Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
BAB 89 : Aku Tak Bisa Melupakanmu


__ADS_3

"Secepat itukah."


"Apa salahnya. Toh mulai besok Ahad Devra libur sekolah selama 1 minggu."


Naura tampak mengangkat alisnya. Baru dia sadar kalau selama ini dia tak begitu mengetahui tentang sekolah Devra.


Ulya memandangnya senyum-senyum.


"Bagaimana bunda Devra, tak tahu atau tak tahu."


"Malu aku sama Devra." jawab Naura dengan senyum.


"Iya, aku lupa. Kalau besok hari Ahad."imbuhnya


Naura lalu dengan santai duduk si samping Ulya.


"Devra jarang menggangguku akhir-akhir ini."


"Dia sudah lebih dewasa, mampu merasakan kesedihanmu. Makanya dia tak berani mengganggumu."


"Dimana dia sekarang."


"Di dapur."


"Apa yang dia lakukan?"


Ulya mengangkat bahunya sambil tertawa kecil.


Wah ....


Segera dia beranjak, menuju ke dapur. Dan benar dugaannya. Terlihat dapur berantakan oleh ulah putrinya.


"Nona, biar bi Uma saja yang bikin."


Tampak bi Uma kewalahan menghadapi keinginan-keinginan aneh Devra.


"Enggak, aku mau bikin jus jeruk buat mama kok nggak boleh sich." sanggahnya sambil terus mengiris jeruk, membelanya menjadi dua. Sehingga permukaan meja sudah penuh dengan buah jeruk yang sudah terbelah.


"Tapi nggak sebanyak itu ."


"He ... He ... Kan makin enak kalau banyak"jawabnya polos. lalu memerasnya dalam gelas.


"Biar bi Uma, Non Devra."


Wajahnya seketika berubah, matanya melotot, memandang marah. Membuat bi Uma mundur pelan-pelan. Apalagi dilihatnya Naura sudah hadir di sana.


"Baiklah."kata bi Uma, lalu pergi menyibukkan dengan pekerjaan lainnya.


Naura tak bisa menahan tawa menyaksikan tingkah putrinya. Yang membuat meja dapur penuh dengan sampah buah jeruk. Tak bisa mengganggu bundanya, bi Uma yang jadi sasaran.


"Sayang bikin apa?" kata Naura. Dia mendekati Devra. Lalu membantu memeras jeruk.


"Bikin minuman jeruk untuk mama." kata Devra dengan bangganya. Lalu dia menuangkan sedikit air kedalam gelasnya, yang sudah ada perasan jeruk. Lalu memberikannya pada Naura.


"Ini spesial untuk mama."


Dia menyodorkan pada Naura yang segera diminumnya. Namun hanya beberapa teguk saja, dia sudah menghentikan minumnya.


"Sebentar sepertinya ada yang lupa." ucap Naura.


"Apa, Ma. "


Lalu dia mengambil gelas yang ada di tangan Naura, dan meminumnya.


"Ih ... kecut." ucapnya.


"Sudah, biar mama yang tambahin gula. Cuci tangan, kita bawa minuman ini ke papa. Oke ...?"


Dengan mamanya pasti nurut dech. Dengan segera dia mencuci tangan dari air yang mengalir. Sementara Naura membereskan segala kehebohan yang baru saja diperbuatnya.


"Kakak Devra bawa gelasnya, biar mama bawa tekonya."

__ADS_1


Belum dia mengambil gelas dari tangan bunda Naura, dia memeluk Naura terlebih dahulu.


"Devra rindu mama."


Segera Naura berjongkok, dan memeluknya.Ingin dia menangis terharu. Tapi dicoba untuk disembunyikan dalam tawanya yang lebar.


"Mama juga. Malah lebih ... dan lebih." Naura ungkapkan sambil mencium pipinya berulang-ulang. Yang sampai kini masih tetap sama, tembem kayak bakpao.


Maafkan mama, sayang. Telah mengabaikanmu selama ini.


Devra terlihat senang sekali dengan sikap Naura. Lalu membalasnya dengan pelukan yang erat. Sambil berbisik,


"Ma ... nanti Devra bantu cari adik Akmal. Tapi janji mama nggak nangis lagi."


Mendengar kata-kata dari bibir mungil putrinya, membuat dadanya bergetar. Sekali lagi dia peluk Devra yang masih terlihat bahagia.


"Terima kasih Tuhan, engkau beri mama, Devra yang baik hati dan shalihah."balasnya dengan ciuman dibibirnya.


"Mama janji nggak nangis lagi." Ucapnya sambil memberikan jari kelingkingnya. Devra menyambut dengan jari kelingkingnya pula. Dan mengaitkan dalam satu tautan.


"Sudah, ayo ke tempat papa. Papa ada sesuatu untuk Devra."


"Apa Ma."


"Ya ... sesuatu banget dech."


"Mama bikin penasaran aja."


Naura hanya melirik, sambil tersenyum senang.


Mereka berdua berjalan sambil bercanda. Tanpa sengaja berpapasan dengan Ifroh. Dia membawa Akram yang masih setengah tertidur.


"Ifroh, mau dibawa kemana?"


"Mau mandikan, Nyonya."


"Tunggu, biar aku mandikan."


"Bisa bawa ini." kata Naura sambil menyerahkan teko. Ifroh menerima itu lalu balik memberikan Akram pada majikannya.


Akrampun menggeliat senang, mendapat pelukan dari bundanya. Hingga matanya tertutup kembali.


"Bangun ... bangun ... sudah sore." ucap Naura sambil bercanda. Mengiringi Devra dan Ifroh menuju balkon.


Mata Akrampun terbuka lebar dan tertawa, terlihat sesuatu di mulut.


"Akram ... kamu sudah tumbuh gigi, Nak."


"Iya, Nyonya. Dotnya, 5 hari sekali ganti, minta dibelikan lagi."


Semenjak dia kehilangan kembarannya, dia sudah sangat jarang menyusu pada Naura. Mungkin karena suasana hati Naura yang tidak baik-baik saja, sehingga mempengaruhinya. Akibatnya semenjak itu dia lebih akrab dengan susu formula.


"Nggak apa-apa. Makasih."


Akram terlihat senang sekali di pundak Naura. Tapi tak lama dia seperti gelisah. Bergerak-gerak seperti ingin turun.


Begitu tiba di balkon, Naura segera menurunkannya. Hanya sebentar merangkak, lalu meraih tangan Naura kembali. Rupanya dia sudah minta dituntun dan berjalan.


"Akram, maafkan mama. Kamu sekarang sudah bisa jalan, Nak."


Lama larut dalam kesedihan, benar-benar membuat Naura tak bisa melihat Akram dan Devra yang tumbuh dengan baik dan menyenangkan.


Dia sambut tangan mungil Akram yang mengajaknya jalan-jalan di depan papanya.


Bagi Ulya, ini surpise sekali melihat istrinya bisa tertawa lepas.


"Wah, ini apa?" sambut Ulya ketika Devra dan Ifroh meletakkan teko dan gelas di meja samping Ulya.


"Coba saja, Pa." jawab Devra.


Ulya segera menuangkan minuman itu di gelas. Lalu meminumnya.

__ADS_1


"Enak, sekali."


"Itu spesial untuk mama papa Devra." sahut Devra senang.


"Makasih, Kakak Devra. Papa ada hadiah untuk kamu."


"Hadiah apa."


"Kita lama nggak berlibur. Bagaimana kalau kita ke Indonesia."


"Ke tempatnya Noval Novi?"


"Ya."


"Asyik ...." teriaknya senang.


"Hem ... Al ... Al ...." pancing Ulya.


"Alhamdulillah ...."Sahut Devra melengkapi.


"Gitu dong." kata Ulya yang membuat Devra tersipu. Dia segera berhambur dalam pangkuan papanya.


"Ifroh, kamu juga harus bersiap-siap."


"Maksud, Tuan."


"Kamu nggak rindu keluargamu."


"Tapi bukan dipecatkan, Tuan?"


"Nggak Ifroh. Temenin kami liburan."


"Baik, Tuan."jawab Ifroh senang. Dia segera mengundurkan diri, bersiap-siap.


"Oh ya mbak Ifroh, jangan lupa air untuk Akram."


"Baik, Nyonya."


"Nanti kalau sudah siap, panggil kami." kata Naura.


"Baik, Nyonya."


Keluarga kecil mereka, masih menikmati kebersamaan kala Ifroh meninggalkan tempat itu.


"Adik, sini."panggil Devra dengan lambaian tangannya. Akram segera membelokkan langkahnya ke arah Devra, yang merentangkan tangan di pangkuan papanya. Begitu sampai Ulya segera menariknya berbagi pangkuan dengan Devra.


" Ehmm ... semuanya masih cut. Mandi-mandi." kata Ulya.


"Dan siap-siap."lanjutnya. Lalu beranjak dari duduknya, meninggalkan tempat itu dengan menggendong Akram di dadanya yang selalu digoda Devra. Tak lama Devra telah menghilang. Mungkin ingin segera cantik dan bersiap-siap.


"Sayang, kenapa."tanya Ulya yang melihat Naura berdiri terpaku.


Naura tersentak. " Mana Akram, Pa. Biar aku mandikan dulu." jawabnya gugup.


"Sayang, kenapa bengong?"


Dia mengikuti langkah Ulya dengan wajah muram kembali. Ulya menyerahkan bayi Akram ke dalam pelukan Naura.


"Apa yang kau pikirkan."


"Aku teringat Akmal. Bagaimana keadaannya sekarang."


"Sudah kamu bacakan Fatihah untuknya. Kita berdoa saja di manapun dia berada, dia akan baik-baik saja."


"Makasih, Sayang. Mengingatkanku."


"Nanti kalau sudah mandikan Akram. Aku tunggu di kamar, Sayang. Kita siap-siap."


...


...

__ADS_1


....


Jangan lupa like dan votenya setelah baca. Saran juga boleh ....


__ADS_2