Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
BAB 64 : Rima dan Tamu Mustofa


__ADS_3

Rasanya lepas beban pikiran yang mengganjal. Meski hanya bermain-main sejenak, tapi sudah bisa mengusir kegundahan yang tadi kurasa. Mungkin karena bertemu dengan orang yang bernasib sama. Sehingga aku merasa tak sendirian dalam cobaan ini. Lelah jiwa terbayar lunas oleh ceria yang akan kami bawa pulang.


"Gimana, sudah puas?"


"Capek, ah."


"Ya sudah, kita kembali saja."


"Oke. Tapi kita cari makan dulu."


"Dengan senang hati."


Sisa hari sangat menyenangkan, meski pada mulanya sangat-sangat menyakitkan. Tapi itulah kenyataan, tak selamanya manis, adakalanya pahit terasa. Tanpa kita dapat menghindar.


Demikian juga dengan diriku. Sudah saat nya aku harus rela, pada orang yang mencoba kuundang hadir dalam hatiku, namun tiada berkenan. Apa hakku untuk itu.


Meski ini sulit, diriku coba belajar menerima. Beri aku kemudahan Ya Robbi ....


"Sekarang kita pulang." kata Mustofa menyadarkan rasaku.


"Emmm ... "


"Masih ada yang kau pikirkan."


"Aku belum sanggup."


"Maaf, kalau kamu mau, kamu boleh menginap di apartemenku."


"Ada udang di balik batu, pasti."


"Jangan khawatir. Ada adikku yang nemeni kamu."


"Tak buruk idemu."


"Mau langsung, atau pulang dulu."


"Tidak ... tidak .... tidak. Aku benar-benar belum sanggup ketemu Naura."


Mustofa segera membelokkan mobilnya ke sebuah apartemen. Setelah memarkirkan mobilnya, kita turun disana sama-sama.


"Ok, aku antar kamu."


"Inikah apartemenmu?" kataku setelah tiba di sebuah pintu.


"Benar. Maaf kalau tak sesuai dengan apa yang kau pikirkan. "


"Bagus kok."


Setelah kita masuk, tampak ruangan itu tertata sangat rapi, bertanda dia amat perfect sekali.


"Ada dua ruang tidur. Dan ada dapurnya. Kalau mau masak, boleh. Ada banyak bahan makanan di lemari pendingin."


"Kamu?"


"Aku di rumah abbah."


"Ya."


"Aku jemput Faricha, biar kamu ada temannya."


"Siapa itu?"


"Adikku."


"Oh. kutunggu."


"Aku ijin ke kak Naura dulu."


"Kok pakai ijin Naura."


"Dia bantu kak Naura mengurus bayinya."


"Ya ... ya ... aku tunggu. Tolong sekalian bawa bajuku ke sini."

__ADS_1


"Ya, Tuan putri. Aku pergi dulu," jawab Mustofa sambil tertawa. Lalu meninggalkan Rima sendirian di ruang tamunya.


Ternyata kesendirian membuatku terbayang kembali tentang keinginan yang tak bisa ku wujudkan. Buru-buru aku mengambil remote untuk menyalakan televisi yang ada di sana. Setelah meletakkan baju di tempat cucian yan ada di ruang belakang. Dan mengambil makanan kecil dalam almari, membuat teh hangat, agar bisa digunakan untuk menemaniku saat menonton televisi. Mungkin ada acara-acara yang menarik.


Tapi ternyata anganku lebih menguasai pikiranku, hingga tak sadar membawaku keduniaan mimpi, tanpa mematikan televisi terlebih dahulu.


Aku baru tersadar ketika suara pintu tiba-tiba terbuka. Dan seorang wanita yang tak kukenal masuk tergesa-gesa. Sepertinya dia ketakutan.


"Maaf tolong jangan berteriak. apalagi menyuruhku keluar."


Kulihat sekilas, bukan orang yang patut dicurigai. Akupun melangkah hendak mengunci pintu, yang ternyata lupa aku kunci.


Tak lama kemudian kudengar bunyi langkah cepat di sekitar apartemen yang kutinggali ini.


"Mengapa cepat sekali menghilangnya."


"Jangan-jangan kamu yang salah lihat?"


"Tidak. Aku yakin dia berbelok ke sini."


"Sudah, jangan bikin ribut di sini. Nanti kita dicurigai. Tuch, ada cctv."


"Ya, maaf."


"Ayo kita pergi."


Tak berapa lama, terdengar langkah mereka menjauh,lalu kembali sunyi.


Aku beralih ke wanita yang terlihat bersandar ketakutan di dinding. Tak lama kemudian dia menangis.


"Mereka telah pergi."


"Terima kasih, mengijinkan masuk ke sini."


Rima tersenyum, namun timbul juga rasa Kasihan nya.


"Duduklah!"ajak Rima. Tapi wanita itu tak bergeming. Dia masih kelihatan tegang dan ketakutan.


"Kita duduk, yuk. Biar enak bicaranya."ajak Rima sekali lagi. Sambil meraih tangan wanita itu, yang terlihat terisak. Membimbingnya ke arah sofa.


"Ah, iya. Aku tak tahu lagi harus lari ke mana."


"Ah, maaf. Aku tak bermaksud menyinggungmu. "


"Tak apa."


Kebetulan di depannya sudah tersedia teh. Diapun menuangkannya untuk tamu yang tak diundangnya.


"Sepertinya kamu bukan dari sini?"


"Ya, aku dari Indonesia."


"TKI?"


"Ya,"


"Memangnya kamu ada urusan apa dengan mereka?"


"Aku lari dari majikanku."


"Maksudmu?"


"Aku hanya ingin menghubungi keluargaku. Tapi mereka nggak mengijinkan. Akhirnya aku lari."


"Sebegitu kejamkah majikanku, sampai-sampai kamu tak boleh menghubungi keluargamu?"


"Aku tak tahu. Yang kutahu, selama 6 bulan ini diriku kehilangan kontak dengan keluargaku."


Bagaimana bisa? Rima bergumam sendiri.


"Benarkah, tapi diminum dulu tehnya."


"Terima kasih."

__ADS_1


"Rumit juga masalahmu. Tapi terus terang aku tak tahu mau membantu apa sama kamu."


"Bisakah kamu antar aku ke KBRI."


"Kalau itu, insya Allah aku bisa."


"Sepertinya kamu orang yang berpendidikan, kenapa jadi TKI."


"Adik-adikku perlu biaya banyak untuk pendidikannya. Sedangkan kedua orang tuaku sudah sakit-sakitan."


"Lalu langkahmu selanjutnya apa?"


"Aku tak tahu, setidaknya aku bisa hubungi keluargaku. Habis itu menyelesaikan kontrak kerjaku."


Entahlah, semakin dia bercerita panjang lebar. Aku semakin yakin kalau dia berdusta. Tapi apa tujuannya. Aku tak tahu.


Beruntung Mustofa dan adiknya tak lama kemudian datang.


"Assalamu'alaikum ...."Terdengar suara dari balik pintu.


"Nach, itu yang punya rumah datang."


Aku pun berdiri menyambutnya. Ingin membukakan pintu.


Tapi ternyata pintu itu sudah terbuka, dan Mustofa melenggang ke dalam dengan tenang.


"Aku punya duplikatnya ndah. " katanya menjawab kebingunganku. Lalu berjalan hendak menuju sofa.


"Eh, rupanya ada tamu?" kata Mustofa sambil memandang intens wanita itu.


"Anda siapa?"


Wanita itu tampak gelagapan menghadapi pertanyaan Mustofa.


"Sepertinya aku kenal anda."kata Mustofa.


Segera wanita itu berdiri dengan gugup, lalu cepat-cepat berpamitan pada kami.


"Maaf telah mengganggu, terima kasih atas tehnya."jawabnya buru-buru menuju pintu.


"Berhenti!" teriak Mustofa.


Wanita itupun segera berhenti, apalagi aku masih berdiri di dekat pintu. Dengan demikian, secara tak sengaja aku telah menghalangi jalannya.


"Ifroh, benarkah kamu Ifroh?"


"Kakak mengenalnya?" kata gadis yang datang bersama Mustofa. Mungkinkah itu Faricha, adiknya yang tadi dia ceritakan padaku.


Mustofa segera mendekati gadis itu, dan mebalik badannya dengan paksa.


Tiba-tiba saja dia memeluk wanita itu.


"Aku lama mencarimu Ifroh, sejak kamu pulang ke Indonesia aku selalu menunggumu."


"Maaf anda salah orang tuan."


gadis itu mencoba melepaskan diri dari pelukan Mustofa.


"Tidak, aku tak salah."


"Baiklah, terus kamu mau apa?"jawabnya ketus.


"Aku senang bisa berjumpa kamu lagi. Sekarang kamu dimana?"


"Aku masih kerja juga di sini."


"Kenapa nggak balik ke abbah, Ifroh."


"Nggak apa-apa, aku hanya ingin pengalaman baru. Dengan majikan baru."


....


....

__ADS_1


....


__ADS_2