
"Mbok, mengapa dibawa kembali." kata nyonya Erika kepada mbok Iyem yang membawa napan berisikan makanan itu ke dapur.
Mbok Iyem hanya diam, ingin dia cerita tapi takut merusak selera makan semuanya. Mengingat baru malam ini mereka mau makan.
Tapi kemudian dia mendekati nyonya Erika dan berbisik pelan.
"Maaf Nyonya, den ayu nggak nafsu makan. Dia habis muntah-muntah sepertinya. Lihat nasi sama ayam katanya mual."
Erika terdiam dengan dahi berkerut, seperti memikirkan sesuatu.
"Lalu Naura makan apa?"
"Tadi dia hanya minta mbok untuk meninggalkan jeruk sama anggur."
Nyonya Erika mengangguk-ngangguk, lalu mengambil hampir semua buah-buahan yang ada di atas meja makan. Hanya menyisakan sedikit, sekedar pencuci mulut untuk suami dan juga Rima.
"Antarkan ini semua untuk Naura!"
"Baik, Nyonya."
Meski pak Sofyan maupun Rima bingung, tapi mereka tidak mencegah atau bertanya akan tindakan mamanya.
Mbok Iyem kembali ke kamar tamu menemui Naura. Sesampai disana dia melihat Naura sedang menikmati jeruk dan juga anggurnya.
"Mbok."
"Ya Den Ayu. Ini nyonya Erika kirim buah lagi."
"Makasih, Mbok."
Setelah meletakkan nya di atas nakas, mbok Iyem kembali.
Tak lama kemudian nyonya Erika masuk, menemuinya sambil tersenyum.
"Naura, bagaimana keadaanmu?
"Mama,"
Kembali dia terlihat sendu menatap mama Andre yang menghampiri dan duduk di sampingnya.
Membelainya dan sekali-kali menekan-nekan punggungnya. Membuatnya merasa nyaman.
"Teruskan makanmu. Mama nggak mau kamu sakit."
"Ya, Ma."
Naura mencoba tegar menghadapi semua ini. Dia tak boleh larut dalam kesedihan. Meski setelah ini tak tahu apa yang akan dilakukan tanpa Andre di sisinya.
"Naura, kamu masih mual?"
"Alhamdulillah, sudah nggak, Ma."
"Kita ke kamarmu."
"Maksud Mama?"
"Ya, kamar Andre, kamarmu juga."
Tampak kesedihan mengelayuti wajahnya kembali. Baru pertama ke sini sebagai bagian keluarga. Namun ikatan itu ada tapi orang yang membawanya telah tiada. Membuatnya meneteskan air mata. Dia tak tahu sampai kapan berada di keluarga ini.
"Ma, biarlah ..."
"Jangan begitu Naura, mama akan bersedih kalau kamu bersikap seperti itu. Kamu sudah jadi bagian keluarga mama."
Naura tak tega melihat mama Erika yang terlihat tulus menyayanginya.
"Baiklah, Mama."
"Nach, gitu. Biarlah kamar ini di bersihkan mbok Iyem. Karena mau ditempati Ulya. Dia menginap di sini 3 hari agar bisa berdoa bersama-sama kita."
__ADS_1
Naura segera bangkit, merapikan tempat tidurnya sejenak. Lalu mengikuti mama Erika yang menantinya di pintu.
"Buah-buahan nya di bawa saja."
Naura tersenyum. Karena hanya itu yang bisa masuk ke mulutnya kali ini. Diapun membawanya dengan senang hati.
Dengan setia mama Erika menemani Naura menuju kamar Andre, yang ada di lantai atas.
Kamar yang selama ini tak pernah dimasukinya.
Karena semenjak menikah, belum pernah dia datang ke sini. Datang-datang bersama, hanya mengantarkan jasad suaminya menuju peristarahatan terakhirnya.
"Apa perlu mama temani malam ini, Naura?"
Mama Erika menatap Naura yangh masih mematung di pintu kamar.
"Terima kasih, Ma."
Mama Erika segera meninggalkan Naura di kamar itu sendirian, yang tertegun melihat kamar itu.
Rupanya Andre sudah menyiapkan semuanya untuk menyambutnya. Ada meja rias. Ada almari yang terlihat indah dan bagus, terlihat baru. Dia membukanya, mendapati di dalam telah penuh baju yang dia perlukan.
Dia menuju kamar mandi, membersihkan diri. Yang sehari ini belum di lakukan, kecuali subuh di rumah sakit tadi. Untunglah di dalam kamar Andre ada showwer yang mengalirkan air panas. Sehingga dia bisa mandi dengan air hangat kali ini.
Setelah segar, dia kembali ke dalam kamarnya, melakukan sholat isya' sejenak.
Tak terasa air matanya mengalir tanpa diperintah. Entah mengapa
perasaan kehilangan ini masih sulit terhapuskan.
Astaghfirullah al adziim
Maafkan hambamu wahai Yang Maha Pengasih dan Sayang pada kami
Ku tak bermaksud ingkar akan takdir yang Engkau gariskan pada kami
Hanya ingin mengadukan rasa rinduku padaMu
Sungguh diriku ingin bersandar padaMu , wahai Pemilik jiwa
Bermohon ampunan untuk diriku, suami ku yang telah Engkau panggil dengan cinta dan sayang
Dan keluargaku semua
Serta semua saudara-saudaraku seiman
Salam dan sholawat pada nabi pilihanmu ....
Aamiiin
Lalu diambilnya Al Qur'an, dibacanya berlahan hingga larut malam. Dan berhenti ketika benar-benar lelah. Dan akhirnya dia tertidur di atas sajadahnya.
Alunan bacaan Al Qur'an yang disuarakan Naura, tak sengaja terdengar oleh Ulya. Hingga larut malam ini belum bisa tidur.
Setetes air bening keluar dari ujung matanya yang terpejam. Berlahan dia kelur dari kamarnya. Menatap ruangan atas, yang di tahu itu adalah kamar sahabatnya.
Dia mendengarkan dengan seksama dengan duduk seorang diri di ruang tengah. Sampai bacaan itu menghilang. Dan dia baru mau kembali ke kamarnya. Merebahkan diri berusaha untuk memejamkan mata, namun tak berhasil juga. Masih terngiang-ngiang kata-kata terakhir Andre sebelum menutup mata.
"Jagalah yang kau cinta."
Rupanya Andre tahu, bahwa hatiku untuk satu orang. Dan dia adalah Naura.
Tanpa kamu minta, aku akan selalu menjaganya. Sahabatku ....
Dia segera bangkit dan menuju ke kamar mandi untuk bersuci. Ingin mengadukan semua pada pemilik kehidupan.
Hingga kembali lagi dia mendengar suara Naura yang melantunkan ayat Al Qur'an dengan lembut dan berlahan, di tengah keheningan malam.
Ah ternyata sudah hampir subuh. Dia baru bisa memejamkan.
__ADS_1
💎
Setelah menghirup udara nan sejuk dengan mengelilingi taman kecil di rumah Andre, Ulya duduk santai di beranda.
"Kak Ulya, yok sarapan. Mama sudah nunggu." kata Rima dengan senyum yang masih sendu.
"Ya, baiklah." kata Ulya sambil mengerakkkan badannya dengan menarik tangannya ke atas.
Dan benar, seluruh keluarg sudah berkumpul mengelilingi meja makan. Siap untuk menyantap makanan yang terhidang. Tak terkecuali Naura.
Baru saja makan akan dimulai, Nur tergesa-gesa berlari menuju kamar mandi belakang. Menumpahkan semua isi perutnya.
"Maaf, kalian duluan." kata mama Erika menyusul Nur.
"Ayo dimakan. Nak Andre.." kata pak Sofyan menyadarkan mereka. Yang menyaksikan kepergian Naura dan mama Erika dengan tanda tanya.
Akhirnya mereka menikmati sarapan tanpa Nur dan mama Erika. Alhamdulillah ....
Tak lama terdengar bunyi telpon berdering. Ulya segera mengangkatnya.
Ah, ternyata telponnya Naura. Lupa sejak kemarin belum aku kembalikan.
Tapi ini Sepertinya dari nyonya Efsun. Baiklah kuangkat saja.
"Maaf."
"Nggak apa-apa, silahkan." kata pak Sofyan. Yang memang semua sudah selesai sarapan. Dan Rima sedang beres-beres meja makan.
Ulya menuju teras depan, agar pembicaraan menjadi jelas. Tak lama kemudian dia kembali, menemui pak Sofyan.
"Pak Sofyan, saya mau ke bandara menjemput nyonya Efsun, mamanya Naura."
"Benarkah, Kita sama-sama. Aku juga mau berangkat. Antarkan aku dulu ke kantor, boleh?"
"Terima kasih sekali Pak Sofyan."
Kebetulan mobilnya saat ini dibawa Anas menemui keluarganya yang ada di Sleman. Dia tak ada kendaraan.
"Mama, aku berangkat dulu." kata pak Sofyan mendekati Erika yang tengah sibuk menangani Naura.
Mendengar suara pak Sofyan, dia meninggalkan Naura. Sepertinya masih ingin mengeluarkn sisa-sisa makanan yang ada di perutnya.
"Ya, Pa." Erika menghampiri dan mencium tangan suaminya. Tak lupa pak Sofyan menghadiahi kecupan kecil di dahinya.
Demikin juga dengan Rima, dia tak lupa melakukan hal yang sama.
"Assalamu'alaikum ...."
"Wa 'alaikum salam ...." jawab mereka serempak. Tak terkecuali Naura yang menahan mualnya.
Mereka berdua keluar tanpa diiringi Erika.
"Bagaimana Nur?"
"Mau ke kamarnya mas Andre dulu, Ma."
"Ya, Nur. Mama panggil dokter dulu. Takut ada apa-apa."
Nur berjalan berlahan menuju kamarnya. Berbaring lemah di ranjangnya. Entah mengapa setiap melihat nasi dan lauk dari hewan yang disembelih selalu saja mualnya datang.
Nyonya Erika segera menghubungi Tiara, saudaranya yang berprofesi sebagai dokter kandungan.
Tak lama kemudian, dokter Tiara datang. Memeriksa Naura dengan seksama. Dan meminta Nur untuk melakukan tes air seni.
Nur menurut saja dengan apa yang diminta oleh doktert Tiara.
Dia sudah tak mampu lagi melihat hasil dari tespect. Nur memberikan begitu saja pada dokter Tiara tanpa melihatnya. Lalu merebahkan diri di atas ranjang. Rupanya dia kembali tak sadarkan diri.
Tapi tak lama kemudian dia tersadar kembali. Mendapati dirinya tengah mendapat pelukan erat dari mama Erika. Dan tangan telah tersambung dengan infus yang terpasang disisinya.
__ADS_1
"Terima kasih, Naura. Mama bahagia, kamu mengandung cucuku." dia bicara sambil meneteskan air mata. Terlihat kebahagian terpancar dari wajahnya, Namun ada kesedihan yang dia rasa yang dia sembunyikan. Entahlah ....
Demikian dengan diriku, mendapat kabar itu rasanya bahagia. Tapi entahlah ....