
"Alhamdulillah Papa, Emir sudah boleh dibawa pulang. Dia sehat." kata wanita itu dengan sangat senang.
Tampak kebahagian terpancar dari wajahnya.
Berkali-kali dia memeluk sayang, dan menciuminya. Sedangkan baby itu tertawa dan merasa nyaman dengan berada dalam rengkuhan wanita itu.
Lelaki itupun ikut bahagia, melihat kebahagian istrinya. Yang selama sebulan ini hampir-hampir sirna. Diapun ikut memeluk dan mencium baby yang dia temukan di taman.
Tidak- tidak ....,
Dia menculiknya ....
Dia mencurinya ....
Dan dia mengambilnya diam-diam ....
Kata-kata itu terngiang-ngiang di telinganya. Seakan-akan ingin mengutuk perbuatannya.
Tapi melihat senyum wanita yang dicintainya, membuat laki-laki itu lemah tak berdaya. Untuk mengungkap yang sebenarnya, bahwa baby itu bukan baby mereka.
"Ma, kita mampir ke toko dulu ya, susunya habis." kata laki-laki itu sambil meminggirkan kendaraannya di depan sebuah toko.
"Cepat, Pa. Kelihatannya dia mulai haus." jawabnya.
Lelaki itupun turun, bergegas masuk ke dalam toko. Membeli semua keperluan bayi dengan cepat. Lalu tak berapa lama, dia sudah kembali ke mobilnya, dengan membawa bermacam barang. Yang kemudian dia masukkan ke dalam bagasi.
"Sudah, Pa."tanya istrinya antusias.
"Sudah." jawabnya senang.
Mau tak mau , ada perasaan bersalah juga dalam diri laki-laki itu. Tapi dia juga senang dengan bayi yang kini berada di tangan istrinya. Tak henti-hentinya dia memandang si mungil. Hingga tiba di rumah mereka.
Begitu mereka tiba di kediaman mereka, dia segera membawanya ke kamar yang sudah dia persiapkan sejak lama akan kedatangan seorang anak diantara mereka.
Saat itu, terlihat baby kecil itu menggeliat-menggeliat gelisah, dengan rengekan kecil tanda mereka lapar. Segera saja sang papa menyiapkan susu untuk bayi yang mereka bawa. Dan memberikannya hingga merasa kenyang dan tertidur pulas.
Setelah meletakkan bayi itu tidur di box nya, diapun menarik tangan istrinya, keluar dari tempat itu sejenak.
"Sayang, aku mau bicara."
"Jangan keras-keras, Pa. Nanti dia bangun."ujar istrinya dengan isyarat jari telunjuk di bibir.
Setelah dirasa baby Emir pulas, diapun menghampiri suaminya di ruang tamu dengan wajah tegang.
"Alhamdulillah, Pa. Emir sudah bersama kita." Tak henti-hentinya dia berucap demikian. Membuat dia tertunduk sedih.
"Sayang, kamu ingin anak itu selalu bersama kita?"
"Pasti dong, Pa."
"Meski dia bukan Emir."
__ADS_1
Wanita itu terdiam. Dia menundukkan kepala. Lama-kelamaan terlihat tetes-tetes bening melintas di pipinya.
"Ya, Pa. Aku sadar dia bukan Emir. Tapi biarlah aku menganggapnya sebagai Emir." ucapnya jelas di sela-sela tetesan air mata. Ini membuktikan bahwa saat ini dia telah sadar dengan semua yang terjadi.
Dia segera memeluk istrinya yang terisak.
"Baiklah, Ma. Kalau mama menginginkan baby itu, papa tak keberatan. Hanya saja lama kelamaan pasti orang akan tahu kalau dia bukan baby kita."
"Lalu gimana, Pa."
"Malam ini juga Kita bawa dia ke rumah kita yang ada di Belgia. Agar kita bisa membesarkannya dengan tenang."
Lama wanita itu diam. Akhirnya dia angkat bicara juga.
"Ya, aku setuju." jawabnya senang.
"Baiklah, kita bersiap-siap sekarang."
Lalu keduanya segera membereskan semuanya. dan membawa perlengkapan bayi termasuk juga pakaian-pakaian ke dalam koper-koper.
Akhirnya dalam waktu singkat, merekapun sudah selesai membereskan semuanya. Termasuk dengan pakaian Emir. Dia memakaikan pakaian tebal, agar tak kedinginan selama dalam perjalanan.
"Bagaimana, Sayang. Sudah semua?
"Sudah, Pa."
Mereka pun berangkat malam itu juga menuju bandara. Dan terbang dengan pesawat terakhir yang akan menuju Belgia.
Flash On.
Ulya yang berjalan menyusuri trotoar menuju rumahnya, nampak sangat lesu.
"Assalamu'alaikum ...." ucapnya ketika memasuki rumahnya.
"Wa'alaikum salam ...."jawab Ahmad yang memang menunggu Ulya di ruang tamu.
"Bagaimana?"tanyanya.
Ulya hanya menggelengkan kepala dengan lemah. Ahmad pun langsung diam dan terduduk kembali. Dia sangat terpukul.dengan hilangnya salah satu keponakannya.
"Dimana Naura?" tanyanya pada Ahmad.
"Masih di dalam kamar."
Dia pun segera menuju kamarnya yang ada di atas. Terdengar lapat-lapat suara Naura yang sedang membaca Al Qur'an.
Sejenak dia tertegun. Teringat saat sahabatnya dulu meninggal. Tak henti-hentinya Naura membaca ayat-ayat suci AL Qur'an hingga larut malam. Bahkan lupa waktu.
Demikian pula saat ini. Dia sepertinya sedang menghibur diri dengan bacaan yang direnungi.
Sebelum kembali ke kamar, dia menuju ke dapur untuk mengambil minuman jeruk kesukaannya dan juga Naura.
__ADS_1
"Bi Uma, tolong buatkan 2 jeruk hangat. Antarkan ke kamarku."
"Baik, Tuan." jawab bi Uma tanpa bertanya lebih lanjut.
Dia tahu bahwa majikannya saat ini tengah sangat berduka. Tanpa perlu bertanya, dia telah tahu sebabnya. Tak terkira sedih juga hatinya. Maka dari itu dia tak banyak berkata-kata, dia membuat minuman yang Ulya pesan dengan segera.
Sementara itu Ulya melanjutkan langkahnya menuju ke kamar. Berlahan dan hati-hati dia membuka pintu.
Dia tak segera masuk, tapi berhenti sejenak, melihat Naura yang tekun membaca Al Qur'an yang di temani oleh Devra yang telah tertidur pulas. Dengan kepala di atas pangkuan Naura. Sedangkan Akram juga tampak tenang tidur di samping ibunya yang sedang mengaji.
"Assalamu'alaikum ..., Sayang."
Naura menghentikan bacaannya. Dan melihat Ulya datang dengan tangan kosong.
"Wa'alaikum salam ... Mas." jawabnya. Tak kuasa tangisnya pecah.
Segera Ulya mendekat dan memeluknya. Membiarkannya kembali menangis dalam dekapannya.
"Sudah, jangan menangis. Nanti mereka bangun."
Naura pun menghentikan tangisnya, meski masih terdengar isak nya yang makin melemah.
"Aku pindahkan Devra dulu."
Naura memberi kecupan kecil sebelum Ulya bawanya pergi, ke dalam kamarnya Devra sendiri. Dengan cara memapahnya. Hingga sampai di tempat tidurnya. Sebelum meninggalkan Devra, dia juga memberi kecupan kecil di pucuk kepalanya seperti yang Naura lakukan.
Selesai meñhantarkan Devra, dia kembali ke kamarnya. Mendapati Naura masih mengusap-usap dengan lembut kepala si baby.
Lalu dia mengambilnya berlahan dari sisi Naura. Memindahkannya ke dalam box mereka. .Agar mereka bisa tidur lebih tenang.
Lalu dia melangkah menuju ranjangnya. Duduk dengan tenang di pinggir ranjang.Menemani Naura yang masih ingin melanjutkan bacaannya.ì
"Lanjutkan saja. Mas hanya ingin mendengarkan. " kata Ulya sambil merebahkan tubuhnya di samping Naura.
Tak lama kemudian bi Uma mengetuk pintu.
"Tuan, pesanannya."
Diapun beranjak dari ranjangnya, mengambil napan itu. Yang berisi 2 gelas minuman jeruk untuk mereka.
"Makasih, Bi Uma."
"Sama-sama, Tuan. "
Bi Uma segera meninggalkan mereka berdua. Yang sedang bercengkrama sebagai mana pasangan sumi istri.
"Yang, ini minum dulu. " kata Ulya menawarkan minuman itu pada Naura.
"Makasih, Mas." jawab Naura tanpa menyentuh minuman itu.
"Minumlah." sambil mendekatkan gelas itu di bibir Naura.
__ADS_1
Dengan sedikit paksaan, akhirnya Naura mau meminumnya.