Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
BAB 70 : Semua Pergi


__ADS_3

"Kak Hamdan tak ikut?"


"Kita disuruh si luar nich."


"Maaf, Ma. Ayo Kak, Ma, masuk dulu." ajak Naura. Dia membawa mereka ke ruang keluarga. Dimana Putra kembar Nur berada.


Nyonya Efsun langsung mengambil Akram ke dalam pangkuannya. Sambil berbincang-bincang, sesekali bercanda dan tertawa dengan jagoan kecil Naura.


Sedangkan Nadya juga lakukan hal yang sama. Dia mengambil Akmal dari dalam keretanya. Lali mengayun-ayun dalam buaiannya. Yang membuat bayi mungil itu kadang-kadang tertawa. Mungkin karena menyaksikan wajah lucu Nadya.


"Ponakan tante." candanya. Sambil menjawab pertanyaan Nur.


"Mas Hamdan ada ikut, sama bapak juga."


"Benarkah. Mana mereka?"


"Masih capeklah. Baru datang."jawab Nadya tanpa mengalihkan pandangannya pada Akmal yang sepertinya tertawa terpingkal-pingkal.


"Mereka masih istirahat di rumah mama." kata nyonya Efsun.


"Aku mau ketemu bapak."


"Boleh, ayo." kata Efsun mengiyakan keinginan putrinya itu.


"Ajak juga putramu."


"Oke Ma. Aku siap-siap dulu."


Dia segera menuju kamar menyiapkan segala perlengkapan untuk bayinya. Meski rumahnya berdekatan. Tapi yang namanya masih baby, pasti rempong juga kalau pergi-pergi.


Mbak Ifroh yang sedang menyisirkan rambut Devra, dibuatnya sibuk juga.


"Mbak Ifroh. Tolong masukkan semua ini ke tas kecil itu."


"Nyonya mau pergi."


"Mau ke rumah mama."


"Hore ... ke rumah eyang putri." teriak Devra gembira.


Naura meninggalkan mbak Ifroh. Dia melanjutkan beres-beres nya, sedangkan Naura kembali ke ruang keluarga dengan Devra di sampingnya.


"Nur, itu anaknya siapa?"tanya Nadya heran.


Pada saat yang sama, Devra menatap mamanya, bertanya-tanya siapa gerangan yang menggendong adiknya.


"Aunty. don't take Devra's younger brother"ujarnya sambil mendekat pada Nadya. Hendak mengambil Akmal dari tangan Nadya.


"Tak apa, Sayang. Itu tante nya adik juga." kata Naura menenangkannya.


"Oh ... "


Lalu dia menghampiri Naura kembali. Dan bermanja dalam pangkuannya.


"Namamu siapa kakak kecil yang cantik."


Mau mengajak ngobrol Devra, tapi tak bisa bahasanya. Kembali Devra menengok mamanya.


"what's your name, sweet little sister?" kata Naura sambil menyentuh hidung Devra.


"Devra, Aunty. "


Kembali Nadya bercanda dengan Akmal yang memandangnya dengan senyum lucunya. Membuatnya gemas.


"Sweet sister. whose daughter."


Nadya mencoba memakai bahas Inggris meski nggak lancar-lancar amat.


"Mama Naura and Papa Ulya?"jawabnya polos.


"Nur kamu sudah menikah?" kata Nadya agak terkejut. "Kok nggak kasih tahu kami?"tanyanya serius tapi matanya masih bercanda dengan Akmal. Lalu dia duduk menatap Naura.

__ADS_1


"Maaf kak, kami menikah minggu depan. "


"Benar Nadya. Makanya kami undang kamu untuk bisa hadir dalam pernikahan Naura."jawab Efsun.


"Hem ... nggak bilang-bilang. "


"Maaf Kak. Sebenarnya mau buat kejutan."


"Pernikahan disamakan dengan ulang tahun. Pakai kejutan segala."


Terlihat mbak Ifroh sudah selesai membereskan pakaian si kecil. Kini semua sudah siap dibawa.


"Sudah, Nyonya."


Lalu Naura beranjak dari tempat duduknya, menuju ke ruang belakang. Mencari bi Fatim. Berpamitan sekaligus berpesan untuk Ulya kalau nanti telah datang.


Di rumah tak ada siapa-siapa. Abah dan ummi besok baru tiba. Jadi Naura bisa dengan tenang, melenggang meninggalkan rumah itu.


"Aku titip rumah, Bi Fatim. Ifroh aku ajak."


"Baiklah, Nyonya."


"Assalamu'alaikum ... "


"Wa'alaikum salam ...."


Setelah meletakkan si baby kembar di keretanya dengan baik, menutupnya agar tak terkena salju yang mulai turun tipis. di sore itu. Mereka semua meninggalkan rumah Ulya.


"Nur kamu kok di rumahnya Ulya,"


"He ... he ... dia." kata Naura sambil melirik Devra yang tak mau jauh dari kereta bayi, yang sedang didorong Naura.


Sebelum Nadya bertanya terus, Naura segera memotongnya.


"Rahasia perusahaan ..."


"Modus kamu Nur. Mau dekati tu papanya, pakai anaknya."


"Terserah kakak mau bilang apa. Tapi yang pasti aku senang kalau Devra suka. Papanya nomor dua."


"Untung nggak kedengeran Ulya. Berabe itu."


Tak ayal membuat Naura tertawa.


Berjalan sambil bercanda membuat mereka tak merasa kalau kini sudah sampai.


Tanpa peduli lagi pada semuanya, Naura segera masuk rumah mengikuti rasa rindunya. Sehingga tak menyadari Hamdan menyapanya.


"Assalamu'alaikum ...,Nur.''


"Wa'alaikum salam ..."


Tanpa menoleh dia menjawab. Namun langkahnya tak berhenti di sana. Matanya mencari-cari orang yang ingin dia temui.


Baru terhenti manakala melihat pak Farhan duduk tenang di beranda depan rumah. Menikmati salju yang turun.


"Ayah, Assalamu'alaikum ...." Dengan langkah cepat, dia menghampiri ayahnya dan mencium tangan di pangkuannya. Membuat pak Farhan terharu. Sehingga tanpa sadar tangannya membelai jilbab Nur.


"Ayah, maafkan Nur."


"Nggak apa-apa, Nur. Mana cucu Ayah?"


Sejak Naura masuk ke rumah, dia telah meninggalkan kereta bayinya dengan Nadya.


Yang mengiringi hingga beranda rumah.


"Ini Ya. " kata Nadya yang telah berdiri di belakang Naura.


Segera dia mengambil kereta itu dan di letakkan di hadapan pak Farhan.


Pak Farhan mengambilnya seorang lalu, memeluk dan menciumnya. Lalu mengambil yang seorang lagi.

__ADS_1


"Tak terasa ayah sudah tua, cucu ayah sudah empat." ucapnya, yang membuat kita tertawa.


Lalu penglihatannya beralih pada gadis kecil yang berdiri di samping Naura.


"Mama, siapa dia?" tanyanya.


"Ayahnya mama di Indonesia."


"Grandpa? " dahinya berkerut. Lalu dia mengatakan jarinya seperti menghitung.


"Berarti grandpa Devra ada 4?"


Diapun tertawa dan mengulurkan tangannya pada Farhan. Serta mencium tangan beliau.


"Devra, Grandpa."


Farhan tertawa, menyambut uluran tangan Devra.


"Ya." jawabnya sambil membelai rambut Devra.


Tiba-tiba muncul di halaman si kembar Noval dan Novi yang bermain salju.


"Ma, siapa mereka?"


"Saudaramu."


"Devra punya saudara?"


Sedangkan Nadya yang melihat mereka kelihatan melotot, mau marah. Sudah mandi tapi kembali main salju. Membuatnya kesal.


"Sudah biarkan saja. Mumpung di sini." kata Naura.


Ditambah dengan tatapan Devra yang memohon pada Naura agar diijinkan bermain dengan mereka.


Begitu Naura menggangguk, dia berlari menghampiri keduanya.


Tak perlu waktu lama mereka akrab, meski belum mengerti bahasa masing-masing.


Sementaa itu Ifroh dan Efsun menyiapkan sesuatu untuk mereka semua.


🔷


Sedangkan Ulya yang sore itu, baru tiba di rumahnya, merasa aneh. Nggak ada suara anak-anak yang selalu menghiasi ruangan di rumahnya.


"Bi Fatim, mana semua. Kok sepi?"


"Tadi nyonya Efsun kemari, lalu semua diajaknya. "


...


....


....


_____________


Readers yang budiman, di episode ini hampir-hampir aku mau berhenti. Ya ... gimana. Sudah hampir 600 kata tak tahunya menghilang begitu saja. Tak tahu apa sebabnya.


Mungkin nich ....


Aku tak sengaja pencet keranjang sampah. Saat sibuk-sibuknya daring dengan anak-anak.


Maksud hati, sambil berenang minum air. Jadi tak pernah kututup halaman draffnya. Biar mudah kembalinya saat menunggu telpon masuk. Tak tahunya ....😢😢😭😭😭


Sabar.....


Mana lagi tugas kuliah banyak banget. Kapan selesainya nich . Tapi dasar menulis sudah hobi, aku lanjutkan saja .... pekerjaan yang sudah dimulai pantang tak selesai. Semoga ....


SELAMAT MEMBACA .......


Jangan lupa vote dan like nya ...💗💗💗

__ADS_1


__ADS_2