akmal Pa .... Baru saja bersama kita, ssekarang harus berpisah lagi." jawab kak Ulya bijak.
"Kalau gitu Akram saja, gimana ...?" tawarnya.
Rupanya papa Sofyan tak putus asa untuk mendapatkan satu cucunya.
"Wach ... kalau Akram. Bisa-bisa papa nggak bisa kemana-mana. Dia aktifnya luar biasa."
Terlihat wajah papa sedikit mendung dan sendu.
"Cucu papa, tapi papa tak bisa menimangnya." ujarnya sedih.
__ADS_1
Kita semua tersenyum menanggapi gumamannya, terasa menyedihkan sekali.
"Bukankah ...." kak Ulya melirik ke arah Mustofa yangh sedang asyik ngobrol berdua dengan Rima.
"Gimana kalau dipercepat saja pernikahan Rima, Pa." kata Ulya menggoda.
"Gimana, Rima Mustofa?" tanyanya pada mereka.
Seketika wajah Rima menjadi pucat.
"Iya Rima, kasihan papamu. Sudah kepingin banget nimang cucu."
Rima masih saja diam dengan wajah yang masih tegang. Hingga Mustofa menyadarkan dengan menepuk pundaknya.
"Hai, papa nanya?"
Diapun tersadar. Memandang ke dua orang tuanya dengan sedih.
"Kak, aku mau selesaikan dulu S2-ku dulu. Takut nanti nggak bisa njalanin." jawabnya sambil tertunduk pada Mustofa.
Secara tak sadar, jawaban Rima menyentuh perasaan Naura. Itu mengingatkan kembali pada cita-citanya yang ingin melanjutkan pendidikannya. Namun sampai saat ini belum kesampaian. Menikah dengan Andre, hamil. Masih ada keinginan melanjutkan, hingga papa Sofyan mengurus semuanya. Namun itu juga ditinggalkan, karena ikut orang tua kandungnya. Dan akhirnya menikah dengan Ulya. Sekarang anak-anak sangat memerlukan perhatian. Entah kapan cita-citanya akan terwujud.
"Ma, yang ditanya Rima, kenapa kamu yang sedih?" tanya Ulya menyadarkannya.
"Kamu mau lanjutkan juga." tanyanya.
"Boleh, kok. Aku malah senang."
"Kapan-kapan saja, Mas."
Balik ke laptop ....
"Tuch kan, Nur. Kamu tega membiarkan papa kesepian ...."
Naura hanya senyum-senyum, tak tahu harus menjawab apa. Yang pasti dia tak ada sedikitpun berkeinginan melepaskan keduanya. Bagaimanapun mereka masih membutuhkan dirinya.
"Ngapunten, Papa. Nur nggak sanggup." kata Naura dengan berat. Membuat papa Sofyan merasa bersalah juga.
"Maafkan Papa, Nur." ujarnya kemudian.
"Kalau saya ada urusan di sini, insya Allah akan saya bawa, Pa." kata kak Ulya menenangkan.
"Janji ya Nur." kata mama Erika tiba-tiba.
"Insya Allah." jawabnya.
💎
__ADS_1
Sebenarnya bukan hanya itu yang menjadi pertimbangan Rima untuk mengulur waktu pernikahnnya dengan Mustofa. Entah mengapa, sampai saat ini rasa yang dimilikinya terhadap Ulya masih sulit dihapuskan. Meski dia sudah berusaha. Apalagi dia tahu bahwa Mustofa hanya adik angkat saja dalam keluarga abbah, orang tua Ulya.
Meski berkali-kali Ulya sudah mengatakan padanya, untuk melupakannya. Karena dia sudah memilih Naura sebagi istrinya. Tetapi dia belum bisa merelakan seutuhnya.
Bahkan di sela-sela resepsi pernikahan Ulyapun, dia mencoba mengungkapnya.
"Nur, boleh pinjam suamimu sebentar?"
Naura tertegun dengan permintaan sahabatnya itu.
"Baiklah." jawabnya mencoba untuk tenang.
Sedangkan Ulya hanya menatap heran dirinya, seakan tak setuju dengan keputusannya. Tapi demi tak mengecewakan hati Rima, diturutinya juga kata-kata istrinya. Dia turun dari pelaminan, meninggalkan beberapa tamu yang ingin mengucapkan selamat pada mereka.
Ulya mengajaknya menuju ke sebuah tempat duduk yang ada di tengah ruangan. Namun Rima memaksa Ulya untuk menuju ke halaman belakang ruang resepsi itu. Mau tak mau Ulyapun mengikutinya meski dengan enggan.
Pada mulanya Naura masih percaya pada Rima. Dia berhusnudhon saja, tak mungkin sahabatnya itu mengkhianati dirinya. Namun ketika kedua melangkah keluar ruangan. Da timbul prasangsa yang tidak-tidak menghantui dirinya. Karena yang dia kenal, terkadang Rima suka berbuat yang nekat, bila keinginannya belum tercapai.
Ingin menyusulnya, tapi langkahnya harus terhenti oleh beberapa tamu yang ingin mengucapkan selamat. Dan juga saudara-saudara abbah dan ummi yang juga ingin mengobrol dengannya. Untuk sekian lama dia tertahan. Begitu ada kesempatan, Naura segera menyusul ke tempat mereka.
Belum juga sampai, mbak Binti menghampiri. Dengan membawa si kembar yang sedang menangis. Mau tak mau dia harus mendahulukan si kecil, dari pada keinginannya untuk menyusul suaminya.
"Sayang, sini." kata Naura sambil mengambil Akmal dan Akram ke dalam pangkuannya secara bergantian. Setelah disesusuinya sebentar, keduanya tertidur dengan tenang dimatas kereta dorongnya.
"Mbak Binti, nitip dulu. Nanti aku kembali lagi. Sebentar saja."
"Ya, Nyonya."
Setelah memastikan buah hatinya aman. Diapun menyusul Ulya di taman di belakang hotel. Tempat mereka mengadakan resepsi pernikahan.
"Kak Ulya." ujar Naura setengah berbisik.
Dia tertegun melihat Rima yang menangis dalam pelukan Ulya. Meski terlihat Ulya tak sedikitpun meresponnya. Untuk sejenak dia diam terpaku memandang mereka berdua. Ada kecemburuan yang menggelitik jiwanya. Antara ingin menghampirinya dan mengingatkannya, atau meninggalkan. Semua berperang sendiri mengetuk nuraninya. Beruntung Ulya saat itu melihatnya.
"Sayang, kemarilah." panggil Ulya.
Segera dia mendorong tubuh Rima menjauh darinya.
Naura ingin berlari meninggalkan mereka berdua. Tapi Ulya dengan cepat menghampirinya dan meraih tangnnya. Mengajaknya menemui Rima yang masih diam terpaku menatap ke duanya.
"Rima, Naura ini sudah resmi jadi istriku. Tolong jangan berharap lagi."
"Kak, aku tak bisa menghentikan perasaan ini meski dirimu telah menikah."
Dia diam sejenak, lalu melanjutkan kata-katanya.
"Aku rela meski kakak jadikan yang ke dua."
__ADS_1
Rima ... ... ... .....