Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
BAB 56 : Kehadiran Mustafa


__ADS_3

Aku takut akan ada drama lagi menjelang tidur. Dengan keinginan-keinginan Devra yang kadang tak bisa kuduga. Ada baiknya juga, karena aku dan kak Ulya jadi semakin dekat. Tapi kita semua sadar, bahwa saat ini kita hanya bisa merindu, tak bisa menggapai dalam pelukan yang sempurna.


Tapi untunglah saat kami pulang, dia sudah tertidur di pangkuanku. Kak Ulya tinggal membaringkannya di tempat tidur. Sejenak aku menemaninya dalam pelukanku.


Setelah memastikan Devra tertidur nyenyak, aku membuka pintu yang menghadap balkon di depan ruang tidurnya.


Dalam suasana tenang, lapat-lapat terdengar suara denting piano dimainkan. Iramanya yang syahdu membimbing langkahku untuk menghampirinya. Aku tahu, itu dari ruangan yang kemarin kulewati.


Aku menuruni tangga pelan, menuju tempat itu. Sejenak aku terpaku dengan permainan pianonya. Dan mengintip siapa yang melakukanya. Ternyata kak Ulya..


Sebelum memasuki ruang perpustakaan itu, aku ingat sesuatu.


Segera aku ke dapur untuk menyiapkan minuman hangat. Dari kulit pohon secang yang kubeli tadi pagi. Ditambah dengan kayu manis, jahe dan cengkeh. Sehingga menjadi minuman hangat yang sempurna. Siap untuk dihidangkan.


Minuman itu aku pindahkan ke dalam teko kecil. kemudian menyiapkan cangkir dan juga tatakan, agar kami dapat menikmatinya dengan nyaman. Hitung-hitung sebagai balasan atas coklat yang dibuat untukku semalam.


Aku membawanya ke hadapan kak Ulya yang masih asyik memainkan sebuah lagu.


"Kak, aku bawakan minuman hangat secang."


"Hem, makasih ...." Dia menoleh dengan senyum yang tak pernah lelah dia tampakkan padaku.


"Kesinilah, aku ingin main piano sama kamu."


"Nur hampir nggak pernah pegang piano lagi, Kak."


"Nggak apa, mainkan yang kamu ingat aja. Biar kakak yang menyempurnakan."


Dulu aku sering diajaknya untuk bermain bersama. Sekarang aku sudah lupa letak tuts-tuts, bila ingin membawakan sebuah lagu.


Tapi melihat mesin piano itu, menggodaku untuk menyentuhnya.


"Baiklah."


Dia memberiku tempat duduk di sebelahnya.


Aku mainkan sebuah lagu yang pertama dia ajarkan, 'Kasih Ibu'.


"Coba kamu mainkan melodinya."


Meski ragu kutekan juga tuts-tuts nya, meski beberapa kali aku harus mencobanya. Yang terkadang kak Ulya menunjukkannya.


"Sudah bagus, tapi coba gini."


"Eh iya, maksudku gitu. Maaf Nur sudah banyak lupa."


"Sekarang kita main sama."


"Oke."


"Kamu sambil nyanyi, Yang."


"He ... he ... he ..., baiklah."


Sambil memainkan piano berdua, aku nyanyikan lagu itu.


Belum sempurna kami mainkan sebuah lagu, terdengar bel rumah berbunyi. Tapi kami berdua enggan. Biarkan saja ...


Sampai akhirnya,

__ADS_1


"Aaaiiichhh ...., Kakak. Mesra banget," sapa Mustafa yang tiba-tiba masuk tampak di undang.


"Tukang berisik." jawab kak Ulya.


"Kakak ini merepotkan. Aku tinggal di apartemen, suruh pulang. Giliran sudah pulang dibilang berisik. Yaudah, aku balik lagi ke apartemen."


"Dasar cengeng."


"Kakak selalu gitu dech. Menjatuhkan harga diriku di hadapan kakak ipar."


Ulya tertawa.


"Gini lho Mustofa, besok kakak mau balik. Aku titip Devra dan ...."


Ulya menatap Naura, seperti meminta persetujuan dengan apa yang akan dikatakan.


Aku hanya bisa mengangkat bahu, terserah.


"Pokoknya jangan ganggu mamanya Devra."


"Kakak sudah resmi nikah?"


"Jangan tanya macam-macam. Yang penting jaga mereka. Awas kalau ada apa-apa sama mereka."


"Kakak ini selalu menang sendiri. Baiklah?"


"Tapi, jangan salahkan ...." sambil melirik Naura yang masih asyik mainkan musik secara pelan.


"Awas!" UIya menatap tajam Mustofa yang menggodanya.


Lama-lama berada diantara 2 pria bikin risih juga. Naura segera mengakhiri permainannya.


"Ya."


Naura pergi dari hadapan mereka, kembali ke kamarnya. Diikuti ekor mata Mustafa yang memperhatikannya hingga keluar. Lalu beranjak dari tempat duduknya mengintip ke mana Naura melangkah. Dia agak tersentak juga, sewaktu Naura memasuki kamar Ulya.


"Kakak?!"


"Apa?"


"Kok ...."


"Kakak sudah masukkan ke kamar Kakak! Aku bilang ke abah nanti."


"Abah sama ummi juga sudah tahu. Pikiran situ yang ngeres. Perlu disetting ulang."


Mustafa hanya senyum-senyum sambil nyruput minuman hangat yang ada di depannya.


"Kak, ini apa?"


"Secang."


"Kukira sirup anggur. Harum dan sedap."


"Di Indonesia, minuman itu selain untuk memberikan kehangatan , juga untuk memulihkan stamina tubuh."


"Oh .... Wah asyik kalau kakak pergi aku mau minta dibikinin kakak ipar, ah..."


"Nggak boleh."

__ADS_1


"Kenapa sich, kakak ini posesif banget. Belum juga jadi suaminya."


"Sudahlah Mustofa, kakak ini hanya menjalankan amanah dari sahabat kakak."


"Menjalankan amanah, atau memang cinta."


"Dua-duanya. Makanya jangan kau sakiti hati kakak."


"Tapi kalau kakak ninggalin lagi, Mustofa akan ambil. Masak lamaran ditinggal. Keterlaluan sekali. Sampai abah sedih. Mau ditaruh mana muka abah saat itu. Untung saja keluarga Naura orangnya baik."


Maaf Mustofa, kakak tak bisa terangkan alasannya.


"Kamu kok baliknya malem?"


"Iya, Kulsum minta ketemuan."


"Kakak nggak nglarang kamu mau menjalin hubungan dengan siapa. Tapi tolong pisahkan antara pekerjaan dan pribadimu. Kakak takut kamu hanya diperalat saja."


"Aku mengerti, Kak."


"Terima kasih ya ..., selama ini kamu sudah menjaga Devra dengan baik, selama aku tidak ada."


"Tak apa, Kak. Dia putri yang menyenangkan. Aku pasti menjaganya."


Aku pasti menjaganya. Karena dia adalah putriku, Kak.


"Aku mau istirahat dulu. Besok aku berangkat."


"Ke kamar kakak?"


"Kamu ini ada-ada saja, nanti kalau sudah resmi."


"He ... he ... he ..."


Ulya meninggalkannya Mustofa di ruang perpustakaan pribadi. Dia menuju kamar yang bersebelahan dengan kamar Naura. Ruang kerjanya.


Sedangkan Mustofa tidak langsung menuju ke kamarnya. Dia mengambil sebuah buku. Dan membacanya. Tapi angannya mengembara pada masa 5 tahun silam.


Ah lupakan. Biarlah sekarang seperti ini, Toh Devra sudah bahagia dengan papa Ulya, kakakku. Tak perlu dia tahu.


Akhirnya Mustofa tertidur di ruang itu, tanpa mematikan lampunya. Hingga menjelang fajar. Saat Ulya terbangun menginginkan sesuatu untuk dapat dia makan.


Dia agak terperanjat juga waktu melihat lampu di ruang yang tadi dia tinggalkan, masih menyala dengan terang.


Dia kembali dan membangunkan Mustafa yang tertidur pulas, untuk berpindah di kamarnya. Lalu mematikan lampu itu.


🔷


Aku bersyukur, sebelum kak Ulya pergi , dia telah menyiapkan segalanya untukku, agar bisa tinggal di rumah abbah dengan nyaman.


Ditambah Devra yang selalu bersikap manis dan menggemaskan. Terkadang dia tak keberatan bila kuajak menginap di rumah mama Efsun. Ini membuat diriku merasa lebih nyaman. Karena abbah dan ummi juga lagi ke Oman.


Setiap hari, kak Ulya tak pernah lupa untuk menyapa Devra. Dan Devra selalu mengajakku untuk vidio call sama-sama. Kurasa babyku juga merasa tenang dengan kehadirannya.


Kalaulah ditanya, apakah aku ada hati sama papa Devra. Jawabnya ya ...


Bahkan sejak lama, ketika aku belum menikah dengan mas Andre. Tapi kini aku telah berbadan dua, ah bukan, berbadan tiga. Membuatku sering ragu.


Mungkin karena mendapat amanah dari kaka Ulya, setiap hari Mustofa mengantarkan kami ke sekolah Devra.

__ADS_1


__ADS_2