Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
BAB 57 : Rindu


__ADS_3

Mungkin karena mendapat amanah dari kaka Ulya, setiap hari Mustofa mengantarkan kami ke sekolah Devra.


Yang sering aku bertanya-tanya, sering kali dia memohon pada Devra, agar dia dipanggil dengan sebutan papa.


"Devra, panggil papa ke om dong."


Dan seperti biasa Devra hanya menjawabnya dengan tertawa.


"Nggak, Om ya tetap om, papa ya tetap papa."


"Kan, kalau papa Ulya nggak ada yang ñganterin kamu sekolah om."


"He ... he ... he ..... Om nggak punya mama, sedangkan papa Ulya punya mama Naura."jawab Devra ringan. Membuatku tertawa.


"Kalau om punya mama, apa Devra mau sebut om papa."


"Devra pikir-pikir dulu ya Om."jawabnya sambil berlari melambaikan tangan pada Naura.


"Mama, aku sekolah dulu. Nanti jemput Devra ya Ma."


"Ya , insyaallah. Sayang."


Dia berlari meninggalkan kami, bergabung dengan teman-teman sepermainannya.


Adik, lihat kakakmu. Dia sangat senang belajar. Nanti kalau sudah besar belajarlah seperti kakak Devra. Semangat dan selalu ceria. Kuusap baby twins ku yang masih meringkuk dalam kandungan.


"Kakak, sudah?"tegur Mustofa.


Menyenangkan memang melihat Devra yang terlihat gembira.


"Ok, balik!"kataku setelah memakai sabuk pengaman.


"Aku amat bangga pada kakak. Karena kakak bisa menyayangi Devra dengan tulus, seperti anak kandung sendiri."


"Sebenarnya kakak dulu tak ada beda dengan Davra."


"Maksud kakak?"


"Di Indonesia kakak punya ibu yang amat sayang pada kakak. Andai tak ada dia, kakak tak tahu akan menjadi apa. Karena kakak hanyalah bayi yang terbuang karena penculikan."


Angan Naura melayang ke masa dimana bu Farhan masih bersamanya. Hingga tanpa sadar, dia meneteskan air mata. Membuat Mustofa merasa berdosa membuatnya menangis.


"Maaf, Kak."


"Tak apa." jawabku sambil iseng membuka hp.


Wowww ... kak Ulya, banyak banget notifikasinya. Kayak nggak ada kerjaan saja. Dari pada jawab pakai wa, lebih baik telpon. cepat beres.


"Assalamu'alaikum ... Kakak."


"Wa'alaikum salam ... aku pindah ke videocall."


Belum aku jawab, sudah ada permintaan persetujuan untuk vidiocall. Ok ... turuti saja maunya. Tak tahu ya, kenapa hampir semua pria aku temui, maunya dimengerti, daripada mau mengerti. Awas ....


"Nach gitu dong, aku benar-benar kangen sama kamu."


"Ich, malu-malu in. Sejak kapan kak Ulya belajar merayu." jawabku kesal.


Kulihat dia hanya tertawa manis. Mungkin mentertawakan diriku yang lagi kesal.


"Hei, kenapa itu ada air mata?"


"Nggak apa-apa. "


"Atau kamu diganggu Mustofa yang resek itu."


"Dia ada di sini*," jawabku tak peduli.


"Sedang apa kalian?" tanyanya dengan wajah sedikit kisut.


"Aku mau bicara sama dia," perintahnya yang nggak bisa ditawar-tawar.


Segera saja aku serahkan handphone ini padanya.


"Ada apa, Kak." tanya Mustofa kesal.


"Kamu apakan kakakmu."

__ADS_1


"Nggak aku apa-apakan."


"Awas, kalau ada apa-apa."


"Ini juga pulang dari ngantarkan Devra sekolah."


"Yaudah, makasih."


"Udah, Kak. Lagi nyetir nich."


"Ok. balikin hp-nya ke kakakmu."


"Ok."


Mustofa mengembalikannya padaku.


"Sudah marah-marahnya?"


"Nggak marah kok. Hanya bencanda sesama saudara."


"Tapi beneran, nggak ada apa-apa? "


"Beneran. Lagian saat ini akukan lagi hamil. Mana berani mikir macam-macam. Takut sama kakak."


"He ... he ... he .... Bagaimana keadaannya? "


"Alhamdulillah baik dan sehat."


"Doakan, urusan di sini cepat kelar. Agar kita segera bisa bersama."


"Ya, Kak."


"Kakak lagi apa?"


"Lagi santai. Bentar lagi mau ke Yogja."


"Ke ...?"tanya Naura curiga, yang membuat hati Ulya berbunga-bunga. Maklumlah jarang sekali Naura menunjukkkan sikap cemburu nya.


"Lanjutkan proyek."


"Tidak-tidak kalau ke Rima." jawabnya menggoda, yang sempat membuat Naura jengkel. Dan segera menutup telponnya.


"Wa'alaikum salam ...." jawabnya sambil tertawa.


🔷


Entahlah, Kak Ulya akhir -akhir ini sering kali menghubungi kami. Tiap hari hampir tak pernah jeda. Bahkan tak hanya sekali. Terkadang 2 hingga 3 kali.


Seperti hari ini. Pagi sudah telpon, malamnya lagi-lagi telpon. Sebenarnya ada apa sich. Ah, anggap saja lagi kangen sama kampung halaman gitu.


"Devra sekarang di rumah siapa?"


"Di rumah mama. Enak di sini sering dibuatkan bubur sama mama."


"Bubur apa?"


"Nggak tahu, yang pasti enak banget."


Terlihat Devra pergi sebentar dan kembali dengan membawa semangkuk bubur yang dia katakan.


"Ada sayur dan ayamnya."


"Wah ... enak sekali."


"Insya Allah besok papa akan balik."


Sapaan terakhir sebelum kak Ulya menutup vidiocall-nya malam itu. Devra terlihat melonjak gembira.


"Mam, besok papa balik." teriaknya sambil menggandeng Naura yang sedang sibuk membereskan meja makan.


Naura tersenyum menatap putrinya.


"Sudah sekarang, dilanjutkan makannya dulu. Nanti kalau sudah selesai, dibawa ke dapur ya ...."


"Ya, Mam."


Dengan duduk manis, dia melanjutkan makannya. Setelah menyerahkan handphone padaku.

__ADS_1


"Gimana kandunganmu, sudah kamu periksakan. "


"Kan, tadi pagi kakak sudah tanya. Sekarang kok tanya lagi."


"Nggak apa-apa. Kenapa nggak di rumah abbah."


"Lebih nyaman di sini, ada mama. Di sana hanya ada Mustofa. Takut kakak cemburu."


"Terima kasih. Kamu pengertian sekali"


"Sorry kalau pulangnya agak molor."


"Iya, ini juga mulai dingin sekali. Apa sudah mulai musim dingin ya ...?"


"Sepertinya. Selamat menikmati musim dingin pertama di Turki."


"Kakak ini ada-ada saja, pakai selamat-selamat segala."


"Naura."


"Ya, Kak."


"Kira-kira kapan kamu melahirkan?"


"Insya Allah 2 bulan lagi."


"Jaga baik-baik. "


"Pasti, Kak. Terima kasih atas perhatiannya."


"Besok aku balik. Nggak usah ke bandara, aku bisa balik sendiri."


"Iya, Kak. Kakak pengertian banget."


"Hem ...."


"Kak, jangan lupa oleh-olehnya."


"Sudah kuduga. Kalau banyak memuji pasti ada maunya."


"He ... he ... he ...."


"Sudah?"


"Sudah. Assalamualaikum ...." kata Naura buru-buru. Maklum malu tersipu, yang membuat Ulya tersenyum di ujung telpon sana.


"Ya ... curang. Tutup duluan. Awas .... Wa alaikum salam ...." jawab Ulya.


Yang disambut tawa Naura.


🔷


Ada baiknya sore ini aku kembali ke rumah abbah. Lagian abbah dan ummi sudah balik dari Oman. Jadi aku tak begitu risih bila berada di sana.


"Mustofa, kita ke rumah abbah saja."


"Tumben, Kak."


"Kangen sama abbah, bukan begitu Devra?"


"Kangen sama abbah dan juga papa Ulya. Nanti kan papa pulang." jawab Devra dengan polosnya, membuat Naura memejamkan mata sambil tertawa. Jadi ketahuankan, kalau dia ada rindu sama kak Ulya.


"Mustofa mengerti kok, Kak." jawabnya menahan tawa. Kakakku ini benar-benar pasangan bucin. Semoga kalian cepat dipersatukan dalam ikatan yang sah.


Agaknya waktu juga ingin bercanda dengan mereka. Yang sedang memendam rindu dengan sangat, pada seseorang yang hadir di setiap do'anya.


Bahkan senja juga ingin mentertawakannya.Tak ada sinar cerah yang biasa nampak. Yang ada hanyalah titik-titik putih yang mulai turun di sepanjang mata memandang, dari balkon tempatnya berdiri.


Dia baru tersadar manakala suara Devra yang bersorak gembira.


"Mama, papa datang."


Alhamdulillah, terima kasih Tuhan.


Dia segera berbalik, melewati kamarnya. Menuju tangga hendak turun ke lantai bawah. Mengikuti Devra yang telah turun terlebih dahulu.


Terlihat Ulya sedang memeluk Devra. Membuatnya ingin segera berlari, hingga tanpa sadar kakinya terpeleset di tangga ke tujuh dari jalannya. Hingga dia terguling sewaktu mencapai lantai dasar.

__ADS_1


"Naura?!"


Ulya segera berlari menghampiri ....


__ADS_2