Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
Keluarga Tarzan


__ADS_3

Kalau sudah bermain seperti ini, ... sulit sekali diajak pulang. Terpaksa papa Ulya nunggu sampai mereka benar-benar puas.


"Devra, itu lihat adik. Sudah ngantuk."


"Sebentarlah, Ma."


Sabar ....


Pada Akhirnya, kita pulang hampir jam 10. Nikmati saja dengan hati bahagia.


💎


Kukira kehebohan ini cukup di sini saja. Tetapi ternyata selalu berlanjut dimanapun dan kapanpun.


Seperti  pada saat kami di rumah papa Sofyan. Keluarga abah sedang melakukan prosesi lamaran untuk Mustofa. Kebetulan saat itu Ifroh sedang balik ke kampungnya, melepas kangen. Mumpung  sedang di Indonesia.


''Mas ... Tolong jaga mereka. Perutku  sakit, mungkin agak lama.''


Tanpa menunggu persetujuannya, aku berlari menuju belakang. Nah ... ini jadi masalah. Ternyata kak Ulya belum fokus benar kalau aku berpamitan.


Dia hanya memandang sekilas padaku. Lalu memandang mereka yang duduk tenang mengelilingi papa Sofyan, kakeknya. Aman ....


Pikirnya.


Memang ini bukan acara anak-anak, Membuatnya bosan juga. Tanpa sepengetahuan kak Ulya dan papa Sofyan, mereka berdua pergi meninggalkan ruang pertemuan itu.


Mungkin maksudnya mencari diriku. Sepengetahuan mereka berjalan ke belakang. Disusurilah ruang demi ruang dengan jalannya yang tertatih-tatih. Hingga tiba di beranda belakang yang penuh dengan buah.


Ada sebuah tangga bersandar di sebuah pohon belimbing. Tanpa pikir panjang Akram menaikinya setapak demi setapak, hingga sampai di cabang pohon. Begitu juga si Akmal melakukan hal yang sama.


Hingga pada saat Naura sudah menyelesaikan hajatnya, kembali ke ruang itu lagi. Dia agak bingung, kenapa Akmal dan Akram tak ada di tempatnya.


''Mas, Akram Akmal mana?"


''Lha tadi di pangkuan  kakeknya."


Naura melihat papa Sofyan yang masih mengobrol hangat dengan abah. Tapi tak mendapati keduanya di sana.


''Nggak ada gitu?''


Naura memperhatikan lagi orang-orang yang berada di ruang itu. Mungkin dia kurang teliti. Tapi setelah diamati dengan seksama, tidaklah ia menemukannya juga.


''Apa dia jalan ke depan?''


Secepat kilat Ulya meninggalkan ruangan itu menuju depan. Khawatir terjadi apa-apa dengan mereka.


Beruntung pagar depan tertutup dan terlihat satpam berjaga dengan baik.


''Bapak, lihat anak-anak jalan?''


''Anak-anak ... tidak Pak.'' jawabnya pasti.


Ulya balik lagi ke ruangan itu.


''Bagaimana, Mas?'' tanya Naura cemas. Ulya menggelengkan kepala. Membuat Naura bertambah cemas.


Terakhir bersama papa Sofyan.  Dengan hati-hati, Naura mendekati papa Sofyan. Ingin bertanya padanya.  Agak nggak sopan sedikit. Tak tahulah ....


Karena dia benar-benar khawatir tentang keadaan putra kembarnya.


''Ada apa, Naura.'' tegur papa Sofyan pada Naura yang masih berdiri bengong.

__ADS_1


''Papa, lihat Akmal Akram."


''Tadi, sama papa. Tak tahu sekarang." jawabnya sedikit panik juga. Yang membuat Abah juga ikutan panik.


''Terakhir sama siapa?"


''Tak tahu, Ba.'' jawabnya dengan panik.


Mama Erika yang sedang menata makanan di atas meja, dibantu Rima, agak terkejut mendengar itu. Dia pun menghampiri.


''Ada apa, Pa.'' tanyanya.


''Ini Akmal Akram. Mama tahu?'' jawab Sofyan.


''Coba cari di seluruh ruangan.'' kata mama Erika seketika.


Jadilah semua orang meninggalkan tempatnya. Menyusuri setiap ruang yang ada di rumah itu. Tak perduli papa Sofyan, mama Erika, Rima, Mustofa, Ulya, Abbah, Ummi, bibi Emire, semuanya ikut berpartisipasi. Termasuk Devrapun ikut mencari.


Ulya, Mustofa, Rima menyusuri kamar atas. sedang yang lainnya mencari di ruang perpustakaan, mushollla kelurga, kamar mandi, kamar tamu. seluruh ruang di datangi tanpa terkecuali. Akhirnya semua kembali ke ruang semula dengan tangan hampa. Tampak wajah lelah dan lesu semua.


''Di mana sih kalian?'' gumam Naura agak putus asa.


Melihat tamunya tampak lelah, papa Sofyan berinisiatif  mengajak mereka, menikmati hidangan terlebih dahulu.


''Mari, semuanya kita makan dulu." ajak papa Sofyan.


Sontak semua menggelengkan kepala. Sambil berkata,


''Nggak selera." jawab mereka hampir bersamaan. Membuat papa Sofyan mundur teratur.


Bi Iyem yang membantu mama Erika menyiapkan hidangan terbengong-bengong melihat tamu-tamu majikannya tampak lesu.


''Mbok, lihat Akmal Akram.''


Dia diam, seperti berfikir.


''Tidak, Den Ayu.''


Lalu dia kembali lagi ke dapur. Yang letaknya mesti melewati beranda belakang.


Agak terkejut juga waktu ada bilimbing-belimbing berceceran, dengan jumlah yang cukup banyak dan juga daun-daun hijau yang berjatuhan.  Dia mendongak ke atas. Terlihat di sana dua anak manusia, sedang asyik menikmati buah belimbing yang ada di dekat mereka. Tak peduli mentah atau masak, semua digigitnya.


Ingin dia berteriak, tapi takut mengagetkan keduanya. Segera dia berlari kembali, menemui Naura yang masih bingung sedih.


''Den Ayu, sini.'' teriaknya. Membuat semua menoleh. Dia menggandeng Naura. Berjalan dengan cepat ke arah beranda belakang rumah. Karena penasaran, semua mengikutinya.


''Lihat itu, Den Ayu.'' tangannya menunjuk ke arah pohon belimbing.


Sontak semuanya terkejut. Melihat Akmal Akram tengah asyik santai di atas sana. Tapi bi Iyem sudah melarang mereka untuk berteriak, bisa jadi akan membuat mereka terkejut. Dan bayangan yang paling fatal, mereka kaget dan jatuh. Na udzubillah ...


Keduanya bingung melihat banyak orang di bawah. Tanpa mereka sadari Ulya sudah menaiki tangga dan sudah di depan mereka.


''Tenang di situ, Akmal Akram.'' kata Ulya menenangkan. Berlahan dia raih Akmal terlebih dahulu. Karena yang paling dekat dengannya. Setelah itu turun. Memberikannya pada Naura. Sementara itu Mustofa segera naik, ingin mengmbil Akram yang masih berada di atas pohon.


Sontak Akram menjadi takut, dia ingin menghindar dengan naik ke dahan yang lebih tinggi. Tanpa sengaja kakinya menyenggol tangga yang dinaiki Mustofa.


Gedubrak .....


Akhirnya tangga itu jatuh menimpa tubuh Mustofa yang jatuh terlebih dahulu.


"Kak ...." teriak Rima.

__ADS_1


Mustofa hanya nyengir kuda sambil menahan punggungnya yang cukup sakit.


"Nggak apa-apa." jawabnya. Menyembunyikan rasa sakit yang dideritanya dari kekasih yng akan jadi tambatan hatinya.


Rima segera menghampirinya dan membantu berdiri. Rupanya cukup membuat punggung Mustofa terasa sakit. Dengan tertatih dia menjauh dari tempat itu. Meninggalkan tangga yang bengkok tak karuan.


Cukuplah Rima yang menolong Mustofa. Semua masih terfokus pada keadaan Akram yang masih di atas pohon. Dengan ketidak tahunnya, dia terus memanjat dahan yang lebih tinggi. Membuat Naura bertambah was-was.


"Mbok, tolong ambilkan kambal di ruang tamu!" perintahnya. Dia segera mengalihkan Akmal ke pangkuan nyonya Erika.


Entah Naura sadar atau tidak,dengan lincah dia memanjat pohon itu tanpa tangga. Dan mencoba menggapai Akram yang semakin tinggi mencapai pucuk dahan.


"Yang ...." seru Ulya terpana.


Baru kali ini menyadari, kalau istrinya pandai memanjat pohon persis tupai. Tak hanya Ulya, hampir semua. Bahkan Mustofa yang sedang merasakan sakit, dibuatnya melongo. Hanya satu orang yang senyum-senyum melihat aksi Naura. Siapa lagi kalau bukan Rima, yang mengenalnya sejak mereka remaja.


"Tolong, kambalnya ikuti gerakan Akram!" intruksi Naura.


Teriakkannya cukup menyadarkan mereka yang sesaat lalu terlihat terbengong-bengong.


"Ayo ...." seru papa Sofyan. Yang segera diikuti oleh semuanya membawa kambal itu tepat di bawah gerakan Akram. Sementara Naura mencoba meraih Akram.


"Akram, ini mama Nak."


Akram yang melihat mamanya memanggil segera menghentikan gerakannya. Dan berbalik, tapi sayang dia belum tahu bagaimana untuk turun. Sehingga tanpa sadar tangan mungilnya melepas dari dahan yang dia pegang. Buuukkkk ....


Dia jatuh terduduk di tengah-terngah kambal yang sudah terhampar dan dipegang kuat oleh mereka semua.


"Alhamdulillah ...." teriak mereka bersamaan. Yang membuat Akram bingung lalu menangis keras. Umi segera meraih dalam gendongannya. Dan membawanya ke dalam, yang di ikuti semuanya. Meninggalkan Naura yang bingung bagaimana cara untuk turun.


"Yang, ayo turun ...."


"Sebentar, Mas. Tangganya-tangganya."


"Lha ... tangganya bengkok ...." jawab Ulya.


Naura sepertinya berfikir keras.


"Baik-baiklah."


Dengan lincah di menapaki dahan demi dahan. Sampai sudah tak ada lagi yang bisa buat pijakan. Naura menjadi binggung apa yang harus diperbuat. Padahal jarak dengan tanah masih 4 meter.


"Mas, tangkap aku ya .... Aku mau lompat." Rupanya Naura benar-benar lupa caranya turun dari pohon. Mungkin naiknya tadi diluar kesadarannya. Begitu kesadarannya kembali, bingung juga.


"Lha ... lha ... gimana ini."


"Baiklah ...." jawabnya gugup.


Tanpa aba-aba terlebih dahulu, Naura meluncur ke arah Ulya. Beruntung Ulya dapat menangkapnya dengn baik dengan segera membuatnya berguling-guling di atas rumput. Hingga Naura berada di bawahnya.


"Makasih, Mas."


Cup ....


Dia mencium bibir istrinya lembut.


"Kalian ini." ucap Ulya.


Hayyyo ....


Untung semua sudah kembali ke dalam. Tak ada yang melihat. Aman ....

__ADS_1


__ADS_2