
"Mengapa kakak ikut masuk sich?"
"Kangen aja sama jagoannya kakak Devra." ujarnya sambil menyentuh lembut pipi halus baby mungil yang sedang menyusu padaku. Bikin aku aku risih, nggak bisa bebas waktu menyusui mereka. Segera aku tutup tempat asi-ku.
"Kakak gendong satu ya ... biar yang satu ini aku susui."
"Beneran? "
Segera kuberikan baby itu padanya. Kak Ulya sangat gembira. Dia mengajaknya bicara dengan sedikit kata, yang aku tidak mengerti.
"Bunda, aku namanya siapa?"ujarnya pada si mungil yang di tangannya.
"Belum."sahutku
"Aku Akram saja, dan itu saudaraku Akmal."jawabnya dengan wajah penuh keceriaan, 'ngudang' baby awak.
"Nama yang bagus. Akram, artinya yang mulia. Akmal, artinya yang sempurna ... aku setuju saja, Kak."
Selesai yang satu, yang akhirnya tertidur. Mau aku serahkan pada perawat yang ada di ruangan itu. Tapi Kak Ulya ingin juga menggendongnya.
"Sini!" sambil menyerahkan bayi itu kepangkuanku, lalu mengambil bayi yang tertidur dalam dekapanku.
"Tapi, tolong biarkan dia tidur tenang."
"Jangan khawatir, aku hanya ingin menggendongnya."
"Akmal, papa merindukanmu." kata Ulya lirih, yang membuat Naura tersentak, antara bayangan Andre ataukah keinginan Ulya yang terungkap tak sengaja.
Tapi Naura berusaha untuk tenang, agar tak mempengaruhi moodnya ketika menyusui bayinya. Bisa-bisa mereka akan terpengaruh.
Setelah keduanya tampak kenyang dan kembali tertidur, Nur memohon pada kak Ulya agar mereka diserahkan pada perawat yang menjaganya.
"Kak, sudah. Biarkan mereka berdua tidur."
"Papa sayang kalian berdua." ujarnya sambil menyerahkan pada perawat. Terus terang tingkahnya membuatku tersenyum. Tapi hanya bisa menatapnya dengan kepercayaanku yang semakin kuat padanya.
Tak kusangka, saat tiba di ruanganku, telah berkumpul ummi, Abbah, daddy dan mama Efsun. Mereka sepertinya asyik berbincang-bincang. Entah apa yang mereka katakan.
"Nach, ini mereka."kata abbah tiba-tiba, saat kami tiba di tengah-tengah mereka.
"Ada apa, Dad?"tanyaku bingung dengan sikap mereka.
"Bagaimana, Nak Ulya. Kami semua sudah datang, sesuai dengan undanganmu. " kata Daddy.
"Jadi Daddy ke sini atas undangan kak Ulya. Bukan pingin lihat cucunya? ... Naura benar-benar kecewa." Naura sangat sedih, hingga ingin menangis. Maklum lagi sensitif ....
Ups ... mengapa juga sampai keceplosan. Beruntung nyonya Efsun tanggap.
__ADS_1
"Jangan diambil hati sikap daddymu. Orangnya memang begitu, dia paling takut dengan namanya bayi. Maklumlah dia paling geli kalau suruh gendong, takut jatuh. Makanya dari pada kejadian, lebih baik daddymu menghindar. Menunggu mereka lebih besar dikit, agar bisa bermain-main dengan mereka."
O ... O ... jadi ketahuan, siapa daddy Salim yang sebenarnya, Naura tersenyum.
"Sudah Nur. Jangan kamu tanggapi ucapan daddymu. Kalau dia tak mau gendong, Ummi dan abbah yang akan gendong mereka."
Kata-kata umminya kak Ulya yang menentramkan.
"Baiklah, saatnya Ulya ungkapkan semua. Biar nggak terfokus sama hal yang nggak perlu itu."kata abbahnya kak Ulya.
"Siiippp," kata Daddy yang merasa terbela dan yang terpenting terlepas dari masalah.
Kak Ulya yang sedang berdiri di pinggir pintu, terlihat amat menikmati perdebatan para orang tua mereka. Dia menikmatinya dengan seksama dan senyum-senyum sendirian.
Lalu dia berjalan ke arah Nur yang sedang berdiri di tepi ranjang. Kemudian duduk di kursi yang ada. Menatap mata Nur dengan keteduhan. Membuat Nur tersipu, namun ditahan-tahannya dalam senyum dan sikap tenang.
"Kakak, ada apa?"
Dia tak menjawab. Dia hanya meraih ke dua tangan Nur dan menatap wajahnya. Tangan Nur menjadi dingin seketika, tak tahu harus berbuat apa. Dan hanya bisa menyembunyikan rasa gugupnya di balik wajahnya yang menunduk.
Tanpa basa-basi Ulya pun berkata.
"Naura, maukah kamu menjadi istriku."
Sungguh dirinya tak tahu, kalau kak Ulya mengumpulkan orang tuanya dan orang tuaku, ingin melamarku secara langsung.
Nyonya Efsun mendekatinya dan berbisik,
"Jawablah Naura. Kamu berhak menerima maupun menolaknya."
"Haruskah sekarang?"
"Lebih baik."
"Dengan kata?"
"Ya."
"Aku mengerti, Ma."
Ya, itu mengingatkanku pada status ku, yang sudah menjanda di umur yang baru menginjak 22 tahun.
Tapi mengapa aku belum bisa tegas pada diriku. Hingga rasanya masih malu mengungkapkan isi hatiku di tengah-tengah mereka.
"Naura?"kata kak Ulya.
Mau tak mau aku harus berucap dalam kata, mengusir rasa maluku.
__ADS_1
"Baiklah, Nur menerima Kak."
"Terima kasih, Dik."
Ulya memeluk Naura yang masih tertunduk malu dan mengeluarkan sebuah cincin. Ternyata cincin yang sama, yang dia sematkan ketika melamarku kala masih dalam keluarga pak Farhan. Dan yang telah aku kembalikan padanya dahulu.
"Kak."
"Ya, maaf cincin yang sama. Karena aku selalu menganggap dirimu perawan dalam cintaku."
Siapa yang nggak ketawa mendengar kata-katanya.
"Abbah, kapan kak Ulya jadi perayu seperti ini ?"
"Nggak tahu Nur, tanyalah sendiri."kata Abbah santai sambil senyum-senyum sendiri. Lalu mendekati mereka berdua.
"Terima kasih, Nak. Kamu telah menerima Ulya kembali."
🔷
Sudah hampir satu setengah bulan baby twins ku berada di rumah sakit. Dan selama itu pula Naura harus bolak-balik, agar dapat memberikan asi esklusif pada keduanya.
Kadang diantar oleh Ahmad, bila sedang di rumah mama Efsun. Kadang diantar Ulya saat berada di rumah abbah. Dan Devra selalu menemaninya. Dengan alasan kangen ke adiknya. Apalagi sekarang memang sekolahnya sedang libur.
Setelah menunggu dengan sabar selama ini, akhirnya hari ini pun tiba. Mereka sudah diperbolehkan pulang.
Rasanya bahagia sekali, aku, kak Ulya maupun Devra. Ingin di menggendong adiknya, kalau tak di halangi kak Ulya.
"Nanti saja kalau di rumah. Biarkan mbak Faricha yang gendong."
Faricha adalah baby sister yang akan membantu untuk merawat ke dua babyku. Meski pada mulanya aku menolaknya, karena aku sangat ingin bisa merawat mereka sendiri. Tapi Kak Ulya memaksa, agar aku tak kelelahan. Dan dia juga adiknya Mustofa, keponakan abbah yang mereka rawat sejak bayi. Maka dengan terpaksa aku menerimanya.
Untuk rencana pernikahan kami, insya Allah setelah ke dua baby keluar akan dibicarakan lagi. Alhamdulillah sekarang sudah keluar.
Dan abbah menginginkan kami melangsungkan pernikahan dengan mengumpulkan beberapa kolega serta teman-teman kak Ulya di sini.
Meski aku sudah memberi tahu papa Sofyan tentang kelahiran cucunya, tapi entah mengapa, sampai saat ini mereka belum datang.
Terakgir mereka memberi tahu, dalam waktu dekat ini mereka akan datang.
Sementara ini untuk masalah pernikahan, tak. bisa aku memberitahukannya. Takut melukai sahabatku, Rima.
"Dik, papa Sofyan tidak kamu kasih tahu."
"Heeemmmm ... Tak tahu, Kak."
"Rupanya ada yang kamu sembunyikan pada kakak, ya ...."
__ADS_1
"Hanya masalah kecil kok, Kak."