Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
Pengantin Baru


__ADS_3

Apa sih yang tak tampak indah, bila bersama kekasih tersayang. Meski harus berlama-lama menyusuri jalanan yang ramainya bukan main, dengan bunyi deru mesin, dan klakson. Tak mengurangi rasa bahagia bagi pasangan yang baru menikah ini. Pengantin baru gitu lho ....


Itulah yang dirasakan mereka berdua. Meski sudah larut, tak membuat mata Mustofa maupun Rima terpejam.


Untunglah, tak lama mereka keluar dari suasana itu, berganti pada jalanan yang sangat sepi. Hanya terkadang berpapasan dengan satu atau dua mobil, yang berjalan dengan kecepatan tinggi.


"Sayang, kamu sudah sholat tarawih?"


"Belum ..."


"Kita carii masjid atau hotel."


"Masjid." jawab Rima sambil mengedipkan mata berulang-ulang, ditambah senyum manja. Plasss ... Jantung ini kenapa juga mau lepas.


Mach ... kalau seperti ini sich ... bukan ngajak tarawih. Tapi ngajak ibadah yang lainnya. Janganlah kamu begitu, istri sahku. Nanti abang tergoda, ingin memakanmu. Ini kan Romadlon, rugi kalau untuk pacaran. Saatnya banyakin tilawah al Qur'an, sholat atau semacamnya, bukan yang itu ....


"Yang menyelenggarakan sholat malam. Aku pingin tahajud bareng-bareng. Pasti rame .... Lama nggak nikmati suasana kayak gitu." imbuhnya sambil malu-malu kuciang.


"Benar, itu ide bagus." jawab Mustofa sambil mengangkat alisnya. Yang pasti,


meliriknya juga.


Begini nasib pengantin baru pada saat bulan Romadlon. Boro-boro mikirin malam pertama, mau cari penginapan saja, beloknya ke masjid. Dibilang anugrah ... ya anugrah. Dibilang nasib ... yaa ... nasib.


Mungkin ini juga rencana mereka, para orang tua, agar tak bisa menikmati malam pertama. Papa ... Abbah ... Mengapa kasih kita bulan ini ....


Tapi sudahlah, anggap saja termasuk kategori birrul walidain, dalam cabang yang tersangkut pikiran yang ruwet. Hehehe .... Berbakti pada orang tua bukankah jalan untuk bahagia dunia akhirat. Hitung-hitung cari pahala di malam lailatul qodar. Jalani dengan .... IKHLAS. Gitu saja kok repot. Mustofa ... puasa ... puasa ... Titik. Sekarang ...


🎶Syukuri apa yang ada🎶


begitulah nyanyiannya .


Sedangkan Rima merasa bahagia sekali, kalau bukan di jalanan, mungkin dia akan berteriak. Bebas ... bebas, serunya. Tanpa peduli gejolak rasa yang bergemuruh dalam dada Mustofa.


Bagaimanapun dia masih teringat dengan kuat, pernikahan kakanya dengan Naura. Belum sampai resepsi, kecelakaan menimpa mereka. Yang membuat dia sangat sedih, Nur hamil.


Andai saat itu mama dan Erika tak membuat rencana seperti itu, tak mungkin Nur hamil. Itu berat banget tentunya. Makanya, tak mau itu terjadi padanya. Biarlah malam pertama nanti saja, setelah resepsi. Agar tak ada resiko yang berat, kalau ada apa-apa .... naudzubillah min dzalik ... astaghfirullahal adzim.


"Kok, senyum-senyum ...."


"Makasih Mas, dah terima saranku." sambil memeluk Mustofa yang tengah mengemudi. Ups Sayang .... Kamu membuat diriku tiba-tiba terkena serangan jantung.


Dag ... dig ... dug ... 🎶 begitulah bunyinya🎶.

__ADS_1


Masmu ini sudah matia-matian untuk tak menyentuhmu, tapi kamunya yang terus-menerus menggoda.


Bukan Mustofa kalau tak bisa mengemudi meski dalam keadaan setengah jantungnya tercuri. Mana istri tersayang tak hanya memeluk, tapi juga menyandarkan kepalanya dengan penuh kemanjaaan di bahu. Alamat dach ... pikiran ini terguncang, mengembara kemana-mana.


Tenang, sabar, romadlan ....


Tapi inikan malam ramadhan ... bisa berbukakan? .... Oke ....


Ups ... ternyata istriku tersayang tengah dalam mimpi. Makanya dia tak sadar kalau kepalanya jatuh ke bahuku. Ke masjid ... atau ke hotel ya ....


Itu ada masjid, kelihatan gelap dan sepi, hanya ada satpam yang berjaga.


"Pak, di sini nanti menyelenggarakan qiyamul lail?"


"Iya, Pak. jam 01.30 wib. Silahkan ikut, Pak. Insya Allah banyak teman-teman yang akan datang."


"Mereka menginap di sini?"


"Tidak, mereka datang sekitar jam satuan."


"Terima kasih, Insya Allah kita akan ke sini. Mari Pak .... Assalamu'alaikum ..."


"Wa alaikum salam ...."


Untunglah tak berselang lama di menemukan sebuah hotel. Segera saja Mustofa memarkirkan mobilnya di pelataran hotel tersebut.


"Yang, ayo turun dulu."


"Sudah sampai, Mas?"


"Dah. Itu!" Jari dan matanya menunjuk ke arah bangunan megah di depannya.


"Mas, kok hotel." terlihat Rima kecewa sekali, dengan pemberhentian kali ini. Kan tujuan masjid tapi yang di depannya .... hiks hiks hiks. Dia menunduk sedih, dengan muka agak sedikit dilipat.


Rasanya menyenangkan sekali melihat wajah kecewa tapi nggak bisa marah, benar-benar makin cantik dan menawan.


Bukannya Mustofa tak tahu kalau Rima gemetaran, nevers gitu lho. Tapi dasar dianya yang pingin menggoda sang pacar tersayang, atas godaan-godaan yang selalu dilancarkan. Biar impas ....


"Mas perlu istirahat dulu, Sayang. Kamu juga kan?."


"Tapi ini kan Romadlon."


"Ada apa dengan Romadlon?"

__ADS_1


"Banyak-banyakin ibadah, Mas."


"Baik tuh." jawab Mustofa dengan senyum dikulum menatap kekasihnya dengan tipu daya dan penuh kemenangan dan ketenangan.


Wah ,.. Tuch kan pikiran pada ngelantur kalau lagi berduan. Sebenarnya abang juga tak mau membatalkan janji abang sama kamu, kalau tak akan menyentuhmu sampai resepsi diadakan. Kecuali kamu sendiri yang minta untuk dibatalkan. Meski ini harus berjuang keras nich .... Kamunya menggoda terus. Lebih parahnya, kamu menggoda tapi tak merasa. Bingungkan ....


"Oke, sekarang kita ke dalam."


Dengan enggan Rima keluar, mengikuti langkah Mustofa yang memang sudah lelah. Tak perlu ribet mengurus, akhirnya mereka sudah dapat kamar. Biar niatan ibadah nggak terrganggu, Mustofa memesan 2 kamar.


"Mas, kok pesan dua kamar?"


"Gimana ... satu tho ... Oke."


Ternyata dirimu bingung dengan pernyataanmu sendiri. Kesempatan ....


"Oke ... aku balikin. Satu kamar saja."


Apa yang sudah diucap, tak bisa dibalikin lagi. Dengan sangat menyesal ,Rima mengikuti Mustofa yang berjalan senang menuju kamarnya.


Tiba di depan pintu kamarnya, Rima berhenti, memegang lengan mustofa dengan gemetar.


"Ada apa?"


"Mas, masih ingatkan?"


"Iya .... jangan takut. Mas masih ingat kok?"


"Janji nggak ngapain-ngapain."


"Iya .... Kecuali kamunya yang duluan."


"Tak kan!" kata Rima dengan tegas sambil memasuki kamar tanpa melihat Mustofa lagi. Dia menuju sofa. Melepaskan jilbabnya dengan tenang.


Mustofa memperhatikan Rima dengan seksama. Tak ada yang berbeda. mata 2, mulut 1, hidung satu, semua tetap sama. Tapi mengapa sekarang lebih menarik. Sudahlah, makin dipandang, hati ini nanti akan semakin berhasrat. Tak dulu, ingat janji.


Mustofa segera mengalihkan pandangannya dari Rima. Menyiapkan peralatan sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Untuk menyegarkan badan dengan air hangat.


Seharian ini baru mandi pagi saja yang sempat dilakukannya. Apalagi sejak kejadian kecelakaan yang menimpa putrinya, praktis tidak lagi memikirkan akan dirinya, apalagi tubuhnya. Beruntung orang yang ada disampingnya tidak terkena polusi bau badannya.


Lain Mustofa lain pula Rima. Tak merasa dirinya diperhatikan, Rima langsung menuju ke tempat tidur, merebahkan tubuhnya melanjutkan mimpinya.


Hingga tak menyadari kalau Mustofa sudah selesai mandi. Bahkan diapun tak merasa apa-apa ketika Mustofa memercikkan sisa-sisa wudhunya ke wajah Rima

__ADS_1


Puas menggoda, Mustofa menggelar sajadah di samping ranjang. Ingin melaksakan sholat hajat 2 rekaaat., sebelum tidur di sisi Rima, wanita yang beberapa jam lalu telah sah menjadi istrinya.


__ADS_2