Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
BAB 26 : Janji Suci


__ADS_3

Setelah menghabiskan oleh-oleh dari Naura, mereka masuk masjid kecil itu dan merebahkan diri. Hingga membawanya ke alam mimpi.


Bangun-bangun saat adzan subuh dikumandangkan. Dengan sedikit gelagapan, mereka membuka mata.


"Alhamdulillah ..., rupanya sudah berganti hari."


" Terima kasih Ya Allah, aku masih engkau beri waktu mengisi hari dengan amal. Bimbinglah langkah ini agar berguna bagi hidupku kini dan kelak." bisik hati kecil Ulya.


Mereka segera beranjak menuju kamar kecil dan tempat wudhu. Dingin air yang membasuh muka mereka, memberikan kesegaraan. Sehingga mereka mereka dapat mengikuti sholat subuh berjamaah dengan baik dan tumakninah.


Usai melakukan sholat subuh, mereka bertiga mencari warung lesehan yang biasa menjual nasi gudeg.


Rupanya tak hanya mereka yang bernasib sama, dalam hal gangguan kecil oleh cacing-cacing penghuni perut. Terlihat beberapa warung lesehan yang mereka lewati penuh sesak.


"Sudah, kita ke sana saja." ajak Ulya.


"Ya, tak apa. Mungkin karena memang sudah terkenal lezat, makanya mereka rela mengantre."


Anas segera menghentikan mobil dan memarkirnya di pinggir jalan. Berjejer dengan mobil-bobil yang lain.


Akhirnya mereka masuk, meski harus mengantri.


Tak lama pesanan mereka tiba. Ternyata masakannya benar-benar enak dan cocok di lidah. Makanya warung-warung ini banyak pelanggannya.


"Ahmad, masak kita kumel gini ngikuti pak polisi?" kata Ulya sambil menyelesaikan pincuk (alas makan dari daun pisang) yang kedua.


"Lalu?"


"Kita cari kaos atau batik santai gitu lho."


"Boleh. Dimana?"


"Jangan jauh-jauh. Nanti ketinggalan," jawab Ahmad khawatir, karena dalam pikirannya masih satu. Hasil tes DNA itu. Meski tak bisa melupakan hak perutnya.


"Sekitar sini ada kok. Hanya 500 meter."


"Oke. Tapi kamunya nggak berhenti makan."


"He ... sabar 3 sendok. Tinggal berkahnya, masak dibuang."


Setelah semua menyelesaikan sarapannya, mereka meninggalkan tempat itu.


Memang tepat apa yang dikatakan Ulya. Tak jauh dari tempat itu, ada sebuah butik kecil yang menjual baju batik tulis. Luar biasa , harga sangat bersahabat dan kwalitasnya bagus.


Selesai dari tempat itu. Mereka menuju ke kantor polisi kembali.


Hampir saja ketinggalan, karena sudah jam 7 lebih, mereka baru sampai di tempat itu.


Terlihat dokter Hendra berjalan dengan dikawal 2 orang polisi. Tak lama kemudian rombongan itu berangkat. Memasuki jalanan, yang tampak semakin ramai.


"Kita ikuti saja." kata Ahmad.


Mereka mengikuti mobil polisi yang membawa dokter Hendra ke tempat dia berkantor.


Setelah sampai di tempat itu, Ulya mendekati salah seorang polisi. Mereka berbincang-bincang sejenak.


Lalu polisi itu mempersilahkan dokter Hendra untuk mengambil sebuah dokumen.


Ulya melambaikan tangan pada Ahmad untuk segera mendekat.

__ADS_1


"Maafkan, ini dokumen yang sebenarnya."


Alangkah senang hati Ahmad menerima dokumen itu. Berkali-kali dia mengucapkan Hamdalah.


"Alhamdulillah, terima kasih Dokter. Moga-moga dokter diberikan keringanan hukuman."


"Bisakah dokter memberikan keterangan, karena seorang wanita sedang menantikannya."


Dia menengok kepada kedua polisi disampingnya.


"Silahkan." jawab mereka.


Ahmad memanggil Anas untuk merekam semua keterangan dokter. Sebagai penjelasan dari dokumen yang dibawanya.


"Terima kasih, bapak-bapak." kata Ahmad undur diri. Meninggalkan dokter Hendra dan juga bapak-bapak polisi yang melanjutkan pekerjaannya.


Dengan gembira Ahmad menuju mobil. Mengikuti Ulya dan juga Anas.


"Sekarang kita kemana, Ahmad."


"Ke tempat adikku." kata Ahmad senang.


"Kita nggak kembali ke hotel dulu. Mandi, ganti baju gitu lho."


"Keburu bubar acaranya."


"Ya, baiklah. Untungnya tadi sempat beli baju batik. Ngak kebayang kalau datang pakai baju lusuh gini. Dikira gembel nanti, yang lagi minta-minta sedekah."


Ahmad tersenyum mendengar kedongkolan hati Ulya.


"Alamatnya?"


"KUA tho?"


"Ya, Anas."


"Okay."


"Baiklah, saya mengerti. Tak jauh dari sini." jawab Anas.


"Siapa yang beruntung mendapatkan adikmu?"


"E ... ah saya lupa namanya," jawab Ahmad yang saat itu benar-benar lupa nama yang akan bersanding dengan adiknya. Mungkin karena hatinya benar-benar gembira dengan berita yang dibawanya.


"Nanti juga kamu tahu," jawab Ahmad selanjutnya.


Hanya perlu waktu 10 menit untuk sampai tujuan.


Mobil yang mereka kendarai memasuki halaman KUA. Mereka bertiga turun dari mobil dan melangkah bersama menuju masjid.


Ulya mencoba mendengar dengan seksama. Terdengar dengan jelas orang melantunkan ayat-ayat dari surat Ar Rohman.


Suara itu sepertinya aku kenal. batin Ulya berbisik.


Meski ragu, dia ikuti langkah Ahmad masuk ke dalam masjid.


Tepat di tengah pintu masuk, dia berhenti sejenak. Menyaksikan janji suci itu diucapkan. Dari orang yang mempersunting Naura.


"Saudara Andre Sunarya bin Sofyan Sunarya.

__ADS_1


Aku nikahkan engkau dan aku kawinkan engkau dengan pinanganmu, putriku Naura binti Salim alias Nur Aini fil Islam dengan mahar bacaan surat ar Rohman dan seperangkat perhiasan seharga 5 milyar dibayar tunai."


Tuan Salim menghentakkan tangannya. Dan Andre berucap dengan tenang dan tegas.


"Saya terima nikah dan kawinnya Naura binti Salim alias Nur Aini fil Islam dengan mas kawinnya yang tersebut di atas tunai."


"Bagaimana saksi, SAH?" tanya penghulu.


"SAH," jawab mereka serentak.


Bapak penghulu mengangkat kedua telapak tangan dan menundukkan kepala. Berdoa untuk mempelei berdua dan juga semuanya.


Dengan khusyu', mereka mengamini. Tak terkecuali Ahmad yang telah mengambil posisi duduk di samping pintu masuk.


Sedangkan Ulya masih berdiri, terkesima dengan peristiwa yang baru saja terjadi di hadapannya. Hingga Anas membangunkan dari lamunannya.


"Den."


"Eh, ya. Ada apa Anas," jawab Ulya gugup.


"Aden tidak apa-apa?"


"Kita pergi sekarang. Aku belum sanggup, Anas."


Ulya melangkah pergi meninggalkan tempat itu lupa berpamitan pada Ahmad.


"Baik, Den Ulya."


Anaspun mengikutinya pergi. Dia terlebih dahulu berpamitan pada Ahmad.


"Ada apa, Nas."


"Den Ulya ada keperluan."


Ahmad segera bangkit mengikuti Anas, menemui Ulya yang sudah duduk di dalam mobil.


"Hai, ada apa. Mengapa balik duluan, kita belum makan-makan?"


"Aku sudah antarkan kamu. Sekarang saatnya aku mengurusi diriku. Okay."


"Tapi saat resepsi Naura, aku pasti datang."


"Terserah kamulah. Tapi jangan katakan kalau kamu patah hati."


"Mana mungkin aku patah hati, sama orang yang sudah aku anggap sebagai adikku."


"Assalamu'alaikum ...." Ulya mengakhiri bincang-bincangnya.


"Wa 'alaikum salam ...." jawab Ahmad melepas kepergian sahabatnya itu.


Lalu Ahmad kembali memasuki masjid, mengikuti kutbah nikah.


Sesaat Ulya akan keluar, Andre berbalik ke belakang. Sekilas dia melihat bayangan Ulya. Dia mencoba mengikuti bayangan itu dengan ekor matanya.


Hingga tak menyadari, Naura telah sampai di depannya. Dengan diantar oleh nyonya Efsun. Hendak melakukan sungkeman.


"Wah, Nak Andre sampai sebegitunya lihat dirimu, Naura." goda nyonya Efsun.


Andre pun tersadar. Dan pandangannya kini tertuju pada satu sosok anggun, tertunduk malu, berdiri di hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2