Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
BAB 65 : Sepenggal Cerita Ifroh


__ADS_3

"Kamu ini apa-apaan." katanya berang.


Tapi Mustofa tak mau melepaskan. Hingga terlihat wajah Ifroh meringis seperti menahan sakit.


"Baik, lepaskan aku dulu."


Mustofa lalu melepaskan wanita itu.


"Gini ya tuan Mustofa yang terhormat. Aku di sini ini untuk bekerja. Bukan untuk main cinta-cintaan alias cari pacar."


Rima dan Faricha yang mendengar ucapan Ifroh membelalakkan mata. Salut dech .... Tapi juga menahan tawa karena melihat Mustofa yang salah tingkah.


"Baiklah ... baiklah, aku mengerti."


"Kalau gitu, aku pergi dulu." katanya sambil melangkah dengan gayanya yang cuek, beda dengan saat dia datang.


Dia membuka pintu dan berlalu pergi meninggalkan kami yang masih terbengong-bengong heran.


Tapi tak lama kemudian, dia kembali dengan wajah ketakutan seakan-akan baru dikejar hantu.


Dengan nafas tersengal-sengal, dia menghampiri Mustofa yang masih tampak bingung.


"Tolong tutup pintunya!"


"Tenanglah."kata Mustofa sambil memberi isyarat padaku yang masih berdiri di sisi pintu.


Belum sempat pintu ku kunci, ada seseorang yang hendak masuk dengan paksa. Sedapat mungkin aku tahan. Ifroh yang melihat itu segera berlari bersembunyi di kamar.


"Jangan halangi kami."teriak pria itu dari balik pintu.


Mustofa segera menghampiri kami.


"Maaf, anda siapa?"katanya dengan keras.


"Kamu tak tahu siapa kami?"


"Maaf, aku tak perduli tuan siapa. Tapi kalau tuan membuat keributan di sini. Aku tak segan untuk melaporkan kalian. " kata Mustofa tegas.


"Kami hanya ingin mencari seorang gadis yang lari ke arah sini."


"Maaf. Siapa yang tuan maksud, saya tak mengerti." kata Mustofa sambil membukakan pintu pada pria itu.


Dia menatap sekeliling. Namun tak menemukan orang yang dicarinya.


"Kak, siapa?" kata Faricha yang beranjak dari duduknya. Menoleh pada kami dengan memegang majalah di tangannya. Seolah-olah bingung dengan kedatangan pria itu.


it's okey Faricha actingmu, bisikku dalam hati.


"Apakah dia yang anda cari Tuan." tanya Mustofa.


Mereka hanya diam.


"Sudah saya katakan, orang yang anda cari tak ada di sini." kata Mustofa berbohong.


Bukan maksud hati hendak berbohong. Tapi benar juga sich, saat ini yang ada di ruangan itu hanya dia, Faricha dan Rima. Ifroh tak ada.


"Silahkan tuan-tuan pergi,"


Tapi rupanya mereka belum mau beranjak.


"Atau saya laporkan ke security."kata Mustofa mengancam.


"Baiklah, maaf."


Akhirnya merekapun pergi dengan tangan hampa, tanpa membawa hasil apa-apa.


Lalu Mustofa menguncinya dan berjalan dengan kesal menghampiri kami.


"Ada-ada saja, bikin kesal saja." gumamnya.


Ifroh membuka pintu kamar pelan-pelan. Tengok ke sana ke mari, seolah mencari-cari orang yang mengejarnya sudah pergi atau belum.


"Sudah aman." kata Mustofa.

__ADS_1


Diapun berlahan-lahan keluar menghampiri kami. Masih dengan wajah ketakutan.


"Tenanglah, duduklah!"


Dia lalu mendaratkan tubuhnya dengan ragu di dekat Mustofa.


"Ifroh, sebenarnya ada apa?"


Dia lalu menyingkap sedikit lengannya.


"Astaghfirullah al adzim." ucap ku.


Aku tak menyangka kalau akan mendapatkan pemandangan yang sangat miris begini. Tampak lengannya melepuh dan ada bercak-bercak merah-merah, seperti bekas penyiksaan.


Faricha segera mendekat,


"Ifroh, kita ke kamar yuk!"


Tanpa membantah dia mengikuti Faricha.


"Semoga hanya itu saja." gumamku.


Tak berapa lama, keduanya keluar menemui kami.


"Kak, sangat banyak di ...."


Faricha menerangkan secara detail bagian-bagian tubuh Ifroh yang terkena siksaan. Sampai-sampai aku gemetar mendengarnya.


Sedangkan Mustofa tampak geram.


"Ini tak boleh dibiarkan. Kita akan laporkan."


"Jangan!"teriak lirih Ifroh yang membuat kami terperanjat.


"Mengapa Ifroh."


"Aku tak punya uang. Dan kalau sampai keluargaku tahu mereka akan khawatir."


"Lalu maumu?"


"Tidak, semua harus diselesaikan. Nanti kakak yang akan mendampingimu."


"Terima kasih, Kak."


Terlihat matanya berkaca-kaca.


"Sebenarnya aku kembali ke sini hendak kembali ke abbah. Tapi agen yang menyalurkan tenaga kerja mengarahkan Ifroh ke keluarga itu."


"Mengingat mereka mau memberikan gaji yang sangat besar. Ifroh terima."


"Masih ingat nomor keluargamu?"tanya Mustafa.


"Ya."


"Telponlah."


Mustofa memberikan telponnya, yang diterima Ifroh dengan gembira.


Dan dia segera menghubungi keluarganya.


Terlihat wajahnya sangat gembira, beberapa saat kemudian terlihat sendu. Lalu dia menutup telpon dengan sedih.


"Ada apa, Ifroh?"


"Mereka menipu Ifroh. Gaji yang mereka janjikan belum dikirim. Sekarang mereka dalam kekurangan."


"Makanya kita harus selesaikan masalah ini. Baik majikanmu, maupun agen yang membawamu. Agar kamu dapatkan hakmu. Dan tindakan mereka terhadapmu ini sama sekali tak bisa dibenarkan. Kami akan mendampingimu." kata Mustofa menegaskan.


"Terima kasih, Kak."


"Abbah pasti merindukanmu. Dia belum mau mencari penggantimu. Masih menunggumu. Karena dengan menerimamu, mengingatkannya pada Indonesia."


"Siapa majikanmu?"

__ADS_1


"Tuan Fath."


"Tuan Fath?" ucap Mustofa seakan-akan ingin mempertegas pendengarnya.


"Ada apa, Kak?"


"Dia orang yang amat berpengaruh."


"Mungkin karena itu, aku tak bisa lari darinya."


"Sudahlah. Aku akan bilang ke kak Ulya. Dia sangat mengerti masalah ini." kata Mustofa setelah berpikir agak lama.


Tanpa membuang waktu, Mustofa mengangkat hp-nya. Menghubungi kak Ulya. Sejenak dia menutupnya. Seperti menunggu sebuah jawaban. Tak berapa lama hp-nya berdering. Dia mengangkatnya lagi.


Setelah berbincang-bincang sejenak, dia mengakhirinya dengan wajah senang.


"Alhamdulillah, Kak Ulya dan teman-termannya akan bantu kamu." kata Mustofa dengan tenang. Yang disambut Ifroh dengan senyuman.


"Terima kasih, Kak Mustofa."


"Sekarang tidurlah!"


Ifroh menuruti begitu saja perkataan Mustofa. Dia melangkah pergi meninggalkan kami menuju ke dalam kamar yang baru saja dia tinggalkan. Tapi sebelum itu, dia menyapaku.


"Maaf kak Rima, tak sengaja peluk suami kakak. Habis dianya duluan." katanya.


Tak ayal membuatku tertawa terbahak-bahak.


"Ifroh, kami tak ada hubungan apa-apa." jawab Rima kalem.


Sedangkan Mustofa hanya senyum-senyum saja, menampakkan gigi putihnya yang berjejer rapi, sambil melirik Rima.


"Oh," ujarnya, sambil melirik kami.


Tak lama diapun menghilang di balik pintu.


Setelah dia menghilang, kami berbincang sejenak.


"Saat pertama kali masuk sini, aku tidak bisa mempercayai dia. Kupikir dia yang melakukan kejahatan di rumah majikannya. Makanya dia dikejar-kejar. Namun ketika melihat siksaan yang diterimanya, aku baru sadar kalau dia benar. Tapi dia wanita yang kuat. Hingga mampu menanggung siksaan yang sedemikian rupa."


"Hanya saja, Tuan Fath itu bukan orang sembarangan. Dia itu saingan politik kak Ulya ."


"Benarkah?"


"Dulu," kata Mustofa, lalu berhenti sejenak, "saat kak Ulya masih terjun di dunia politik."


"Kak Ulya pernah ke dunia politik."


Baru kali ini aku dengar tentang aktifitas kak Ulya di negaranya.


"Lho, kak Ulya nggak pernah cerita sama kamu tho?"


"Nggak, aku benar-benar nggak tahu tentang kak Ulya."


...


...


....


___________________________________


Maaf readers yang budiman. Lama upnya ....


Sebab, sudah menulis sampai 960 kata lebih, tertidur. Bangun-bangun, lembaran telah bersih, kosong, tak ada kata yang tersisa.


Rupanya saat tidur jariku memencet tanda xxxxxxxxx . Kucoba mengembalikan hanya bisa sampai 100 kata. Akhirnya tulis ulang dari 100 kata yang tersisa.


Anggap saja sebagai suka dukanya menulis ....


Selamat membaca dengan gembira ....


Jangan lupa dukungan readers tercinta.

__ADS_1


Like, vote atau saran selalu kuharapkan.😘


__ADS_2