Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
BAB 50 : Sandiwara Naura


__ADS_3

"Papa," teriak gadis kecil yang mungkin berumur 4 tahunan. Yang sesaat lalu kulihat fotonya di hp kak Ulya.


Kak Ulya menyambutnya dengan hangat. Mengangkatnya tinggi dan mendekapnya dalam pelukannya. Memberikan ciuman hangat di pipi kakan dan kiri, pucuk kepala dan menyatukan hidung mereka dengan canda.


"Papa, dia mama Devra." jarinya menunjuk padaku.


Kak Ulya melihat padaku dengan sorot keteduhan namun memohon.


Tak dapat kupungkiri kalau dengan melihat anak-anak selalu kudapat kebahagian, apalagi dengan memeluknya.


Aku lulusan permintaan dengan menganggukkan kepala. Lansung kak Ulya tersenyum bahagia. Dengan membisikkan kata-kata di telingaku.


"Terima kasih, Dik. Semoga ini jadi obat bagi Devra."


Lalu dia berkata pada putrinya.


"Ya sayang, dia mama Devra. Kasih salam dan peluk dia."


Tangannya menggapai diriku dengan mata berkaca-kaca.


"Mama, Devra rindu. Kenapa mama menghilang. Nggak pernah temui Devra."


Aku memeluknya dalam dekapanku.


"Mama juga rindu, Sayang. Sekarang mama sudah di sini. Kita bisa selalu bersama."


Kuusap Bulir-bulir air matanya yang mengalir di pipinya.


"Benar?"


"Benar, Sayang."


"Aku sayang mama."


Dia memelukku manja.


"Devra, sini sama papa sayang."


"Aku masih kangen sama mama."


Dia tak mau melepas pelukannya. Hingga kak Ulya meraih dari pelukanku.


"Kasihan adik yang ada di perut mama. Gendong papa saja." rayu nya lembut.


Baru dia mau lepas dariku.


Sedangkan Abba dan ummi terlihat berjalan berlahan ke arah kami.


"Assalamu'alaikum ..., Abba, Ummi." sapaku mendahului.


Belum sempat aku meraih tangannya untuk bersalaman. Mereka telah meraihku dalam pelukannya.


"Alhamdulillah, kamu akhirnya datang juga, Nur."


"Ya, Ummi, Abba. maafkan Nur."


Ternyata kak Ahmad juga beserta mereka. Untuk menjeputku, mama dan daddy.


"Kak."


"Alhamdulillah Naura. Kita akhirnya bisa berkumpul bersama dalam satu keluarga."


"Alhamdulillah, Kak."

__ADS_1


"Kita pulang, yuk!" ajaknya tanpa basa-basi. Aku mulai hafal sifat kakakku ini.


Kita semua menuju ke tempat parkir. Devra masih dalam gendongan kak Ulya. Banyak hal yang dia ceritakan, hingga kami semua tiba di mobil abbah dan kak Ahmad.


Kak Ulya baru akan masuk ke mobil abbah, Devra tiba-tiba minta turun dari gendongan nya.


"Pa, kenapa mama masuk ke mobilnya om Ahmad. Bukan bersama kita?" tanyanya.


Tanpa menunggu jawaban dia berlari menghampiriku, yang sudah bersiap masuk ke mobil kak Ahmad.


"Mama keliru, itu mobil kakek." ujar Devra sambil menunjuk mobil yang satunya. Dimana kak Ulya berdiri.


Aku tertegun sejenak, sambil melirik kak Ahmad dan mama.


"Itu papa lagi nunggu."


Kak Ahmad terus terang nggak bisa menahan tawa melihat tingkah Devra.


"Bilang sama papamu ya Devra, mamamu om bawa dulu."


"Nggak boleh!"jawabnya ketus. Dia menarik ku pergi. Dengan terpaksa aku mengikuti langkahnya sambil menoleh pada mama.


"Ma, ini gimana?" tanyaku. Mama hanya mengangkat kedua bahunya.


"Woi, jaga adikku." teriak kak Ahmad.


Kak Ulya menoleh dan tersenyum menatap putrinya.


"Masak papa dan mama pisahan. Nggak boleh." gerutu Devra sambil menatap kak Ulya marah.


"Gitu kan, Kek, Nek." Dia mencoba mengadukan kami pada abbah dan ummi.


"Bener-bener, bener itu Devra." jawab abbah tenang.


Dalam perjalanan, Devra tak henti-hentinya berceloteh. Yang membuat suasana senja ini makin menyenangkan. Dan diriku semakin jatuh cinta padanya.


Setelah mampir sejenak, untuk sholat maghrib dan isya, serta makan malam di sebuah restoran, kami melanjutkan perjalanan.


Meski sudah beranjak malam, tapi Devra masih juga terjaga, rupanya dia masih ingin melepaskan kerinduanny. Tapi lama-lama dia tertidur pulas di pangkuanku. Lalu kak Ulya mengambilnya. Berganti dia yang memangku nya.


"Sekarang istirahatlah. Tentu kamu capek menghadapi Devra."


"Ya, Kak."


Setelah itu aku sudah tak tahu Apa yang terjadi. Aku sudah tak kuat menahan kantuk. Karena sedari tadi telah menyerang. Tapi kutahan-tahan demi menemani Devra yang tak henti-hentinya bercerita.


"Nach, sekarang sampai rumah."kata kak Ulya membuatku tersadar.


"Alhamdulillah."Jawabku.


Rupanya kami tiba di rumah, sudah sangat larut. Kulihat semua pintu sudah tertutup.


Dan baru aku sadar. Kita berada di kawasan elit. Tak banyak rumah, hanya beberapa. Tapi semuanya terlihat megah dengan halaman luas nan asri. Aku tak tahu, mana rumah daddy, mana rumah abah nya kak Ulya.


Segera aku keluar dari mobil, mencari-cari mobil yang dikendarai kak Ahmad. Tapi bingung juga. Kelihatannya semuanya punya dan sama-sama memarkirkan di depan rumah.


Apalagi pencahayaan di taman yang luas ini hanya remang-remang. Hingga aku tak bisa melihat dengan jelas, mana mobil kak Ahmad.


"Kak, aku mau pulang. Yang mana rumah mama ya ...?"


"Ya, sebentar kita masuk dulu. Nanti aku antar." ujarnya sambil menggendong Devra yang masih tertidur pulas.


Akupun mengikuti mereka, memasuki rumahnya yang sangat megah, tanpa berkata-kata.

__ADS_1


Tiba di dalam, semua menuju kamar ke kamar masing-masing.


"Bisa minta tolong," ujarnya sambil berjalan pada sebuah kamar. Segera kubuka pintu itu. Dan menyalakan lampu yang saklarnya ada di samping pintu.


Kulihat kamar yang sangat indah dengan lukisan dinding bergambar bunga. Dan sebuah ranjang sedang yang artistik.


Dengan lembut dia meletakkan putrinya di ranjang.


"Ambilkan baju tidurnya,"


"Di mana?"


"Di almari kecil itu."


Inikah yang disebut almari kecil itu. Ternyata itu adalah rangkaian beberapa almari. Dengan kekhususan ruangnya. segera kubuka. ternyata disana khusus baju pesta. Lalu pintu satunya lagi, khusus baju seragam sepertinya.


"Pintu yang ada gambar ranjang." kata kak Ulya mengarahkanku. Karena aku masih bingung.


Segera aku membukanya. Dan memang di sana kutemukan baju yang dimaksud.


Kasihan juga melihat kak Ulya yang sedari tadi direpotkan putrinya.


"Biarkan aku pakaian, Kak." aku mencoba menawarkan diri.


"Baiklah."


Dia yang memegang putrinya, sedangkan aku memakaikan baju tidurnya.


Setelah selesai dia menidurkan putrinya dengan lembut. Lalu mencium dahinya dengan penuh cinta. Dan juga dengan membisikkan doa. Lalu merapikan selimutnya dengan berlahan.


Aku hanya memandangnya, jadi tersentuh atas sikapnya yang sangat lembut pada putrinya.


"Kak, boleh aku mengucapkan selamat malam padanya."


"Harus dong, Mama."


"Aaaiiiiissss ...., Kakak."


Kak Ulya berdiri, memberi kesempatan padaku untuk mencium putrinya. Dan membelai wajahnya yang teramat ayu. Sebelum meninggalkannya, aku memberinya satu ciuman kecil di dahinya.


"Selamat malam, Sayang. Mama akan selalu merindukanmu."


Tanpa disadari oleh Naura, Ulya memperhatikan dengan seksama.


Aku tahu, engkau sangat tulus kalau menyayangi seseorang. Tak peduli pada siapa saja. Akan kau berikan ketulusan itu.


Moga-moga itu kau berikan hanya padaku kelak sebagai suamimu. Kelihatannya egois, tapi aku inginkan itu. Agar putri yang tak berdosa ini, menemukan arah jalan hidupnya.


"Terima kasih, Kak."


Berlahan-lahan kita meninggalkan kamar putrinya. Dia menutup pintunya berlahan. Tapi sebelumnya telah mengganti lampu temaran.


"Ayo aku antar."


"Makasih sebelumnya, Kak."


Baru kami akan membuka pintu ruang utama, tiba-tiba Devra sudah berdiri di belakangku.


Menarik bajuku.


"Mama nggak boleh pergi, Devra nggak ingin ini hanya mimpi seperti hari-hari kemarin. Begitu Devra bangun, mama sudah tidak ada."


Aku melihat kak Ulya berbalik dan berjongkok di hadapan Devra ....

__ADS_1


.


__ADS_2