
Ulya berjalan gembira menuju kamar putrinya. Meski semalam dia hanya mampu tidur sejenak. Tapi itu sudah bisa menghilangkan rasa capek yang dia rasakan. Mungkin karena dia sudah terbiasa dengan perjalanan jauh untuk kegiatannya yang padat.
Bahkan antar negara.
Ditambah lagi, pagi ini berbeda. Karena ada seseorang yang istimewa di sini ....
"Assalamu'alaikum mama Devra, Devra." sapa kak Ulya.
Memang pintu kamar Devra didesain tanpa kunci, hingga orang dengan mudah masuk ke dalamnya.
"Kak Ulya, ngagetin saja." jawab Naura dengan malas, ogah bangun. Dia memandang juga wajah Ulya yang terlihat semakin menawan. Hei ... hai Naura ... belum halal.
Dia mengambil kursi kecil, duduk di sisi ranjang kami.
"Bangun-bangun, sudah siang." teriaknya kecil, sambil menggoda Devra yang ada disampingku. Jari-jarinya menggelitik Devra.
Yang digoda hanya mengeliat saja sambil tertawa senang. Dia malah memelukku manja. Sambil memainkan jari-jari nya di perutku.
"Adik Devra sekarang sedang apa, Ma."
"Sedang bobok manis."
"Tuch, kan Pa. Adik saja juga lagi bobok manis."
Siapa yang nggak ketawa mendengar jawabannya. Pinter ....
Aku masih ogah juga untuk bangun. Hanya menyanggah kepalaku dengan satu tangan. Maklumlah baru bisa tidur setelah subuh.
"Devra, apa kamu nggak sekolah Sayang?"
Tangan kak Ulya masih juga menggelitik putrinya, hingga aku merasa terganggu.
Akhirnya kusandarkan tubuhku di kepala ranjang. Dan melihat gembira pada mereka yang bercanda meliwati kakiku.
"Pa, apa nggak boleh libur. Aku masih kangen sama mama. "
"Hem ... sekolah tinggal beberapa hari juga. Masak mau libur duluan. Bukan begitu, Ma."
Aku hanya tertawa saja, menatap Devra yang sedang mencandai papanya.
"Ma ... Papa..." Dia mulai kewalahan menghadapi papanya. Hingga dia mengadukannya padaku.
Lalu merajuk memeluk perutku. Membuat kak Ulya menghentikan candanya. Takut nanti mengganggu baby yang ada di dalam.
"Devra, benar kata papa. Anak yang pintar pasti mau sekolah."
Terlihat wajahnya sendu, diam sejenak menatapku. Tak sangka dia memelukku kembali.
"Tapi harus diantar sama Mama."
"Okay, tapi harus baik , nggak boleh nakal."
kataku sambil menyentuh hidungnya.
Dengan cepat dia turun dari tempat tidurnya. menyiapkan bajunya sendiri. Lalu pergi ke kamar mandi.
"Mama juga harus siap-siap, kutunggu kalian di meja makan."
"Wah, kak Ulya. aku masih capek."
Entah mengapa aku ingin sekali bermanja padanya.
"Haruskah kamu aku gendong."
Dia menghentikan langkahnya dan melirik padaku.
"Tidak, tidak. Aku bisa sendiri."
Dengan enggan, aku turun dari tempat tidur. Mencari baju yang akan kupakai untuk mengantarkan Devra ke sekolah. Lalu menuju ke kamar mandi.
__ADS_1
Entah mengapa kamar Devra tak dilengkapi kamar mandi. Sedangkan kamar yang lain ada. Mungkin karena dia masih kecil. Sudah rahasia umum kalau anak kecil bertemu dengan air pasti riangnya bukan main. Dapat dipastikan kamar pasti basah semua.
🔷
Di meja makan sudah menunggu abbah dan Ummi, juga kak Ulya. Mereka belum mulai makan. Terlihat mereka bicara serius sekali.
"Ulya, sebaiknya kamu balik ke sini lagi. Abbah banyak tugas ke luar negeri. Sedangkan perusahaan yang abbah bangun sekarang perlu penanganan."
"Bukankah sudah ditangani Mustafa?"
"Sekarang Mustafa perlu bantuan, sepertinya."
"Memangnya ada apa, Abbah?"
"Semenjak dia dekat dengan Kulsum, putri tuan Najib. "
"Maksud Abbah tuan Najib yang punya perusahan Ettamy."
"Ya."
"Aku mengerti. Soal ini sepertinya Mustofa belum tahu. Baiklah, nanti aku ke sana. Jika perlu Ulya akan ke sini kembali. Dan juga usaha yang aku rintis bersama Hani di sini mulai berkembang abbah. Kemarin dapat proyek dari pemerintah. Kurasa aku perlu di sini."
"Lalu perusahaan yang kau rintis di Indonesia?"
"Ulya tunjuk wakil, Abbah."
"Baguslah."
"Semoga Mustofa hanya dekat saja."
"Kuharap juga begitu."
"Lalu bagaimana dengan Naura, Ulya."
"Begitu melahirkan, Ulya akan melamarnya, Abbah."
"Nggak ada yang salah, Abbah. Ulya yang harus banyak belajar kesabaran dari semua ini."
"Terima kasih, Nak."
Mereka berhenti mengobrol saat aku dan Devra di meja makan.
"Nur, bagaimana tidurmu semalam."
"Baik, Ummi."
Tak mungkin aku berterus terang pada mereka tentang tidurku semalam.
"Ummi harap kamu betah di sini."
Aku mengangguk saja. Takut melukainya.
"Ummi, bolehkah nanti siang aku ke rumah mama."
"Boleh."
"Mamanya mama kan nenek. Dan itu nenek."
"Itu mamanya papa, Devra."
"Oh ..., lalu mamanya mama siapa?"
"Mama Efsun."
"Tante Efsun?"
"Iya."
"Wah, sekarang Devra punya banyak nenek dan kakek."
__ADS_1
Mendengar itu, kita tertawa bersama. Lalu melanjutkan sarapan pagi hingga selesai.
"Devra sekolahnya ditunggu sama mama ya..., " ujarnya sambil turun dari kursinya.
"Kok gitu?"jawab kak Ulya.
"Please ... mama, Papa."Dia berharap dengan sangat, "Sekali ini saja."
"Ma, bagaimana?"Ulya melihat Naura yang terlihat masih lelah, tak tega.
"Nggak apa-apa, tapi nggak bisa nungguin lama-lama. Adik-adik Devra juga sepertinya masih capek. Habis perjalanan jauh."
"Makasih mama."Devra memelukku manja sebelum menarik, mengajak keluar.
"Devra sudah pamit sama kakek dan nenek. "
"Oh. ya lupa."
Segera dia menghampiri ummi dan abbah untuk mendapatkan restunya.
"Ummi, Abbah, kami pergi dulu?"
"Hati-hati Nur dengan kandunganmu."
"Ya, Ummi."
Kami bertiga berlalu dari hadapan mereka. Menuju mobil yang terparkir di depan rumah.
Tak terkira gembiranya Devra dengan kehadiran Naura dan Ulya di sisinya
Sepanjang jalan tak hentinya dia berceloteh ria. Menceritakan teman-temannya yang bermacam-macam. Dan berasal dari berbagai negara. Baru aku mengerti kalau dia bersekolah di sekolah Internasional.
Yang jelas pengantar tidak diijinkan masuk. Tapi Devra dengan bangga menggandeng ku menuju bapak ibu gurunya.
"This is my mom, Miss." ucapnya tanpa ragu, ketika bertemu dengan salah satu bu gurunya.
"forgive us, Miss." rasanya sungkan juga aku pada mereka.
Akhirnya bel masuk berbunyi. Dia dengan riang melambaikan tangan setelah mendapatkan kecupan sayang.
"Sampai jumpa lagi, nanti sore Nak."
"l love you, Mom."
Kak Ulya yang menungguku, bersandar di samping mobil, tertawa gembira.
"Sudah?"
"Putri kakak itu ada-ada saja." kataku ketika tiba di tempat kak Ulya menunggu.
"Putri kita, Naura." jawab kak Ulya tertawa.
"Ya dech. putri kita," jawabku sambil masuk ke dalam mobil.
Lalu dia juga masuk, duduk di belakang kemudi.
"Kak, aku ngantuk."
"Tidurlah. joknya bisa kamu turunkan agar kamu bisa nyaman."
Segera aku ikuti arahan dari kaka Ulya. Dan menyandarkan kepala ini yang sudah berat. Selanjutnya aku tak ingat lagi yang terjadi.
🔷
Saat tiba di kantor perusahaan, Naura masih tertidur pulas. Ulya juga tak tega untuk membangunkannya. Dia membiarkan Naura tertidur dalam mobilnya. Sementara dia masuk ke dalam kantor hendak menemui mustofa.
Naura yang masih tertidur, tak menyadari kalau Ulya sudah tak di sampingnya lagi. Hingga ...
.
__ADS_1