Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
Tengah Malam


__ADS_3

Tepat jam satu malam, Mustofa bangun. Dilihatnya Rima yang meringkuk tenang di sampingnya.


"Yang, jadi nggak kita qiyamul lail." bisiknya, tapi tak sedikitpun bereaksi.


Rupanya Rima sangat lelah, makanya perlu sedikit godaan untuk membangunkannya. Ditowel-towel hidungnya, bereaksi sich .... tapi hanya sedikit doang. Habis itu lanjuuuttt ... tidur. Kalau gini dibangunin dengan apa ya ....


Oke ... Jangan salahkan abang, kalau bikin kejutan untukmu. Mana wajahmu terlalu cantik, apalagi kalau lagi dekat gini. Makin menggoda. Salahnya sendiri tak bangun-bangun.


Mustofa semakin berani untuk menyentuh bagian wajah yang lain. Terutama bibirnya yang merah agak kering, ingin dech ... membasahinya. Eeiiitt ... Horor bin wkwkwk untuk pikiran yang ada niatan ibadah gini. Akhirnya hanya menyentuhnya pakai jari. Dan terus memberi bisikan bernada cressendo. Dari lembut ke keras dengan satu tarikan nafas.


"Sayang, ada kebakaran."


Dan sudah dapat diduga, siapa sich yang tak bangun mendengar suara agak menggelegar seperti itu. Kalau nggak bangun, itu sungguh terlalu.


"Apa, apa Mas. Kebakaran ...." Mata Rima langsung terbuka, gelagapan. Segera bangkit. Sayang disayang kepala Mustofa tepat di atas mukanya. Jadilah ....


Ddhhiiuuukkk....


Kepalanya terantuk dengan kepala Mustofa.


"Aduh, Mas." Rima mengadu.


Mustofa juga melakukan hal yang sama. Habis sama-sama itu kepala nggak bisa dicegah untuk bertemu.


"Yang, kamu kok susah banget dibangunin sich.."


Aduh ... muka ini mau ditaruh dimana. Mana Mustofa begitu perhatian dan manis, gumam Rima dalam hati.


"Susah ya, Mas." Rima makin menunduk.


"Iya. Tapi mas maklum kok. Mungkin kamu lagi capek."


"Iya, Mas." jawabnya sambil malu-malu. Tapi bola mata Rima melirik Mustofa memandang dengan sembunyi-sembunyi. Tanpa Mustofa sadari, dia mencium lembut pipi Mustofa sambil berbisik,


"Maafkan Rima, Mas."


Dug ... dug ... dug ... dugdug ... dugdug ... dugdugdugdug .... kenapa jantung ini berdetak semakin kencang. Godaan lagi ....


Tak ingin berlama-lama dalam suasana yang tak menentu, dirinya merncoba membelokkkan jalan pikiran dengan tajam. Kembali ke laptop, sabar ....


"Sayang, kita jadi qiyamul lail nggak."


"Jadi, dong."


"Ya sudah, siap-siap sana dech."


"Ya Mas." Rima turun dengan malas.


Gemeesss .... Harus kasih semangt nich. Mustofa pun mencium pipi Rima dengan cepat.


"Mas!" teriak Rima yang disambut senyum-senyum saja oleh Mustofa.


"Kenapa! " jawab Mustofa dengan senyum menawan. Membuat Rima segan juga. Segera saja dirinya menuju kamar mandi.

__ADS_1


Tak lama, dia sudah kembali dengan wajah segar dan mata yang bersinar. Ganti dirinya sekarang yang perlu ke kamar mandi.


Karena waktu sudah sangat mendesak, Mustofa dengan segera membersihkan diri, sekalian wudhu. Sehingga keluar dari kamar mandi, sudah segar, rapi dan siap berangkat.


"Ayo, nanti ketinggalan."


Jam menunjukkan pukul 01.20 wib, ketika mereka keluar kamar. Melewati lorong-lorong yang sunyi, dari hotel tempat mereka menginap. Sehingga langkah kakipun terdengar. Beruntung tidak mengganggu penghuni lainnya. Semua masih lelap dalam mimpi dan mungkin tak peduli.


Alhamdulillah, sampai disana qiyamul lail nya belum dimulai. Tapi hampir saja telat, kerena berap detik kemudian, sholat itupun sudah didirikan.


Cukup banyak ternyata orang yang punya keinginan yang sama dengan mereka. Rasanya syahdu benar menikmati malam-malam terakhir di bulan Romadlon. Apalagi bisa berkumpul bersama masyarakat yang memiliki niatan yang sama. Kalau sudah gini, lupa dech dengan keinginan-keinginan lainya.


Hingga sholat subuh selesai dilaksanakan, Rima merasa enggan beranjak dari masjid itu. Dan membiarkan Mustofa yang menunggunya dengan setia di dalam mobil, sambil membaca kitab suci Al Qur'an. Setelah dapat 2 juz, baru terlihat Rima berjalan derngan malas menyusulnya.


"Mas, sudah menunggu lama?"


"Kira-kira perjalanan sini ke kota." jawabnya ringan.


"Maaf ya, Mas. Aku ketiduran."


"Iya. Sudah yuk, kita balik."


"Balik kemana?


"Ke hotel sebentar, habis itu pulang."


"Boleh."


"Biasanya kalau Romadlon gini, keluarga umroh bareng-bareng. Tak tahu tahun ini. Terlalu banyak kejadian. Tapi ... bagaimana kalau kita umroh."


"Aku belum pernah, Mas."


"Biar pernah. Tapi kamu nggak keberatan, kan?"


"Aku senang sekali, Mas."


"Ya, sudah. Habis ini kita persiapan berangkat."


"Oke, Mas."


Setelah membereskan perlengkapan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan penginapan mereka semalam. Mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah papa Sofyan dengan tenang. Sengaja melewati jalanan yang tak biasanya. Untuk menghindari kemacetan dan polusi. Dan lebih menyenangkan lagi ketika bisa menghirup udara pegunungan yang sejuk dan segar di pagi hari.


Tiba di rumah papa Sofyan sekitar jam sepuluh. Rumah masih tampak sepi, hanya pak satpam dan bibi. Ternyata mereka belum datang.


"Bi, papa belum datang."


"Belum, Den."


"Ya sudah, Mas. Kita istirahat dulu. Kita sore kan berangkatnya ...."


"Ya. Biar nggak terlalu lelah. Lelah-lelah sudah bisa berbuka."


"Siiip ...." Rima menuju ke kamar tak mempedulikan lagi keberadaaan Mustofa yang bingung dengan tempat yang akan dia masuki.

__ADS_1


"Yang, itu kamarnya siapa?"


Dengan wajah sendu, Rima mernjawab, "Itu kamarnya kak Andre ...."


"Boleh aku istirahat di sana."


"Hehehe ....." jawabnya sambil berlalu meninggalkan Mustofa dengan tertawa ringan dan lirtikan matanya.


"Sudah sana .... Katanya mau istirahat."


" Habis dhuhur kita persiapan."


Rima menuju kamarnya dengan tenang. Sedangkan Mustofa memasuki kamar Andre. Sesaat dia tertegun melihat suasana kamar yang masih tertata rapi. Bahkan ada meja rias segala. Pasti ini semua untuk kaka Naura.


Karena rasa kantuk yang menyerangnya. Tanpa terasa matanya terkatup sempurna.


💎


Sementara itu, Ulya yang sedang menikmati malamnya di samping tempat tidur Devra. Dia mendirikan sholat tampak khusyu' serta membasahi bibirnya dengan do'a.


Hingga waktu menjelang sahur, baru beranjak dari termpat sujudnya.


"Papa, aku haus."


Mendengar suara lirih Devra, Ulya segera menghampiri, dengan membawa segelas air putih yang selalu tersedia di nakas dekat tempat tidur Devra.


"Kamu sudah bangun, Nak." kata Ulya sambil membantu Devra minum dengan sedotan.


"Pa, kenapa sepi?"


"Ini masih malam. Tidur saja , Sayang."


"Aku kangen mama sama adik. Seminggu tak jumpa mereka."


"Waktu Devra tidur adik ke sini ... Sekarang lagi tidur."


"Ini dimana ... Apa di pesawat kakek."


"Iya. Perjalanannya masih lama. Tidur saja dulu, Sayang."


Selesai memberikan minum,Ulya meniup ubun-ubun Devra berlahan-lahan, sehingga tertidur kembali.


Setelah memastikan Devra nyenyak , Ulya menuju kamar Naura. Ingin melihat keadaan si kembar dan juga istrinya.


Saat membuka pintu, dirinya tertegun melihat Naura sedang asyik menulis dengan masih memakai mukena. Rupanya dia juga selesai sholat malam. Dan melanjutkannya dengan menulis.


Karena asyiknya, hingga tak menyadari Ulya telah berdiri di belakangnya.


"Menulis apa, Ma?" Ulya bersandar di dinding yang ada di depan Naura. Agar dapat melihat apa yang Naura tu!is.


"Oh Papa, ini ... kisah Akram dan Akmal." jawabnya dengan senyum.


Ulya bergeser ke sisi Naura untuk dapat membaca lebih jelas lagi. Diapun senyum-senyum ....

__ADS_1


"Ini anakmu, Ma?" ....


__ADS_2