
Pada saat tarhim, akan azan subuh, satu per satu orang dewasa bangun. Apalagi bapak yang memang telah rapi. Mungkin selesai melaksanakan sholat malam.
Lalu, dia menuju ruang tengah sambil membawa Al Qur'an, untuk dibacanya.
Naura membawakan segelas kopi panas kesukaannya. Kebiasaan yang tak pernah dia lupakan. Meski sekarang sudah di lain negara.
"Bapak, diminum dulu."sapa Naura sambil meletakkan minuman itu di hadapanya.
"Terima kasih, Ndduk."
Naura tetap berdiri di hadapan pak Farhan, lama. Membuat pak Farhan tertegun.
"Ada apa Ndduk?"
Lansung Naura menghambur ke pangkuan pak Farhan, menumpahkan tangisnya. Membuat pak Farhan bingung dan terharu.
"Sudah, Ndduk. Jangan nangis. Bapak jadi sedih."
"Nggak ada apa-apa, Bapak." kata Naura di sela-sela tangisnya.
"Naura masih kangen. Bapak tinggal di sini saja, sama Naura."
Pak Farhan tertegun, dan diam sejenak.Dia membelai jilbab Naura yang masih menangis di pangkuannya.
"Ndduk, kamu tahu. Bila kita mencintai seseorang, kita akan selalu ingin dekat dengannya."
Naura mengangguk pelan sambil berkata, "Ya, Bapak."
"Kamu tahu, siapa yang bapak cintai sampai saat ini."
"Ibu."jawab Naura. Yang membuat dirinya teringat kenangan bersama bu Farhan, orang yang membesarkannya dari bayi hingga dewasa kini. Tangisnya semakin menjadi, meski tanpa suara. Hanya derai air mata yang membasahi kain pak Farhan.
"Ya, ibumu. Meski ibumu kini sudah tiada, tapi masih di hati bapak. Meski tak bisa menemuinya, tapi setidaknya, bila bapak kangen, bapak bisa menengok kuburnya. Kalau di sini, bapak tak bisa nglakukan itu."
"Nggeh, Bapak."
"Kalau kamu kangen sama Bapak, atau mbak Nadya mu. Kamu bisa dengan mudah datang berkunjung."
"Moga-moga mas Ulya nggak keberatan ngantarkan Naura."
"Ndduk, bapak nggak bisa kasih kamu apa-apa. Hanya nasehat bapak jagalah kelurgamu dengan selalu menjaga keridhoan suami padamu. Insya Allah kamu akan dapatkan cinta seutuhnya."
"Sama anak suamimu atau anakmu sendiri atau nanti kalau kamu punya anak lagi. Semua jangan dibeda-bedakan."
Dalam tangisnya, Naura tertawa sendiri. Ini saja sudah banyak, masak mau nambah lagi. Tapi demi menyenangkan hati bapak Farhan., diapun menjawab.
"Nggeh Bapak."
__ADS_1
"Bapak bersyukur, akhirnya kamu bersama nak Ulya. Orang tuanya sudah menganggap kamu seperti anaknya sendiri sejak kamu kecil. Kamu ingat itu Ndduk?"
"Nur masih ingat Bapak."
"Sudah sana lanjutkan kegiatan, nanti keburu Akram dan Akmal bangun."
"Maafkan Nur, Bapak."
Naura mengangkat kepalanya dari pangkuan bapak Farhan. Lalu melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.Yang di bantu bi Ummaimah. untuk mempersiapkan bekal jalan-jalan nanti.
Tanpa dia sadari, Ulya menyusulnya ke dapur. Dan tiba-tiba memeluknya dari belakang. Membuatnya terkejut.
"Mas."
"Mas bangun nggak ada kamu, seakan ada yang hilang, Sayang . Mas cari-cari, ternyata kamu ada di sini."
"Mas, malu ada bi Ummaimah."
"Mana, nggak ada." kata Ulya berbisik di telinga Naura. Ya ... karena saat masuk , Ulya sudah memintanya untuk pergi terlebih dahulu. Agar bisa mendekati istrinya dengan leluasa.
"Mas."
Akhirnya Naura mengalah juga. Dia meletakkan bahan makanan yang akan diolahnya. Lalu mencuci tangannya. Dengan Ulya yang tak mau melepaskan pelukannya.
Begitu ada kesempatan untuk melepaskan diri, segera dia berlari ke arah kamar mereka. Ulya hanya tersenyum menatap kepergiannya, Lalu menyusul dengan bahagia.
🔷
Segera saja para pasukan cilik berhamburan meninggalkan tempat sholatnya. Nadya langsung pasang badan.
"Tidak boleh meninggalkan tempat kalau tidak dirapikan dulu."
"Ya, Bunda."
Meski demikian, mereka menurut juga. Dengan cepat mereka merapikan alat sholatnya lalu meletakkan di samping bundanya.
"Nggak usah pakai alas kaki." teriak Ahmad.
Dia mengomandoi Noval, Novi dan juga Devra untuk bersiap-siap melakukan jogging menuju kebun buahnya.
"Siap Om." teriak mereka bersama-sama. Mengikuti sang komandan ke luar rumah.
"Sekarang, kita olah raga ringan dulu. sambil menunggu semuanya berkumpul." ucapnya sambil senyum-senyum.
Kapan lagi bisa ngegodain mereka kalau tidak sekarang. Besok mereka sudah kembali. Pikir Ahmad yang menikmati pagi itu dengan bahagia.
Hamdan yang melihat keceriaan anak-anak dan keponakannya ikut tersenyum. Lalu bersegera bergabung dengan mereka. Sementara Ulya membantu Naura menyiapkan perlengkapan Akram dan Akmal.
__ADS_1
Karena mbak Binti sedang membantu bi Ummaimah menyiapkan bekal, yang akan dibawa. Demikian juga mbak Nadya.
Akhirnya persiapan ini, selesai juga.
Bersama-sama mereka pergi dengan bahagia. Hanya seorang yang kurang menampakkan wajah ceria, yaitu Mustofa.
'Kapan aku bisa memelukmu, Sayang. Dan engkau memanggilku Papa.'
Tapi dia tak punya keberanian untuk menyatakannya. Dan hanya menyembunyikan kesedihan itu dalam senyuman yang hampa.
Ditengah keceriaan yang tercipta dalam kelurga kakaknya yang sempurna.
Tapi diikutinya juga langkah-langkah mereka dengan tenang. Menyusuri jalanan setapak namun beraspal. Membelah hamparan perkebunan buah-buahan yang beraneka ragam.
Sesekali tangan Ahmad meraih buah yang ada di pinggiran dan memberikannya pada pasukan kecilnya. Yang membuat kak Nadya maupun Naura berang.
"Nggak boleh makan sambil jalan. Ingat! Apa kata bu guru."
Dengan terpaksa mereka memberikannya pada bundanya dan mengikuti komandan melanjutkan perjalanan.
Karena berjalannya dengan canda dan tawa, maka tiba di joglo yang ada di tengah-tengah perkebunan sudah terang.
Sekarang musim semi. Mentaripun tanpa malu menampakkan diri. Menemani mereka menikmati hari dan juga sarapan pagi.
Sementara para pria melanjutkan olah raganya dan memberi semangat pada kontestan cilik, berlomba memetik buah dengan benar. Para ibu menyiapkan sarapan dari bekal yang mereka bawa.
Karena kegiatan yang melelahkan sekaligus menyenangkan, begitu menguras keringat. Maka seluruh bekal yang dibawa habis tanpa sisa.
Tepat jam 8 mereka pun kembali ke rumah. Untuk membereskan semua barang yang akan dikirim terlebih dahulu melalui kargo. Hanya meninggalkan sebagian kecil barang untuk acara siang hingga malam nanti, Untuk acara resepsi pernikahan Naura dan Ulya.
Sesekali nampak Naura menatap mereka dengan sedih.
"Yang, masih kangen?"
Naura tak menjawab. Dia hanya menyembunyikan wajahnya dalam pelukan Ulya.
"Kapan-kapan kita ke Indonesia, berkunjung ke mereka."
"Terima kasih, Sayang. Kamu sudah mendatangkan keluargaku ke sini. Ini hadiah yang sangat membahagiakan bagiku."
Tak sia-sia, dia mengeluarkan biaya untuk semua ini. Akhirnya bibir Naura bisa mengucapkan kata sayang padanya.
Setelah semua selesai mereka pun berangkat ke hotel, tempat akan diadakan resepsi pernikahan. Dan juga peristirahatan terakhir sebelum kembali ke Indonesia nanti malam. Dengan diantar Mustofa maupun Ahmad.
Sedangkan Ulya dan Naura beserta keluarga kecilnya mampir dulu ke rumah abbah. Dan akan berangkat dari sana untuk acara resepsi.
"Sudah, tak ada yang ketinggalan?" tanya Ahmad.
__ADS_1
"Sebentar!" kata Noval dan Novi yang langsung berlari ke arah meja makan. Rupanya mereka ingin membawa hasil lomba memetik buah di kebun tadi.
Waaalllaaahhhh ..... anak-anak.