Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
Krucil Ceria


__ADS_3

"Kenapa ... setiap ketemu kamu, kamunya lagi nangis."


"Kenapa juga setiap lagi sedih, kamunya nongol."


"Berjodoh kale ...."


"Maunya ...."


"Menyaksikan yang dicinta menikah di depan mata."


"Jangan menyindir."


"Kenyataan."


"Bagaimana dengan Kulsum."


"Lupakan ...."


"Sebegitu mudahnya ...."


"Harus. Karena tak mungkin."


"Bukankah dia masih berharap."


"Seandainya demikian. Minggu depan dia sudah married. Ini undangannya."


Mustofa mengeluarkan sebuah undangn merah jambu pada Rima. Membuatnya senyum-senyum, mentertawakan tingkah Mustofa yang seperti tanpa beban, ditinggal pacarnya menikah. Dia begitu mudah, sadangkan diriku seakan terhimpit. Mungkin karena kita beda gender.


"Kapan kamu balik?"


"Tak tahulah. Mungkin minggu depan. Mumpung di sini mau puasin liburan sekalian."


"Boleh aku antar?"


"Wah ... kebetualan."


"Tapi ada saratnya?"


"Apa ...."


"Temenin aku di pernikahannya Kulsum."


"Syarat diterima."


"Pasrah kali."


"Lagi suntuk. Kurasa ini sebuah hiburan yang menyenangkan."


"Kamu malam ini juga sangat cantik. Tak kalah dengan kakak Naura."


Mendengar kata itu, Rima menatapnya dengan tajam dengan mulut menganga dan tawa yang tak mampu dia tahan.


"Ups ...." lontaran rayuan yang lepas kontrol dari mulut Mustofa. Dan kini ingin dia hapus. Tapi terlanjur Rima mendengar.


"Kamu nguping pembicaan kami ya ....."


"Nggak sengaja mendengar."


"Mau mengelak."


Mustofa tertawa lepas.


"Oke, ya ....."


"Jawaban terpaksa."


"Mau gimana lagi. Dibilang tidak, adanya kamu nggak percaya."


Rima tertawa lepas lagi, sambil menutup mulutnya.


"Sudah-sudah, terlena pula aku akan rayuanmu."


"Nggak biasa ...."

__ADS_1


"Merayu?"


Mustofa menatap langit, "Ya."


"Benarkah .... Tapi gonta-ganti pacar."


"Bukan aku yang meninggalkan mereka. Tapi merekalah yang meninggalkanku."


"Kasihan ...."


"Situ juga."


"Kurasa aku baru jatuh cinta sekali ... dan gagal ... begitulah."


Rima diam. Sesaat kemudian dia menatap langit juga, yang indah dengan bintang. Lalu matanyapun terpejam. Dari sela-sela sudut matanya, terlihat bening embun menetes lembut, mengalir membahasi pipinya sekali lagi.


"Maafkan aku." sambil menyodorkan sapu tangannya.


"Tak apa." jawabnya sesaat setelah menghapus air mata dengan sapu tangan yang Mustofa tawarkan.


"Tak baik menangis di tengah-tengah sahabat sedang berbahagia .... "


Rima hanya diam. Dia memandang Mustofa dengan kehampaan.


"Kita nikmati dengan makan-makan, yuk. Keburu habis nanti." ajaknya yang membuat Rima tertawa.


Sebentar menangis, sebentar tertawa.


Sebenarnya kasihan. Tapi gimana ....


Ya Tuhan ....


Tolong dia ....


Doa kalbunya, menatap sedih wanita yang kini ada di hadapannya.


Mustofa kehilangan kata untuk menghibur Rima yang sampai saat ini belum bisa move on.


"Ayo ...." sambut Rima, "Tapi tidak di sini."


Belum sempat mereka beranjak dari tempat duduk, berhamburanlah 3 anak kecil dari pintu. Berlari saling berkejaran mengelilingi mereka.


"Masyaallah ... Kalian kok masih belum tidur juga, sudah malem. Besok kesiangan ...."


"Mama belum nyuruh tidur kok .... Kenapa juga om yang repot." jawab Devra mewakili teman-temennya.


"Itu mama papamu sedang banyak tamu."


"Om sama tante juga ngapain di sini ... Kenapa belum tidur juga." kata Noval menambahi. Bikin Mustofa kelimpungan cari jawaban.


"Di sini indah, cantik sekali bulannya." jawab Rima mencoba menghindar.


"Benarkah?" kata Devra dan Noval hampir bersamaan. Ketiganya langsung menghadapkan wajahnya ke atas, melihat langit yang terang oleh bulan dan bintang yang sedang bersinar.


Secara diam-diam Rima dan Mustofa berjalan mengendap-ngendap tanpa suara meninggalkan mereka. Belum sampai sepuluh langkah, harus terhenti juga oleh teriakan ketiganya.


"Hayo .... Tante sama om mau ke mana ...?" tanya ketiganya. Membuat Rima dan Mustofa saling pandang. Nich anak .... Kok mesti ada sich .... Merusak suasana, gerutu Mustofa.


"Cari makan."


Akhirnya tak bisa tidak, untuk tidak berterus terang pada krucil-krucil, keponakan dadakan ini. Menjadi pengubah suasana yang semula syahdu, mengharu biru, milik keduanya. Kini harus berganti kecerian milik mereka.


"Ikut ...." kata mereka serempak. Tanpa diperintah, ketiganya berlri ke arah tempat parkir. Di mana mobil Mustofa ada.


"Ijin dulu sama orang tua kalian." teriak Mustofa, tapi rupanya tak digubris.


"Om saja yang ijinin, mereka lagi sibuk." jawab Noval mewakili.


Rima benar-benar dibuat senyum-senyum senang oleh tingkah ketiganya yang menggemaskan.


"Tolong ikuti mereka. Aku mau telpon orang tuanya dulu."


"Iya." jawab Rima.

__ADS_1


Dengan langkah lebar dan tergesa, dia mengejar ketiganya. Sementara Mustofa sibuk menghubungi Ulya dan juga Hamdan, sekedar memberi tahukan kalau mereka bawa.


Tak lama kemudian dia menyusul ke tiganya. Ternyata mereka dengan sabar menunggu di sekitar mobil Mustofa yang belum terbuka. Termasuk juga Rima yang duduk di balok di pinggirnya. Sambil bercerita sesuatu pada Devra yang mendengarkannya dengan penuh keseriusan.


"Sudah ayo." ajak Mustofa sambil membuka pintu kedua.


Mereka bertiga masuk dengan gembira, seakan tak sabar lagi untuk keluar dari suasana yang membesonkan. Berada di tengah-tengah pesta orang dewasa.


Tak lama, Rima juga mengikuti masuk ke dalam mobil, duduk di depan, di samping Mustofa.Yang duduk tenang di belakang kemudi.


Secara berlahan dia menjalankan mobil itu meninggalkan hotel, tempat pesta berlangsung. Ada baiknya juga, mereka ikut. Bis menjadi penghibur hati Rima yang lara karena luka.


Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya mereka berceloteh, bermain bergembira. Terkadang main tebak-tebakkan atau yang lainnya. Rima juga jadi sasaran pertanyaan. Mau tak mau, dia terpaksa berfikir mengikuti jalan pikiran mereka. Agar tidak mendapat hukuman dari mereka. Tapi dasar anak-anak, selalu saja menang.


"Kita menang ...." teriak mereka.


"Tante mana bisa menang, 1 lawan tiga. Curang itu ...." sanggah Rima.


"Kan awal peraturan sudah gitu."


Mustofa yang mendengar perdebatan mereka, dibuatnya tertawa gembira.


"Sekarang om yang kasih pertanyaan. Kalau bisa nanti bisa om belikan es krem."


"Asyiiik ...."


"Es krem rasa apa yang enak?"


"Stroberi ...." jawab Novi.


"Belum tepat."


"Mangga ...." jawab Noval.


"Belum ... belum ... ayo apa?"


"Anggur ...."


"Belum juga ...."


"Apa dong Om ..."


"Nyerah ... nyerah .... nddak jadi om belikan es krem ini?"


"Ya ...." sahut mereka kecewa.


"Rasa tuku." celetuk Rima.


"Benar sekali. Berarti tante Rima yang dapat es krem. Kalian tidak ...."


"Ya .... Buat kita ya Tante .....!" mohon mereka dengan wajah polos dan mengiba.


Siapa yang tahan dengan rayuanmu seperti itu. Tak juga dengan Rima.


"Ya ... ya ... itu untuk kalian." jawab Rima.


"Asssyyyyiiiik ...." teriaknya, bikin heboh saja.


"Terima kasih dulu sama tante Rima, baru om belikan."


"Terima kasih, tante Rima yang baik hati."


"Sama-sama."


Dan akhirnya mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Yaitu es krim dari tante Rima.


"Om ... Om .... Itu sepertinya pasar malem. Kita beli es kremnya di sana saja, gimana?" tanya Noval.


"Iya Om .... Besok kita sudah balik. Pingin dech, nikmati komedi putar di sini." kata Novi memelas.


Rayuan kedua, membuat Rima maupun Mustofa kelimpungan. Ini acara benar-benar jadi milik budak-budak kecil (pinjam istilah kak Ros). Bukan lagi milik Rima seorang.


Keluar dari rencana ....

__ADS_1


Ach sudahlah ....


Yang penting, Rima terhibur dan gembira ....


__ADS_2