Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
Ungkapkan saja


__ADS_3

Beberapa kali Mustofa melihat arlojinya. Sambil sesekali melihat ke arah toilet wanita yang ada di ruangan khusus. Yang ditunggunya belum muncul-muncul juga. Rasanya sudah tak sabar, ingin dia menyusulnya ke ruangan itu, tak lain dan tak bukan ruangannya sendiri. Tapi khawatir kalau Rima mengetahui bahwa dialah pemilik restoran itu sesungguhnya.


Setelah hampir satu jam berjalan, baru terlihat wajah Rima nongol dari balik pintu. Terlihat wajahnya semakin cerah. Apalagi dia tak lupa untuk memperbaiki riasanya. Yang sesaat lalu berantakan karena candaan dan tangisan Rima yang tak mampu dibendungnya. Tapi itu semua tak mampu menutupi matanya yang masih sembab.


Dia tersenyum menatap Rima yang berjalan ke arahnya.


Cantik .... Satu kata yang paling cocok untuk dia ungkapkan, pada mahluk satu ini, kata batin Mustofa.


"Kak, aku kembalikan nanti saja sapu tanganmu ya ... aku cuci dulu."


"Kamu simpan saja." jawabnya pasti.


"Kenapa?"


"Masih punya banyak."


"Dasar play boy."


"Terserah." ujarnya sambil tersenyum.


Keduanya berjalan beriringan kembali ke ruangan depan yang kini mulai sepi. Meski masih ada saja pelanggan yang datang, walau sudah selarut ini.


Tak dapat dipungkiri, bahwa dia telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Saat dia dan Ulya menjemput keluarga Rima di bandara. Ingin dia mengungkapkannya, tapi sepertinya saat ini belumlah tepat. Karena sangat terlihat kalau Rima masih berharap sangat pada kakaknya. Rasa itu biarkanlah tersimpan dengan sempurna. Sampai Rima menyadari dengan sendirinya.


Untuk saat ini biarkan berjalan apa adanya. Hanya yang dia khawatirkan, Rima akan berbuat yang tidak-tidak di saat hatinya patah dan mungkin hancur ketika melihat Ulya bersanding dengan Naura di depan matanya.


"Sir, kami pamit dulu." Sapa dua orang wanita yang berpapasan dengannya.


"Ya. Istirahatlah. Jangan lupa besok!"


"Baik, Sir."


Rima mengeryitkan dahinya. Melihat wanita berjilbab yang baru saja menyapa mereka.


"Siapa mereka?"


"Pegawai."


Ups .... Mau keceplosan lidah ini.


"Manggil kamu 'Sir'."


"Ya, itu mau mereka. Masak ditolak."


"Pegawai di mana?"


"Mungkin di salah satu perusahaan abbah. Kan perusahan abbah banyak. Tentu pegawainyapun banyak. Masak harus aku hafal satu persatu."


"Atau jangan-jangan, ini restoran abbahnya kak Ulya."


"He ... he ... he ...." tawa Mustofa lepas. Untuk saat ini dia tak mau menjawabnya.

__ADS_1


Sampai akhirnya mereka tiba di parkiran.


"Kak, aku malas pulang. Bagaimana kalau kita keliling sekali lagi."


"Tidak. Tak baik untuk wanita secantik dirimu." jawab Mustofa tegas. Dia tak ingin wanita yang mulai mengusik hatinya itu salah jalan. Dia membuka pintu untuk Rima. Mau tak mau Rima menuruti kata-katanya, meski dengan enggan.


"Tapi mataku sulit terpejam." protesnya pada Mustofa yang kini telah melajukan mobil masuk ke jalan raya yang mulai lenggang.


"Mandi pakai air hangat, lalu sholat dan tilawah al Qur'an. Insya Allah hatimu akan tenang. Dan kamu mudah untuk tidur."


"Aku tak tahu itu ...."


"Cobalah. Di apartemen, insya Allah sudah lengkap."


"Akan ku coba."


Tak lama, mereka kini telah berada di parkiran apartemen Mustofa, tempat tinggal sementara keluarga Papa Sofyan selama berada di negara ini.


Rima mencoba membuka pintu mobil itu, tapi kesulitan. Karena Mustofa belum membuka kunci otomatisnya. Ditatapnya Rima sesaat, ada rasa kadihan dan sayang yang kini menyelimuti dirinya.


"Rima, bolehkah aku membangunkanmu nanti malam?" sebelum dia membukakan pintu.


"Untuk apa, Kak."


"Sholat. Biar kamunya tenang."


"Boleh, Kak. Terima kasih atas perhatiannya."


Mereka berjalan dalam kesunyian. Menyusuri setiap lorong yang akan menuju ke arah apartemen Mustofa. Dari jauh terlihat papa Sofyan yang mondar-mandir di depan pintu. Terlihat dia sangat gelisah sekali.


"Rima. Itu kamukah, Nak." tanyanya gelisah.


"Ya, Pa. Kenapa papa belum tidur?" tanyanya ketika sudah berada dekat papanya.


"Kamu masih gadis. Siapa yang nggak khawatir, sudah selarut ini belum juga pulang."


"Lagi diajak dinner sama kak Mustofa. Maaf pa, nggak bilang."


"Dinner, tapi kenapa matamu sembab."


"Nggak ada apa-apa, Pa."


"Kak, makasih untuk dinnernya. Kapan-kapan lagi boleh ya ...." kata Rima sekedar berpamitan.


Mustofa yang mendapat sapaan yang demikian, dibuatnya kikuk juga. Masalahnya, Rima melakukan itu di depan orang tuanya.


"Boleh, sekarang tidurlah." jawab Mustofa.


Hati orang tua mana yang tidah terrenyuh, melihat putrinya beberapa hari ini seakan hilang senyumnya. Untungla ada Mustofa yang setia menemani dan menjaganya. Tapi bagaimanapun itu orang asing baginya. Dan mereka masih sangat muda ....


Khawatir terjadi apa-apa ....

__ADS_1


"Maaf, Papa Sofyan. Saya mau balik dulu."


"Mengapa terburu-buru, Nak. Bukkah ini apartemenmu ... Boleh bapak ditemeni bincang-bincang sebentar?"


Mustofa berfikir sejenak, sebelum menjawab tawaran dari papa Sofyan. Dilihatnya Rima berhenti berjalan menaiki tangga, menuju kamar yang ada di sebelah kamarnya. Ketika tatapannya beradu, Rimapun melanjutkan jalannya. Baru dia menjawab tawaran papa Sofyan.


"Dengan senang hati ...."


Baik Mustofa maupun Papa Sofyan merasa kikuk juga, manakala menentukan siapa yang akan mempersilahkan. Akhirnya Mustofa yang lebih dahulu mengajak duduk papa Sofyan. Agar obrolan mereka bisa fokus.


"Pa, aku buatkan kopi dulu ya ...." tiba-tiba Rima sudah kembali muncul di hadapan mereka.


"Boleh ... boleh ... nak."


Rima pergi meninggalkan papa Sofyan dan Mustofa di ruang tamu, menyiapkan minuman sebagi teman mengobrol mereka berdua


Sebentar kemudian, Rima sudah kembali dengan napan yang berisi dua cangkir kopi dan juga makanan kecil yang dia temukan di dalam kulkas. Mungkin makanan kecil itu sudah Faricha siapkan untuk keluarganya. Tak tahulah. Rima ambil saja, biar lengkap teman ngobrolnya.


"Nich, Kak ... Pa."


"Makasih, Nak."


"Sekarang sudah pergi tidur nggeh .... Nanti malam biar bisa bangun." ujar Mustofa sambil bercanda.


"Ya ... ya ... aku tahu."


Rimapun pergi meninggalkan mereka, menuju ke kamarnya.


Semua perhatian Mustofa yang diberikan pada Rima, tak lepas dari pandangan papa Sofyan. Untuk sesaat dia terkesima, tapi juga senang. Karena anak gadisnya yang saat ini sangat galau ada yang memperhatikan dengan tulus.


Dengan tanpa ragu papa Sofyan pun berkata,


"Nak Mustofa belum punya pacar?"


Mendapat pertanyaan seperti itu, membuatnya tersenyum sendiri. Harus jawab apa ....


Akhirnya dia mencoba memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang menjadi pikirannya.


"Sebenarnya saya hanya ingin mencari mendamping hidup saya. Bukan hanya sekedar pacar."


Papa Sofyan manggut-manggut. Mengerti apa yang dimaksud Mustofa.


"Apa nak Mustofa serius dengan Rima, anakku?"


"Kalau papa Sofyan mengijinkan."


"Orang tua mana yang tak suka dengan keseriusan pemuda sepertimu, Nak Mustofa."


Lalu papa Sofyan menghentikan sejenak kata-katanya. Mengambil nafas panjang dan menghempuskannya berlahan.


"Tapi, saat ini hati Rima masih belum move on dari Ulya. Dan juga masih kuliah S2."

__ADS_1


"Saya akan coba sabar menunggu,"


__ADS_2