
"Ini putramu, Ma." kata Ulya senyum-senyum, setelah membaca cerita yang di tulis Naura.
"Mas, jangan ngeledek dech."seketika wajah makyun tampak. Membuat Ulya makin tertawa lebar.
Bagaimana tidak tertawa, membayangkan putra kembarnya bertingkah seperti itu di rumah kakeknya.
Hampir yang namanya tangga nggak ada artinya. Turun, bukannya tangga yang dipakai untuk melangkah, Tapi pagar tangga dibuat selorotan untuk turun. Untungnya, terbuat dari logam alumunium yang tebal dan kuat.
" Bagaimana papa Sofyannya"
"Sabarlah, nanti juga aku tulis. Kalau sudah selesai, Mas bisa baca."
"Ya sudah, teruskan." kata Ulya.
Kini dia telah berada di belakang Naura. Tangan dan kepalanya menyandarkan di pundaknya, sambil berbisik,"Mama, aku kangen."
Membuat Naura menghentikan tulisannya. Menengok kearah bisikan lembut di telinganya.
Tak sangka justru Ulya sudah siap dengan ciuman yang amat mesra untuknya. Membuat degup jantungnya berpacu cepat. Membangkitkan kerinduan yang sama, yang selama ini terpendam.
Tak ada kata yang keluar dari bibirnya. Hanya kepasrahan pada suasana penuh cinta yang Ulya cipta. Karena irama kerinduan yang kini mereka mainankan, telah berada gelombang yang sama. Tanpa sungkan, Naura bangkit membalas pelukan suaminya dengan segala cinta dan kemesraan.
Kasih, aku juga menyimpan rindu
Yang tak mungkin kuungkap lewat kata
Hanya rasa ini yang akan membimbingku dalam cintamu
Penuh keihlasan dan doa
Bimbinglah angan ini mengaruhi samudra cinta
Berpasrah seutuhnya pada tautan kasih yang Tuhan telah satukan
Aku telah rela melepas ini bersamamu
Peluk dan dekap diriku
Agar keindahan itu nyata adanya
"Sayang ...."
Hanya kata itu yang terucap, ketika jiwa telah dikuasai rindu dan cinta.
"Terima kasih, Sayang."
Bila usai hasrat cinta telah lelah, berlahan berlabuh pada keindahan cinta semata.
🙏🙏🙏 Cut ... cut ... cut. Takut readers angannya melayang-layang. Ya kalau dibaca selesai puasa, kalau lagi puasa, gimana hayo .....🙏🙏🙏
💎
Untunglah waktu sahur masih lama, jadi tak membatalkan puasa.
"Yang ... mandinya jangan lama-lama. Nanti keburu imsyak."
"Sudah," jawab Naura, menghampiri Ulya derngan rambut setengah basah.
"Ya sudah. Nich sudah kuambilin makan. Sahur dah."
"Mas sudah."
"Aku pingin sahur sama kamu. Lama nggak ketemu, mas kangen sama kamu."
"Belum juga sebulan." jawab Naura dengan entengnya.
__ADS_1
"Bukannya gitu, mungkin di bulan-bulan berikutnya, mas akan pergi lama. Akram dan Akmal mas bawa juga."
"Kemana?"
Ulya tersenyum, lalu mencium mata istrinya lembut.
"Tak yakinkah sayang pada diriku,"
Hadech .... Kata-katanya macam anak muda saja.
"50%"
"Hemm ... 50%-nya?"
"Penjelasan ...."
"Merepotkan." jawab Ulya sambil mengambil sesendok nasi, untuk disuapkan pada istrinya. Naura menerima sambil mengeringkan rambutnya.
"Pertama, aku sama kelurga mau pergi umroh, sebenarnya mau ajak kamu. Tapi Devra sekarang lagi sakit. Kamu nggak apa-apa kan, aku tinggal."
"Harus ada kompensasi." Naura ganti mengambil sesuap nasi untuk Ulya.
"Hemmm .... selalu. Oke ... kalau Devra sudah sembuh, kita pergi umroh lagi sekeluarga, sekalian honeymoon."
"Honeymoon?"
Hahaha .... Naura tersenyum lepas. Gimana mau nikmati haneymoon. Itu krucil-krucil dikemanakan.
Apalagi Akmal dan Akram .... Titipkan mama efsun, kak Ahmad. Bakalan rusak itu kebun. Umi Abbah .... kalau itu tak mungkin. Mereka lebih sibuk dari kita. Jarang ada di rumah. Bi umamaimah, yang bener saja ....
"Kok, ketawa ...."
"Aneh saja." matanya melirik ke ranjang. Tempat Akmal Akram tidur,"Tuch ...."
Naura tak bisa menghentikan dirinya untuk tersenyum.
"Ya ... Nggak usah pakai istilah honeymoon."
"Begitulah ...."
Makan sahur sambil bercanda, dia atas pesawat lagi. Hampir saja keblablasan kalau Ulya tanpa sengaja melihat jam tangannya ."
"Ma ... Ma ... Ma ... Stop. Imsyak. Belum sich ... Hampir."
Segera keduanya mengambil air minum, lalu berdoa.
"Hampir saja."
"Yang kamu kok kelihatan bahagia banget, sejak kemarin. Ada apa?"
"Tak tahu, Pa. Pokoknya senang aja apalagi kalau lihat ...."
"Lihat apa ...."
Ngomong nggak ya .... Nanti gr. Tak usahlah ....
"Bikin penasaran."
Baiklah. Katakan saja ....
"Lihat kak Uya."
Entahlah, sejak dirinya berada di Indonesia, rasanya dia ingin bernostalgia seperti dulu. Bermanja pada Ulya. Termasuk dalam hal panggilan. Kak Uya ... Ya kak Uya.
"Yang, kok ... Kak Uya. Nanti kedengaran Devra lho ..." ujar Ulya sedih, membuat Naura langsung mendung dan merajuk.
__ADS_1
"Kalau nggak mau dipanggil kak Uya. Nggak usah pergi."jawab Naura ketus.
Lha kok ... jadi marah-marah gini. Apa sudah tanggalnya ya .... Sejak Akmal menghilang, yang ku tahu, menstruasinya nggak teratur, mungkin efek pikiran. Tapi nggak pernah emosian kayak gini .... Jangan-jangan.
" Yang, boleh aku tanya." kata Ulya lembut.
"Tanya Apa?" jawab Naura agak ketus.
Wich .... Galak amat.
"Bulan ini tamumu sudah datang belum?" tanya Ulya dengan hati-hati.
"Tamu apa." belum juga tersenyum, mah ... subuh kurang 7 menit. Nggak baik puasa marah-marah.
"Maksud Mas ... menstruasi."
Naura langsung tersenyum, "Belum ...."
Dia bangkit dari duduk, lalu mengambil sesuatu dari tas kecilnya. Sebuah amplop coklat yang sudah terbuka. Memberikannya pada Ulya yang masih duduk terbengong-bengong.
"Dari tante Tiara."
Ulya segera membuka amplop itu. Wajahnya tampak bahagia.
"Benarkah, Yang."
Naura mengangguk.
"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Engkau percayakan pada kami suatu titipan yang sangat berharga ...." ujar Ulya dengan gembira.
Dia segera bangkit dan ingin memeluk Naura. Namun sayang, pada saat yang sama Abbah masuk ke kamar mereka.
"Ulya ... Naura, abbah tunggu sholat subuh jamaah."
"Baik, Bah." jawab mereka hampir bersamaan.
Untuk urusan memeluknya, ditunda dulu. Takut keblabasan. Sekarang sudah masuk waktu puasa. Tahan .... dari pada suruh ganti 2 bulan berturut-turut. Dapat dipastikan tak akan pernah sanggup.
"Ya ... ya boleh ya, panggil kak Uya."
Dengan terpaksa, Ulya menganggukkan kepala, Bukannya apa, Akram Akmal baru belajar bicara. Dapat dipastikan nanti akan panggil dia kak Uya. Devra juga, pasti akan bertanya-tanya, mana anak itu selalu ingin tahu.
Tapi tak apalah, demi jabang bayi ....hehehe ......
TAMAT
Assalamu'alaikum wr.wb.
Terima kasih yang tak terhingga, saya sampaikan pada readers yang setia membaca cerita ini dari awal hingga akhir.
Meski ini hanya kehaluan dari author saja, semoga dapat diambil manfaatnya. Setidaknya bisa menghibur readers di kala senggang.🙏🙏💟💟💟💟💟💟💟🙎🙎🙎🙎
Author anggap cerita ini usai karena cerita antara Ulya dan Naura telah berpaut mesra tanpa ada lagi halangan. Rima telah menemukan tambatan hatinya,yang dulu membuat Naura khawatir kalau-kalau Rima akan menghalangi cinta mereka yang ada sejak kecil. Tapi kini hatinya benar-benar tenang sahabatnya telah mendapatkan orang yang benar-benar mencintainya.
Memang dalam beberapa hal belum selesai. Seperti perseteruan antara Ulya dan tuan Fath. Insya Allah itu kan ditulis dalam novel tersendiri dengan judul yang berbeda. Meskipun tetap dengan genre romance tetapi ada kecenderungan action dan misteri. Doakan ya .... Semoga bisa lekas menulisnya.
Untuk sementara silahkan menikmati novel baru author yang lain, berjudul.
KETABAHAN ZULFA
Menceritakan seorang muslimah yang baik dan shalihah mendapatkan pasangan yang kurang agamanya, suka berjudi dan mabuk-mabukkan. Yang menyebabkannya berpisah. Dengan ketabahannya dia membesarkan anak-anaknya seorang diri, hingga berhasil. Ujiannya tak sampai di situ saja. Ternyata suaminya kembali lagi dengan membawa wanita lain yang sudah dinikahinya hingga mempunyai anak 2. Apakah dia akan bertahan atau jalan lain yang akan ditempuhnya...
Silahkan berkunjung dalam karya yang berjudul KETABAHAN ZULFA
__ADS_1