
Ya ... Mas Andre bikin hati makin gugup dech. Nur ngudumel sendiri.
"Assalamu'alaikum wr. wb. ..."
"Wa'alaikum salam, Sayang. Mbak Hesti sudah sampai?"
Waduh, mas Andre pakai sayang-sayang segala. Bikin hati deg-degan. Sampai lupa harus jawab apa.
Andre yang menunggu di ujung telponpun dibuatnya bingung.
"Hallo."
"Ya Mas. Sudah datang. Mruput banget, aku belum mandi."
"Sampai sekarang belum mandi?"
"Sudah, baru selesai. Dah dech Mas, tutup telponya dulu. Nanti nggak jadi-jadi mbak Hesti rias Nur."
"Aku kira sudah selesai, aku sudah tak sabar lihat kamu, Sayang."
"Nggak, nggak boleh. Belum halal."
"Mas sendiri, sudah mandi belum?"
"Belum. He ... he ...."
"Idih."
"Aku mau kasih tahu kamu, habis dari KUA mau ajak kamu."
"Lho, nggak pulang dulu."
"Iya, pulang bersamaku."
"Mas!"
"Sudah, aku pingin kamu cantik hari ini."
"Ya, Mas."
"Entah mengapa hati jadi senang saat ini. Assalamu'alaikum ...."
"Ich, Mas norak. Wa'alaikum salam ...."
Situ senang. Tinggal pakai kemeja, celana, jas, kopyah, beres. Nach giliran I am, ribet amat.
"Naura, ada apa?" kata nyonya Efsun yang mendadak masuk ke dalam kamar Nur.
"Mom, aku bingung."
Nyonya Efsun mendekati Nur yang masih berdiri mematung. Mengajaknya duduk di sisi ranjang.
"Nur. Mommy nggak bisa maksa hatimu harus begini-begini. Apa dirimu menyimpan sesuatu hingga menjadi beban sampai saat ini?"
"Mommy."
Nur memeluk nyonya Efsun dan terisak.
"Kamu tak punya rasa sama Andre."
"Nur akan belajar, Mom."
"Mommy bangga, Nak. Kamu mau melakukan itu."
"Apa kamu ada rasa sama Ulya?"
"Mommy."
__ADS_1
"Mommy mengerti, Sayang. Tuhan menghadirkan suatu peristiwa pada kita adalah dengan qudrot irodatNya. Semua itu untuk kebaikan bagi kita yang yakin padaNya."
"Maksud Mommy bahwa Andre dicipta untuk Naura."
"Syukurlah. Mommy khawatir."
"Naura harus bagaimana?"
"Istighfar dan bismillah."
"Makasih, Mommy."
Naura melepaskan pelukannya. Sambil mengusap air matanya yang mulai meleleh hingga nyonya Efsun ikut membantu mengusap dengan dua ujung jarinya. Dengan sabar dan telaten dia menunggui Naura.
"Cuci mukamu."
Naura beranjak dari tempat duduknya, membersihkan air matanya di wastafle kamar mandinya.
Nyonya Efsun memanggil mbak Hesti untuk masuk ke dalam kamar Nur. Memulai pekerjaannya. Dan sedikit memberikan saran, agar Naura benar-benar memancar kecantikannya.
Setelah mbak Hesti selesai merias Naura, dia mengeluarkan baju yang memang sudah dipesan Rima dan Andre.
"Sebentar mbak, Naura mau dhuhaan dulu."
Mbak Hesti mengerti dan meninggalkan dirinya untuk melakukan sholat dhuha di kamar.
Sedangkan nyonya Efsun menemani mbak Hesti untuk diajak sarapan terlebih dahulu. Yang memang sudah disediakan oleh mbak Ika. Yang sejak semalam belum pulang.
Maklumlah hari ini banyak tamu, yang akan turut ke KUA. Hampir seluruh keluarga ikut serta, tak terkecuali si kembar. Demikian juga dengan tuan Salim beserta pak Arman. Lalu bapak Shodikin sekalian. Semuanya dijamu terlebih dahulu sebelum berangkat.
Sebenarnya, bu Farhan juga mengundang bu Retno beserta keluarganya. Tapi saat disampaikan undangan, dia sudah tidak bersedia untuk ikut serta. Padahal pak Farhan menemuinya dan menyampaikannya dengan baik-baik.
Setelah selesai, mereka mengobrol ringan sambil menunggu Naura keluar dari kamarnya.
Tepat jam 07.30. Naura keluar dari kamarnya, yang diringi oleh Nadya dan nyonya Efsun.
Kali ini Naura memakai busana Eropa sederhana berwarna putih bersih, dengan jilbab dan cadar yang senada. Terlihat anggun. Berjalan melewati semuanya, menuju mobil sedan yang dibawa oleh daddynya. Dan telah diberikan sedikit hiasan sebagai bertanda mobil yang membawa rombongan pengantin.
💎
Setiba di KUA, mereka sudah disambut oleh rombongan dari keluarga Andre. Yang telah tiba terlebih dahulu. Dan juga cattering yang sudah dipesan oleh Nadya dan nyonya Efsun.
Tak ada yang istemewa di kantor KUA, hanya masjid yang ada lingkungan kantor itu yang sedikit berhias, untuk tempat ijab qobul mereka.
Tak lama, semua orang telah berada di dalam masjid. Mengikuti acara sakral yang akan dimulai.
Sebelum acara dimulai Andre bermohon ijin untuk melakukan sholat 2 rekaat terlebih dahulu.
Setelah itu dia duduk di hadapan penghulu dan juga tuan Salim untuk melakukan ijab qobul sebelum dipersandingkan dengan Naura.
Tapi tuan Salim terlihat menundukkan kepala seakan ragu untuk menikahkan putrinya saat ini.
"Ada sesuatu tuan Salim?" tanya Penghulu.
Lama tuan Salim diam tertunduk. Sehingga semua orang menjadi bertanya-tanya.
Membuat nyonya Efsun dan juga Naura menjadi gelisah.
"Mom, ada apa dengan daddy?"
Nyonya Efsun sambil berjongkok mendekati suaminya.
"Sayang, ada apa?"
Tuan Salim tetap diam. Ingin dia ungkapkan bahwa apabila dia menikahkan putrinya saat ini, itu bisa berakibat tidak sah. Berdasarkan hasil DNA yang dia terima. Tapi bila tidak dia nikahkan, alangkah kecewa semuanya. Apalagi putrinya, Naura.
__ADS_1
Saat ini dia hanya menunggu keajaiban. Dengan menghadapkan seluruh kalbunya pada yang maha Tahu, sebelum dia mengambil keputusan.
"Tidak ada apa-apa, Sayang. Temani Naura."
Nyonya Efsun beranjak dari tempat tuan Salim , berjalan berlahan menuju ke tempat Naura dengan diam.
"Mommy."
"Mommy nggak tahu, Sayang. Apa daddy mu masih ragu kalau kamu putrinya?" kata nyonya Efsun. Tanpa sengaja membuat Naura terluka. Dan seketika meneteskan air mata.
"Bukan begitu Sayang."
Nyonya Efsun memeluk Naura.
"Pantas selama ini daddy belum pernah memeluk Naura."
" Kemarin bukankah daddy memelukmu."
"Tapi Naura merasakan keraguan."
Andre yang merasa ada yang tidak beres pada calon mertuanya, mendekatinya.
"Papa Salim, ada apa?"
Belum sempat tuan Salim menjawab, telponnya berdering.
"Sebentar aku angkat telpon dulu." kata tuan Salim meninggalkan semua. Menuju ke halaman samping masjid.
"Assalamu'alaikum, Ahmad."
"Daddy, hasil tes DNA kemarin palsu. Ini yang benar."jawab Ahmad, sampai lupa menjawab salam.
Ahmad mengirim foto surat hasil DNA.
"Benarkah, Nak. Ini kabar yang paling menggembirakan."
Tak lama terkirim juga vidio dari Ahmad.
Lalu tuan Salim membukanya. Dia melihat pengakuan dokter yang melakukan tes DNA dibawah pengawalan 2 orang polisi, dan juga Ahmad dan Ulya.
"Alhamdulillah, Allahu Akbar. Daddy hampir putus asa melihat Naura menangis."
"Aku akan ke sana, Daddy. Bersama Ulya."
"Ya, Ahmad.Langsung saja kamu ke sini. Daddy sheerlok."
"Lanjutkan saja prosesi akadnya. Daddy bisa menikahkan adikku, Naura."
Tuan Salim masuk ke dalam masjid sambil bertakbir, lalu bersujud lama hingga terlihat matanya memerah.
Setelah itu bangkit dan salam. Dia mendekati Efsun dan juga Naura. Memeluk keduanya dengan hangat, tanpa memperdulikan orang yang ada di sekitarnya. Memandang mereka dengan bertanya-tanya.
"Maafkan daddy, Naura."
"Ada apa sebenarnya, Dad?"
Salim membuka vidio yng dikirim oleh Ahmad. Memperlihatkannya pada Naura dan Efsun.
"Maaf, kalau daddy menyembunyikan ini dari kalian."
"Sekarang hapus air matamu. Kasihan wajahmu tak cantik lagi."imbuhnya.
Dengn gembira dan tenang Salim kembali ke tempat semula meninggalkan Naura dan Efsun. Duduk di samping penghulu, berhadapan dengan Andre.
" Bisa kita mulai? " tanya Penghulu
"Sebentar." kata Andre.
__ADS_1
________________________________
Readers yang budiman, mohon dukungannya berupa like, vote atau saran agar author bersamangat dalam berkarya.