
Semakin lama kesunyian ini semakin terasa. Kak Ulya telah balik ke Jakarta. Mama Efsun juga demikian. Setelah sempat bersama selama satu minggu, akhirnya kembali juga ke Turki bersama daddy dan kak Ahmad, yang datang menyusul.
Kini aku benar-benar sendiri. Ada tawaran dari mama untuk ikut ke Turki, tapi tante Tiara belum mengijinkan. Takut terjadi apa-apa dengan kehamilanku yang masih sangat muda usianya. Aku menyadari itu. Dan aku juga tak menginginkan sesuatu terjadi, dengan calon bayi yang ada di kandunganku.
Sementara Rima 2 minggu kemudian berangkat ke Amrik, untuk mengurusi kuliah S2-nya. Bersama dengan mama dan papa Sofyan. Akhirnya tinggallah aku sendirian, ditemani mbok Iyem dan juga suaminya, pak Doni.
Sedangkan untuk kelanjutan kuliahku. Papa Sofyan sudah menyuruh sekretarisnya untuk mengurusi semuanya. Sehingga aku tinggal terima beres. Dan aktif kuliah masih 3 bulan lagi. Kurasa saat itu kehamilanku sudah cukup umur untuk beraktifitas. Jadi tak mengganggu.
Aku bersyukur sekali, keluarga mas Andre sangat perhatian dan sayang padaku.
Hanya saja saat ini aku benar-benar rindu dengan ibu di kampung.
Kurasa aku bisa menghubunginya, melalui telpon yang dibawa oleh mbak Ika, yang kini menemani bapak dan ibu Farhan.
"Assalamu'alaikum ..., Ibu."
"Wa alaikum salam ..., Nur."
"Kabar mu yak opo, Ndduk?"
"Pangestunipun ibu, Alhamdulillah sehat."
"Kandunganmu sehat, nggak rewel."
"Sehat."
Baru sebentar bicara sudah ada gangguan.
"Sek ... sek, Nur. Ono pitik mlebu omah."
Langsung telpon dimatikan. Ya, gitulah ibu. Nggak pernah bisa berlama-lama pegang hp. Selalu saja ada alasan untuk lepas dari hp.
Aku maklum, memang ibu tak terbiasa. Lebih menarik soal ayam, kebun, sawah. Dari pada berlama-lama kangen-kangenan lewat hp.
Ah, aku kok jadi rindu sekali dengan suasana pedesaan.
Tapi sama siapa?
Aku mencari pak Doni. Tapi tak menemukannya.
Aku menghampiri mbok Iyem yang hampir selesai mencuci peralatan dapur.
"Mbok, pak Doni ten pundi?"
"Itu nden Ayu. Pak Doni kemarin dapat telpon dari bapak untuk mengambil sesuatu di Surabaya."
"Oh ...."
Pupuslah harapanku untuk menjenguk bapak ibu, terutama ibu.
Sebentar-sebentar, tadi aku mendengar mbok Iyem memanggil apa ya, pada diriku.
"Den Ayu."
Nach itu dia.
Mendengar mbok Iyem memanggilku dengan sebutan den Ayu, membuatku ingin tertawa. Meski sudah sering kali dia dia lakukan. Tapi rasanya masih aneh buatku.
"Mbok!"
__ADS_1
"Ya, Den Ayu."
"Namaku bukan den Ayu, mbok."
"Lha, emang den putri, ayu. Apalagi lagi hamil gini. Benar-benar bersinar."
Tangan dan mimik wajahnya mengembang sempurna. Dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Selalu jurus itu yang dia pakai untuk menaklukan keinginanku, yaitu memanggilku dengan sebutan yang wajar saja, jangan berlebihan
Sudah, kalau bicara dengan mbok Iyem nggak pernah bisa menang dech. Apalagi kalau kena jurus memujinya.
Bikin ketawa, lupa beban yang ada.Terima dan nikmati dengan hati ihlas dan senang.
Pahadal itu yang kamu mau kan, Naura. Pakai malu segala ....
Orang-orang di rumah ini, telah membuat diriku, bisa menjalani kehamilanku dengan tenang.
"Ada apa, Den Ayu mencari pak Doni?"
"Lama nggak pulang kampung. Kangen mbok."
Mbok Iyem tertawa. Mungkin aku terlalu manja padanya.
"Atau mbok temani aku ke sana, bagaimana?"
Mbok Iyem hanya tertawa kecil dan menggelengn kepala. Ya ... seperti biasa, dia menolak dengan manis.
"Yaudah, aku berangkat sendiri." kataku berlalu dari hadapannya dengan dongkol.
"Den ... den Ayu. Jangan ngambek gitu. Nanti mbok yang dimarahi sama bapak."
Jengkel banget nggak ada yang peduli.
Mengambil kunci mobil Andre. Lalu bergegas menuju depan.
Membuka pintu sambil tertawa, melihat mbok Iyem yang lari mengejarnya.
"Assalamu'alaikum ..., Nur."
Naura terkejut mendapati Ulya tengah berdiri di depan pintu. Sedang menatapnya dengan senyum tipisnya yang menawan.
"Wa alaikum salam ..., eh Kak Ulya. Kapan datang?"jawab Naura gugup.
Nur menatap Ulya dengan senyum mengembang menutupi rasa malunya. Ketahuan sedang kejar-kejaran dengan mbok Iyem.
"Ini ada apa, Mbok. Kok lomba lari."
"Itu den Ulya. Den Ayu pingin ke kampung. Mbok nggak mau ada apa-apa sama den Ayu. Tapi den Ayu keras kepala, mau pergi sendiri."
"Nur, ingat kamu sedang hamil."
Nur membuang nafas dengan kesal. Selalu itu yang mereka katakan untuk mencegah keinginannya.
Ulya hanya senyum-senyum memandang wanita yang lama dirindukan selama ini.
"Oke ... oke. Aku antar."
"Benar Kak."
Ulya mengangguk.
__ADS_1
"Ganti sana!"
"Okey."
Naura berlalu dengan mata berbinar sempurna.
"Sabar ya Mbok. Sedang tak stabil"
"Mbok ngerti, Den. Apalagi ini kehamilan pertama tanpa suami di sampingnya."
Mata mbok Iyem berkaca-kaca. Hati siapa yang nggak terenyuh, melihat nasib yang harus dijalani Naura.
"Sudah mbok. Jangan nangis ... Mbok juga harus ganti baju, temanin kami." kata Ulya sambil mengusap matanya yang mulai berembun.
"Iya Den. Aden tidak masuk dulu."
"Tidak Mbok. Aku tunggu di sini saja."
Mbok Iyem meninggalkan Ulya sendiri di beranda. Sejenak Ulya duduk di kursi dengan nyaman. Di bawah pohon kelengkeng yang sedang berbuah lebat. Menggapainya beberapa gerombol yang sangat mengoda, lalu memakannya dengan lahap.
Tak lama, Naura keluar dengan baju santai lengkap dengan cadarnya. Diikuti oleh mbok Iyem yang memakai kebaya rumah dengan baju kurung melayu, dan juga kerudung santainya.Ya ... itulah pakaian santai untuknya.
Bertiga mereka ke mobil Ulya yang terparkir di halaman.
Naura membuka pintu belakang, hendak duduk bersama dengan mbok Iyem. Yang sudah masuk terlebih dahulu.
"Naura, " kata Ulya sambil membuka pintu depan dengan senyum memerintah.
"Lha nanti mbok Iyem, sendiri di belakang dong."
"Den Ayu ...."
"Aku bukan sopir, Naura."
"Baiklah."
Akhirnya Naura menurut juga. Meski dengan lirikan mata yang menatap kesal pada Ulya.
Ich ... bikin gemes. Bikin rinduku makin menggebu pada adik kecil ini.
"Sudah, kita beli oleh-oleh nggak."
"Ya, aku mau beliin baju bapak ibu."
"Okey. Tapi jangan kesal gitu, dong."
"Gimana nggak kesel. Aku kan nggak mau nanti kalau ketemu sama tunangan kak Ulya. Lalu marah-marah ...."
"Ha ... ha ... ha .... Sudah-sudah, pikiran bumil, kakak nggak pernah ngerti. Yang pasti nggak ada yang mau marahi kamu gara-gara kamu di samping kakak. Yakin dech. Gitu kan mbok?"
"Ya itu, Den. Den Ayu cemas melulu. Jangan berfikiran macam-macam Den, kasihan baby yang ada di dalam perut Den Ayu, nanti ikut cemas."
"Kakak pakai cincin ini biar nggak ada yang menggoda dan hati kakak terjaga. Bukan malah membuatmu ketakutan."
Ingin kubuka nama yang ada di balik cincin ini. Tapi aku nggak mau mengotori pikirannya yang sedang mengandung anak sahabatku.
"Kak, aku turun dulu. Tunggu bentar ya ...."
Dengan gembira Naura membuka pintu mobil, ketika Ulya menghentikan mobilnya di sebuah toko busana.
__ADS_1
Ulya tak mau ketinggalan, dia melangkah cepat mengiringi Naura melangkah.